Marriage Order

Marriage Order
S3 Siapa Wanita Itu, Bar?


__ADS_3

Sheryl POV


"Sheryl!"


Suara seorang wanita terdengar memanggil. Pandanganku sontak berkelebat mencari asal suara itu. Di depan pintu sebuah kafe lobi rumah sakit berdiri seorang wanita yang kukenal sedang melambaikan tangannya ke arah kami. Dia adalah Felicia.


"Hai, Fel!"


Aku balas melambaikan tangan ke arahnya. Air mukanya tampak berbeda dengan pada saat terakhir kali aku melihatnya. Dia yang berteriak-teriak kasar mengusirku dari apartemennya tiba-tiba tampak ramah menyunggingkan senyuman.


Felicia terlihat mempercepat langkah, menghampiri kami. Saat itu pula, aku melupakan pertanyaan mengenai isi amplop yang digenggam oleh suamiku.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Fely?" tanyaku ramah. Sungguh, aku tidak ingin menanyakan apa yang terjadi tempo hari kepadanya. Namun jika ia ingin bercerita, aku siap mendengarkan.


"Rafa … dia dirawat," jawab Felicia singkat. Wajahnya berubah murung menatap. Aku melihat kedua bola matanya yang berkaca-kaca hendak menangis.


"Astaga! Benarkah? Maaf, aku tidak tahu. Bagaimana keadaannya sekarang?"


Felicia tidak langsung menjawab. Pandangannya sontak melirik ke arah Baruna. Namun Baruna tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam tanpa berucap sepatah kata pun.


"Saat ini kondisinya sudah membaik, tapi aku berencana untuk membawanya pergi ke luar negeri untuk pengobatan kankernya. Aku harap Tuhan memberi keajaibannya. Sungguh, dia satu-satunya harta yang paling berharga untukku, Sher," sahutnya sambil terisak tiba-tiba.


Melihat Felicia membuatku langsung memeluknya erat. Bagaimanapun, dia seorang ibu. Tidak ada yang lebih berarti dari anak kandungnya sendiri.


"Amiin. Semoga diberikan jalan yang terbaik. Aku akan selalu mendukungmu demi kesehatan Rafa, Fel," kataku.


"Terima kasih, Sher." Felicia melepaskan pelukannya.


Kami semua terdiam seakan terpaku di lobi besar rumah sakit. Baruna bahkan tidak berkomentar apa-apa mengenai anak temannya itu. Mungkin karena pada dasarnya ia memang tidak suka kepada Felicia. Berkali-kali mengingatkanku untuk menjauh, tapi tidak pernah kuindahkan larangannya. Entah apa yang membuatnya tidak menyukai wanita di depanku saat ini.


"Tunggu apa lagi? Aku ingin melihat keadaan Rafa!" seruku memecah keheningan di antara kami.


"Ka-kau ingin melihat keadaan Rafael?" tanya Felicia tampak tidak percaya.


Aku mengangguk pelan. "Iya. Memangnya kenapa? Kebetulan sudah di rumah sakit, bukan?"


"Sayang, bukankah kita akan menjenguk Reynand?" Tiba-tiba Baruna mengeluarkan suaranya.


"Jenguk Rafael dulu tidak apa-apa, 'kan?" Aku mengangkat sebelah alisku.


Baruna tampak menghela napas dalam lalu mengangguk mengikuti keinginanku. Tanpa sengaja, aku melirik ke arah Felicia. Setengah senyum kecil terlihat di sana. Walau hanya sesaat, senyum kecilnya terlihat dengan jelas.

__ADS_1


Tidak lama, kami pun tiba di depan kamar rawat Rafael. Aku menoleh ke samping. Kamar rawat bocah itu berhadapan dengan kamar rawat Reynand.


"Loh, ternyata kamarnya berhadapan," ujarku sedikit kaget.


"Reynand? Dia sakit apa?" Felicia balas bertanya.


"Sesak. Sudah tiga hari dirawat."


Felicia hanya manggut-manggut, lalu membuka pintu kamar rawat Rafael. Terlihat seorang wanita seusiaku duduk sambil membaca buku di atas sofa. Ia sontak melirik ke arah pintu, melihat siapa yang datang.


"Zi, kau bisa meninggalkan Rafa. Biar Kakak yang menjaganya sekarang," ucap Felicia kepada wanita itu.


"Baik, Kak." Wanita itu bangkit berdiri. Dia menundukkan kepalanya kemudian izin pamit meninggalkan tempat itu. Aku melihatnya hingga menghilang dari balik pintu.


