Marriage Order

Marriage Order
S3 Restu Yang Kutunggu


__ADS_3

Sheryl Pov


Malam ini, mengenakan gaun berwarna merah muda, aku berjalan beriringan bersama Reynand menuju ballroom hotel M. Suasana mewah dan elegan langsung terasa saat itu. Apalagi, beberapa tamu undangan sudah terlihat hadir di sana.


Indira langsung menghampiri kala kedua bola mata kami saling bertemu. "Sheryl? Kau datang juga?" tanyanya tak percaya. Matanya membulat penuh menatapku.


"Kau pikir Sheryl tak akan datang karena kalian tak mengundangnya?" Reynand menyahut dingin. Indira menarik senyum serba salah.


"Bukannya begitu, Kak Rey. Aku ingin sekali Sheryl datang, tapi Mama melarangku mengundangnya."


"Sudahlah! Aku tak percaya kau masih berada di pihakku, Dir." Reynand mengibaskan tangannya.


"Sungguh! Aku tidak bermaksud begitu, Kak. Aku senang melihat kalian berdua datang bersama," jawab Indira sedikit memelas.


"Sudahlah, Rey." Aku mengusap bahu Reynand. Menyuruhnya berhenti mendebat adiknya sendiri.


"Tapi, Sher-"


Reynand belum selesai berbicara ketika Julian yang berpakaian resmi menghampiri kami dan memotong pembicaraan.


"Pak Rey, Ibu Aina ingin berbicara dengan Anda sekarang. Bisakah Anda ikut saya?"


"Memangnya di mana Mama sekarang?" tanyaku.


"Di ruangan di balik panggung," jawab Julian.


Reynand sontak menoleh ke arahku. Ia tampak sedikit cemas meninggalkanku sendiri.


"Kakak jangan khawatir. Aku akan menemani Sheryl di sini," ucap Indira langsung mengamit lenganku.


Reynand mengangguk. Ia menuruti Julian dan pergi bersamanya. Aku dan Indira hanya bisa memandang kepergian mereka dari kejauhan. Rasa gugup langsung menyerang kala berada di acara pesta seperti ini. Apalagi saat orang-orang yang hadir mengarahkan pandangannya ke arahku sejak tadi.


Bagaimanapun, semuanya pasti bisa menebak. Aku dan Reynand, kami menjalin sebuah hubungan spesial. Seorang wanita yang pernah menikah dengan adik tirinya, kini menjalin hubungan dengan sang kakak. Betapa tak tahu malu! Ya, setidaknya itulah pikiran negatif yang selalu melintas dalam benakku.


"Sheryl?"


Suara Indira membuyarkan pikiran negatif itu. Aku sontak menoleh. "Ya-ya, Dir?"


"Kau melamunkan apa?" tanyanya bingung.


"Tidak... tidak ada." Aku menggeleng cepat.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita ke sana. Kau harus melihat anakku, Ezra." Indira menunjuk ke arah seorang pria yang sedang menggendong anak laki-lakinya.

__ADS_1


Daniel?


Aku dan Indira menghampiri Daniel yang sedang berdiri mengobrol dengan pria yang tampak tak asing bagiku. Baruna. Mantan suamiku juga hadir di pesta ulang tahun Reynand. Sayangnya, lagi-lagi aku tak melihat Felicia di sampingnya.


"Sayang, maaf membuatmu lama menemani Ezra," ucap Indira langsung meraih putranya dari gendongan sang suami.


"Ah, tidak apa-apa, Sayang. Ezra sangat tenang sejak tadi. Ia tak menangis. Ya 'kan, Zra?" Daniel menyahut dan dengan cepat Ezra mengangguk seolah mengerti apa yang dibicarakan papanya.


Indira tak menyahut lagi. Aku yang berada di sampingnya langsung mengalihkan perhatian pad Ezra.


"Siapa nama panjangnya?" tanyaku.


"Ezra Marselino Pratama," Indira menatap putranya lembut.


Aku menyunggingkan senyum kecil. Jika saat itu tak terjadi kecelakaan, mungkin aku akan membawa anakku juga. Dan dia bisa menjadi teman untuk Ezra.


"Kau ingin menggendongnya?" Indira menyodorkan anaknya yang berusia satu tahun lebih kepadaku.


"Tidak. Aku tak yakin bisa. Aku takut–" Aku menggeleng.


"Kamu pasti bisa menggendongnya, Sher." Suara Baruna tiba-tiba memotong percakapan kami.


Sontak, aku menoleh ke arah Baruna. Ia menarik lengkungan senyum tipis kepadaku. Namun raut mukanya tampak berbeda. Sorot mata itu seolah mengatakan kalau ia sedang tidak baik-baik saja.


Reynand Pov


Ruangan yang berada di balik panggung terlihat cukup luas. Aku melangkah masuk, mendekat pada sosok Mama yang sedang duduk di sofa panjang sambil menikmati anggur merah di dalam gelas berkaki tinggi.


