Marriage Order

Marriage Order
S3 Restu yang Kudapatkan


__ADS_3

Sheryl Pov


"Sheryl? Baruna?"


Ayah Anton tampak terkejut menoleh ke arah kami. Papa melirik tajam sejenak lalu menunduk, membereskan bidak catur di hadapannya.


"Anton, kita sudahi saja permainannya," ujar Papa kemudian bangkit dari duduknya.


"Hei, Gung! Kau mau ke mana?" Ayah Anton mendelik heran Papa yang tiba-tiba hendak pergi.


"Aku sudah tidak mood bermain," sahut Papa langsung membawa papan catur itu di tangannya. Sekilas, aku dapat melihat Papa menatap sinis kepada Baruna.


Masa sih, Papa masih.... Aku pikir hanya kepada Ayah Anton saja ia bersikap demikian.


"Sepertinya kehadiranku telah mengacaukan suasana di sini," ucap Baruna yang sontak membuatku menoleh ke belakang. Ia balas menatap serius Papa yang hendak masuk ke dalam rumah.


Papa menghentikan langkah. Perhatianku kini beralih. Ayah kandungku itu, entah apa maunya sekarang. Sepertinya, sakit hatinya belum juga pupus hingga saat ini kepada mantan suamiku.


"Papa seperti anak kecil saja!" cetusku yang tak suka dengan cara ia menatap Baruna.


Papa menyeringai kepadaku. Tatapan matanya sangat menyayat tajam. "Papa mengerti maksud kedatangan mantan mertuamu malam ini. Dia ingin melamarmu untuk Reynand. Namun yang Papa tidak mengerti, mengapa kau malah membawa Baruna datang ke sini beserta anak haramnya itu? Kalian berbaikan, huh?! Kau ingin kembali kepadanya?"


"Tidak, Papa–


"Kami hanya tidak sengaja bertemu tadi siang, Pa. Dan jangan panggil Rafa dengan sebutan seperti itu! Rafael tak ada sangkut pautnya lagi." Baruna memotong dengan cepat.


"Ck! Jangan memanggilku Papa! Kau bukanlah menantuku lagi!"


"Maksudku, Om...." Baruna menundukkan kepalanya, "saya dan Rafa hanya mengantar Sheryl pulang. Tak ada maksud lain."


"Sampai teras? Kau masih mengharapkan Sheryl, 'kan? Kau sungguh tak tahu malu datang ke sini!" Kening Papa mengerut tak suka. Ia menyahut dengan begitu pedas.


"Sudahlah, Gung. Seharusnya kau tidak perlu berkata seperti itu kepada Baruna. Dia sudah menikah dengan orang lain dan memulai hidup barunya." Ayah Anton ikut masuk ke pembicaraan kami lalu menghampiri Papa yang bergeming dengan tatapannya yang begitu sinis, "sungguh! Padahal aku pikir hubungan kita sudah membaik. Kita baru saja bermain catur bersama."


"Aku terpaksa bermain karena wajahmu yang memelas saat memintanya." Ayah menjawab dengan air muka kesal, lalu berkata lagi, "kau bilang, kau datang hanya untuk meminta maaf? Tak kusangka, kau malah begitu berani melamar putriku untuk putramu itu. Kau membuatku kesal saja!"


"Jadi, kau bersedia menerima lamaranku untuk Rey?" Ayah Anton tiba-tiba menyengir dengan barisan giginya yang rapi.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Siapa bilang aku sudah memaafkanmu dan Baruna? Dia sudah mengkhianati putriku."


Baruna tampak menghela napas panjang. Dia kemudian berjalan ke arah sofa panjang dan membaringkan Rafael di sana. Bocah kecil itu terlihat lelap dalam tidurnya. Ia tak terbangun sama sekali.


"Mas, di sini dingin. Sebaiknya Rafa tidur di dalam," kataku melihatnya tak tega.


"Tidak apa, Sher. Hanya sebentar saja," sahut Baruna dengan senyum kecilnya lalu beranjak menghampiri Papa lagi, "aku tak tahu bagaimana lagi caranya meminta maaf kepada Om. Aku hanya ingin hubungan kita yang memburuk ini dapat kembali baik seperti semula."


Papa bergeming, tak merespon sama sekali. Ia malah memalingkan wajahnya dari Baruna. Namun tiba-tiba saja. Baruna berlutut di hadapan Papa. Kepalanya mendongak menatap serius.


Ayah Anton terperanjat melihat tindakannya. "Bar, jangan beg–"


"Aku minta maaf, Om. Sungguh! Tak kusangka, Om yang paling tersakiti atas perilakuku di masa lalu."


Perlahan, Papa menoleh. Ia balas menatap Baruna dengan air mukanya yang begitu arogan. "Bagus bila kau tahu. Yang sakit memang bukan hanya Sheryl. Om, Tante Rini, dan juga Reza—sahabatmu sendiri. Kau begitu tega menghancurkan hati kami!"


Aku tak bisa diam saja melihat pemandangan ini. Papa akan meledak-ledak bersama emosinya.


"Cukup, Pa! Aku sudah memaafkan Mas Baruna. Seperti aku, seharusnya Papa pun demikian. Jika Papa seperti ini, kami tidak bisa membuka lembaran baru hidup kami. Kami tak ingin terus terjebak dalam situasi yang tidak nyaman, Pa!" Aku berteriak cukup lantang. Aku tak ingin membuat situasi ini menjadi berlarut-larut.


Pintu depan terbuka dari dalam. Mama, Kak Reza, dan Kak Dita tiba-tiba muncul. Kak Reza menghampiri sahabatnya. Dia meraih kedua bahu Baruna dari belakang.


