
Aku sedang duduk di depan meja kerja, memusatkan mata dan pikiran pada layar komputer. Aku mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Reynand. Mataku melirik ke pintu ruangannya. Pak Reynand masih betah berada di sana. Dia tidak keluar dari ruangannya sejak datang pagi-pagi sekali. Terakhir aku menemuinya membawakan secangkir kopi tadi pagi.
Aku beranjak dari tempat dudukku, melangkah mengetuk pintu ruangannya. Suasana hening, sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Aku pun memberanikan diri masuk ke dalam ruangannya yang tidak terkunci.
"Pak Reynand ...," panggilku.
Aku melihat Pak Reynand sedang tidur di atas sofa. Lengannya berada di atas wajah menutupi matanya. Aku berbalik arah kembali keluar takut jika ia terbangun akibat kehadiran diriku. Namun tiba-tiba Pak Reynand benar-benar bangun dari tidurnya kemudian memanggilku.
"Sheryl." Suaranya terdengar lemah.
Aku menoleh dan berbalik arah, "Ya Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa minta tolong ambilkan saya obat sakit kepala?"
"Obat?"
"Iya kepala saya sakit," jawabnya lemas.
Aku memberanikan diri menghampiri dirinya yang masih berbaring di sofa. Wajahnya terlihat pucat, kutempelkan telapak tangan memegang dahinya, panas. Dia hanya diam tetapi wajahnya terlihat canggung saat aku memegang dahinya.
"Bapak sedang demam. Sebentar, saya cek ada obat penurun panas atau tidak."
Aku mengambil obat dari kotak obat P3K yang letaknya tidak jauh dari sofa. Cepat-cepat mengambilkannya segelas air putih. Pak Reynand lalu meminum obat yang kuberikan. Kemudian merebahkan tubuhnya kembali di atas sofa. Aku menyelimuti tubuhnya dengan jas yang bersandar di kursi kerjanya. Dia hanya diam menurut tidak ada komentar. Aku memandangnya, lelaki ini terlihat tidak berdaya saat sakit.
Jadi hanya begitu saja? Masa sih dia tidak mengatakan apa-apa? Ucapan terima kasih, mungkin?
"Pak, apa perlu saya laporkan ke istri Bapak kalau anda sedang sakit di kantor?" Sebuah pertanyaan yang salah tercetus begitu saja dari mulutku.
Pak Reynand menarik dan menghela napas panjang berkali-kali mendengar pertanyaanku. Raut wajahnya berubah marah.
"Sheryl, sebaiknya kamu cari tahu banyak tentang saya. Pertanyaanmu membuat saya makin sakit kepala!" jawabnya ketus.
"Aduh Pak, maafkan saya. Kalau tidak ingin mengabari istri bapak bilang saja baik-baik. Pasti akan saya lakukan."
"Saya belum menikah! Paham kamu!" Pak Reynand berteriak kepadaku. Sorot matanya menunjukkan kalau dia bertambah marah menanggapi kata-kataku.
"Astaga, maaf Pak! Saya pikir Bapak sudah menikah." Aku setengah berteriak.
"Kamu jangan pernah menyimpulkan sesuatu sebelum memastikannya terlebih dahulu. Satu lagi, buang semua asumsi burukmu tentang saya. Saya ini bos kamu!"
"Iya Pak, maafkan saya sekali lagi."
"Tolong bawakan saya makan siang. Saya tidak mungkin keluar dengan kondisi saya sekarang."
Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
__ADS_1
"Iya Pak. Nanti saya bawakan. Saya permisi ya Pak. Bapak istirahat saja dulu."
Pak Reynand hanya mengangguk. Kemudian memejamkan matanya kembali. Aku bergegas keluar ruangannya dan kembali ke tempat dudukku.
Aku terkena omelannya lagi. Aku pikir dia menjadi tidak berdaya saat sakit. Aduh mulutku, kenapa tidak bisa jaga diri, sih? Asal berkata tidak mencari tahu dulu. Aku pikir dia sudah menikah. Sensitif 'kan jadinya.
Aku membuka aplikasi pesan antar makanan di ponsel dan mencari menu makanan yang bisa dipesan saat makan siang.
