
Satu hari kemudian ....
Aku dan Kak Baruna sedang dalam perjalanan menuju kantor. Dia mengantarku kembali bekerja setelah beberapa hari absen dari tanggung jawab karena sakit.
Pikiranku melayang akan kata-kata Kak Reza kemarin. Begitu membuatku tidak nyaman dan mengganjal. Perkataan Mama juga seperti menjadi beban buatku. Padahal selama ini aku menjalani hubungan dengan Kak Baruna begitu tulus tidak ada tekanan. Aku ingin menjalani hubungan ini sampai pada akhirnya maut memisahkan kami.
Aku menoleh ke arah Kak Baruna yang masih fokus menyetir. Matanya tidak lepas dari pandangan di depannya. Begitu tampan terlihat dari kedua bola mataku.
Ah ... mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan pria seperti ini dari dulu? Bahkan bermain hati dengan yang lain.
Mobilnya mulai memasuki halaman kantor lalu berhenti di depan lobi. Aku bersiap turun saat dia tiba-tiba menepuk bahuku.
"Sepertinya ada yang terlupakan," ucapnya.
Aku menoleh ke arahnya dan mendaratkan kecupan di atas kening dan pipinya. Kak Baruna terlihat sedikit memanyunkan bibirnya sambil memejamkan mata.
"Apa itu juga?" tanyaku menahan tawa.
Dia membuka matanya. Melihat ke arahku yang tertawa lalu ikut tersenyum melihatku.
"Baiklah jika kamu tidak ingin, aku yang akan menyerangmu." Bibirnya sontak mendarat di bibirku, menempel sejenak, lalu menariknya kembali.
"Sisanya aku habiskan nanti sepulang kerja."
"Hei ... aku bukan makananmu," decakku sambil tertawa.
"Kamu istriku."
"Calon istri, Sayang."
"Iya, tinggal lima hari lagi. Hahaha." Dia tertawa renyah. "Nanti sore jangan lupa ya, ada undangan pesta ulang tahun anak teman bisnisku. Aku akan jemput kamu jam empat sore," tambahnya sambil melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Iya, aku tunggu. Sudah ya, aku masuk dulu. Nanti aku hubungi kamu lagi. Semangat bekerja, Sayang." Aku membuka pintu mobil dan masuk ke dalam lobi.
"Kamu juga semangat." Kak Baruna mengangguk lalu menginjak gasnya pergi meninggalkan halaman gedung.
Aku melangkahkan kaki hendak masuk ke ruang kerjaku setelah beberapa hari absen karena sakit. Viona yang sedang berhias di depan cermin lantas menoleh ke arahku terkejut.
"Mbak Sheryl sudah sehat?" tanyanya.
"Lumayan."
"Padahal tidak apa-apa kalau Mbak istirahat beberapa hari lagi."
"Tidaklah. Aku juga bertanggung jawab atas pekerjaanku," sahutku.
"Mbak, ada kiriman bunga tadi pagi-pagi sekali," ucap Viona memberikanku sebuket bunga lili. Aku meraih buket itu dan membaca kartu dari pengirimnya.
"Semangat bekerja. Semoga harimu menyenangkan. Reynand."
__ADS_1
Dia lagi. Dia seperti virus. Aku tidak bisa seperti ini terus.
"Siapa yang mengirim ini pagi-pagi, Vi?"
"Pengirimnya pegawai dari Aneka Florist, Mbak. Siapa sih, Mbak? Mas Baruna?"
"Pria yang waktu itu datang pagi-pagi, Vi."
"Si ganteng itu? Ya ampun saya pasti akan pingsan jika mendapat buket dari dia." Viona tersenyum.
"Sudah, sudah, kembalilah bekerja!" perintahku.
Viona memanyunkan bibirnya. Aku meninggalkannya masuk ke dalam ruangan. Menyandarkan tubuhku di atas kursi. Segera, aku meraih ponselku menghubungi mantan bosku itu.