"Dia adik iparku," kata Felicia tiba-tiba, padahal aku dan Baruna tidak bertanya apapun kepadanya.


"Oh." Seketika bibirku membentuk huruf O.


Kami melihat Rafael sedang tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya. Wajahnya yang polos begitu damai terlihat. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum. Sekilas, lagi-lagi wajah itu mengingatkanku akan Baruna kecil.


Aku menoleh kepada Baruna. Pria yang kucintai itu hanya bergeming menatap sosok bocah berusia lima tahun yang sedang tertidur pulas.


"Kasihan, ya?" Aku berbisik.


***


Baruna POV


Melihat Rafael-anak kecil berusia lima tahun yang tertidur di atas tempat tidur kamar rawat membuatku tidak bisa berbicara. Sekujur tubuhku rasanya gemetar. Masih tidak percaya dengan hasil lab yang berada dalam saku.


Anakku? Batinku terus bertanya-tanya.


Aku mengerling ke arah Felicia yang duduk di kursi samping tempat tidur. Dia membelai rambut Rafael dengan hati-hati. Mungkin karena takut membangunkannya. Terlihat sekali kalau ia sangat menyayangi anak kecil itu.


Jantungku bergemuruh melihat mereka. Tidak kuat rasanya. Mendadak membalikkan badan dan menyeka air mata yang tiba mampir pada tiap sudutnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Tiba-tiba Sheryl menepuk pundakku.


"Ah, tidak. Sebaiknya aku ke kamar Rey sekarang. Mungkin ia sudah menunggu," jawabku berbohong. Tanpa mendengar respon Sheryl lagi, bergegas pergi dari ruangan itu.


"Sayang." Suara Sheryl memanggil, membuatku menghentikan langkah dan menghadapnya.

__ADS_1


"Maaf, ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku tidak tega melihat anak kecil yang sakit keras," ucapku memberi alasan.


"Baiklah. Nanti aku susul ke sana."


Aku mengangguk, meninggalkan mereka. Namun, sesampainya di depan pintu tidak langsung memasuki ruangan Reynand. Aku bersandar di dinding cukup lama. Mendongak menatap langit-langit koridor ruang perawatan lalu menyeka air mata yang kembali mendesak untuk mengalir.


Ponselku tiba-tiba bergetar. Aku mengambilnya dari balik jas. Tulisan Reynand memanggil tertera di sana. Dengan cepat, segera menyeka air mataku dan menjawab panggilannya.


"Ya, Rey?"


"Lo lagi di mana, Bar? Lama banget. Tadi bukannya lu bilang udah di parkiran?" Suara Reynand terdengar lemas.


"Di depan kamar lo, Rey," jawabku.


Reynand tidak menyahut lagi. Dia mematikan panggilannya. Tidak lama, pintu kamar itu terbuka. Reynand berdiri sambil menggenggam tiang penyangga infusnya. Menatap bingung ke arahku.


"Udah di depan pintu bukannya masuk," celetuknya dengan wajah dingin.


Aku tidak menyahut. Kakak tiriku itu menoleh ke kanan dan kirinya seperti sedang mencari seseorang.


"Sheryl mana?" tanyanya bingung karena tidak melihat Sheryl di sampingku.


Aku menoleh ke pintu yang berada di sampingku. "Di dalam. Menjenguk anak Fely."


"Fely? Siapa Fely? Aku baru mendengar namanya." Kening Reynand berkerut.


"Temannya," sahutku singkat. Reynand selalu ingin tahu semua hal yang berkaitan dengan Sheryl.


"Oh. Dia tidak pernah bilang memiliki teman bernama Fely."


Aku menyeringai di depan Reynand. "Apa Sheryl harus memberi tahu nama seluruh temannya kepadamu, huh?" sindirku.


Reynand lalu terdiam, tidak bisa menyahut. Sindiranku berhasil membuatnya diam karena seakan-akan menjadi orang yang paling mengenal istriku.


"Maaf, Bar," katanya lalu membalik badannya masuk kembali ke kamar.


Aku mengikuti Reynand dari belakang. Pria itu kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Sementara, aku langsung mengempaskan tubuhku di atas sofa.


"Bar, siapa wanita yang berada di taman tempo hari?" Tiba-tiba saja Reynand menanyakan sesuatu yang membuat kedua netraku membulat.


***

__ADS_1


Hai readers MO! Sekali lagi aku menyapa kalian semua. Maaf atas slow update-nya. Kondisi masih belum kondusif. Aku sudah sembuh dari copid. Sekarang suami gantian sakit copidnya. Mohon doakan dia agar cepat sembuh, ya!


__ADS_2