Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
155. Kata orang


__ADS_3

"Apa hanya itu hadiahnya?" setelah bibir Anggara menjauh sedikit.


"Tentu saja banyak." Anggara mengecup kembali, berkali-kali dan sangat nikmat terlihat.


Satu tangan Anggara masih bersembunyi, membuat Zahira penasaran. Melepaskan ciumannya dan mendorong dada Anggara sedikit, matanya menatap penuh selidik.


Anggara tersenyum mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan istrinya. "Ini untukmu." Seikat bunga Mawar dengan bermacam-macam warna ia perlihatkan tepat di samping wajah cantik Zahira.


"Dalam rangka apa? Bukankah kebun Mawar sudah ada di rumah kita?" tanya Zahira tersenyum senang, jari lentik nan halus itu terulur meraih buket bunga yang indah.


"Tadi melihatnya di toko pinggir jalan, indah sekali seperti dirimu." Anggara merayunya, sungguh wajah cantik itu semakin bersinar ketika di rayu dan ia tersenyum.


"Terimakasih." Zahira mendekatkan bunga mawar segar itu ke hidungnya dengan senyum terus mengembang, sejenak lalu kembali memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Zahira sayang." ucap Anggara pelan.


"Aku juga, sangat mencintaimu." jawab Zahira dengan suara lembut dan manja. Membuat pria yang memeluknya tersenyum senang, hatinya sangat bahagia mendapatkan cinta dari Zahira.


"Aku mandi sebentar." ucap Anggara masih memeluknya, mengelus tubuh lembut Zahira.


"Mau mandi air hangat?" tanya Zahira lembut, masih bersembunyi di dada bidang Anggara.


"Aku bisa sendiri Sayang." Anggara mengecup pipinya, tersenyum hangat dan memeluk perut Zahira yang besar.


"Aku ingin menyiapkannya untuk suamiku." jawabnya mendongak mesra.


"Tidak usah, bahkan bergerak saja kau kesulitan. Dengan sikap manjamu seperti ini aku sudah sangat bahagia." Anggara tersenyum dengan nafas menghembus wajah cantik Zahira.


"Kalau begitu aku akan selalu manja padamu."

__ADS_1


"Ya, istriku memang harus selalu manja, harus selalu bahagia." Anggara sungguh menyayanginya.


"Mandilah." Zahira melepaskan pelukannya dengan wajah tak rela.


"Hanya sebentar." bisiknya lembut dan menggelitik, ia berlalu setelah meninggalkan jejak basah di bibir merah itu lagi.


Zahira menggigit bibirnya sendiri, selalu saja perlakuan pria dewasa itu membuat jantungnya berolah raga, hatinya bergetar dan tubuhnya merinding seluruhnya. Sudah berkali-kali memeluknya tetap saja nyaman dan enggan melepas walau sejenak. Setiap hari menerima kecupan hangat bibirnya masih saja seolah baru pertama kali merasakan nikmatnya. Membuat dia melayang dan lemas mabuk kepayang, rasanya ingin lagi dan tak mau berakhir. Apalagi jika sudah bermain di ranjang bersamanya, Zahira bisa lupa siapa namanya sendiri kecuali Anggara yang memanggilnya.


*


Pagi-pagi sekali Radit sudah bangun dengan wajah yang tidak bersemangat, niat hati ingin kembali ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan lanjutan, sekaligus mengambil hasil pemeriksaan dirinya, tapi sepertinya ia ragu.


Tok


Tok


Tok


Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan wajah sendu Ayu dari balik pintu kamar Raditya. "Apa kau akan pergi hari ini Nak?" Ayu mendekat.


"Sepertinya tidak Mama, aku tidak sanggup harus pulang dengan perasaan yang lebih hancur daripada saat ini." jawab Radit mengepalkan dua tangannya di depan wajah tampannya sendiri, sesekali menjadi penopang keningnya yang putih bersih.


"Jika kau butuh teman, Mama akan menemanimu Sayang." Ayu masuk dan duduk di samping Radit.


"Tidak perlu, aku akan meminta dokter Novan untuk mengirim hasilnya saja." Radit tersenyum sedikit, tak mau terlihat khawatir.


"Baiklah." Ayu hanya bisa pasrah.


