Marriage Order

Marriage Order
S3 Matamu


__ADS_3

Reynand POV


Aku menoleh ke arah pintu utama. Menghentikan pandangan pada sosok wanita cantik yang kucintai sebelumnya. Berdiri bersama Baruna dengan sangat mesra. Tangannya saling bertautan bagai tidak ingin terpisahkan sama sekali. Sheryl dan Baruna. Pasangan pengantin baru yang baru saja pulang dari acara bulan madu mereka.


Iri. Hanya satu kata yang terbesit dalam hati. Namun, aku segera menghilangkan perasaan itu. Mereka adalah pasangan yang telah kuciptakan sendiri. Memberikan ruang untuk saling menyayangi di atas segala perasaan campur aduk yang sempat menyiksa. Aku menyayangi keduanya.


Di depan mereka, Ayah dan Tante Meri lantas berjalan menghampiriku lebih dulu yang sedang berjalan keluar dari dapur kediaman Asyraf karena bersikeras membantu para asisten rumah tangga mempersiapkan acara pesta kecil-kecilan menyambut pasangan pengantin baru itu.


"Hei, Rey! Sudah lama?" sapa Ayah saat berdiri di depanku.


"I-iya, Yah." Aku mengangguk sedikit tergagap. Nampan yang kubawa hampir jatuh karena kaget mendengar sapaan Ayah.


Ayah menarik wajahnya, keningnya seketika mengerut melihatku melakukan hal yang seharusnya dilakukan para asisten rumah tangga di kediamannya.


"Mengapa kau yang membawa nampan berisi piring-piring itu?" tanyanya tidak suka. Kemudian memanggil Pak Edi, kepala pelayan di kediaman Asyraf. "Pak, tolong bawa nampan ini ke tempat acara. Reynand itu putra saya, mengapa membiarkannya melakukan hal seperti ini?"


"Ba-baik, Tuan! Maafkan saya!" Pak Edi tampak menundukkan kepalanya berkali-kali, meminta maaf.


Aku pun menyerahkan nampan berisi piring-piring itu kepadanya. Masih berdiri di sana seraya menatap Ayah yang tiba-tiba tersenyum hangat.


"Rey, Ayah ingin menceritakan sesuatu. Kau harus mendengarkannya." Tanpa mendengar jawabanku terlebih dulu, tiba-tiba saja menarikku, lalu membawa pergi ke belakang rumah.


"Rey!"


Suara Baruna terdengar memanggilku, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh sosok Ayah yang sangat keras kepala ini. Terpaksa, aku mengikuti langkahnya hingga ke tempat yang ia inginkan. Padahal ... ya kalian tahu sendiri bagaimana aku masih ingin berlama-lama memandang wajah Sheryl yang berdiri di sana.


Haish! Pikiran ini sama sekali tidak membantu. Lupakan, Rey! Lupakan!


Kami berada di taman belakang kediaman Asyraf. Tampak sebuah tenda megah berwarna marun berdiri kokoh di sana. Berbagai menu makanan prasmanan pun sudah berjajar di sana.


Mamaku .... Dia terlihat sibuk mengatur segala sesuatunya dengan sempurna di sana. Kedua tangannya berkacak pinggang mengoceh kepada beberapa asisten rumah tangga yang berdiri di sana. Ocehan Mama terdengar seperti jalan kereta api yang tiada habisnya. Mrs Perfect beraksi tanpa diminta.


Ayah membawaku duduk di salah satu meja panjang. Dia menaruh lengan kekarnya di atas meja. Matanya menatap dalam mataku. Sementara aku hanya menaikkan sebelah alis sebagai reaksi awal teman berbicaranya.

__ADS_1


"Rey, kau tahu Berlin Corporation?"


Kedua alisku sontak menukik hampir bertemu mendengar Ayah menyebut nama sebuah perusahaan lintah darat.


"Ada apa dengan perusahaan itu?" tanyaku.


"Mereka berencana membeli tiga puluh persen saham Asyraf dengan harga tinggi. Ayah dengar, sepak terjang perusahaan mereka bagus sampai mencakup berbagai bidang bisnis. Salah satunya, bisnis rumah sakit. Kau tahu RS Berlin? Itu juga milik mereka. Jadi, tidak sepantasnya jika kita terus menyebutnya dengan perusahaan lintah darat."


