Marriage Order

Marriage Order
Bertukar Pendapat


__ADS_3

Kak Baruna sibuk mengemudikan mobilnya fokus pada ramainya jalanan ibu kota. Aku menatap sebelah kiri jalan, tampak orang-orang berlalu lalang di sebuah pasar tradisional sedikit mengalihkan ingatanku tentang kejadian tadi. Kejadian yang membuatku berpikir mengapa kehidupanku tidak ada yang berjalan baik sesuai dengan yang kuinginkan? Bukannya aku tidak bersyukur, aku sangat bahagia berada di dekat Kak Baruna tapi sayangnya perjalanan kami menuju pelaminan tidak semudah yang dibayangkan.


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Kak Baruna masih fokus dengan pandangan mata ke arah jalan raya di depannya.


"Aku sedang berpikir kalau jalan kita menuju hari pernikahan tidak semudah yang aku bayangkan. Kenapa harus bertemu dengan orang aneh sepertinya? Maksudku, kenapa dia dulu harus menyukaiku dan aku menghinanya sampai dia tidak memberiku kesempatan untuk berdamai dengannya dan memperbaiki hubungan kami."


Kak Baruna menggenggam tanganku, tangan satunya masih berada di setir kemudi. Hal itu membuatku sedikit lega dia masih berada di dekatku saat ini.


"Kamu tidak boleh menyalahkan keadaan. Bagaimana pun keadaan itu terjadi atas pilihan-pilihan yang sudah kamu pilih. Jika kamu menyesalinya, kamu bukanlah orang yang bersyukur sayang," sahutnya menimpali.


"Ah yah .... Aku salah dan kamu selalu benar. Betapa bahagia gadis yang dulu pernah dekat denganmu."


Kak Baruna tertawa menyeringai menoleh wajahku sebentar lalu kembali fokus pada jalan raya.


"Kamu boleh menanyakan hal itu pada Reza. Dia yang paling tahu siapa diriku dari zaman dahulu."


"Kak Reza tidak pernah menghubungkanmu dengan gadis mana pun. Dia tidak pernah bercerita. Bahkan aku pun tidak percaya kalau kamu tidak pernah berpacaran."


"Hah .... Buat apa mengenang masa lalu? Hidup itu terus maju. Masa lalu itu hanya sejarah sebagai pembelajaran diri untuk masa depan. Apa kamu masih penasaran dengan gadis yang dekat denganku, sedangkan kamu sebentar lagi yang akan jadi istriku?"


Aku terdiam mendengar jawabannya. Semua yang dia katakan benar adanya. Aku pun mengatakan hal yang sama saat berhadapan dengan Satya. Mulut memang lebih pintar dalam berkata, sedangkan prakteknya yang selalu sulit aku kerjakan.


"Kenapa diam? Pasti berpikiran yang aneh-aneh lagi," ucap Kak Baruna.


"Tidak apa-apa sayang. Iya aku tidak peduli siapa pun gadis itu. Itu hanya bagian dari masa lalumu.


Kak Baruna seperti biasa mengacak-acak rambutku gemas dengan tangan kirinya. Aku hanya bisa pasrah saat dia melakukannya.


"Aku tahu kamu sudah pantas jadi seorang istri dan seorang ibu."


"Maksudnya apa?"


"Mendengar apa yang kamu katakan tadi sudah membuatku cukup yakin menikahimu."


"Jadi selama ini tidak yakin?"


"Bukan sayang. Hanya saja aku kadang berpikir kamu masih kekanak-kanakan. Kamu ternyata sudah mempercayaiku sejauh ini."


"Mudah-mudahan dia adalah orang yang tepat bersanding denganku selamanya," doaku dalam hati.

__ADS_1


"Sekarang kita mau pergi ke mana?" tanyaku.


"Kencan?"


"Siapa takut. Tapi pakaianku kotor terkena minuman tadi," ujarku melirik gaun di tubuhku.


"Ya sudah pulang dulu saja. Aku juga sudah bawa pakaian sampai dengan nanti malam di belakang."


Aku menoleh ke jok mobil belakang. Tampak sebuah tote bag besar berisi pakaian Kak Baruna.


"Perfect! Kamu selalu bisa mengejutkanku. Begitu rapi dan sangat siap dalam segala situasi," batinku.


"Hei kenapa bengong?"


"Kamu orang yang sangat siap di segala situasi," jawabku.


"Iya karena aku tidak bisa mengandalkan orang lain. Aku yang mengetahui diriku sendiri. Kamu harus banyak belajar sayang."


"Kamu pikir aku akan ujian? Begini pun kamu sudah mencintaiku."