"Bar, lo ngapain berlutut di sini? Berdiri!" katanya.


"Enggak. Bokap lo masih belum bisa memaafkan gue dan Ayah. Gue gak akan bangun sampai beliau memaafkan kesalahan gue. Karena kesalahan gue dan Ayah, Sheryl dan Reynand jadi korbannya. Mereka yang jadi sasaran kemarahan dan kekecewaan Bokap lo."


"Tapi, Bar...."


"Sheryl...."


Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku. Seketika aku menoleh diikuti oleh beberapa pasang mata yang bergerak mengikuti arah pandanganku. Entah sejak kapan, Reynand sudah berdiri di belakang kami.


Apa dia melihat semuanya sejak tadi? Pantas mobilnya berada di halaman tapi tidak dengan pemiliknya.


Reynand berjalan menghampiri. Langkahnya berhenti tepat di sampingku. Sesaat kemudian dia merunduk dan berlutut. Dalam sekejap, kami bertiga berlutut di hadapan Papa.


"Om, saya tahu ini bukan saat yang tepat, tapi izinkanlah saya untuk menikahi Sheryl. Saya berjanji akan membahagiakan dan mencintai ia seumur hidup saya, Om"

__ADS_1


Aku menoleh dengan cepat. Pandanganku membeliak ke arahnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari mulutnya. Apa dia sudah gila? Mengatakan hal seperti itu di situasi seperti ini. Situasi lamaran macam apa ini? Seperti menaruh garam dalam luka yang masih basah. Reynand mungkin akan memperburuk suasana.


Papa mengepal kedua tangannya begitu erat. Ia tampak geram. Mama yang berdiri di sampingnya kemudian meraih dan menggenggam tangan Papa dengan cepat.


"Mas, bukankah Baruna sudah menyesali perbuatannya?Dia juga sudah berkali-kali meminta maaf atas semua kesalahannya. Aku tahu betapa sakitnya hatimu. Seorang ibu juga merasakan hal yang sama. Mas jangan egois! Baruna dan Sheryl sama-sama memiliki kesalahan di masa lalu. Namun di samping itu, keduanya juga ingin beranjak dari masa lalu mereka. Jadi, lapangkanlah hati mas dengan membiarkan mereka menjejaki lembar kehidupan baru dengan tenang."


Perkataan Mama membuat kepalan tangan Papa perlahan membuka dan memperlihatkan barisan kukunya sejenak kemudian.


"Reynand dan Sheryl... kita sama-sama tahu keduanya saling mencintai. Mereka tidak akan bisa melangkah ke jenjang selanjutnya jika Mas terus keras kepala dengan tidak memberikan restu. Mas harus memberikan mereka kesempatan," tambah Mama.


Aku tak percaya dengan apa yang kulihat setelah Mama berbicara. Papa membiarkan air matanya mengalir di hadapan kami. Cukup lama hingga akhirnya ia mengangguk pelan. Menatap kami bertiga bergantian.


"Ya, baiklah. Om akan memaafkanmu, Baruna. Maafkan Om juga yang terus menyalahkanmu atas penderitaan Sheryl, padahal Om tahu kau tidak sepenuhnya salah," ujar Papa lalu mengusap air matanya. Baruna tertegun menatap Papa. Ia hanya mengangguk tanpa kata-kata. Papa kemudian mengarahkan pandangannya kepada Reynand, "Om juga akan merestui hubunganmu dan Sheryl. Kau boleh membuat putri Om bahagia. Kau boleh menikahinya, Rey."


"Benarkah, Om?" Reynand menatap dengan matanya yang berkaca-kaca. Papa hanya membalas dengan anggukan. Reynand menarik tangan Papa, mencium punggungnya, "terima kasih, Om. Saya tak akan melanggar janji saya. Om boleh membunuh saya bila saya tidak menepati janji saya terhadap Sheryl." Reynand langsung menyeka air mata yang tiba-tiba bergulir dari pelupuknya.


Papa kembali mengangguk. "Harus! Kau pria pilihannya. Jadi, kau tidak boleh membuatnya menderita, Rey."


"Iya, Om. Demi apapun di dunia ini, Sheryl adalah satu-satunya wanita yang saya cintai."


Ayah Anton yang masih berada di tempat itu ikut meneteskan air mata. Ia lalu berjalan menghampiri Papa.


"Terima kasih sudah memaafkan kesalahan kami, Gung. Aku tahu kau adalah sahabat sejatiku."


Papa hanya mengangguk pelan. Ayah Anton kemudian menghampiri dua putranya. Meminta keduanya untuk berdiri.


"Baruna, Reynand, Ayah minta maaf karena telah banyak ikut campur urusan kalian. Namun sungguh! Pada akhirnya, Ayah hanya ingin yang terbaik. Ayah ingin dua putra Ayah akur dan bahagia dengan pilihan hidupnya."


"Ayah...." Reynand dan Baruna memanggil ayah mereka bersamaan. Kemudian, tanpa berbasa-basi mereka pun berpelukan.


Mama merunduk, menyentuh pundakku. Dia membantuku berdiri, lalu memeluk begitu erat.


"Mama sayang kepadamu, Nak. Mama pun ingin kau meraih kebahagiaan dengan pilihan hidupmu sendiri mulai hari ini dan nanti."


Begitu Mama berbisik, itu sangat menenangkan dan membuatku terharu hingga menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Mama. Tiba-tiba teringat akan kejadian hari ini yang membuat perasaanku tak menentu. Tante Aina masih belum merestui kami.


"Maafkan Papa, Sheryl," ucap Papa. Ia bersama Kak Reza dan Kak Dita ikut dalam pelukan kami.

__ADS_1


__ADS_2