
Sheryl Pov
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Perceraianku dan Baruna pun telah mencapai puncaknya. Belum lama ini, hakim memutuskan perpisahan kami. Aku tidak akan menyesali keputusanku. Perpisahan memang harus terjadi di antara kami agar ke depannya tak ada lagi yang merasa tersakiti.
Baruna meminta maaf atas semuanya, begitupun denganku ketika ketukan palu hakim memutuskan masa depan kami. Dia memelukku di akhir sidang. Teringat bagaimana momen itu terjadi. Kami sama-sama melepaskan ego kami dan meminta maaf.
"Kini aku telah melepasmu dengan hati yang lapang. Maafkan aku yang telah banyak menyakitimu. Kamu boleh pergi dan meraih kebahagiaanmu dengan siapapun itu. Di hatiku yang paling dalam, aku tetap menyayangimu, Sheryl."
"Aku sudah memaafkanmu. Bagaimanapun, aku juga banyak salah kepadamu. Aku minta maaf atas semuanya, Mas," jawabku yang tak mampu berkata apa-apa lagi selain maaf.
Baruna mengangguk. Tak lama, kami pun berpisah. Pulang membawa pemikiran kami masing-masing.
Kembali pada hari ini....
Aku baru saja menghadiri pesta pernikahan Kak Reza dan Kak Dita. Pesta pernikahan mereka cukup singkat berjalan selama empat jam lamanya. Rasanya cukup lelah ikut terlibat di dalam acara pernikahan. Meskipun begitu, aku merasa sangat senang melihat keduanya bahagia.
Hari semakin larut. Aku, Mama, dan Papa memutuskan untuk pulang tanpa menghabiskan satu malam lagi di hotel itu. Keduanya terlihat lelah tertidur dalam perjalanan pulang, sedangkan aku masih terjaga dengan pikiran yang tak menentu karena banyak sekali hal yang kupikirkan.
Selang beberapa waktu kemudian, tiba-tiba saja sopir kami menghentikan laju kendaraan tepat di dekat gerbang. Aku yang masih terjaga pun melihat ke arah depan demi memastikan apa yang terjadi. Sebuah mobil sedan putih terparkir di depan gerbang menghalangi jalan kami.
Papa tiba-tiba terbangun dan bertanya, "Ada apa, Pak? Kok berhenti?"
"Ada mobil di depan gerbang, Tuan."
Aku mengenal platnya. Sebelum Papa berkata lebih lanjut, aku memotong percakapan mereka, "Aku tahu siapa dia. Biar aku menemuinya," kataku.
"Reynand?" tebak Papa.
"Ya. Siapa lagi?" kataku.
"Jangan lama-lama ya, Sher. Kau harus istirahat karena pagi-pagi buta kau sudah harus ada di bandara," ucap Papa. Terlihat sekali bagaimana beliau mengkhawatirkan putri satu-satunya.
"Ya, Pa." Aku mengangguk. Sesaat menoleh Mama yang masih tertidur pulas seperti orang pingsan, "jangan bangunkan Mama," kataku.
__ADS_1
"Iya." Papa menyahut dengan seulas senyum di bibirnya.
Aku membuka pintu dan segera turun dari mobil, beringsut mobil Reynand. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan, aku melihatnya tertidur bersandar pada kaca jendela. Tanpa membuang waktu, mengetuk jendelanya beberapa kali. Reynand yang tertidur sontak terbangun dan menurunkan kacanya.
"Sheryl...," lirihnya dengan pandangan berkaca-kaca. Wajahnya tampak lusuh dan lelah sekali. Entah dari mana dia hingga menyasar dan memarkirkan kendaraannya di depan rumah orang lain.
"Hei, sedang apa kau di depan gerbang rumahku? Membuat mobilku tak bisa masuk saja!" kataku mengguratkan senyum tipis kepadanya seolah tak ada sesuatu apapun yang terjadi di antara kami sebelum ini. Rasa malu kepada Reynand sepertinya sudah menguap begitu saja bergantikan rasa bahagia yang datang tiba-tiba.
Seketika Reynand menoleh ke arah mobilku, lalu memindahkan kendaraannya dari depan gerbang. Tanpa membuang waktu mobilku pun memasuki halaman rumah. Sementara, aku tetap berada di posisiku menunggu Reynand keluar dari mobilnya.
Dalam waktu sekejap, ia terlihat keluar dari pintu kemudi, berjalan menghampiriku. Tanpa berkata-kata, menarikku dalam pelukannya.
"Apa benar ini engkau?" katanya lalu terisak.
Napasku terasa sesak mendengar isakan itu. Memang selama sebulan terakhir tak ada komunikasi di antara kami setelah aku tahu ia mendengar pertengkaranku dan Baruna di telepon. Aku menonaktifkan semuanya. Nomor telepon, sosmed, dan segala macam kemungkinan cara ia menghubungiku. Bahkan Baruna dan teman-temanku kupesan agar tak memberitahu informasi apapun tentangku kepadanya.