Kak Baruna tertawa kecil mendengar jawabanku yang asal itu. Dia menggelengkan kepalanya.


"Kamu bisa-bisanya menyuruhku belajar mengenalmu. Hal itu akan berjalan seiring berjalannya waktu sayang."


Kak Baruna mengerucutkan bibirnya mengangguk-angguk setuju mendengar kata-kataku sembari terus fokus pada laju mobilnya. Setengah jam kemudian kami sudah tiba di kediamanku. Begitu sepi tidak ada orang di rumah. Aku melihat hanya ada Bibi Ati yang sedang beristirahat di kamarnya. Semua berada di pesta pernikahan Nesya.


"Tidak ada orang di rumah?"


"Ada Bi Ati di kamar. Kamu duduk saja dulu di sini," jawabku saat kami masuk ke ruang tamu.


Kak Baruna mengangguk sembari duduk menunggu di sebuah sofa. Aku meninggalkannya melangkah masuk ke dalam kamarku, mengganti pakaianku dengan pakaian kasual, kaus putih pendek dan bawahan celana jin panjang.


Kakiku melangkah menuju ruang makan, lalu melirik menu makanan di atas meja makan. Menu makanan itu masih belum banyak tersentuh sejak pagi. Perutku yang sudah berbunyi tidak bisa diajak kompromi itu meminta jatah sejak pagi yang belum sempat kuisi.


"Lebih baik aku makan dulu. Radang lambungku bisa kambuh kalau kubiarkan seperti ini," batinku.


Tiba-tiba Kak Baruna datang menghampiriku. Dia menggelengkan kepalanya dengan senyum tersungging di wajahnya yang tampan itu.


"Aku menunggumu lama di ruang tamu dan kamu sibuk makan di sini."

__ADS_1


"Maaf aku lapar. Sejak tadi belum makan. Kamu kan cepat-cepat mengajak pulang," keluhku.


"Hahaha .... Bilang dong kalau kamu belum makan. Nanti sakitmu kumat."


"Iya makanya aku sedang makan sekarang. Sayang, kamu mau makan juga?"


"Aku sudah makan tadi di pesta."


"Huh curang."


Kak Baruna tertawa lalu melangkah duduk di kursi makan berhadapan dengan wajahku. Dia bertopang dagu melihatku yang sedang menikmati makanan.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku malu jika kamu terus-terusan menatapku."


"Baiklah kalau malu aku akan memejamkan mataku. Habiskanlah makananmu. Aku tidak akan mengintip. Anggaplah aku tidak ada di depanmu. Kamu itu bagaikan magnet bagiku. Jika kamu jauh aku merasa resah sendiri. Tapi jika dekat aku tidak mau berpisah." Kak Baruna menutup matanya di depanku.


"Kamu sedang menggodaku?"


"Tidak sayang, kata-kata itu yang paling mewakili perasaanku sekarang. Aku tidak sedang menggombal." Dia masih menutup matanya.


Aku berusaha mengalihkan pandangan namun tidak bisa. Magnet itu memang benar adanya, aku selalu ingin dekat walau hanya beberapa inchi saja. Nafsu makanku hilang seketika. Aku berdiri berjalan sampai di samping tubuhnya, mencium keningnya hingga dia terperanjat membuka matanya menoleh ke arahku tersenyum.


"Kamu sedang menggodaku?" Kak Baruna melontarkan pertanyaan yang sama denganku beberapa menit yang lalu.


"Iya aku sedang menggodamu karena kamu begitu lihai memengaruhi suasana hatiku."


Kak Baruna berdiri mencondongkan tubuhnya ke arahku, mencium bibirku dengan lembut. Aku menikmati setiap sentuhan bibirnya yang bertautan dengan bibirku berulang-ulang. Kemudian dia memelukku erat.


"Kenapa sebulan itu rasanya bagai seabad ya? Aku ingin segera menculikmu masuk ke dalam kamarku dan memadu kasih denganmu," bisiknya di telingaku.


"Sabarlah sayang. Itu pun yang kurasakan."


"Ehem .... Ehem ...." Tiba-tiba Bi Atik masuk ke ruang makan memergoki kami yang sedang berpelukan mesra.


Aku dan Kak Baruna sama-sama menoleh ke arah suara itu. Kami cepat-cepat menarik diri menjauh dari tubuh kami masing-masing lalu saling berpandangan canggung. Bi Ati hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kami berdua.


"Dasar anak muda," gumamnya lalu melangkah ke dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang makan.


Kami berdua lalu tertawa seketika melihat wanita tua itu yang kemudian hilang dari pandangan mata kami.

__ADS_1


__ADS_2