
Udah baca Sampai sini?
Yuk dukung author untuk kelanjutan cerita ini. Caranya berikan author rate, vote, komen, dan like. Author sangat berterima kasih atas dukungan teman-teman noveltoon.
Have a nice day
______________________
"Sher ... Sher!" panggil Kak Baruna.
"Ya-ya Kak," sahutku terbata-bata.
"Bagaimana penampilanku?" Kak Baruna berputar menunjukkan sisi demi sisi tubuhnya yang atletis mengenakan setelan jasnya.
"Iya cocok kok," jawabku datar.
Pikiranku melayang memikirkan Fandy. Aku buru-buru mengetik pesan di layar ponselku untuknya.
"Kamu sedang apa?"
"Tunggu sebentar, Kak," ucapku.
Kak Baruna lalu kembali masuk mengganti pakaiannya dengan raut wajah kecewa. Melani dan Tante Meri yang melihat kami hanya tersenyum saja.
Belum sempat aku mengirim pesanku, pesan dari Fandy datang.
"Hari ini aku pulang, sayang. Kamu sedang apa?"
Apa yang harus aku katakan padanya. Tidak mungkin aku jujur sedang mempersiapkan pertunanganku. Nanti apa yang dipikirkannya.
"Kabari aku kalau sudah sampai. Hati-hati di jalan ya. Miss you. "
Aku tidak menjawab pertanyaannya yang menurutku sangat sulit kujawab. Fandy tidak membalas pesanku lagi. Situasi saat ini membuatku jadi berpikir dan bertanya-tanya kapan dia akan benar-benar datang ke rumahku untuk membicarakan keseriusan hubungan kami dengan kedua orangtuaku.
"Kamu sedang apa sih kelihatannya sibuk sekali?" tanya Kak Baruna melirik ponselku.
"Tidak ada apa-apa." Aku cepat-cepat memasukkan ponselku ke dalam tas.
"Hmmm .... Aku pikir kamu menghubungi pacarmu." Kak Baruna mengernyitkan dahinya penasaran.
"Ti-tidak." Aku berbohong. Entah mengapa aku jadi berbohong, padahal kalau jujur pun Kak Baruna sudah tahu aku punya pacar.
Kak Baruna tidak bertanya lagi. Dia lalu menoleh ke arah Tante Meri, "Bun, sudah selesai kan?"
"Sudah Nak. Oh iya Sheryl nanti mampir ke rumah Tante dulu ya. Papa dan Mama kamu juga mau datang katanya."
"Mereka tidak mengatakan padaku kalau mau datang, Tan?"
"Iya tadi mereka baru kabarin Tante. Papamu kan belum sempat jenguk ayahnya Baruna. Jadi baru hari ini bisa jenguk di rumah katanya," jelas Tante Meri.
"Tante, aku mampir sebentar saja ya. Aku ada urusan soalnya."
"Loh kenapa sebentar? Sekalian makan malam saja ya. Urusan apa sih yang lebih penting dari mengakrabkan hubungan antar kedua keluarga? Kebetulan Kakeknya Baruna juga baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. Jarang-jarang kita bisa makan bersama. Nanti Baruna yang antar kamu," ujar Tante Meri sedikit memaksa.
Aku tersenyum simpul lalu mengangguk mengiyakan ajakan Tante Meri. Padahal aku ingin sekali bertemu dengan Fandy. Rasa kesal menggelayut di dalam pikiranku.
"Udah kamu ikut saja. Pacarmu bisa kamu temui nanti." Kak Baruna mengedipkan matanya seakan-akan dia tahu apa yang aku pikirkan. "Ya sudah yuk pulang," ajaknya.
"Bun, ikut pulang bersama?" tambahnya.
__ADS_1
"Iya, Bar. Tunggu sebentar ya."
"Ya sudah aku dan Sheryl tunggu di mobil ya."
"Iya."