"Pak Reynand mau makan apa, ya? Aku lupa menanyakan dia ingin makan apa." Jari jempolku sibuk memilih-milih makanan di layar ponsel.
Tidak lama kemudian aku menemukan makanan yang kira-kira dia suka dan memesannya.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengenakan blazer hitam dengan dalaman blus putih selutut. Wajahnya sudah tua tapi tetap anggun dan cantik. Dia juga menenteng sesuatu di tangan kanannya. Dia adalah Ibu Aina pemilik perusahaan Pradipta corporation.
"Selamat siang, Ibu Aina." Aku berdiri setengah membungkuk menyambutnya.
Ibu Aina menoleh ke arahku, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah lalu menjawab dengan angkuh, "Siang! Kamu sekretaris anak saya? Anak saya ada di dalam, 'kan?"
"Iya Bu. Pak Reynand ada di dalam, tapi beliau sedang sakit."
"Iya saya tahu," jawabnya lagi seraya melangkah masuk ke dalam ruangan Pak Reynand.
"Astaga ibu dan anak sama saja!" keluhku.
Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Tidak lama Wendy datang membawa sebuah bungkusan.
"Iya terima kasih ya, Wen. Oh iya, ini uang makan buat kamu. Kemarin saya tidak sempat kasih karena keburu meeting di luar," jawabku.
"Wah Mbak Sheryl, terima kasih banyak." Wendy berbalik arah berlalu meninggalkanku dengan wajahnya yang ceria.
Aku membawa bungkusan itu, melangkah menuju ruangan Pak Reynand.
Tok-tok-tok!
Ketukan pintu terdengar ragu. Perasaanku sedikit gugup mengingat ibu dan anak itu ada di dalam.
"Masuk!" jawab Pak Reynand dari dalam.
"Pak, ini makan siangnya," kataku.
Pak Reynand masih berbaring di atas sofa. Ibu Aina menemani di sampingnya. Berbagai makanan berserakan di sekitarnya. Ibu Aina telah mengeluarkan semua isi kantung plastik yang dibawanya.
"Taruh saja di meja. Kamu boleh makan siang."
"Iya, Pak. Terima kasih."
__ADS_1
Aku menutup pintu, bergegas keluar ruangan dan menelepon Irene, mengajaknya makan siang bersama.
"Ren, lo di mana?"
"Di kantin."
"Sendiri?"
"Enggak. Gue sama Wildan."
"Wildan mana?"
"Dia yang gantiin posisi lo."
"Serius? Cepet banget Pak Renaldy menggantikan gue."
"Lebay banget lo. Kalau enggak ada lo terus yang ngerjain kerjaan lo siapa? Ya mau gak mau cari anak barulah."
"Iya gue tahu. Gue cuma bercanda Ren," jawabku.
"Ha-ha-ha .... Jangan ngambek ya, Sher. Sini gabung, kita makan bareng."
"Iya gue ke sana." Aku memutus telepon dan berjalan menuju kantin.
Baru saja aku akan memasukkan ponsel ke balik saku celana, sebuah panggilan telepon dari Kak Baruna datang. Aku pun menjawab panggilannya.
"Sher, aku sudah sampai kantor lagi. Kamu sedang apa? Sudah makan siang?"
"Iya Kak. Ini baru mau makan sama teman-temanku. Kakak sudah makan?"
"Sudah tadi. Nanti sore aku jemput. Kita langsung ke butik Melani ya."
"Iya Kak. Aku tunggu. Jangan sampai telat lagi."
"Iya tenang saja. Aku tidak akan telat menjemputmu. Aku pun sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu."
"...." Aku terdiam tidak menjawab.
"Kok diam?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bingung harus jawab apa."
"Jawab saja kamu juga ingin bertemu denganku. Beres deh."
"Iya, terserah Kakak saja. Jangan membuatku malu. Sampai ketemu nanti sore."
__ADS_1
"Iya, Sherylku. Sampai jumpa nanti sore," jawabnya lalu mematikan panggilan teleponnya.
Tiba-tiba aku merasakan wajahku yang menghangat, seakan-akan seluruh darahku mengalir ke atas kepala dan wajahku. Ah .... Kak Baruna kamu membuatku malu.