Marriage Order

Marriage Order
S3 Ada yang Tidak Beres di Kepalamu!


__ADS_3

Baruna Pov


Felicia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bar, mohon tenangkan dirimu. Aku sedang tidak berbohong kepadamu."


"Arrrgghhh!" teriakku marah. Teringat bagaimana kami terus bertengkar dan akhirnya mengalami kecelakaan.


Aku tak bisa menahan rasa penyesalan dan kesedihan yang seketika menghampiri. Di saat itu juga, aku mengeluarkan air mataku di hadapan Felicia.


"Bar ...." Felicia berjalan mendekat. Memberikan sebuah pelukan untukku.


***


Sheryl Pov


Sinar terang perlahan masuk ke dalam bola mataku. Lama kelamaan terlihat begitu jelas, berasal dari cahaya lampu yang menyala. Kedua mataku sontak membeliak tersadar, berbaring di sebuah ruangan asing.


"Sheryl! Sheryl! Syukurlah, kamu sudah sadar?!"


Aku mendengar suara seorang pria memanggil namaku begitu cemas. Kedua bola matanya sedikit berair seperti habis menangis. Ia langsung menyeka dengan cepat seakan tidak ingin memperlihatkannya kepadaku.


Seketika, aku pun mengernyit menatapnya bingung. Bagaimana tidak? Aku bahkan tidak mengenalnya. Siapa dia? batinku bertanya-tanya.


"Maafkan aku, ya?" ucapnya lagi yang langsung menarik tanganku dan mengecupnya.


Berani sekali ….


Dalam sekejap, aku menarik tanganku. Gantian, raut mukanya menunjukkan kebingungan dan kesedihan yang amat sangat.


"Kamu pasti masih marah kepadaku," ucapnya lagi yang membuat hatiku terenyuh seketika, tapi lidahku begitu kaku menanggapinya. Bola mataku mengedar dan langsung menyadari sedang berada di kamar sebuah rumah sakit.


"Apa yang terjadi?!" kataku seraya menegakkan tubuh, tapi sayang aku tidak bisa melakukannya. Rasa sakit secepat kilat menyerang sekitaran perut dan aku sontak meringis, "Arrgghh!"


"Jangan banyak bergerak!" perintahnya. Dia membantuku untuk kembali berbaring pada posisi semula.


Aku melirik ke arah tangan kanannya yang bertopang pada sebuah kain penyangga yang tertaut pada bahunya. "Tanganmu …," kataku yang langsung menyadari terjadi sesuatu pada tangannya.


"Ini tidak akan sebanding dengan apa yang terjadi kepadamu, Sher," sahutnya.


Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan, tapi pancaran wajahnya menunjukkan sebuah ketulusan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi kepadaku?" tanyaku.


Pria di depanku itu terdiam dan menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya. "Mereka mengeluarkan bayimu. Anak kita ... anak kita sudah ...."


Deg!


Bayi? Anak kita? Apa aku sedang hamil? Bagaimana bisa aku hamil?


Perkataan pria itu sontak membuatku bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia mengatakan kata "bayi" dan "anak kita" kepadaku, sementara aku sendiri tak pernah merasa dekat dengannya. Namun karena perkataannya itu, aku berinisiatif meraba perut bagian bawah. Seketika merasakan sebuah lapisan yang menempel di sana. Menutup luka lumayan besar di perutku.


Aku tidak mungkin hamil. Kami hanya melakukannya sekali. Kalaupun hamil, bukan dia yang seharusnya menjadi ayah anakku, melainkan ....


Entah mengapa kepalaku langsung terasa sakit. Aku hanya memejam, lalu menatap pria yang menggeleng pelan di depanku. Air matanya masih mengelinang. Tampak sangat sedih berbalut penyesalan.


"Maaf, tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanmu barusan. Sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita," ujarku kepadanya.


"Ya, Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Sayang?!" kesalnya yang langsung mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia meraih pgagang telepon yang berada di atas nakas, "Saya ingin berbicara dengan dokter penanggung jawab Nyonya Sheryl sekarang jugal!" katanya lewat telepon dan langsung menutupnya. Nada suaranya terdengar gusar dan tak sabar. Pandangannya kembali menatapku kembali. "Apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi?"


Aku menggeleng. Sejenak kemudian pintu ruang rawatku terbuka. Bukan dokter yang memasuki ruangan, melainkan seorang pria yang kukenal mengenakan setelan jas rapi. Dia mendadak berhenti melangkah sambil melepaskan pandangannya ke arahku.


