
Baruna PoV
Aku memandang wajahnya yang bersemu merah. Kami memang sedang saling memandang. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah cukup larut untuknya agar bisa terbuai mimpi. Tapi aku tidak ingin segera pulang. Jika bisa aku ingin terus berada di sisinya malam ini. Merengkuhnya di atas ranjangku.
Sadarlah Baruna, kalian belum sah!
Kata hatiku selalu berkata seperti itu saat pikiranku mulai mengarah liar. Sheryl tersenyum manis sekali. Aku merasa sangat dicintai olehnya.
Kami sedang duduk di sebuah gazebo yang tidak jauh dari pinggir kolam renangnya. Setelah mengantarkannya pulang, aku masih berada di sini hingga sekarang. Kami berbincang-bincang seperti biasa. Seperti tidak ada suatu masalah apa pun.
"Katakan apa pun yang sekarang ada di hatimu, sayang?"
"Tidak, aku tidak ingin mengatakannya."
"Kenapa?" Sheryl mengernyitkan dahinya bingung.
"Fantasi liar sedang merasukiku," jawabku tertawa.
Wajah Sheryl sontak memerah malu. Tiba-tiba dia juga menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya yang mungil itu.
"Ah kamu sedang berpikiran mesum!" Sheryl mendorong wajahku yang sedang menatap lekat ke wajahnya.
Aku tertawa melihat tingkahnya. Aku memiringkan wajahku mendekat dan mulai menciumnya. Sudah lama rasanya tidak merasakan bibirnya yang manis. Dia membalasnya, cukup lembut dan membuatku sedikit terbuai jika aku tidak pintar-pintar menahan diri. Aku melepas ciumanku. Kami memang sedang berada di titik ingin segera memadu cinta kami.
"Aku pulang ya," pamitku.
"Kamu pasti sedang berusaha menahannya," ledeknya.
"Bukan aku saja. Sepertinya kamu pun ingin," ucapku tersenyum.
Wajah Sheryl kembali merona, sama sepertiku. Aku ingin secepatnya menikah dengannya lalu pergi sejauh mungkin dari negara ini.
Kedua orang tua kami sama-sama gilanya. Hanya harta yang mereka pikirkan. Nuraninya terbuat dari batu yang sulit diruntuhkan. Bahkan untuk sekedar menyelesaikan masalah dengan Tante Aina pun belum terlaksana sampai sekarang.
Perjanjian itu, aku terus memikirkannya sejak pagi. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Perjanjian itu sah tidak bisa diakhiri atau dibatalkan. Bagaimana pula reaksi Reynand jika tahu ada perjanjian aneh di atas kertas itu? Dia tidak akan pernah menggantikanku. Kecuali aku yang dengan sadar menyerahkannya sendiri.
Masa bodoh! Semakin aku memikirkan perjanjian itu, semakin aku merasa takut kehilangan dia. Toh, sebentar lagi pernikahan kami akan digelar. Hanya sampai saat itu aku harus bersabar. Hanya sampai hari itu Sheryl tidak boleh mengetahuinya.
"Sayang, apa yang kamu sedang pikirkan?" tanya Sheryl memandang lekat wajahku kembali.
"Aku tidak apa-apa," sahutku bangkit berdiri.
Sheryl ikut berdiri di sampingku. Aku menggenggam tangannya erat. Kami berjalan bersama sampai dengan halaman rumahnya.
__ADS_1
Aku memeluk tubuhnya, segera berpamitan. Dia mengecup seluruh bagian wajahku dan mengantarku sampai aku masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati pulangnya, sayang."
"Iya, kamu harus segera beristirahat. Nanti aku hubungi kalau sudah sampai rumah."
"Iya, sayang."
Sheryl menutup pintu mobilku. Aku segera melajukan mobil menembus gelapnya malam. Malam yang indah ditemani rembulan yang terang dan bintang-bintang yang bertebaran bebas di langit yang luas. Membuat suasana hatiku sedikit membaik.
Setengah jam kemudian aku tiba di rumah. Segera, aku melangkah masuk ke dalam kamar. Bunda yang melihatku begitu tidak acuh segera menyusul mengikutiku masuk ke dalam kamar. Memang, akhir-akhir ini sebenarnya aku malas berbicara dengan keluargaku sendiri.