Mama menoleh ke arahku. "Rupanya kau sudah datang."


"Ada apa Mama memanggilku?" tanyaku.


Mama langsung menaruh gelas di atas meja dan bangkit berdiri. Dia berjalan ke arahku, lalu dengan cepat memberi sebuah pelukan hangat.


"Selamat ulang tahun, Nak."


Suaranya yang sedikit parau membuatku bergeming. Membiarkan ia memelukku beberapa saat hingga akhirnya ia mengurai pelukannya.


"Terima kasih sudah datang."


Aku mengangguk lalu memandang wajahnya yang terlihat sedikit pucat. "Mama sakit?"


"Hanya sedikit tak enak badan."

__ADS_1


"Sudah tahu tidak enak badan, mengapa bersikeras mengadakan acara kekanak-kanakan seperti ini?" protesku.


"Entahlah. Mama hanya merasa perlu melakukannya sekarang, Rey," Mama berbalik. Ia berjalan meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, lalu memberikannya kepadaku. Sebuah kotak kecil perhiasan.


Aku menatap bingung kotak perhiasan yang kini ada di tanganku. "Apa ini, Ma?"


"Kadomu."


Masih dengan kening mengernyit, aku membuka kotak perlahan. "I-ini...." Aku tak sanggup berkata-kata. Mataku menatap nanap tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Sebuah cincin berlian wanita tampak sangat indah berada di dalamnya.


"Pakaikan cincin itu di jari wanita yang kau cintai." Perkataan Mama benar-benar membuatku tercengang.


Bagaimana bisa ia berubah pikiran?


Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluk ibu kandungku itu begitu erat. "Mama, terima kasih." Aku memejam. Butiran air mata jatuh tanpa sengaja.


Mama mengulas senyumnya, mengangguk. "Mama telah berpikir panjang untuk ini. Mama akan merestui hubungan kalian."


Aku mengurai pelukan. Menatap wajah Mama dengan benak penuh tanda tanya. Mengapa ia memberikan restunya padahal perkataannya di telepon tadi masih terkesan membenci Sheryl?


Aku segera memasukkan kotak cincin itu ke dalam jas. "Mama, aku mempunyai satu pertanyaan."


Mama mengangkat sebelah alisnya. "Ya? Katakanlah, Rey."


"Mengapa Mama berubah pikiran? Bukankah Mama membenci Sheryl?" tanyaku.


"Bagaimana ya, mengatakannya...." Tatapan itu tampak gemetar dan berkaca-kaca, "bagaimanapun, cepat atau lambat kau akan menikah, bukan? Siapapun wanita pilihanmu, pada kenyataannya Mama tetap harus belajar menerima orang baru dalam keluarga kita. Bisa saja pada akhirnya wanita lain yang Mama pilih untukmu malah menjadi lebih buruk dari Sheryl. Jika itu terjadi, Mama yang tak akan bisa memaafkan diri Mama sendiri. Jadi, anggap saja Mama memberikan kesempatan untuk wanita yang bernasib mirip dengan Mama itu agar bisa bahagia."


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Karena begitu senangnya, aku memeluk Mama kembali dengan erat. Terlepas dari bagaimana hubunganku dengan Sheryl, dia tetaplah ibuku dan aku sangat menyayanginya.


"Rey, kau ingin membuat Mama kehabisan napas, huh?"


Mendengar perkataan Mama, aku buru-buru melepaskannya. Mama mencoba mengatur napasnya kembali. Sedetik kemudian, ia tersenyum kepadaku.


"Sikap Mama mungkin terkesan kaku. Tapi percayalah, Mama tidak bisa benar-benar membenci seseorang. Katakan kepada Sheryl kalau Mama telah merestui hubungan kalian."


Masih dengan guratan senyum, aku mengangguk cepat-cepat. Rasanya sungguh tak sabar untuk menemuinya dan mengabari hal ini. Kami akan menikah. Ya, kami akan segera menikah!


Julian tiba-tiba datang. Ia mengatakan kalau pestanya akan segera dimulai karena sebagian besar tamu undangan sudah datang memenuhi ballroom.


"Terima kasih, Julian," sahutku kemudian mengalihkan pandangan pada Mama, "maukah Mama berjalan di sampingku?"


Tanpa ragu, Mama mengangguk cepat. Aku segera meraih lengannya. Menggandeng Mama berjalan keluar dari ruangan. Dengan rasa bangga aku berjalan di samping ibu kandungku itu.

__ADS_1


Ballroom hotel memang sudah terlihat ramai. MC sudah berdiri di atas panggung membuka acara ulang tahun ini. Seketika pandanganku mengedar mencari di mana Sheryl. Namun, aku tak dapat menemukannya. Ia tak ada di di sekitar ballroom.


__ADS_2