Marriage Order

Marriage Order
Keraguan


__ADS_3

Aku menjejakkan kaki di ruang makan. Melihat Tante Meri, Om Anton, dan Pak Reynand yang sudah duduk terlebih dahulu di sana. Kedua orang tua Kak Baruna itu mengalihkan pandangannya melihat ke arahku yang hanya terdiam berdiri ikut memandang mereka. Pak Reynand menunduk sambil menikmati makanannya dengan santai.


"Sheryl, kenapa berdiri di situ? Duduk di sini, Nak," panggil Tante Meri seperti biasa dengan senyuman khasnya. Namun hatiku masih belum sanggup berada di tengah-tengah kehangatan keluarga ini. Mereka sedang berduka tapi berusaha terus tersenyum di hadapanku, ditambah saat ini Kak Baruna masih marah padaku.


"Aku pamit pulang saja, Tante, Om," sahutku.


"Loh kenapa?" tanya Om Anton heran.


"Aku sangat lelah. Ingin istirahat di rumah."


"Astaga Sheryl, kamu pikir ini di mana? Kamu 'kan bisa istirahat dulu. Menginap ya malam ini," rayu Tante Meri.


"Ti-tidak usah Tante. Nanti aku merepotkan kalian. Lagi pula besok aku 'kan kerja."


"Tidak kok. Nanti Tante minta Bi Rindang membereskan kamar untukmu. Tante juga akan menghubungi Mamamu. Masalah pekerjaan juga akan Tante mintakan izin untukmu," pinta Tante Meri memaksa.


Aku tetap bergeming sejenak lalu ikut mengangguk terpaksa. Melangkahkan kaki beranjak duduk bergabung di meja makan.


"Baruna mana, Nak?" tanya Om Anton.


"Di kamarnya."


"Ish ... anak itu. Kenapa tidak ikut ke sini?"


"Sudah biarkan saja, Mas. Mungkin dia sangat terpukul dengan kepergian Kakeknya. Mereka 'kan sangat dekat," bela Tante Meri lalu mengalihkan pandangan ke arah Pak Reynand seraya berujar, "Rey, kamu juga menginap di sini, ya. Tante sangat senang kalau rumah ini ramai. Apa lagi Kakek baru saja meninggalkan kita semua."


Pak Reynand mengangkat kepalanya terdiam sejenak. Dia belum menjawab apa-apa saat tiba-tiba Kak Baruna datang menghampiri kami semua lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di sampingku.


"Reynand sebaiknya pulang, Bun. Ibunya pasti sudah merindukannya karena dia tidak pulang sejak beberapa hari yang lalu," ujar Kak Baruna menanggapi.


"Kamu tahu dari mana, Nak?" tanya Tante Meri bingung.


"Daniel yang bilang padaku. Bunda bisa menanyakan hal itu padanya," sahut Kak Baruna menatap sinis ke arah saudaranya.


"Benarkah itu, Rey?" tanya Tante Meri menatap prihatin.


"Benar," sahut Pak Reynand santai.


"Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu pada Mamamu. Beliau sudah berumur dan membutuhkan orang terdekat di sampingnya."

__ADS_1


"Aku senang jika Tante perhatian denganku. Namun sebaiknya Tante tidak usah ikut campur masalah keluargaku."


"Begitu ya? Maafkan Tante jika perkataan Tante salah."


"Rey, jangan seperti itu pada Tante Meri!" tegur Om Anton.


"Maaf Ayah, tapi aku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan."


Om Anton lalu terdiam tidak menjawab. Dia tidak ingin suasana makan malam menjadi kacau. Tante Meri yang mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu segera menengahi.


"Mas sudahlah, biarkan ia dengan idealismenya sendiri. Melihat sikapnya sekarang begitu mirip dengan sikapmu dulu. Dia benar-benar anakmu." Tante Meri tertawa diikuti dengan sedikit senyum salah tingkah suaminya.


Aku dan Kak Baruna tidak ikut menanggapi apa yang terjadi pada mereka. Mata dan tangan kami sama-sama sibuk pada makanan yang ada di hadapan kami. Dia tidak menyapaku sama sekali. Terlihat masih kesal terbawa suasana pertengkaran kami tadi.


"Aku akan menginap di sini," ujar Pak Reynand tiba-tiba mengejutkan kami semua lalu sontak mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Syukurlah. Besok pagi-pagi Tante akan buatkan makanan spesial untuk sarapan kalian semua," sahut Tante Meri bersemangat.


Mengapa dia jadi Ikut-ikutan menginap?


Kak Baruna menoleh ke arahku, mencium pipi kiriku seraya melirik tajam ke arah Pak Reynand. Aku terkesiap atas tindakannya yang tiba-tiba. Mataku mengerling ke arah Pak Reynand yang memalingkan wajahnya berpura-pura tidak melihat.


