Marriage Order

Marriage Order
S3 Teman


__ADS_3

Aku memasuki ruang kerja Baruna yang sunyi. Sang empu ruangan sedang melakukan meetingnya bersama para pemegang saham di lantai berbeda.


Aku yang merasa bosan mencari bahan bacaan di atas mejanya. Namun waktu masih berjalan amat lambat. Tiba-tiba saja, rasa kantuk datang menyerang. Tanpa sengaja, aku pun tertidur di atas kursi kebesarannya.


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Suara Baruna sayup-sayup terdengar di telinga.


"Sayang!"


Perlahan membuka mata. Melihat dia yang kucinta setengah menunduk menatapku. Menyunggingkan senyumnya yang hangat. Segera kutegakkan tubuh dengan air muka terkejut.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyaku yang segera melayangkan pandangan mencari jam dinding di ruangan itu.


"Sekarang sudah jam empat, Sayang. Kamu kelihatan lelah sampai aku takut membangunkanmu," jawabnya lalu mendaratkan sebuah kecupan di dahik. "Ada angin apa datang ke sini? Kata Pak Wicak, kamu datang sejak tadi. Mengapa tidak memberitahuku jika akan datang?"


"A-aku ...." Mulutku tiba-tiba terkunci. Rasanya tidak ingin membicarakan Reynand saat wajahnya terlihat lelah. Aku takut dia akan kesal jika memberitahu semua yang terjadi tadi siang. Aku pun mengurungkan niatku memberitahunya.


"Pasti kangen, ya?" tebaknya begitu saja.


Aku hanya mengangguk kemudian terdiam sejenak. Tanpa sengaja, malah teringat dengan wanita bernama Felicia. Wanita yang mengaku kalau Baruna adalah teman lamanya. "Sayang, apa kamu kenal wanita bernama Felicia?" tanyaku.


"Felicia?" Kening itu mengernyit heran.


"Ya, dia bilang kalau dia adalah kawan lamamu di Australia."


Tiba-tiba Baruna menegakkan tubuhnya. Terdiam cukup lama. Entah apa yang dipikirkannya. Beberapa detik kemudian menjawab, "Aku lupa. Mungkin saja aku mengenalnya dan mungkin saja tidak." Jawaban datar terlontar dari mulutnya.


"Mungkin kalau kamu bertemu, kamu akan mengingat wanita itu, Sayang. Dia juga seorang pebisnis seperti suaminya."


Baruna hanya mengangguk tidak peduli. Kesayanganku itu kemudian berkata, "Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan orang asing, Sayang. Ya, kamu tahu sendiri. Mungkin saja dia akan memanfaatkanmu untuk suatu alasan yang kamu tidak ketahui."


"Entahlah. Aku memang belum terlalu mengenalnya, tapi anaknya sangat lucu. Melihat matanya mengingatkanku dengan dirimu."


Setelah mengatakan hal itu, priaku itu tiba-tiba terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Dia terlihat tidak suka aku membahas Felicia dan anaknya.


"Apa kedua mata suamimu sepasaran itu hingga kamu menyebut anaknya mirip denganku?" Wajah dinginnya tiba-tiba terlukis di depanku, menampakkan ketidaksukaannya.


Apa aku telah salah bicara? Menurutku, aku bertanya hal yang biasa saja. Mengapa tanggapan dia seperti itu?


"Tidak. Bukan begitu maksudku. Maaf jika kamu tersinggung, Sayang. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk membahas mengenai Felicia dan anaknya." Aku sontak merasa tidak enak hati.


"Tidak apa. Mungkin aku hanya lelah saja. Meeting di ruangan tadi cukup alot. Rasanya aku memang butuh orang lain di luar keluarga Asyraf untuk membantu mengatur semuanya." Baruna langsung mengalihkan pembicaraan. Aku langsung menangkap pemahaman kalau dia sangat membutuhkan kehadiran perwakilan Berlin Corporation dalam bisnis mereka.


"Jangan terlalu keras terhadap dirimu. Jika lelah, kamu bisa beristirahat atau ceritakan semuanya kepadaku," timpalku seraya mengusap pipinya yang hangat.

__ADS_1


Baruna mengangguk, menyunggingkan seulas senyuman untukku. "Kamu memang pengertian, Sayang."


"Tentu saja. Aku adalah istrimu." Aku mendelik sembari tersenyum.


Baruna merengkuhku masuk ke dalam dekapannya. Mencium puncak kepalaku. "Jadi, apa kita harus melanjutkan kegiatan pagi tadi?" tanyanya lirih, lalu terdiam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "kita bisa membuat yang lebih lucu dari anak itu dan kamu tidak perlu membanding-bandingkanku dengannya."


Aku menarik tubuhku darinya. Menangkap tatapan matanya yang nakal. "Hei, ini masih di kantor, Sayang." Aku mengingatkan.


"Ya, di rumah dong, Sayang. Masa di sini? Nanti karyawanku akan iri jika memergoki kemesraan kita," sahutnya.


