Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
112. Mengawasi mantan istri


__ADS_3

"Mengapa kau mengirimkan orang untuk memata-matai aku, apa aku sedang membahayakanmu?" Anggara memancingnya.


"Tidak, kau bahkan sangat baik padaku." jawabnya cepat lalu menunduk.


"Lalu kenapa kau membiarkan putrimu mencelakai Zahira?" tanya Anggara tak mau berbasa-basi.


Mata pria itu terbelalak, ia sungguh tak percaya dengan pertanyaan Anggara. Jantung yang memang sudah tua itu seakan ingin berhenti seketika, ia tidak menyangka jika Anggara mengetahui perbuatan putri satu-satunya itu.


Anggara tersenyum, ia terlalu pintar untuk di bodohi seorang Anwar.


"Maafkan aku Tuan Anggara, aku benar-benar tidak tahu, itu di luar pengawasanku. Percayalah jika aku tidak mendukung kelakuan putriku, tapi kembali lagi pada ikatan antara anak dan ayah, aku tentu tidak mau anakku masuk penjara. Tapi saat itu Nona Zahira belum menjadi istri Anda."


"Sekalipun dia bukan istriku, aku akan tetap menyeret putrimu ke penjara! Kau tahu siapa Zahira?" tanya Anggara menatap tajam pada Anwar.


"Ti-tidak." jawabnya gugup.


"Dia anak dari Revalia Az Zahra, teman sekaligus wanita yang pernah menyelamatkan hidupku. Orang tua Zahira adalah rekan kerja sekaligus sahabatku, aku menyayangi Zahira sejak bayi, jauh sebelum aku mengenal dirimu. Tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukainya walau sedikit saja, bahkan suaminya sekalipun. Dan sekarang dia istriku, itu semakin membuat aku ingin menyeret anakmu ke penjara saat ini juga."


"Ampuni putriku Tuan Anggara, aku mohon kau berbaik hati untuk kali ini saja. Lagi pula Nona Zahira masih hidup Tuan Anggara, maafkanlah anakku."


"Zahira masih hidup, tapi hampir mati berkali-kali, apakah aku harus membuat putrimu hampir mati berkali-kali seperti istriku?" tanya Anggara tak meninggikan suaranya, namun aura menakutkan juga ketegasannya jelas terlihat.


"Tidak Tuan, aku mohon jangan lakukan itu." Anwar terduduk lemas di kursi tepat di belakangnya, wajah tuanya hampir mengeluarkan air mata.


"Lalu bagaimana dengan nyawa anak buahku, dia gadis baik yang sangat di sukai istriku, dia adalah teman Zahira, dia selalu setia mengikuti Zahira pergi, bahkan dia mendorong istriku keluar sebelum mobil itu meledak di pinggir jurang. Apa aku harus menghanguskan putrimu untuk membayar kematian Raya?" tanya Anggara terdengar dingin.

__ADS_1


"Tidak Tuan, aku mohon jangan lakukan itu. Dia putriku satu-satunya, aku tidak memiliki siapapun selain dia." Anwar berlutut dan menangis, ia sungguh ketakutan dengan apa yang di ucapkan Anggara.


"Kalau begitu masukkan saja anakmu ke penjara." pinta Anggara.


"Tolong beri aku waktu Tuan Anggara, cucuku masih bayi. Lagi pula dia saat ini adalah menantu dari Tuan David dan Nyonya Ayu, apakah beliau tidak akan malu jika menantunya masuk penjara?" Anwar mencari alasan.


"Tentu saja tidak, anakmu akan di ceraikan oleh suaminya, sama seperti istriku harus berpisah dengan Radit karena anakmu. Dan akan di buang oleh mertuanya sendiri, seperti istriku saat itu berlari dari rumah tanpa siapapun, ia hanya sendiri. Satu lagi, anakmu akan masuk penjara dan menderita, sama seperti istriku menderita hingga berbulan-bulan mengalami tidur panjang karena ulah anakmu. Ku rasa masih banyak penderitaan istriku yang belum putrimu rasakan, itu hanya sebagiannya saja." Anggara duduk menyandar menghembuskan nafas kasarnya.


