Marriage Order

Marriage Order
Babak Baru


__ADS_3

Kayla PoV


Hari ini hari liburku. Tidak ada jadwal dari Anita manajerku. Lagi pula memang aku yang meminta libur darinya. Dunia modelling sudah lama menjadi passion-ku walaupun awalnya ditentang oleh kedua orang tuaku yang seorang pengusaha dan pebisnis yang handal.


Apartemen Reynand begitu sepi. Hanya aku sendiri. Duduk di atas sofa sambil mengganti-ganti saluran televisi kabel. Sangat membosankan.


Aku meraih smartphone yang berada di sampingku. Melihat berita entertainment akhir-akhir ini. Berita tentang diriku yang gagal bertunangan.


Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Hatiku terasa sakit jika mengingat penolakan demi penolakan Reynand terhadapku. Belum lagi rasa malu dan marah yang dirasakan kedua orang tuaku. Menjadikan mereka sangat marah jika tahu aku masih terus bertemu dengan Reynand secara diam-diam.


Aku rasa ini terjadi karena Sheryl yang tiba-tiba muncul di hidupnya. Seorang sekretaris baru yang berasal dari keluarga kaya raya.


Awalnya aku pikir dialah yang telah menggoda Reynand, tapi lama kelamaan aku mulai mengerti kalau ternyata Reynand sendirilah yang mengejar wanita itu.


Arrggh ... memikirkan mereka membuat kepalaku sakit.


Hubungan kami memang berdasarkan sebuah kencan buta yang telah diatur oleh kedua orang tua kami. Walaupun baru sekitar dua bulan, entah mengapa aku begitu jatuh hati padanya.


Aku memandang layar smartphone, menekan tombol hijau untuk telepon. Hari ini aku akan meminta Indira menemaniku di sini. Terdengar nada sambung yang cukup lama sampai akhirnya dia mengangkat teleponku.


"Halo, Kay. Ada apa?"


"Bisakah kamu menemaniku di apartemen Reynand?"


"Apartemen Kakak? Sedang apa kamu di sana?"


"Ehm ... tadi pagi aku membawakannya makanan. Namun, ia meninggalkanku pergi bekerja. Sekarang aku di sini sendiri. Aku bosan," jelasku padanya.


"Maaf Kayla, aku sibuk. Hari ini penuh dengan meeting. Bagaimana kalau kamu menghubungi Sheryl saja? Aku dengar kalian berteman sekarang."


"Yah, sayang sekali. Sheryl ya? Hmm .... Baiklah aku akan menghubunginya."


Aku mengakhiri panggilanku. Melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku lalu mencoba menghubungi Sheryl.


"Sheryl, apa kamu sedang sibuk?"


"Tidak. Hari ini aku tidak bekerja. Ada apa, Kay?"


"Bisakah kamu menemaniku sekarang?"


"Boleh saja."


"Aku ada di apartemen Reynand. Bisakah kamu datang ke sini?"


"Hah? Bagaimana jika kita pergi ke mall? Kita bisa shopping, mungkin?


"Boleh juga idemu."


"Baiklah aku akan bersiap-siap."

__ADS_1


"Oke, kita bertemu di sana?"


"Aku tunggu."


Aku mematikan telepon, bergegas beranjak dari sofa, lalu meraih hand bag di atas meja. Buru-buru keluar unit apartemen.


****


Reynand PoV


Aku melangkah masuk ke dalam ruangan Baruna. Mencari berkas laporan keuangan yang kemarin sempat kukembalikan karena ada beberapa poin yang menurutku tidak sesuai. Ruangannya terlihat tampak lengang mengingat dia sedang mengambil cuti duka cita.


Aku melangkah menduduki kursi empuk di balik mejanya. Bersandar sambil menengadahkan kepala melihat ke langit-langit.


Tiba-tiba pintu terbuka, menyembul wajah Pak Wicak yang melangkah masuk menghampiriku.


"Maaf Pak Direktur, sebaiknya anda tidak sembarang masuk ke ruangan Pak Baruna," katanya memperingatkan.


Aku menatap wajah Pak Wicak, mengangkat sebelah alisku dan menyindir, "Apa guna seorang asisten yang berada di depan ruangan atasan?"


Pak Wicak menarik napas, tersentak kaget dengan pertanyaanku yang menohok. Dia menundukkan kepala, "Saya hanya meninggalkan ruangan untuk ke toilet sebentar. Apa tidak boleh, Pak Direktur?"


"Sebaiknya kamu mengunci ruangan yang kosong saat penghuninya tidak masuk ke kantor. Untung saja saya yang masuk, kalau orang lain bagaimana?" Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Membuat dirinya tambah merasa bersalah.


"Maafkan saya yang sudah ceroboh karena membiarkan ruangan Pak Baruna tidak terkunci. Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Bapak masuk ke ruangan Pak Baruna?"