Kak Baruna pun menghidupkan mobilnya saat Tante Meri sudah masuk ke dalam mobil. Suasana jalanan tidak terlalu ramai siang itu. Selang beberapa lama kemudian kami bertiga sampai di sebuah rumah yang megah. Halaman depan rumahnya berupa taman yang penuh dengan berbagai macam bunga yang indah dan pohon yang rindang.
Kami lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Seorang kepala asisten rumah tangga menyambut kami. Pak Edi namanya.
"Selamat datang kembali Tuan, Nona, dan Nyonya Besar."
"Pak Edi, tolong nanti hidangkan minuman dan makanan yang spesial ya. Calon besan saya juga mau datang soalnya."
"Siap Nyonya Meri."
Tante Meri menoleh ke arahku sambil tersenyum dan berkata, "Jangan malu-malu, Nak Sheryl, anggap saja rumah sendiri. Nanti kamu juga akan tinggal di sini. Jadi harus mulai dibiasakan."
Aku hanya mengangguk tersenyum. Kak Baruna juga hanya tersenyum melihat interaksiku dengan ibunya yang terlihat akrab itu.
Siapa juga yang akan tinggal di sini? Lihat saja nanti aku akan menikah dengan orang lain dan kalian semua akan menyesal dengan rencana perjodohan ini.
Pandangan mataku melihat sekeliling, memandang interior di dalam rumah Kak Baruna yang terlihat sangat mewah dari rumahku. Rumah ini terlihat sangat besar mengingat hanya dihuni oleh empat orang anggota keluarga inti. Kakek dan ayahnya yang pebisnis handal membangun semuanya dengan begitu sempurna.
"Sepertinya Nak Sheryl sudah lama sekali tidak ke sini ya," ujar Tante Meri.
"Dua tahun yang lalu Bun. Masa tidak ingat? Waktu ayah ulang tahun. Aku saja masih ingat," Kak Baruna menyela.
"Kamu apa juga kalau menyangkut Sheryl pasti ingat di luar kepala. Ya sudah, Bunda ganti pakaian dulu ya. Baruna tolong jagain calon menantu bunda."
"Siap Bun."
"Nona dan Tuan mau minum apa?" tanya Pak Edi.
"Aku air mineral saja, Kak," jawabku.
"Ya sudah, tolong ya Pak. Saya kopi saja."
Kemudian Pak Edi berlalu meninggalkan kami. Suasana menjadi hening. Kak Baruna menatapku. Aku memalingkan wajahku ke layar ponsel lalu membuka aplikasi media sosial.
"Aku boleh bertanya?" Tiba-tiba Kak Baruna memecah keheningan.
"Apa?" tanyaku dengan pandangan mata tidak lepas dari layar ponsel.
"Setelah kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu, bagaimana hubungan kalian sekarang?"
"Kami bertengkar dan sampai sekarang aku belum bertemu. Tapi hubungan kami baik-baik saja," jawabku masih menatap layar ponselku.
"Sheryl, tatap mataku! Sebenarnya apa sih yang kamu suka darinya?" Kak Baruna berdiri di hadapanku mengangkat daguku, memaksaku melihat ke arahnya.
Wajah Kak Baruna begitu dekat di hadapanku. Raut wajahnya melukiskan sebuah kekecewaan. Aku menyingkirkan tangannya dari daguku.
"Yang aku tahu dia tidak memandangku dari berbagai aspek materi. Dia juga mencintaiku sebagai diriku sendiri," jawabku.
"Lalu menurut kamu aku bagaimana?" Kak Baruna beranjak dari tempat duduknya pindah di sebelahku.
"Kakak laki-laki yang baik. Bahkan terlalu baik sehingga ikut permainan perjodohan ini. Kakak tidak memberontak hidup di antara orang-orang yang lebih mementingkan bisnis dan kekuasaan."
"Jadi sedangkal itu kamu memandangku?"
__ADS_1
"Setidaknya itu menurutku. Terlepas aku tahu perasaan Kakak."
"Aku jatuh cinta sudah jauh lebih lama sebelum kamu kenal dan berpacaran dengan Fandy."
"Lalu?"