Pandangan kami bertemu. Cukup lama seolah sedang melepaskan rindu yang begitu lama tertahan. Sementara, pria yang duduk di sampingku ikut menoleh ke belakang menangkap sosok itu dalam pandangan matanya. Namun tak ada sepatah kata pun yang terucap darinya.


"Pak Reynand …," gumamku.


"Pak Reynand?" Pria di dekatku sontak mengerutkan keningnya. Mengalihkan pandangannya dengan cepat kepadaku.


"Bosku …," jawabku mengangguk bersamaan dengan embusan napas berat. Terakhir mengingat bagaimana aku dan Reynand—bosku itu bertengkar karena suatu hal yang bersifat pribadi.


"Bosmu?"


Aku tidak langsung menyahut. Sesaat melirik ke arah Reynand yang terdiam menatap seperti orang bingung, padahal dia bisa saja menjawabnya dengan lugas pada pria asing yang memanggilku dengan sebutan "Sayang".


"Bos sekaligus tunanganku."


***


Reynand Pov


Aku tersentak dengan mata membulat penuh. Terkejut. Tentu saja! Sheryl baru saja memanggilku dengan sebutan yang sudah lama sekali tak kudengar dari mulutnya.

__ADS_1


Apa aku tidak salah mendengar? Dia memanggilku Pak Reynand?


Tak peduli dengan Baruna yang duduk di dekatnya. Aku segera melangkahkan kakiku kembali, menghampiri ranjang rawat Sheryl, berdiri di sampingnya. Saat itu juga, pembicaraan mereka pun lebih jelas terdengar.


"Pak Reynand?" tanya Baruna dengan pandangan bingung ke arah istrinya.


"Bosku ...," jawab Sheryl sambil mengangguk.


"Bosmu?" Baruna kembali menekan ucapannya.


Sheryl tidak langsung menjawab. Sesaat, aku melihat bola matanya melirik ke arahku. Entah apa maksudnya.


"Bos sekaligus tunanganku," jawabnya tiba-tiba.


Mendengar perkataannya membuat pandanganku dan Baruna sontak membulat terkejut.


"Sepertinya ada yang salah dengan kepalanya, Bar," kataku.


Baruna tidak menyahut. Ia menggeram kesal, "Haish! Dokternya lama sekali."


"Tunggu di sini. Aku akan keluar mencarinya," sahutku.


Aku baru saja akan membalik badan ketika tiba-tiba Sheryl menarik tanganku. Walau masih terbaring lemah, genggaman tangannya cukup kuat hingga membuat aku menoleh kepadanya.


"Jangan pergi! Dia saja yang pergi," katanya dengan tatapan memelas.


Sesaat pandanganku mengarah pada Baruna yang dengan pandangan meradang menatap kami bergantian. Sheryl begitu dingin kepada suaminya seolah tidak mengenal Baruna sama sekali. Hal itu sontak membuatku bertanya-tanya, apa dia kehilangan ingatannya?


Tak lama kemudian, Baruna mengembuskan napas panjang, kemudian bangkit dari duduknya. "Rey, sebenarnya aku tidak rela dia memilihmu seperti ini. Seperti yang kau bilang, ada yang tidak beres dengan kondisinya. Tolong jaga Sheryl sebentar. Aku akan mencari dokternya. Aku mohon kau jangan macam-macam kepada Sheryl, atau aku tidak akan memaafkanmu," katanya.


"Terserah apa katamu. Yang jelas, kau yang tidak kumaafkan lebih dulu karena telah membuatnya celaka." Aku menyahut dingin.


Baruna tidak menyahut. Dia melirik Sheryl dan berkata, "Aku akan keluar sebentar meminta penjelasan mengenai kondisimu."


Sheryl hanya mengangguk dengan air muka datarnya. Baruna pun beringsut meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.


Aku menarik sebuah kursi, duduk di dekatnya. Memandang bingung dengan semua ucapan yang keluar dari mulutnya. Namun Sheryl tak terlihat sedang bercanda. Ia menatapku sangat serius. Bahkan bola matanya bergetar menahan air mata yang hendak terjatuh.


Dalam kondisinya yang seperti itu, Sheryl tiba-tiba saja bertanya, "Pak Rey, katakan apa yang sebenarnya terjadi kepada saya? Pria tadi mengatakan kalau saya telah kehilangan bayi saya. Dia juga bilang kalau bayi itu adalah anak kami .... Saya sangat bingung dengan ini semua. Seharusnya bayi itu anak kita, 'kan? Karena yang saya ingat, Andalah tunangan saya."

__ADS_1


__ADS_2