
Matahari mulai mengintip di sela-sela tirai yang telah tersibak, bulu mata lentiknya mulai bergerak indah namun tubuh moleknya masih bersembunyi di dalam selimut tebal yang hangat.
Tangan lentiknya menjulur keluar seperti sayap kupu-kupu yang yang baru saja terbentuk dari cangkang kepompong abu-abu. Indahnya melebihi kuncup bunga mawar yang terpajang di dalam pas keramik di sudut kamar itu.
"Mas!" panggilnya, setelah tangan itu tak menemukan sosok gagah yang selalu membuatnya nyaman.
Tapi tak ada siapapun, bahkan di kamar mandi tak ada suara berisik terdengar. Kemudian ia bangun dan melihat keluar, dengan wajah khas bangun tidur itu ia melihat kesana-kemari hingga ia tiba di tangga ruangan tengah lantai Dua.
Selangkah demi selangkah ia naik dan hingga akhirnya tiba di lantai Tiga. Ruangan luas itu terlihat sepi, namun terdengar suatu alat bergerak aktif. Zahira mengikuti dan membuka pintu ruangan besar itu.
Wajah cantik itu berbinar melihat Anggara sedang olah raga dengan segala peralatan lengkap di sana, terlalu semangat hingga membuat tubuh gagahnya mengeluarkan keringat di setiap kotak otot di dada dan seluruh bagian lainnya. Pria itu tampak begitu seksi dengan wajah dewasa dan rambut yang berantakan, tak heran dia adalah mantan seorang militer.
Pria itu berbalik dan melakukan push up di lantai beralas busa tipis di bagian lutut dan tangannya. Bahu kekarnya terlihat membentuk dengan sebuah bekas goresan luka menghias di bagian kanan.
Zahira tersenyum lembut menyaksikan pria dewasa itu masih tak menyadari kehadirannya, hingga tak sengaja Anggara menoleh dan melihatnya.
"Sayang!" panggilnya segera berdiri, meraih handuk mengelap keringat di wajah, leher, lengan, serta bagian lainnya.
Zahira semakin tersenyum lebar, wajah cantiknya memberikan kesegaran tersendiri bagi Anggara yang sedang mengatur nafas lelah karena berolahraga.
"Mengapa sampai tersenyum-senyum sendiri melihatku olahraga, hem?" Tangan kokohnya meraih pinggang Zahira dan memeluknya sejenak.
"Aku menyukai semua yang kau lakukan." jawab Zahira dengan suara halusnya.
"Apa sedang membayangkan sesuatu?" Anggara menggodanya dengan deru nafas menerpa wajah cantik itu.
Zahira tidak menjawab malah mengeratkan pelukannya di tubuh Anggara. Membuat pria itu semakin tersenyum bahagia.
"Kita akan ke rumah sakit sayang." Anggara melihat jam di dinding sebelah kirinya.
"Aku belum mandi." jawab Zahira masih bersembunyi di dada Anggara.
"Mau di mandikan?" Anggara menggodanya lagi, wajah cantik itu kembali tersenyum bahagia dengan hati yang selalu berbunga-bunga di setiap Anggara menggoda dan merayunya.
Tiga puluh menit kemudian Zahira sudah siap dengan hijabnya, wanita muda yang sedang hamil muda itu tampak anggun dan membuat gemas orang yang melihatnya, tak terkecuali Anggara yang sedang membuka pintu mobil, pria itu senang sekali dengan momen kehamilan yang membuat Zahira semakin manja dan selalu takut kehilangan dirinya.
"Istriku cantik sekali." pujinya mengelus kepala Zahira dengan lembut sebelum kembali menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
Melaju pelan dengan sesekali tangan Anggara meraih jemari lentik itu dan mengecupnya, kepala Zahira tak ketinggalan menyandar di bahu hangat milik seorang yang sedang menyetir.
"Ayo Sayang." Anggara keluar lebih dulu, membuka pintu dan menggandengnya menuju ruangan Dokter kandungan.
"Apa kabar Tuan Anggara, Nyonya?" Dokter muda itu menyapa dengan ramah.
"Baik Dokter." Zahira menjawab dengan tersenyum.
"Dok, sepertinya kita harus bicara sejenak." Anggara meminta untuk bicara Empat mata dengan dokter wanita itu.