Aku melihat telinganya yang memerah memandangku. Mungkin sama dengan wajahku yang terasa hangat saat ini. Menahan gejolak muda yang meledak-ledak. Kami sama-sama diliputi perasaan cinta yang membara.


Kami melanjutkan kegiatan bercinta kami di rumah. Begitu seterusnya hari-hari pasangan pengantin yang sedang dimabuk cinta. Pembicaraan tentang Felicia menguap begitu saja. Hingga tidak terasa satu bulan berlalu.


Pagi itu, aku berada di dalam kamar mandi. Memegang sebuah alat uji tes kehamilan. Periodeku sudah lewat lebih dari seminggu dan dengan penuh harap mencoba mengeceknya.


Tanganku gemetar saat melihat garis merah samar di depan mata. Membelalak tidak percaya membuatku sangat terharu hingga air mataku meleleh seketika.


Ketukan pintu terdengar dari luar. Suara Baruna memanggil dengan lantang. "Sheryl! Sayang! Kamu sedang apa? Lama sekali."


Aku cepat-cepat menyeka air mata yang terlanjur menggelinang itu. Memasukkan bukti kehamilanku ke dalam saku.


"Sebentar!" sahutku.


Aku beringsut keluar kamar mandi. Baruna berdiri di depanku. "Belum mandi juga?" tanyanya dengan mata membola.


"Mau aku mandikan?" godanya.


"Tidak. Kamu duluan saja." Aku mencium pipinya karena merasa sangat senang.


Baruna tidak membalas, melainkan hanya mengusap kepalaku, masih dengan senyum hangatnya seperti biasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata lain, dia beringsut ke dalam kamar mandi.


Aku menghela napas panjang. Berjalan menuju sofa kamar dengan ekspresi senyum yang tiada habisnya. Bagaimana tidak? Mendapat kejutan pagi ini langsung membuatku merasa terbang ke langit ke tujuh. Namun, aku belum berniat memberitahukannya kepada Baruna. Biar hal ini menjadi kejutan untuknya.


Ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi pesan chat masuk, dari Felicia.


[Malam ini, aku dan Nayara akan memakai gaun berwarna senada dengan gaun yang kau pesan saat itu. Semua orang harus melihat betapa kompaknya kita sebagai sahabat di pesta ulang tahun Asyraf Corporation.]


Aku kemudian membalas pesan itu.


[Sip! Nanti aku akan mempertemukanmu dan Baruna, karena dia pernah bilang kalau dia lupa denganmu, Fel. Pasti kalau melihat wajahmu, suamiku akan mengingat hubungan pertemanan kalian di masa lalu.]


Terkirim!

__ADS_1


Aku meletakkan ponselku kembali. Menunggu dengan tidak sabar jawaban darinya. Sudah sebulan ini hubunganku dengan Felicia dan Nayara cukup akrab. Aku rasa, kami benar-benar ditakdirkan untuk bersahabat. Walau pada awalnya wanita itu kurang menyukaiku. Entah mengapa. Tanpa sadar, aku jadi melamun.


"Sayang! Sheryl ... mengapa kamu melamun?" Suara Baruna mengagetkanku.


Aku menoleh kepadanya, mengulas senyum manis. "Tidak apa, Sayang." Aku menggeleng pelan. Melirik ponselku di atas meja. Tidak ada chat balasan dari Felicia. Sepertinya, ia sibuk.


"Kamu menunggu chat dari siapa?" tanya Baruna bingung.


"Fely," jawabku singkat.


"Oh ... masih berhubungan dengannya?"


"He-em. Dia wanita yang baik," sahutku bangkit berdiri. Baruna tidak membalas perkataanku. Dia memang seperti itu. Cukup mengingatkanku sekali dan tidak ingin membuat masalah di antara kami.


***


Malam harinya di acara pesta ulang tahun Asyraf Corporation ....


Aku bersama Baruna dan keluarganya memasuki ballroom hotel Asyraf. Seketika melayangkan pandangan ke segala arah, mencari kedua temanku. Namun, keduanya belum terlihat hadir di sana.


Kak Reza tiba-tiba datang menghampiri kami bersama kekasihnya. "Sheryl! Kamu mencari siapa, sih?"


"Teman-temanku," jawabku singkat, tanpa sengaja melihat Baruna yang melirik tajam ke arahku sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


"Oh, sekarang kau punya banyak teman," ledek Kakakku itu. Dia memang hanya tahu Irene saja yang bergelar sebagai temanku.


"Ya, Za. Dia akhir-akhir ini cukup dekat dengan Nayara dan temannya itu." Baruna mencebik menunjukku dengan bibirnya.


"Ish! Kamu sama saja, bisanya meledekku!" Aku balas mencebik karena diledek olehnya.


"Memang benar, 'kan? Kamu kesengsem dengan anak kecil bernama Rafael itu." Baruna menyeringai di sampingku.


"Tidak juga. Aku dan ibunya juga cocok, kok. Hubungan kami sangat baik." Aku membela diri.


"Ooh ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Baruna.


Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria memanggil nama suamiku. "Pak Baruna!"


.


.


.

__ADS_1


Coba tebak siapa yang memanggil Baruna?


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.


__ADS_2