Marriage Order

Marriage Order
Sejarah


__ADS_3

Malam semakin larut. Jam dinding yang berada di ruang keluarga itu menunjukkan pukul sepuluh. Aku, Kak Baruna, Kak Reza, dan Kak Dita masih duduk bercengkerama. Papa dan Mama sudah istirahat di kamar tidur mereka.


"Za lo kapan nikah?" tanya Kak Baruna tiba-tiba.


"Gue sih terserah tuan putri aja." Kak Reza melirik ke arah Kak Dita.


Kak Dita hanya tersenyum malu-malu menanggapi kata-kata pacarnya itu.


"Jadi kapan tuan putri?"


"Nantilah kalian duluan. Aku kan baru ketemu lagi sama Reza," jawabnya.


Aku dan Kak Baruna saling berpandangan. Wajah kami memerah seketika. Lalu kami saling memalingkan wajah karena malu. Sepasang sejoli yang berada di depan kami sontak melihat kami tertawa berbarengan.


"Aku gemes banget Dit melihat dua orang ini. Dari zaman dulu yang satu malu-malu ungkapin perasaan dan yang satu lagi diam-diam pacaran terus sama yang lain pura-pura tidak tahu ada yang menunggu," ujar Kak Reza masih memandang kami berdua.


"Yah begitulah sayang jodoh tidak ada yang tahu. Mudah-mudahan kita selalu bersama sampai nanti ya." Kak Dita menoleh ke arah Kak Reza sambil mengusap lembut pipi kakakku itu.


"Aduh kalian ini mesra banget. Bikin aku iri saja," Kak Baruna berkomentar.


"Kalian kan sudah resmi akan bertunangan sebentar lagi. Kenapa harus iri?" tanya Kak Reza heran.


Kak Baruna melirik ke arahku. Wajahku kembali bersemu merah. Aku menelan liurku sendiri bingung harus berkata apa. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Cemilannya sudah mau habis. Aku ambilkan lagi ya Kak," kataku lalu beranjak dari tempat dudukku.


Aku mengambil stoples makanan kering yang sudah hampir habis dan membawanya ke dapur. Kak Reza yang sudah mengenalku hanya tertawa cekikikan. Dia memang senang menggoda adiknya sendiri.


Aku mengambil stoples besar makanan kering yang letaknya di rak yang lebih tinggi dariku. Aku lalu berjinjit untuk menggapainya. Tiba-tiba ada tangan lain yang meraih stoples makanan itu lebih dahulu.


"Kalau tidak sampai kamu kan bisa memanggilku," bisiknya membuat bulu romaku berdiri.


Aku menoleh ke belakang, Kak Baruna berdiri di belakangku. Dia tersenyum manis sekali sehingga jantungku rasanya selalu berdegup lebih kencang dari biasanya.


"Jangan perlihatkan senyum manis itu lagi Kak! Aku takut besok aku akan menderita diabetes," batinku.


"Kok diam?" tanya Kak Baruna.


"Ah tidak. Aku pikir siapa yang bisik-bisik di belakangku. Bikin orang takut saja."


Kak Baruna lalu meraih stoples besar itu dan menaruhnya di meja bar dapur.


"Kamu ada kopi Sher?"

__ADS_1


"Ada Kak. Sebentar aku ambilkan."


Aku melangkah mengambil stoples kopi, gula beserta cangkirnya lalu menyeduhnya seperti yang kupelajari kemarin di kantor.


"Kamu bisa meracik kopi?"


"Gara-gara Pak Reynand menyuruhku membuatkan kopi, aku jadi bisa membuatnya sendiri di kantor," jawabku.


"Beruntung sekali si Reynand itu meminum kopi pertama buatan calon istriku." Kak Baruna mendengkus kesal. Dia memanyunkan bibirnya.


"Kakak terlalu berlebihan. Kopiku sederhana seperti ini saja kok. Lihat!"


"Iya tapi kan kopi itu tetap dari tanganmu." Kak Baruna melirik kopi yang kubuat, "Oh iya tadi aku janji mau cerita tentang Reynand ya?'


"Iya jadi gimana Kak?"


"Hhmmm .... Aku bingung harus mulai dari mana." Raut wajah Kak Baruna berubah serius. Dia menarik kursi bar di hadapannya.


"Oke baik aku yang akan tanya, jadi Pak Reynand itu siapanya Kakak?"