"Sepertinya, lusa aku akan pergi ke Malaysia bersama Umi. Aku akan melanjutkan pendidikanku di sana. Juga akan belajar ikhlas dengan semua yang terjadi ini Mama." ungkap Radit lemas, tak merubah posisi duduknya yang sedikit melamun.

__ADS_1


"Apa kau yakin ?" tanya Ayu pelan, menatap sedih pada putra semata wayangnya.


"Aku yakin." Radit menoleh dan tersenyum.


Sejenak saling diam, Ayu benar-benar tidak tega dengan penderitaan Radit yang menurutnya sudah terlalu banyak. Jika bisa ia ingin sekali membawa derita itu bersamanya, agar Radit tidak perlu bersusah hati setiap waktu menanggung bebannya sendiri. Sedangkan Radit juga sedang menikmati rasa yang tak henti menyiksa hatinya, ia selalu berpikir jika ia bersalah dan merasa berdosa terhadap Zahira.


"Aku titip Zahira, jaga dia dengan baik Mama! jangan sampai kita kehilangan dirinya lagi. Aku ingin sekali dia bahagia walaupun tidak bersama aku." ucapnya tulus.


Ayu menangis tanpa suara mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Raditya, itu bukanlah ucapan atau pesan, tapi ungkapan kesedihan yang mendalam dari dasar hati seorang laki-laki yang masih sangat menyayangi mantan istrinya.


"Kata orang, bercerai itu lebih baik daripada ditinggalkan pergi selamanya. Ternyata itu tidak benar, sama sekali tidak benar! Aku bahkan sudah merasakan keduanya, dia seolah sudah meninggal, lalu kini harus berpisah dan melihatnya bahagia dengan orang lain, itu sama sakitnya Mama. Tapi di akhir-akhir ini, aku merasa harus ikhlas karena aku memang tidak bisa membuatnya bahagia. Jadi lebih baik dia bahagia, sejak kecil aku memang menginginkan dia bahagia di penuhi kasih sayang dan cinta. Aku sadar hidup ini tidaklah lama, bahkan kebersamaan masa kecil itu masih sangat jelas, seakan baru kemarin terlewati."


"Jangan membuat Mama semakin bersedih." Ayu larut dalam isak tangis mendalam, walau menangis tak merubah apapun tapi rasanya hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini.


"Mama tidak perlu menangis, aku hanya butuh dukungan Mama dan doa Mama agar aku juga memiliki kesempatan untuk bahagia, bersama Zahira suatu saat nanti."


Itu malah membuat tangisan Ayu semakin menjadi, rasanya ingin menjerit keras, hingga keluar semua sesak di dada. "Tapi kau butuh periksa Sayang, itu baru pemeriksaan awal!" Ayu berusaha membuat Radit memiliki harapan.


"Sudahlah Mama, itu bukan masalah saat ini. Yang terpenting aku akan pergi untuk melanjutkan pendidikanku di bantu Umi dan kuliah di sana setelahnya." Radit meraih bahu Ayu dan memeluk ibunya yang masih terisak sedih.


"Apapun maumu Sayang." jawab Ayu berusaha menghentikan tangisnya.


"Besok malam, Mama ajak Zahira datang kemari, bersama Akbar juga. Anggaplah sebagai malam perpisahan sebelum aku berangkat." pinta Radit tersenyum yakin.


Ayu menatap wajah tampan itu, mencari apa yang sebenarnya di inginkan Radit putranya, ataukah hanya ingin menyakiti diri sendiri.


"Aku janji tidak akan melakukan kesalahan, aku sangat mencintainya Mama, dan tidak akan pernah membuatnya kecewa lagi." kembali ia meyakinkan Ayu, tersenyum dengan tatapan penuh janji.


"Baiklah, Mama akan mengajaknya ke sini besok sore dan menginap. Tapi Mama harap kau benar-benar tidak sedang melukai dirimu sendiri, karena Mama tidak bisa kehilanganmu, sungguh tak bisa Raditya." Ayu kembali meneteskan air mata.

__ADS_1


"Tidak Mama, yakinlah padaku." jawabnya mengusap air mata Ayu.


Ayu mengangguk, tersenyum walau belum lega di rongga dadanya. Ia mengeluarkan ponsel dan mencari nama Zahira di sana. Ia menatap wajah Radit sejenak, lalu kembali fokus pada ponselnya.


__ADS_2