"Oh ...."


Aku hanya menanggapinya dengan satu kata yang mungkin terdengar tidak terlalu tertarik. Sejak tiga hari yang lalu, aku benar-benar melepaskan Asyraf Corporation. Mama sudah mengoceh tidak karuan karena aku menomorsatukan perusahaan Ayah dibanding Pradipta Corporation. Padahal bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin membantu secara maksimal. Itu saja.


Pandanganku kembali mengarah pada istri adik tiriku itu. Dia tiba-tiba saja datang ke tenda marun tempat pesta bersama Tante Meri. Membantunya melakukan persiapan. Padahal aku tahu wajahnya terlihat sangat lelah. Ke mana Baruna? Mengapa dia tidak mencegahnya melakukan hal itu? Keterlaluan sekali.


"Rey!" Suara Ayah terdengar memanggilku. Mataku berkelebat sontak mengarah kepadanya.


"A-ada apa lagi, Yah?" tanyaku tergagap.


"Kau hanya bereaksi dengan kata 'oh' seperti itu. Apa kau sudah tidak peduli dengan perusahaan Ayah?" Ayah terlihat murung.


"Mengapa kau masih mengkhawatirkan hal seperti itu? Kau sangat berhak mengelola Asyraf Corp, Rey." Ayah terlihat bersikeras. Sayangnya, aku sama sekali tidak berminat.


"Maaf, Ayah. Pekerjaan di Pradipta saja membuatku kerepotan. Sebaiknya Baruna yang mengendalikannya."


Mendengar penjelasanku, Ayah terdiam. Aku menghela napas panjang, lalu mencari alasan untuk bangkit menghindar dari hadapannya.


"Aku le toilet dulu, Yah," kataku mengucap alasan.


Ayah mengangguk. Mempersilakanku pergi dari tempat itu. Tanpa membuang waktu aku pun melangkah pergi.


Bukk!


Bahuku tertumbuk sesuatu dan hampir limbung. Namun karena tubuh cukup tegap, malah bisa menahan sosok wanita yang hampir jatuh karena terbentur tubuhku. Sheryl hampir terjungkal ke belakang jika aku tidak segera menangkapnya. Mata kami bertemu sesaat.

__ADS_1


"Ah, maaf!" kataku seraya menegakkan tubuh Sheryl dan melepas tangan yang memegang punggungnya. Kami sama-sama menjadi rikuh karenanya.


"Terima kasih," ucap wanita itu begitu datar.


Getaran hati ini masih terasa hebat saat ia berada dekat denganku dan aku terus menyangkal untuk ke sekian kalinya kalau masih terpesona kepadanya. Pandanganku sontak melengos dan pergi begitu saja.


Bodoh sekali kau, Rey. Bukankah hubungan kalian sudah baik-baik saja?


Kata hati terus menyalahkan, tapi siapa yang peduli? Aku tidak ingin dianggap sebagai pebinor dalam rumah tangga adik tiriku sendiri.


Tidak lama aku pun keluar dari toilet. Baruna tampak menungguku di depan pintu. Tangannya terlipat dengan wajah yang terlihat begitu serius.


"Loh, Bar? Ada apa?" tanyaku bingung. Sedang apa dia berada di depan toilet?


Baruna menoleh kepadaku. Tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman hangat miliknya.


"Haish! Kenapa lo jadi sombong banget, sih?" Tanpa ragu, ia mendekat lalu memelukku dengan erat.


"Ba-Bar ...," kataku tergagap. Tindakannya sungguh mengejutkan.


Baruna mengurai pelukannya. Menatap hangat wajahku. "Tadi gue panggil dan lo cuek banget. Malah pergi begitu aja sama Ayah. Kalian ngomongin apa sebenarnya? Serius banget. Jangan-jangan ngomongin calon buat lo ya, Rey?" goda adikku itu.


"Calon?" Aku mengernyit.


"Hu-um. Pasti ngomongin calon istri untuk lo, 'kan? Ngaku, deh!"


Baruna menyengih di depanku. Meledek dengan sangat bahagia. Ya, wajar saja. Siapa yang tidak bahagia bila menikah dengan pasangan yang sangat dia cintai?


"Enggak ada. Ayah hanya bercerita tentang Berlin Corporation yang ingin membeli saham Asyraf," jawabku.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih


__ADS_2