"Bar!" panggilnya.
Aku tidak menjawab panggilannya. Sibuk melonggarkan dasiku yang semakin mencekik padahal sudah kulonggarkan berkali-kali.
Tidak Bar, bukan dasimu yang salah. Tapi suasana hatimu di rumah ini yang sedang membuatmu sesak**!
"Baruna, dengarkan Bunda!" Bunda menarik tanganku. Di memutar tubuhku hingga aku berhadapan muka dengannya.
"Apa sih, Bun?" keluhku tidak ingin mendengar.
"Kamu masih marah dengan kedua orang tuamu dan kakekmu sendiri?"
"Maafkan Bunda, Nak." Bunda menarik tubuhku. Dia memelukku sambil menahan air matanya.
Aku terdiam, bergeming. Aku menengadahkan wajahku ke atas menahan air mataku yang sebentar lagi akan mengalir turun. Aku paling tidak bisa melihat Bundaku sendiri menangis. Tidak lama kemudian Bunda melepas pelukannya.
"Bunda akan segera menemui Aina," ucapnya pelan. "Mengenai surat perjanjian itu, kami tidak bisa membatalkan atau mengakhirinya. Surat itu resmi. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Sheryl tidak perlu tahu. Selama kita tidak menyinggungnya, dia tidak akan tahu apa-apa."
"Bunda yakin?"
"Sangat yakin." Bunda mengangguk mantap di hadapanku.
"Pemikiran Bunda pun sama denganku." Aku menarik napas lega.
"Iya, makanya kamu jangan terlalu banyak pikiran. Kamu hanya harus berkonsentrasi pada pernikahanmu. Masalah Reynand yang menggantikanmu di perusahaan, ikhlaskan saja. Dia itu juga anak ayahmu."
"Aku tidak mempermasalahkannya. Bahkan jika memang dia ingin menjadi pewaris tunggal Asyraf, aku bisa memberikannya, Bun."
"Baruna, jangan lemah seperti itu! Pewaris satu-satunya itu harus kamu seorang."
"Aku tidak ingin, Bun. Capek bertengkar masalah harta. Mungkin nanti aku akan pergi dari rumah ini setelah menikah dengan Sheryl."
__ADS_1
"Kamu mau pergi ke mana, Nak? Tega kamu meninggalkan semua keluargamu di sini?"
"Aku mau istirahat. Bunda bisa tinggalkan aku sekarang." Aku mengalihkan pembicaraan.
Dengan raut wajah sendu, Bunda lalu terpaksa meninggalkanku keluar kamar. Aku sedikit menyesal membuatnya sedih. Tapi aku mempunyai pandangan hidupku sendiri. Aku ingin mencapai kebahagiaanku sendiri.
Aku meraih ponselku. Membuka kontak dan menghubungi Sheryl.
"Halo, sayang."
"Sudah sampai?"
"Iya. Kamu sedang apa?"
"Menunggu telepon darimu."
"Tidurlah. Besok kamu harus kerja, 'kan?"
"Iya. Sebentar lagi, sayang. Aku sedang menonton Kamutube."
"Ya sudah, aku mandi dulu."
"Iya. Besok jemput aku?"
"Tentu saja aku akan menjemputmu. Aku tidak akan memaafkan diriku jika nanti Reynand yang datang menjemputmu. Dia akan membuatku kesal setengah mati."
"Kamu berlebihan. Dia tidak akan senekat itu."
"Sepertinya kamu lebih mengenalnya, sayang," ujarku menyindir.
"Jangan mulai lagi, deh. Aku tidak suka bertengkar. Kita 'kan sudah berbaikan."
"Baiklah. Mimpikan diriku ya."
"Semoga saja kamu masuk dalam mimpiku, sayang." Sheryl tertawa renyah.
"Apa pun itu aku tetap memaksa kamu memimpikanku."
"Iya apa pun untukmu, Sayang."
Aku mematikan ponselku. Merebahkan diriku di atas tempat tidur sejenak sebelum akhirnya beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Aku tidak akan menyesali semua keputusan yang telah kuambil. Bahkan jika semua orang menentangku.
__ADS_1