
Sheryl POV
Aku dan Reynand cukup lama menunggu Nayara di meja yang sama. Suasananya terasa aneh. Kami saling mengalihkan pandangan. Dia menoleh ke arah meja kasir. Seorang wanita bertubuh tambun berdiri di sana. Entah apa yang ada dalam pikiran Reynand. Aku sempat melirik ke arahnya. Wajahnya merona menatap wanita itu.
Masa sih dia menyukai wanita tambun itu? batinku mulai kepo. Namun, aku segera menggeleng kuat. Peduli setan siapa yang ia sukai saat ini.
Aku meraih ponselku dan mencoba menghubungi Baruna. Lama aku menunggu, tapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Padahal jam makan siang belum selesai. Akhirnya ponsel itu kuletakkan lagi di atas meja.
"Rey, aku akan ke toilet menyusul Nayara. Dia lama sekali," kataku langsung berdiri hendak meninggalkan pria itu.
Reynand tidak menjawab. Namun saat aku hendak berjalan menuju toilet, pria itu menarik lenganku. "Jangan pergi!" katanya.
Seketika, aku menoleh kembali duduk di depannya. "Ada apa?"
"Kamu tidak perlu pergi untuk menghindar. Aku sudah memikirkannya. Kita bisa melupakan semua masa lalu dan menjalin semuanya dari awal," katanya.
"Dari awal?" Aku mengernyit bingung. Tingkahku memang sangat terbaca olehnya. Berusaha menghindarinya sebisa mungkin saat terjadi momen berdua saja seperti ini.
"Ya. Aku dan kamu sama-sama tahu kalau kita tidak bisa terus berpura-pura menjadi satu keluarga tanpa mengingat kenangan masa lalu. Beberapa hari ini aku sudah memikirkannya. Jika kamu tidak bisa menganggapku kakak, mungkin kamu bisa menganggap aku sebagai atasanmu seperti dulu. Dengan begitu, hubungan kita akan menjadi formal kembali." Reynand tiba-tiba mencetuskan sebuah solusi aneh untuk hubungan kami berdua.
Bagaimana bisa menganggapmu sebagai atasanku sementara aku sudah tidak menjadi anak buahmu, huh?
Aku menelan ludah. Mengerjapkan mata berkali-kali tidak menyangka dia mencetuskan ide seperti itu.
"Aku bukan sekretarismu lagi," sahutku.
"Aku tahu," ucap Reynand mantap.
"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" Aku tidak setuju.
"Itu jika kamu tidak keberatan. Aku tidak memaksa. Tapi sungguh, ini mungkin satu-satunya cara. Saling menganggap sebagai rekan kerja mungkin akan membuat kita sadar kalau aku adalah bosmu dan kamu hanya seorang sekretaris yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa."
Mendengar penjelasannya tiba-tiba membuat darahku mendidih. "Maaf ya, Rey. Kita memang pernah sama-sama memiliki perasaan, tapi perasaanmu adalah tanggung jawabmu dan perasaanku adalah tanggung jawabku. Aku tidak tertarik untuk bekerja denganmu lagi dan menganggapmu sebagai bosku. Pikiranmu sangat aneh!"
"Aneh, ya? Ya sudah .... Aku juga tidak akan memaksa. Itu hanya sebuah ide." Pria itu hanya mengangguk santai seakan-akan aku yang hanya memiliki masalah jika bertemu dengannya. Padahal aku tahu pasti, dia memiliki masalah yang sama denganku.
"Haish! Mengapa kamu sangat menyebalkan?!" Aku mencebik di hadapannya, sedangkan pria itu hanya terkekeh.
__ADS_1
"Ya. Aku memang menyebalkan tapi bisa membuatmu rindu setengah mati." Lagi-lagi ia tertawa.
Sepertinya pria ini keracunan sushi.
"Rey, ini serius. Aku tidak ingin pernikahanku hancur karena Baruna salah paham. Aku tidak ingin sering bertemu, tapi takdir selalu membuat kita dekat. Ini sangat aneh."
"Baruna tidak akan cemburu. Dia sangat percaya kepada kita, bukan?" Sebelah alis hitam legamnya terangkat menatapku.
"Ya, tentu saja! Dia sangat percaya kepadaku," timpalku kesal dan sialnya aku tidak bisa mengelak kalau suamiku itu juga sangat memercayai kakak tirinya ini. Ingin rasanya memukul kepalanya agar otaknya tidak eror dan kembali berfungsi dengan benar.