"Sheryl, akhirnya kamu menghubungi saya." Terdengar suara semringah dari sambungan telepon.
"Pak Rey, saya ingin bicara berdua saja."
"Di mana?"
"Saya tunggu secepatnya di kantor saya," sahutku memerintah seorang direktur utama Asyraf seperti seorang atasan yang meminta bawahannya untuk datang.
"Dengan senang hati, Sher. Sekarang juga saya akan datang."
Dia menutup teleponnya. Aku menarik napasku dalam-dalam. Sebaiknya segera kuakhiri semuanya. Perasaanku dan perasaannya yang tidak ada habisnya.
Tidak membutuhkan waktu lama membuat seorang Bapak Reynand Alex Pradipta untuk datang ke kantorku. Dalam waktu setengah jam dia datang membawa sebuah map masuk ke dalam ruang kerjaku, lalu duduk di hadapanku.
"Apa ini?" Aku menerima map itu dan meletakkannya di atas meja.
"Kamu akan tahu setelah membacanya. Itu adalah bukti konspirasi yang saya bicarakan kemarin."
"Pak Rey, sebaiknya Bapak berhenti ikut campur urusan saya dan keluarga saya. Saya tidak akan tergoda atas segala hal yang nantinya mengganggu konsentrasi pernikahan saya." Aku membiarkan map itu tergeletak begitu saja tanpa membukanya. Hatiku seakan menolak hal buruk terjadi.
"Kenapa, Sher? Saya hanya ingin membantumu untuk membuka mata dan menyadarkanmu. Saya sangat mencintaimu, Sheryl." ucapnya dengan mata yang berbinar tulus menatap mataku.
Deg-deg-deg!
Tolonglah hatiku, jangan mengkhianatiku. Kamu harus menjadi milik Baruna seorang.
"Bagaimana lagi cara saya untuk menolak Bapak?"
"Kamu harus jujur pada perasaanmu sendiri. Itu yang saya harapkan. Saya sudah mengatakan semuanya. Katakan, bagaimana saya harus menghilangkan perasaan ini jika kamu menolaknya?" jawabnya sambil melangkah menghampiriku.
"Pak Rey ...." Aku melihatnya bingung seraya bangkit berdiri dari kursiku.
Tiba-tiba saja Pak Reynand menarikku dalam pelukannya dan mencium bibirku. Sengatan listrik yang menggetarkan jiwa sontak merasuki seluruh tubuhku. Dia pasti sudah gila melakukan hal senekat ini. Lengannya yang kekar melingkar menahan pinggangku.
"Aku tidak peduli kamu milik siapa, Sher," ucapnya di sela-sela aksinya yang melemahkan ototku.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya. Selanjutnya mengayunkan telapak tanganku yang mendarat di pipinya seketika. Aku menamparnya dengan geram.
Pak Reynand menelan ludahnya kemudian menatap dalam wajahku. Raut wajahnya yang dingin menghilang berganti dengan raut kekecewaan.
"Pak Rey, tolong menjauhlah dari saya. Saya sudah katakan sebelumnya untuk menjauh satu meter. Perlukah saya mengatakan untuk menjauh berkilo-kilo meter hanya agar Bapak bisa menjauh dari saya?"
"Sheryl, menikahlah dengan saya. Mereka memanfaatkanmu. Baruna dan keluarganya, juga keluargamu. Tidak ada yang menghargai dirimu dan perasaanmu. Bagi mereka kamu hanyalah barang yang bisa diperjualbelikan."
"Perasaan? Barang? Apa maksud dari kata-kata Bapak?" Aku begitu terkejut mendengar kata-katanya.
Dia tiba-tiba terdiam sejenak, kemudian berkata, "Maaf, lupakan saja kata-kata saya. Saya tidak bermaksud ...." Kalimat itu menggantung begitu saja padahal aku sangat ingin mengetahui apa kalimat selanjutnya.
