Marriage Order

Marriage Order
S3 Lagi-Lagi Aku Bertemu Baruna


__ADS_3

Sheryl Pov


Tante Aina tak menyahut apa-apa. Ia membiarkan Indira berbicara tanpa jawaban. Wanita itu berdeham rendah, lalu sibuk dengan pemikirannya. Tak ada yang bisa menebak apa yang melintas dalam benak Tante Aina.


Indira tiba-tiba memutar setirnya. Mendadak menepikan kendaraan. Sejenak kemudian, ia menoleh ke belakang dengan raut kesal.


"Mama, tak bisakah kalian berdamai saja? Berdebat tak akan menyelesaikan masalah," katanya kepada Tante Aina.


"Dira, ini urusanku dan kakakmu," kataku menimpali.


"Tidak. Kalian membuatku gemas. Aku sungguh merasa kalian sangat bodoh dan butuh pertolongan."


"Apa yang kau lakukan, Indira? Kau juga ingin membantah Mama seperti kakakmu?" Aina menatap dingin.


"Aku mendukung mereka. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Mungkin Sheryl memang telah melakukan banyak kesalahan pada Kak Rey dan Mama, tapi yang menjalani hubungan adalah mereka, bukan Mama. Mereka yang tahu bagaimana perasaan mereka masing-masing. Mereka yang merasakan kebahagiaan maupun kesedihan mereka sendiri. Sebaiknya Mama memikirkan lagi sikap Mama yang seperti ini. Sungguh! Aku tak ingin Kak Rey jatuh."


Aku hanya bisa memandang Indira, tanpa berkata-kata. Tak menyangka sama sekali ia begitu membelaku dan Reynand. Semua perkataan yang hendak terucap seolah sudah diwakilkan olehnya.


"Dira, seorang ibu juga tak ingin anaknya terjatuh lagi. Mama hanya ingin mencegah hal itu terjadi." Tante Aina menyahut lugas.


"Jikalau Kakak merasakan kembali keterpurukannya, aku yakin dia masih bisa bangkit. Mama tak akan bisa mencari seorang menantu sempurna, Mama tak akan pernah mendapatkannya."


"Mama tak ingin bertengkar! Kita pergi untuk mengatur pesta kejutan ulang tahun kakakmu, tapi kau malah merusaknya dengan mendebat Mama."


Deg!


Ulang tahun? Aku bahkan tak mengingat kapan Reynand berulang tahun. Sheryl, kau adalah kekasih yang tak berguna!


"Aku sungguh tak tahan. Emosiku ikut meledak mendengar Mama berkata seperti itu kepada Sheryl. Sekarang dia dan Kak Rey sama-sama lajang. Tak ada salahnya jika–"


"Dir, aku akan turun," potongku yang langsung membuat adik Reynand itu menghentikan gerakan bibirnya.


"Tapi, Sher–"


"Maaf, tapi sebaiknya aku turun saja. Kehadiranku sepertinya malah merusak suasana di sini." Aku menundukkan kepala, pamit. Tante Aina tak berkata apa-apa. Ia menatapku acuh tak acuh, lalu memainkan ponselnya.


"Mama ...."

__ADS_1


Dira memanggil lirih, tapi ibunya itu tak menghiraukannya sama sekali. Aku segera membuka pintu, keluar dari mobil. Melangkah pelan berlawanan dari tujuan mereka.


"Sher! Sheryl!" Suara Indira terdengar tapi tak kugubris sama sekali. Aku tetap melangkah menyusuri tepi jalan raya.


Apanya yang berjuang, Sheryl? Kau hanya bersikap baik, mengerjakan tugas seorang sekretaris, dan mematuhi apapun perintah dari Tante Aina. Semua kau lakukan untuknya agar ia merestuimu, suka atau tidak suka. Namun kenyataannya... tak ada. Dia masih bersikap seperti itu.


Apapun yang kulakukan sepertinya memang tak akan menarik simpati Tante Aina. Jarak kami sudah terlampau jauh. Dia masih menilaiku dengan cara yang sama seperti dulu.


Dan hari ini... aku merasa tidak berguna sama sekali. Bagaimana bisa aku melupakan tanggal lahir Reynand? Hari yang penting dalam hidupnya. Haish! Aku terlalu sibuk mengejar restu ibunya hingga lupa kapan Reynand berulang tahun.


Entah sudah seberapa jauh aku melangkah. Terbenam dalam pemikiran negatif yang tak kunjung usai. Langkahku terhenti kala suara perut mengganggu tanpa disangka.


"Seharusnya tadi aku tidak perlu terlalu bekerja keras hingga melewatkan waktu makan siangku," gumamku seraya mengusap perut.