"Tapi jika kamu berselingkuh perasaan, dia tidak akan tahu, Sher."
Apalagi ini? Haish! Apa dia sedang mengujiku dengan mencoba memancing perasaan ibu hamil, huh?
"Rey, jika kamu berkata yang tidak-tidak lagi, lebih baik aku pergi!" Aku segera meraih tasku bergegas pergi. Namun baru beberapa langkah, pria itu kembali menarik tanganku.
"Maaf," ucapnya singkat. Aku menarik lenganku hingga terlepas dari tangannya. Sesaat menatap wajahnya yang terlihat menyesal. Namun, aku tidak peduli. Segera pergi dari tempat itu.
"Sheryl!" panggilnya, tapi aku tidak ingin berhenti melangkah.
Sekali lagi, pria itu menarik tanganku hingga tubuhku berputar dan menatap dalam wajahnya.
Tanpa basa-basi ia menarik pinggangku mendekat dan melekatkan bibirnya yang dingin menempel bibirku. Segera kudorong tubuhnya menjauh dan menghadiahkannya sebuah tamparan keras.
"Berengsek!"
Dengan langkah tergesa-gesa, aku berjalan meninggalkan Reynand. Tiba-tiba saja teringat kalau tidak membawa mobil. Aku berjalan hingga ke sebuah halte dan duduk di sana.
Secepat kilat, air mataku meluruh. Mengingat kejadian barusan. Napasku berembus berkejaran, tidak teratur.
Reynand berengsek! Sialan! Kukira dia sudah berubah. Mengapa jadi seperti ini?
Aku terus memakinya. Fix! Aku tidak akan lagi bersimpati kepadanya bagaimanapun keadaan ia nantinya.
***
Reynand POV
__ADS_1
Sheryl pergi dengan langkah terburu-buru meninggalkanku. Tamparan yang dilakukannya membuat pipiku terasa sedikit sakit. Rasa panas menjalari seluruh tubuhku. Aku baru saja menciumnya.
Entah dari mana keberanian itu muncul. Keinginan menciumnya timbul begitu saja setelah melihat ekspresi dan jawaban atas pertanyaanku dan ide gila yang kulontarkan untuk memancingnya.
Aku yakin ia masih memiliki sedikit perasaan untukku. Bahkan ia tidak langsung menolak saat bibir kami saling bertemu. Namun aku pun harus cepat menyadarinya kalau ia hanya sebuah mimpi yang tidak dapat kugapai, kecuali jika suatu saat ia datang sendiri kepadaku. Saat itu, aku tidak akan pernah melepasnya untuk yang ke dua kalinya.
Aku pun kembali ke dalam restoran. Nayara belum juga terlihat duduk di meja kami. Entah kerasukan apa dia hingga lama mendekam di dalam toilet.
Aku kembali duduk di meja kami. Sebuah ponsel menjadi pusat perhatianku. Ponsel Sheryl terlihat menggeletak di atas meja. Sheryl pasti tidak sengaja meninggalkan ponselnya.
Kuambil ponsel itu. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tulisan "Suamiku memanggil" terlihat di layar. Segera kujawab panggilannya.
"Sayang, maaf aku baru selesai makan siang. Ponselku tertinggal di ruangan. Ada apa?" Suara Baruna terdengar.
"Bar, ponsel istri lo tertinggal di restoran sushi saat kami akan makan siang bersama," jawabku.
"Reynand?" Suara Baruna terdengar kaget.
"Ya."
"Oh. Ya sudah simpan ponsel itu, nanti gue ambil."
"Baiklah."
Tanpa banyak berbicara lagi, dia mengakhiri panggilan. Aku menghela napas panjang, lalu menaruh ponsel itu ke balik jas.
"Sheryl mana, Rey?" tanya Nayara yang tiba-tiba datang.
Aku menoleh tanpa menjawab. Wanita itu pun duduk di depanku.
"Ada apa, Rey?" tanya wanita itu lagi dengan tatapan serius.
"Dia pergi tanpa bilang apa-apa." Aku mengangkat bahu, malas menceritakan apa yang terjadi.
"Kok aneh, ya." Nayara bergegas menelepon, tapi aku mencegahnya.
"Ponselnya tertinggal dan Baruna menyuruhku menyimpannya. Nanti ia akan mengambilnya."
__ADS_1
"Oh .... Ya sudah. Ayo makan. Aku tidak akan sanggup menghabiskan makanan ini sendirian," katanya seraya menatap segala macam sushi yang tersedia di atas meja.
"Nanti kubantu," jawabku menyeringai.