"Baiklah." Dokter itu mengajak Anggara menuju ruangan di sebelahnya, meninggalkan Zahira duduk di kursi tunggu.
Entah apa yang mereka bicarakan, Zahira duduk manis di sana ia hanya percaya jika Anggara ingin yang terbaik untuk dia dan anak mereka.
"Apa Dokter Amelia masih lama? Aku tidak bisa meninggalkan putriku terlalu lama!"
Suara itu membuat Zahira menoleh, ia pernah mendengar suara wanita itu.
"Tidak lama Nona, hanya jika berkenan saya bisa memasang alat kontrasepsi yang Nona mau." seorang perawat suster menjawab dengan yakin.
"Tidak, aku hanya ingin Dokter Amelia saja." wanita itu menjawab dengan wajah kesal.
"Mengapa harus memasang alat kontrasepsi, harusnya kau membuat anak yang banyak untuk mempertahankan suamimu!" Zahira menyindirnya, ia sudah tidak tahan untuk tidak bicara mengingat saat itu ia sangat pamer dengan perut buncitnya.
"Kau!" ia sangat terkejut.
Namun Zahira tak mau melihat wajahnya, melihat ke arah lain dengan wajah tanpa dosa.
"Anakku masih terlalu kecil, sedangkan dia selalu menginginkannya setiap waktu." Merry menjawab dengan senyum yang sombong.
"Benarkah?" Zahira menolehnya, tersenyum sedikit.
"Tentu saja." Merry berusaha membuatnya yakin.
"Aku tidak percaya." Zahira kembali membuang pandangannya.
"Percaya atau tidak yang pasti dia suamiku, selalu bersamaku."
__ADS_1
"Haha, aneh sekali." Zahira berdiri, merasa dekat dengan wanita itu membuatnya geli.
Namun Merry berdiri lebih dulu dengan sengaja melangkah dan menyenggol Zahira hingga membuatnya hampir terjatuh.
Zahira menjadi marah dan dengan gesit meraih bahu Merry dengan cengkeraman yang kuat.
"Kau berani menyakitiku?" Merry menoleh dengan marah dan menendang perut Zahira.
Beruntung Zahira mengelak, dan langsung mendorong Merry hingga terjatuh, kepalanya membentur ujung kursi tempat mereka duduk sebelumnya.
"Ahh!" Merry setengah berteriak dan meringis kesakitan, tangannya langsung memegang kepala sebelah kanannya yang mungkin sudah benjol.
"Jangan coba-coba menyentuhku, aku bisa menghajarmu bukan hanya sekedar membuatmu jatuh, tapi bisa menginjak-injak kepalamu." ucap Zahira terdengar menakutkan.
Seorang suster yang akan masuk ke ruangan dokter melihat dan segera membantu Merry untuk segera berdiri.
"Nona tidak apa-apa?" tanya suster itu melihat Merry masih meringis.
"Ajak dia pergi sebelum aku membuatnya menjadi keset!" Zahira menatap remeh pada Merry yang masih kesakitan.
"Apa yang terjadi?" Dokter Amelia masuk bersama Anggara, mereka berdua tampak heran dengan keadaan yang seperti sedang kacau.
"Dia mendorongku hingga jatuh, aku akan melaporkanmu ke polisi." Merry masih memegangi kepalanya.
"Silahkan saja aku tidak takut!" Zahira tak mau mengalah.
Anggara mendekati Merry dengan tatapan dingin, "Kita pasti akan bertemu di kantor polisi tapi tidak sekarang." ucapnya pelan namun penuh penekanan.
Merry segera pergi, berlalu meninggalkan ruangan itu dengan kesal, marah juga entah apalagi.
"Kau tidak apa-apa Sayang?" Anggara memeluk sambil satu tangannya membelai menyentuh wajah, tangan hingga kaki memastikan istrinya baik-baik saja.
"Dia simpananmu?" tanya Zahira dengan tatapan tajam dan wajah kesal.
"Tentu saja bukan, aku bahkan tidak tertarik untuk mengenalnya." Anggaran masih memeluk Zahira.
"Kenapa dia terlihat benci sekali kepadaku, seolah aku yang sedang merebut suaminya?" Zahira masih marah.
__ADS_1
"Maaf Dok." Anggara mengisyaratkan untuk meminta waktu sebentar.
Dokter itu tersenyum dan masuk lebih dulu ke ruangannya.