Marriage Order

Marriage Order
S3 Ajakan Mengobrol


__ADS_3

Aku terperangah mendengar jawaban Kak Reza. Kedua orang tuaku sudah mengetahui gosip menyebalkan itu. Namun, ekspresi Kak Reza tampak santai saja.


"Bagaimana respon mereka?" tanyaku.


"Mereka hanya menggeleng pelan. Menganggap berita itu hanya angin lalu. Namun, Papa dan Mama tetap menunggu klarifikasi darimu, Dek."


Aku bernapas panjang, lalu menanggapi perkataan Kak Reza. "Tidak ada yang perlu diklarifikasi, Kak. Aku tidak pernah ada hubungan pribadi dengannya selain kini ia menjadi kakak iparku. Tapi aku tidak akan pernah memungkiri ada masa lalu di antara kami."


Kak Reza hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya. Dia bangkit dari duduknya, menghampiriku. Tangannya mengusap kepalaku berulang kali.


"Kakak percaya kamu akan menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya. Apalagi, di perutmu itu sudah ada janin yang akan tumbuh berkembang dengan baik. Jangan kecewakan suami dan keluargamu, Dek."


"Ya. Tidak akan, Kak." Aku hanya mengangguk dengan senyum penuh arti kepadanya.


"Ya, sudah. Kalau seperti itu, Kakak bisa tenang untuk meninggalkan kalian tanpa pengawasan," ucapnya tiba-tiba.


"Maksud Kakak?" Aku mengernyit bingung.


Kak Reza tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya sebuah kalimat sakti keluar dari mulutnya. "Kakak ingin melamar Kak Dita."


Aku terperanjat mendengar ucapannya itu. Sepertinya baru kali ini dia serius dengan seorang wanita. Dan lagi, tiba-tiba sekali dia mengatakannya kepadaku.


"Kak Reza tidak sedang mengerjaiku, 'kan?" Aku sungguh tidak percaya.


"Tidak. Aku sangat serius. Tadinya aku pikir ingin melamarnya tahun depan, tapi kasihan sekali dia jika menungguku yang tidak bisa segera mengambil keputusan." Mata Kak Reza memandang teduh ke arahku.


"Wow! Selamat, Kak!" Aku bergegas memeluk kakak lelakiku satu-satunya. Setidaknya, dia tah berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


Sambil melompat-lompat kegirangan, aku terus melingkarkan tanganku pada punggungnya.


"Hei! Hei! Sheryl! Kau tidak boleh melompat-lompat seperti ini. Ingat sudah ada calon bayi di rahimmu."


Kak Reza menghentikan tingkahku yang seenaknya. Cepat-cepat aku menarik pelukan, sontak menatap terkejut. Perkataan Kak Reza ada benarnya.


"Astaga! Aku lupa sekali," kataku.


Kak Reza seketika mengomel. Memukul lembut kepalaku dengan punggung jemarinya.


"Lupa-lupa! Anak sendiri jangan sampai lupa. Haduuh! Aku tidak bisa membayangkan dirimu akan menjadi ibu seperti apa." Kepala Kak Reza menggeleng pelan. "Ckckck! Kasihannya sahabatku ...."


Mendengar ucapan Kaka Reza yang begitu menyindir membuat bibirku sontak mengerucut kesal.

__ADS_1


Haish! Apa maksudnya berkata seperti itu? Aku ini adiknya, seharusnya dia lebih membelaku dibanding Baruna. Namun dia malah mengejekku seperti itu. Huft!


Tanpa buang-buang waktu, kudorong tubuhnya hingga depan pintu ruangan.


"Hei, Sheryl! Kau mengusirku, huh?!" katanya.


"Ck! Kakak tidak boleh terus-terusan di ruanganku. Kau harus giat bekerja untuk bisa melamar anak gadis orang!" seruku gemas kepadanya.


"Hei! Kau kesal rupanya–" Sahutan Kak Reza langsung terpotong saat kututup pintu ruangan. Akhirnya dia menyerah dan berlalu pergi.


Aku pun kembali duduk di belakang meja kerja. Kembali menyibukkan diri di sana.


***


Baruna POV


Aku sedang menunggu David di restoran hotel Berlin. Aku dan Pak Wicak sengaja datang karena David mengundang kami untuk membahas sebuah kerja sama di masa depan antara Berlin dan Asyraf Corporation.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, tapi pria itu belum juga datang. Sebenarnya waktunya sangat mepet jam makan siang. Belum lagi, aku sudah terlanjur berjanji kepada Sheryl untuk menemaninya pergi ke dokter kandungan.