"Hanya waktunya saja belum tepat. Aku ingin menjadikan kamu yang terakhir dalam hidupku."
"Omong kosong! Aku tahu aku hanya sebagai pion catur kalian yang bisa kalian atur sedemikian rupa. Aku lelah hidup sebagai Sheryl. Seluruh kehidupanku, orang tuaku yang mengaturnya." Mataku menatap tajam mata Kak Baruna.
"Sheryl ... Sheryl, Dunia nyata memang selamanya harus pahit? Pada dasarnya memang ada hal-hal yang harus dicapai dengan banyak pengorbanan. Sehingga pada akhirnya nanti kamu akan mengerti suatu hal yang pahit itu akan membuahkan suatu hal yang manis. Sejujurnya, aku sudah menyerah untuk memilikimu. Tapi sepertinya nasib baik masih berpihak padaku," Kak Baruna tersenyum.
Aku menyeringai sinis. Aku paham dengan situasi ini tapi aku tidak bisa mengelaknya. Aku hanya bisa berharap Fandy akan memperjuangkan hubungan kami walaupun aku tahu pasti sudah terlambat.
Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita datang membawa minuman dan makanan ringan, dia Bi Rindang.
"Silakan Tuan."
"Terima kasih Bi," ucap Kak Baruna sopan.
"Iya Tuan sama-sama."
Lima menit kemudian ponselku berbunyi. Nama Fandy muncul di layar ponselku. Aku lalu mengangkat teleponnya.
"Sher, kamu berada di mana? Aku sudah sampai."
"Aku ada di ...." Belum selesai aku menjawab, ponselku direbut Kak Baruna.
"Sheryl bersamaku. Maaf anda sebaiknya tidak menggangu calon istri orang lain," ucap Kak Baruna santai lalu mematikan teleponku.
"Kakak apa-apaan sih?! Ikut campur urusanku." Aku marah.
"Loh yang aku katakan benar kan? Di mana salahnya?!" tegas Kak Baruna dengan raut wajah yang serius dan tampak sedikit kesal.
Kak Baruna lalu meraih sebuah kopi hangat yang memang dipesannya kemudian menyesapnya perlahan. Aku hanya diam. Dia menyebalkan sekali. Baru kali ini aku melihat Kak Baruna bersikap seperti itu.
Tidak lama kemudian Om Anton dan Tante Meri datang bergabung duduk denganku dan Kak Baruna. Kak Baruna memalingkan wajahnya yang tampak masih menyisakan kekesalan.
"Om, bagaimana keadaannya?" tanyaku.
"Ya beginilah, Nak. Tadi Om sedikit mendengar pertengkaran kalian. Maafkan anak Om ya kalau membuat kamu susah. Om harap ke depannya kalian bisa menjadi pasangan yang saling mengerti dan melengkapi," jawab Om Anton.
"Iya Sher, kalian kan sudah dewasa dan pasti bisa menyelesaikan hubungan kalian secara baik-baik," tambah Tante Meri.
"Iya Om, Tante," balasku seraya mengangguk.
Tidak lama kemudian, Bi Rindang menghampiri kami, memberitahukan bahwa Papa dan Mamaku sudah datang. Om Anton dan Tante Meri pun menyambut mereka.
"Wah big boss, bagaimana keadaannya? Sudah sehat?" sapa Papa.
"Lumayan. Bagaimana kabarmu, Gung?" tanya Om Anton.
"Seperti yang kamu lihat. Bahagia melihat anak-anak kita bersama seperti sekarang ini. Maaf ya akhir-akhir ini saya sibuk jadi belum sempat menjenguk di rumah sakit," jawab Papa.
"Iya tidak apa-apa. Kedua anakmu sudah datang dan menjelaskan. Ayo masuk, kita berbincang di dalam."
"Mas, ajak mereka duduk dulu. Masa ngobrol di jalan?" Tante Meri Mengingatkan.
"Ayo-ayo kita duduk di sana saja."
__ADS_1
Mereka lalu berjalan melangkah menuju ruang tengah sambil bercerita mengenai kehidupan masing-masing.