"Ah ... saya mencari berkas laporan keuangan yang sudah selesai. Kemarin saya sudah meminta Pak Baruna untuk memperbaikinya karena hari ini berkas itu akan saya pakai untuk meeting dengan seseorang dari biro jasa konsultan keuangan. Ada yang tidak beres dengan perusahaan ini. Penggunaan keperluan pribadinya terlalu banyak. Saya juga minta laporan rincian pengeluaran pribadi yang sudah digunakan dari awal tahun sampai dengan saat ini."


"Baik, Pak. Saya juga minta maaf Pak karena kemarin Pak Baruna memang sempat meminta saya mengecek kembali laporan itu, tapi karena waktu sudah sore jadi saya belum sempat menyelesaikannya."


Aku mengangguk mengerti lalu melirik arloji di tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Masih ada waktu satu jam setengah sebelum aku bertemu dengan orang dari jasa konsultan keuangan tersebut.


"Baiklah, saya akan beri kamu waktu satu jam untuk menyelesaikannya. Saya akan menunggumu di sini."


"Ba-baik, Pak. Terima kasih atas waktunya. Saya akan segera menyelesaikannya." Pak Wicak berbalik arah meninggalkanku.


Aku melirik sebuah map hijau yang tergeletak di dekatku. Segera, kuraih berkas itu dan membukanya. Aku membelalakkan mata terkesiap saat membaca judul berkas di dalamnya.


Marriage Order Agreement?


Aku membaca dengan hati-hati dan saksama baris demi baris kalimat yang tertera di sana. Tidak ada satu hal pun di dalam perjanjian itu yang masuk akal menurutku.


Katakan ini sebuah lelucon! Bagaimana bisa sebuah pernikahan bisa disamakan dengan hutang? Berapa banyak hutangnya? Sheryl, bagaimana dengannya? Apa dia juga tahu mengenai hal ini? Dan lagi setelah pernikahan itu, Baruna-lah yang memang sudah diputuskan menjadi satu-satunya pewaris. Dengan cara apa pun tujuan Mama tidak akan tercapai. Apa alasan mereka membuat perjanjian konyol seperti ini? Memangnya hidup seseorang itu permainan?


Pertanyaan demi pertanyaan mencemaskan menggelayuti pikiranku. Aku begitu terkejut mengetahui hal ini. Aku bergegas meraih map itu dan berjalan keluar ruangan.


"Mau kemana, Pak?"


"Saya akan ke ruangan saya. Tolong nanti laporan itu diserahkan di sana saja."

__ADS_1


"Siap, Pak!"


Aku melangkah dengan cepat. Dadaku terasa sesak mengetahui lembaran isi perjanjian tertulis itu. Semua yang menjadi penilaian baikku terhadap keluarga mereka masing-masing tiba-tiba menguap begitu saja. Semuanya tidak ada yang bisa dipercaya. Hanya sebuah sandiwara yang hebat berada di sana.


Kedua keluarga itu ... keluarga macam apa mereka? Yang satu menjual putrinya, yang lainnya membelinya. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Terlebih jika itu menyangkut tentang Sheryl.


****


Baruna PoV


Aku menepikan kendaraanku di depan lobi mall X. Dia mengatakan akan shopping dengan Kayla. Karena hari ini cuti, aku jadi bisa mengantarkannya ke mana pun.


"Terima kasih, Sayang. Nanti jemput, ya."


"Aku tidak boleh ikut?" tanyaku cemberut.


"Benar mau ikut? Nanti kamu akan bosan. Aku hanya berdua dengan Kayla."


"Hmm ... baiklah aku tidak akan ikut. Nanti aku jemput saja," sahutku sambil mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompetku kepadanya. "Ini ... pakailah sesuka hati."


Sheryl menatapku terkejut, lalu menyunggingkan senyumnya dan menolak kartu yang kuberikan. "Aku masih ada uang, Sayang. Rasanya, aku masih belum berhak memakai uangmu."


"Kamu akan jadi istriku dan aku sedang memaksa sekarang!" tegasku.


"Lama-lama kamu mirip dengan seseorang," sahutnya menahan tawa.


"Apa kamu sedang teringat Reynand, si pemaksa itu?" tanyaku menyindir.


Sheryl terdiam. Lagi-lagi perkataanku tepat sasaran.


"Mengapa selalu dikaitkan dengannya? Kecemburuanmu membuatku takut." Sheryl memanyunkan mulutnya, merajuk.


Aku tersenyum seraya mengacak-acak rambutnya, "Terimalah kartu ini, dengan begitu kamu akan menghargaiku sebagai calon suamimu."


Dia pun menerima kartuku dengan senyum indahnya. Aku melepas sabuk pengaman dan mencium keningnya.


"Aku mencintaimu. Kamu hanya perlu mengingat hal itu di kepalamu."


"Aku juga mencintaimu, Sayang."


"Hubungi aku kalau sudah selesai."


"Iya, Sayang." Sheryl membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam lobi mall.


Aku kembali mengemudikan kendaraanku keluar dari halaman mall tersebut. Aku sangat bahagia. Saat ini tidak ada yang bisa menghentikan kebahagiaanku.


__________________________


Kayla

__ADS_1



__ADS_2