"Tunanganmu ada di sebelahmu. Mengapa matamu memandang ke arahnya?" bisiknya di telingaku.


"Tadi sore aku sudah jujur padamu, bukan? Kamu sendiri yang ingin membantuku membicarakan masalah ini dengannya? Apa kamu lupa?" Aku mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Aku hanya ingin memastikannya di depan mata kepalaku. Kamu sontak menoleh padanya saat aku menciummu tadi, baik di kamar maupun yang barusan kulakukan."


"Jadi apa yang kamu inginkan? Aku lelah jika dituduh terus seperti ini. Pernikahan kita sebentar lagi dan kamu masih saja memikirkan hal yang tidak penting," balasku berbisik.


Kak Baruna bergeming dan tidak menanggapi perkataanku. Hanya senyum menyeringai yang ditunjukkan padaku. Aku bangkit dari tempat duduk. Rasa lelah membuatku malas untuk berdebat panjang lebar. Dia sedang terbakar cemburu.


"Mau ke mana?" tanyanya.


"Aku lelah mau ke kamar," jawabku lalu mengarahkan pandangan ke arah Tante Meri. "Tante, di mana kamarku?"


Tante Meri ikut beranjak dari tempat duduknya lalu mengantarkanku masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Dia lalu membuka pintu kamar itu. Terlihat sebuah ruang kamar bernuansa warna ungu dengan berbagai ornamen berwarna emas dan ranjang berukuran king size. Ada pintu yang menghubungkan balkon yang menjorok ke luar. Luasnya pun hampir sama dengan kamarku.


"Kamu bisa beristirahat di sini, Nak. Nanti Tante bawakan pakaian ganti untukmu."

__ADS_1


"Iya Tante, terima kasih banyak," sahutku tersenyum.


"Kamu sedang ada masalah dengan Baruna?" tanya Tante Meri tiba-tiba.


"Sedikit."


"Coba ceritakan." Tante Meri mengajakku duduk bersama di tepi ranjang. Dia memandang lembut ke arahku.


"Aku bingung dari mana aku harus bercerita."


"Kelihatannya ada persaingan antara Baruna dan Reynand untuk memperebutkanmu," tukas Tante Meri tiba-tiba.


Aku mengangguk. Raut wajahku berusaha untuk tegar namun air mataku tiba-tiba saja mengalir. Tante Meri melihatku bingung.


"Maaf sudah membuatmu sedih. Tapi Tante yakin semua akan berjalan sesuai rencana. Anak-anak itu, sebenarnya mereka saling menyayangi. Kamu sendiri bagaimana? Apa yang kamu rasakan?"


"Aku sudah mengatakan semuanya pada Kak Baruna, Tante. Bahkan mengenai Pak Reynand yang mendekatiku. Bagaimana caranya agar hati ini tidak menjadi goyah hanya karena sikap Pak Reynand yang terlalu berambisi, padahal aku dan Kak Baruna akan segera menikah?"


Tante Meri terdiam. Dia tidak menjawab curahan hatiku. Sepertinya dia juga tidak punya solusi atas masalah kami. Tidak lama kemudian dia menarik napas dalam-dalam.


"Kamu harus selalu yakin pada Baruna, Nak. Anak Tante yang terbaik. Kalian 'kan sudah dijodohkan sejak lama," jawabnya.


Aku mengangguk menatap wajah Tante Meri. Kemudian dia beranjak dari duduknya.


"Istirahatlah. Bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi Tante akan bawakan pakaian untukmu." Tante Meri segera berbalik arah keluar ruangan.


Aku merebahkan tubuhku. Mataku terpejam sejenak, lalu melipat lenganku sampai menutupi keduanya.


Aku tidak boleh goyah!


Lama aku memejamkan mata hingga hampir terlarut masuk ke dalam mimpi dengan air mata yang masih mengalir perlahan.


Tok-tok-tok!


Aku tersadar segera bangkit dari posisiku. Melangkah membuka pintu kamar. Kak Baruna berdiri tegap di depan pintu. Tanpa aba-aba dia sontak memelukku, berbisik, "Maafkan tindakanku tadi. Aku sangat menyesalinya. Aku mencintaimu, sayang." Kak Baruna menarik tubuhku, merengkuhnya masuk ke dalam dadanya yang bidang.


Pelukan yang terasa hangat itu membuat tubuhku terasa seakan meleleh. Dia membuatku tersadar bahwa dia adalah satu-satunya pria yang kucintai saat ini. Kami harus saling memahami satu sama lain.


"Aku juga mencintaimu, sayang."

__ADS_1


__ADS_2