"Iya. Tentu saja ini aku, Rey," jawabku.
Reynand makin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin kehilangan. "Astaga! Aku hampir saja kecelakaan karena ingin segera menemuimu. Menyetir seperti orang gila dari bandara. Mengapa kau sangat suka membuatku khawatir? Mengapa kau tak ingin aku menghubungimu? Ya, ampun! Kau membuatku benar-benar seperti orang gila!" katanya tanpa membuat jeda pada kalimatnya.
Reynand sontak melonggarkan pelukannya, menatapku dalam. Dadanya mengembang menarik satu tarikan napas. "Tak apa menyedihkan, tapi pada akhirnya bisa bertemu denganmu."
"Ibumu tahu?"
"Tidak. Aku langsung ke sini begitu tiba di bandara, tanpa pulang lagi ke rumah."
"Dia akan mencarimu."
"Aku tak peduli, Sher."
Aku membuang napas cepat. Bagaimanapun, aku tahu Tante Aina tak pernah menyukaiku. Sebelum ini, dua minggu yang lalu dia menemuiku. Menyuruhku untuk menjauh dari putranya karena sadar tak bisa melarang Reynand dengan mulutnya sendiri.
Aku mengurai pelukannya yang hangat. Balas menatap matanya yang teduh. "Meski kau sudah tahu bagaimana perasaanku, sebaiknya kita menjalani hidup masing-masing saja, Rey. Itu lebih baik bagi semuanya. Ibumu–"
__ADS_1
Ucapanku terpotong. Reynand menutup bibirku dengan bibirnya. Bola mataku melebar terkejut, tapi juga tak bisa menghindar hingga ia menarik kecupannya.
"Bisakah untuk tidak membicarakannya? Malam ini, aku hanya menginginkanmu, Sher."
Tubuhku gemetar mendengar perkataannya. Begitupun dengan wajahku yang seketika menghangat. Aku berjinjit sedikit dan membalas kecupan itu lebih dalam seolah mengantarkan kerinduan yang tak pernah habis untuknya. Cukup lama hingga kami sama-sama merasakan suhu tubuh yang saling menghangatkan.
Reynand tersenyum memperlihatkan bagaimana bahagianya ia. "Kau tidak menyuruhku masuk ke dalam?" tanyanya dengan kerlingan mata yang mengarah pada pintu gerbang.
"Pantaskah? Kau baru saja ingin mendekati seorang janda adikmu sendiri." Aku menyengih.
"Aku sungguh tak peduli dengan anggapan orang lain. Bahkan ibuku sendiri," sahutnya.
"Rey...." Aku menggelengkan kepalaku, tapi dia malah mengekeh geli.
"Mana ponselmu?" tanyanya dengan telapak tangan terbuka.
Aku yang tahu apa maksudnya hanya bisa bergeming menatap telapak besar itu. Reynand tampaknya tak patah arang, dia meraih tas kecil yang masih mencangklong pada bahuku dan merogoh isinya. Tanpa ragu menghubungi ponselnya dengan cepat, lalu mengembalikan alat komunikasi itu lagi ke dalam tas.
"Jangan menghilang lagi! Aku bersumpah akan mencarimu ke manapun kau pergi," katanya menarik segaris senyum yang hampir tak terlihat.
Aku tak memberikan ia jawaban. Hanya membalasnya dengan sebuah senyum kecut yang penuh arti.
"Pulanglah! Kau harus istirahat setelah perjalanan panjangmu," kataku seraya mendorong tubuhnya, tapi dia malah bergeming dengan senyuman yang masih betah bersandar pada wajahnya.
"Sebentar! Aku masih ingin melihat wajahmu. Satu bulan bukanlah waktu yang sebentar tanpamu, Sher."
"Lihat! Kau malah menggombal dengan gampangnya. Sejak kapan kau berubah begini?"
"Sejak aku tahu perasaanmu tulus kepadaku, aku tak sanggup lagi memupuk rinduku di London." Pria itu kembali meluncurkan gombalan noraknya kepadaku.
"Sial! Kau membuatku tersipu. Pergilah sebelum Papa dan Mamaku mengusirmu." Aku kembali memaksanya, tapi Reynand tetap pada pendiriannya. Ia malah merangkul dan memelukku lagi dengan tubuhnya yang hangat.
__ADS_1
Tolong yang gak suka sama interaksi mereka di bab ini menyingkir saja. wkwkwk! Author lagi baik hati nih kasih yang manis-manis. Cape kan kalau mumet terus baca mo. Tarik napas, buang napas perlahan. Semoga bulan ini bisa tamat, ya!