Pak Reynand bergeming sesaat, kemudian meraih tanganku, menggenggam erat jari jemariku. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan, "Menikahlah dengan saya, Sher. Biarkan seluruh bumi mengutuk kita. Saya tidak peduli apa kata mereka. Kamu adalah kebahagiaan saya."
Aku menarik tanganku. Cepat-cepat memalingkan wajah. Wajahku berubah bersemu merah malu.
Sheryl, kamu terjebak atas tindakanmu sendiri. Bukankah kamu yang ingin mengakhirinya? Kenapa wajahmu harus merona malu?
"Berikan jawabanmu untuk saya segera!" Dia menantangku dengan wajah serius.
"Tidakkah Bapak sadar, saya ini tunangan Baruna, saudaramu sendiri. Tidak adakah rasa simpati padanya?"
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak peduli kamu milik siapa. Yang terpenting adalah perasaanmu, Sheryl. Bagaimana perasaanmu? Jujurlah! Jika kita mempunyai perasaan yang sama, saya tidak ragu lagi untuk memperjuangkanmu."
Entah mengapa aku tidak bisa tegas menjawab pertanyaannya. Rasa ragu menggelayutiku tiba-tiba.
Apa yang terjadi padaku?
Pak Reynand kembali meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Sekali lagi dia menciumku untuk kedua kalinya. Membelai bibirku penuh kelembutan dan semakin dalam. Rasa rindu akan dirinya tiba-tiba menghampiri. Aku membalasnya dengan cara yang sama. Bulir-bulir air mata jatuh tak tertahan mengalir begitu saja. Rasa penyesalan merasuki hatiku.
Maafkan aku, Kak Baruna.
Tidak lama, aku kembali mendorong tubuhnya Mengatur napasku yang tersengal-sengal. Aku menatapnya seraya menyeka air mataku yang tidak berhenti mengalir.
"Maaf, saya tidak seharusnya membiarkan ini terjadi. Bapak tahu, semua ini sangat sulit bagi saya. Mencintai dua orang pria yang mempunyai ikatan keluarga. Tolong berhentilah, menjauhlah dari saya dan Baruna. Saya akan menikah dengannya. Pak Rey, menikahlah dengan Kayla. Dia wanita yang baik. Bahkan lebih baik dari saya," tegasku seraya terisak menatapnya.
Pak Reynand menatap mataku sendu. Terdiam seakan mencoba mengerti setiap kata yang kulontarkan. Dadaku ikut bergemuruh sesak.
"Sheryl, jika memang dia yang kamu pilih di antara kami dan kamu bahagia karenanya, saya akan mundur saat ini juga. Saya akan melakukan yang kamu inginkan," ucapnya seraya bersiap membalikkan badan bersiap melangkah keluar ruangan.
"Saya bahagia dengannya. Sangat berbahagia. Dia satu-satunya pria yang mengerti akan diri saya!" sahutku sedikit berteriak. Langkahnya terhenti sejenak mendengar perkataanku.
Tidak lama, dia melanjutkan langkahnya berjalan keluar. Aku sudah menyakitinya. Membuat dirinya kecewa dan aku pun merasakan hal yang sama.
Pak Reynand, sejak kapan aku juga mulai menyukainya?
Aku juga tidak habis pikir pada diriku yang menyukai dua orang sekaligus. Mereka mempunyai ikatan keluarga yang tidak bisa kuabaikan begitu saja. Namun, aku sudah memilih. Tidak seharusnya aku ikut sedih melihatnya kecewa.
*Sungguh, aku wanita yang tidak mempunyai pendirian*!
__ADS_1
Mantan bosku itu, andaikan dia tidak merasakan sesuatu kepadaku duluan, aku pasti tidak akan sesulit ini jadinya. Menduakan dua hati yang tidak bersalah.
Dari awal aku pun sudah memilih Kak Baruna yang akan menjadi suamiku kelak. Seharusnya pendirianku sampai akhir menjadi keputusan final, tapi mengapa di hari kurang dari seminggu pernikahanku aku masih seperti ini?