"Kakak tiri," jawabnya singkat.


Aku yang sedang mengaduk kopi sontak menoleh menatap wajah Kak Baruna. Aku mengernyitkan dahi, bagaimana bisa?


"Aku dan dia mempunyai ayah yang sama Sher."


"Om Anton?" Aku setengah berteriak tidak percaya.


Kak Baruna menaruh telunjuknya di bibirku, "Jangan berisik! Sudah malam."


Aku menutup mulutku. Kak Baruna menyesap kopi miliknya. Dia terdiam sejenak terlihat ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi


"Kakak sudah berjanji untuk bercerita bukan?" Aku meyakinkannya untuk bercerita.


Kak Baruna menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, "Tante Aina adalah mantan istri ayah. Mereka hanya menjalani pernikahan mereka selama satu tahun."


"Kenapa? Sayang sekali," komentarku.


Kak Baruna tertawa, "Hei kalau mereka masih bersama, aku tidak akan lahir."


"Oh iya ya Kak." Aku ikut tertawa.


"Mereka sama-sama berselingkuh. Pernikahan mereka terjadi berdasarkan perjodohan sama seperti yang akan kita lalui. Selain itu mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ayah yang saat itu memimpin perusahaan bersama Kakek memang sangat sibuk dan sulit di situasi ekonomi yang tidak menentu."

__ADS_1


"Lalu Ibu Aina gimana Kak?"


"Sifatnya yang keras juga membuatnya terlalu sibuk dengan perusahaan orang tuanya. Dia tidak mau mengalah untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Tapi memang harus diakui kehebatannya dalam berbisnis membuat Pradipta Corp menjadi perusahaan yang maju seperti sekarang. Mereka berdua sama-sama melupakan pernikahannya dan jatuh cinta dengan orang lain yaitu Bundaku dan ayah tiri Reynand. Tapi kudengar ayahnya sudah meninggal belum lama ini."


"Ini sebuah kebetulan yang sangat mengejutkan bagiku. Sungguh menyedihkan," ucapku.


"Aku juga belum lama tahu. Awalnya aku tahu Reynand saat dia mendatangi rumah sakit waktu ayah dirawat. Dia mengatakan siapa dirinya dan meminta harta warisan ayah karena dia merasa mempunyai hak sebagai anak kandung."


"Aku tidak menyangka dia orang seperti itu Kak."


"Kamu berhenti saja dari pekerjaanmu. Untuk apa melayani bos seperti itu? Kalau sudah menikah kamu cukup di rumah saja mengurusi semua kebutuhanku."


"Kakak mencari istri atau pembantu?" tanyaku tersenyum menyeringai.


"Istri dong."


"Tapi sepertinya kata-kata itu tidak tepat."


"Jadi?"


"Biarkan aku berkarir. Aku tahu yang prioritas dan tidak. Selama kita mempunyai visi dan misi yang sama dalam membangun rumah tangga, aku yakin semua akan baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir aku akan menjadi seperti Ibu Aina. Melihatnya saja sudah membuatku tidak nyaman. Ibu Aina itu menyeramkan."


"Ya sudah kalau itu maumu tapi jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin membuatmu tidak bahagia hidup denganku," jawab Kak Baruna.


"Sejak kapan kata-katamu jadi manis seperti itu?" Aku tertawa.


"Sejak kamu membuka hatimu untukku Sher."


Kak Baruna memandang wajahku. Wajah kami begitu dekat. Dia mendekatkan wajahnya dan ingin menciumku tapi hal itu tidak terjadi. Kami sama-sama memalingkan wajah saat Kak Reza dan kekasihnya tiba-tiba menghampiri kami di dapur.


"Bar, gue anter Dita pulang dulu ya. Besok-besok kita ngobrol lagi."


"Oke. Hati-hati lo di jalan. Jangan ngebut," sahut Kak Baruna.


"Siap," jawab Kak Reza.


"Sher aku pulang dulu ya," Kak Dita pamit sambil mencium pipi kanan dan kiriku.


"Iya Kak Dita hati-hati. Sudah larut malam."


"Iya sampai ketemu nanti ya."


Wajahku dan Kak Baruna masih memerah. Kami sama-sama bangkit dari tempat duduk dan mengerjakan hal lain dengan canggung di dapur.

__ADS_1


__ADS_2