"Ada apa, Pak? Kelihatannya gelisah sekali," tanya Pak Wicak dengan keningnya yang berkerut.


"Iya, ya? Sudah menghubunginya?"


"Sudah, tapi dia menyuruhku untuk menunggu karena sedang menghadiri sebuah pertemuan penting," sahutku. Pak Wicak hanya mengangguk-angguk mengerti.


Aku menghela napas panjang. Segera mengambil ponsel dan menghubungi istriku. "Aku harus menghubungi Sheryl lebih dulu," kataku.


Cukup lama suara nada sambung itu terdengar, dia tidak juga mengangkatnya. Tiba-tiba saja dari kejauhan Felicia terlihat berjalan menghampiri mejaku dan Pak Wicak.


"Sudah lama?" tanyanya.


Aku terdiam menganga. Menatap wanita yang berdiri di depanku. Pak Wicak mematung melihat bingung ke arah kami bergantian.


Mengapa ada dia di sini?


Seakan tidak peduli, Felicia menarik kursi di depannya dan duduk di sana.


"Siang, Bar!" sapanya menyengir di depanku.


"Siang. Mengapa kau ada di sini?" Aku menatap bingung Felicia di hadapanku. Pak Wicak yang memperhatikan bagaimana cara Felicia menyapa sepertinya langsung merasa kebingungan.

__ADS_1


"Tidak sopan sekali dia, Pak. Memanggil Anda langsung dengan sebutan nama. Dia pikir dia siapa, huh?" bisik asisten pribadiku itu.


Aku tidak menghiraukan bisikannya. Felicia pun tampaknya tidak mendengar bisikan Pak Wicak. Dia mengulas tipis senyumnya.


"Ah, ya ... apa suamiku belum mengatakannya?"


"Mengatakan apa?"


Belum sempat Felicia menjawab, ponselku berbunyi. Terlihat nama David di layar.


"Halo."


"Pak Baruna, maafkan saya tidak bisa datang ke meeting siang ini, tapi istri saya—Felicia akan datang menggantikan saya. Dia sudah tahu apa yang akan kita bahas siang ini. Saya memercayainya."


"Ya. Dia baru saja datang," sahutku.


"Cepat sekali. Saya sungguh meminta maaf. Saya rasa, ini terakhir kalinya saya mengingkari janji. Besok-besok saya akan datang bagaimanapun situasinya," timpal David.


"Tidak-tidak perlu seperti itu, Pak. Jika memang keperluan Anda begitu mendesak, saya bisa memakluminya. Namun yang pasti jangan membuat janji temu secara mendadak."


"Iya, Pak. Sekali lagi, maafkan saya."


Setelah aku mengatakan "tidak apa-apa", David akhirnya mengakhiri panggilan. Aku kembali fokus pafa Felicia yang duduk menatapku sambil bertopang dagu. Senyumnya merekah, terlihat sangat bersemangat.


Netraku menari ke arah Pak Wicak yang memprhatikan pandangan Felicia yang mungkin begitu aneh menurutnya. Tersenyum-senyum kepada rekan bisnisnya.


"Pak Wi, Pak David baru saja mengonfirmasi kalau dia memang tidak bisa datang dan Ibu Felicia ini adalah istrinya. Dia ditunjuk langsung oleh beliau untuk menggantikannya."


"Oh ...." Pak Wicak mengangguk mengerti. Dia kemudian mengulurkan tangannya, mengajak Felicia berjabat tangan. "Saya Wicaksono, asisten pribadi Pak Baruna," katanya memperkenalkan diri.


Felicia menyambut jabat tangan itu. Senyumnya yang merekah belum juga menghilang dari wajahnya. "Felicia Andita Putri. Panggil saya Ibu Fely," katanya.


"Siang, Bu Fely."


"Siang," sahut wanita itu, lalu menoleh kepadaku. "Bagaimana bila kita mulai saja, Bar?"


"Silakan," kataku.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Felicia dan aku pun memulai pembahasan kami. Sudah lima tahun kami tidak bertemu, tapi dari cara berbicaranya, dia masih begitu memukau. Cara berbicaranya menunjukkan bahwa dia adalah wanita cerdas dengan wawasannya yang sangat luas. Tidak bisa kupungkiri, aku masih kagum kepadanya.


Satu jam kemudian, pertemuan kami pun selesai. Saat aku dan Pak Wicak membereskan barang bawaan kami, tiba-tiba saja Felicia berkata, "Bar, kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?" Felicia menatapku, lalu mengerling ke arah Pak Wicak dengan penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2