Aku mengedarkan pandangan, mencari tempat yang bisa disinggahi saat ini. Tampak sebuah restoran fastfood tak jauh dari posisiku. Tanpa membuang waktu menuju ke restoran itu.


Suasana tak terlalu ramai. Dari belakang tampak seorang pria sedang menggandeng seorang anak kecil, berdiri memesan menu yang mereka inginkan. Sementara aku berdiri mengantre di belakang mereka.


"Sandwich, kentang, burger ...." Aku bergumam sendiri, memikirkan sesuatu yang hendak kupesan.


"Tante Sheryl!" Suara anak kecil terdengar lantang. Aku sontak menunduk, mencari sumber suara. Seorang anak kecil mendongak menatapku.


Aku terperanjat beberapa saat. "Mas Baruna," kataku lirih.


"Kebetulan sekali," sahutnya tersenyum, lalu melihat sekeliling, "sendirian?"


"Iya." Aku mengangguk.


Beberapa saat kemudian, aku duduk sendirian menikmati roti sandwich di meja yang lain, jauh dari Baruna dan putranya.


"Asin," kataku lirih, tapi lalu menyadari linangan air mata yang tanpa sengaja masuk ke mulutku, "haish! Kenapa harus di saat seperti ini?!"


"Sheryl, Rafael ingin kamu bergabung dengan kami."


Suara Baruna sontak membuatku mengangkat wajah, menatap ia yang sudah berdiri di dekat meja. Aku buru-buru menyeka air mataku lalu menoleh ke meja mereka. Rafael dengan senyum polosnya melambaikan tangan kepadaku.


"A-aku–"

__ADS_1


"Kamu sudah berjanji tidak akan menyakitinya, 'kan?" sahut Baruna memotong.


Mau tak mau, aku mengangguk mengiyakan. Benar apa kata Baruna. Aku sudah berjanji. Meski sudah tak menatap dingin kepada Rafael, sikapku pun seharusnya demikian. Tak ada alasan untuk menolak ajakan bocah kecil itu.


"Yeey! Tante Sheryl bersama kita!" teriaknya bersemangat.


Baruna menyengir lebar. Sedikit demi sedikit, dengan canggung ikut melakukan hal yang sama. Rafael tampak sangat senang kala aku bergabung dengannya.


"Ayah, kubilang apa, Tante Sheryl mau bergabung dengan kita. Dia tak membenciku, Yah!" katanya kepada Baruna yang sontak membuatku tercengang.


Baruna menatapku, lalu mengalihkannya kepada Rafael. "Iya. Tante Sheryl tak membencimu, Nak. Ia sayang kepadamu, Rafa. Ya 'kan, Sher?"


"I-iya," jawabku tergagap. Rafael membalas dengan anggukan dan mulut yang penuh sandwich. Ia mengunyahnya begitu bersemangat.


"Mengapa tadi kamu menangis?" tanya Baruna tiba-tiba.


"Kamu melihatnya?"


Baruna mengangguk.


"Tidak apa-apa. Bukan suatu hal yang serius," jawabku tak ingin bercerita, lalu mengalihkan ia dengan pertanyaan yang lain, "kamu tidak ke kantor?"


Baruna hanya memperlihatkan senyum samar. "Tidak. Hari ini aku sengaja mengambil cuti dan menghabiskan waktu bersama Rafa."


"Lalu, di mana Felicia? Aku tak melihatnya." Aku bertanya dengan pandangan mengedar mencari sosok yang sudah lama tak pernah kulihat batang hidungnya.


Raut wajah Baruna berubah. Terlihat tak suka membicarakan istrinya sendiri. "Dia tidak ikut."


Baruna menjawab tanpa memberikan alasannya. Hal itu membuatku berpikir hubungan mereka yang tak baik. Aku pun memutuskan untuk tak bertanya-tanya tentang wanita itu lagi.


"Terakhir kali bertemu denganmu di restoran Daniel membuatku sadar kalau aku tak bisa melihatmu menangis. Dan apa yang kulihat tadi, lagi-lagi kamu melakukannya di depanku."


Aku menghela napas panjang. "Bagaimanapun keadaanku saat ini, itu bukan menjadi urusanmu lagi, Mas."


"Aku tahu. Ini pasti tentang Tante Aina, 'kan?"


Aku tak menjawab. Baruna terlihat menghela napas panjangnya.

__ADS_1


"Aku sudah menceritakan tentang masalah hubunganmu dan Rey pada Ayah."


"Maksudmu?" Aku mengerutkan kening.


__ADS_2