"Jangan Tuan Anggara, aku minta jangan sekarang. Aku minta waktu selama Empat bulan lagi, sampai cucuku tidak butuh ASI. Tolong kau memikirkan Radit juga yang sudah pasti akan mengejar istri Anda jika putriku masuk penjara dan berpisah." Anwar mencoba mencari celah untuk mendapatkan kelonggaran dari Anggara.


"Siapa yang bisa mengambil istriku? Saat ini hanya Tuhan saja yang bisa mengambilnya. Jadi tidak ada gunanya kau membujukku dengan ocehan murahan itu." Anggara menggeleng menyaksikan Anwar yang masih tak berhenti berusaha mengelak.


"Aku tahu Tuan Anggara, maafkan aku." ucapnya terdengar pasrah.


"Baiklah, aku memberimu kelonggaran sementara aku menemukan pria yang menjadi teman putrimu itu, aku pastikan dia akan ikut bersama dengan putrimu di dalam sel yang dingin." Anggara merasa semua sudah selesai.


"Aku tidak bisa memberikan suntikan dana atau bantuan dalam bentuk apapun. Sudah cukup kau mengunakan uangku malah untuk menghabisi istriku juga anak buahku, dan sekarang kau malah memata-matai aku. Silahkan kau cari orang lain untuk menyelamatkan perusahaanmu. Atau jika kau memang berniat mencelakai aku dan istriku, silahkan pakai uangmu sendiri." Anggara tak memberinya harapan.


"Tidak begitu yang sebenarnya Tuan, aku tidak sejahat itu." kilahnya membela diri.


"Cukup Anwar, silahkan kau tinggalkan tempat ini. Aku tidak bodoh dalam menilai kejahatanmu, aku bisa saja menghancurkan perusahaanmu hingga tak bersisa. Dan kurasa itu lebih baik untuk menyadarkan orang seperti dirimu, tak punya uang mungkin lebih ampuh untuk membuatmu tak berkutik." kesal Anggara.


Ia benar-benar pusing mendengar pria itu berbicara sehingga ia saja yang mengalah pergi dan di gantikan oleh Ricky. Tentu saja bukan ide yang baik berbicara dengan Ricky, bisa-bisa Anwar semakin gila dengan kelakuan asisten pintar itu.


"Mau minum kopi bersama?" tanya Ricky pada Anwar, tentu saja itu bukan tawaran yang baik.

__ADS_1


"Tidak Tuan Ricky, terimakasih sebaiknya aku undur diri." ucapnya gugup, tangannya bergetar dengan mengelap keringat di pelipisnya.


Ricky tersenyum jahil, pria itu penuh dengan keisengan lalu keluar menyusul Bos besarnya.


"Apa sudah waktunya kita masukkan ke penjara?" tanya Ricky begitu bersemangat.


"Temukan pria itu, kita akan menyeret mereka semuanya."


*


Di kantor Ayu, Radit baru saja selesai mengikuti Rapat besar. Ayu mengumumkan jika perusahaannya akan segera di ambil alih oleh Radit, putra satu-satunya, pewaris perusahaan Ayu.


"Lusa kita akan rapat bulanan bersama Beberapa rekan bisnis kita, salah satunya Tuan Anggara. Kita harus siapkan persentase rinci, biasanya asisten Tuan Anggara itu akan menanyakan semua hal sangat detail sekali." jelas sekretaris wanita usia 33 tahun.


"Kau ikut bersamaku, aku masih belajar." Radit tak mau mengambil resiko, terlebih lagi harus berhadapan dengan pria tua yang mengambil istrinya.


"Baik Pak Radit." jawabnya sopan.


Ah panggilan 'pak' membuat Radit merasa sudah tua, tapi sebaiknya seperti itu jika ingin menjadi pria yang dewasa dan bertanggung jawab, layak untuk di jadikan tempat berlindung seorang wanita, tentu saja wanita dalam pikirannya adalah Zahira.


Radit sedikit tersenyum, ia sedang ingin menguasai dunia, dan bersiap untuk menyaingi Anggara, jika perlu menyingkirkan pria itu dari posisi suami Zahira saat ini.


Tiba-tiba saja Radit merasa rindu ingin melihatnya, tapi dimana? Dia butuh seseorang untuk mengawasi dan menemukan rumah Anggara.


"Akbar!"

__ADS_1


Radit menepuk keningnya sendiri tak menyadari jika sepupunya adalah keponakan Anggara.


__ADS_2