
Hari ini adalah hari pertunanganku dan Kak Baruna. Pertunangan kami diselenggarakan di salah satu hotel milik Om Anton yang terletak di salah satu kota satelit berbatasan dengan ibukota.
Aku dan Irene sedang berada di kamar. Irene teman satu kantorku adalah seorang make up artist lepas di sela-sela kesibukannya bekerja di kantor. Hari ini terasa begitu spesial bagiku. Dia bersedia mendandaniku untuk yang pertama kali secara serius dan profesional.
Irene memulas riasan terakhirnya, sebuah pulasan kuas lipstik di bibirku. Warna merah lipstik yang begitu menggoda iman para kaum lelaki. Berlebihan? Mungkin saja karena aku tidak pernah memakai warna secerah itu di bibirku.
Irene memandang keseluruhan hasil karyanya yang menempel sempurna di wajahku, terlihat begitu memesona siapa pun yang melihatnya. Aku melihat cermin di hadapanku. Wajah yang tidak kukenal sebelumya terpantul jelas di sana. Wajah yang berbeda yang akan membuat pangling jika orang-orang melihatnya.
"Gila Ren, bagus banget riasan lo." Aku berdecak kagum.
"Iya dong. Ini hari spesial sahabat gue. Harus gue lukis sebaik-baiknya. Rambut juga udah kece badai." Irene melihat sanggul kecil di kepalaku.
"Terima kasih ya Ren. Gue percaya hasil riasan lo itu enggak kalah sama para MUA di luar sana."
"Lo pinter banget memuji gue. Minta gratis hah?" seloroh Irene terkekeh.
"Enggak dong Ren. Gue seneng banget lo bisa dandanin gue. Pas nanti gue nikah juga ya, oke?" pintaku.
"Ya janganlah kalo nikah mesti sama yang profesional biar bagus. Gue belum pede Sher," tolak Irene.
"Iya iya gue ngerti Ren. Tapi nanti kasih gue rekomendasi ya."
"Siap Sher," sahutnya lalu matanya beralih ke arah gaun berwarna coklat muda tergantung hanger cantik di dekatnya. "Lihat deh gaun lo cantik banget Sher. Gemes gue lihatnya. Coba gue yang pakai," ucapnya.
"Pengen ya lo?" Aku terkekeh.
"Iya tapi belum ada yang melamar gue. Hiks ...." Wajah Irene berubah murung.
"Cep ... cep ... cep ... jangan mewek deh. Belum waktunya aja kali," sahutku menghibur seraya memeluknya.
"Iya ya Sher. Gue harus semangat menyongsong masa depan," ucap Irene mengangkat kedua tangannya.
Aku melihat tingkahnya tertawa kecil. Sahabatku ini memang suka menebarkan kebahagiaan.
Aku beranjak dari kursi rias meraih gaun yang tergantung itu. Gaun berwarna coklat muda yang dapat menghipnotis setiap pasang mata saat melihatnya.
__ADS_1
Irene yang sedang membereskan perlengkapan make up nya memandangku lalu bertanya, "Butuh bantuan?"
Aku mengangguk lalu mulai menanggalkan pakaian yang menempel di tubuhku.
Sepuluh menit kemudian aku selesai mengenakan gaun itu, menatap penampilan yang terpantul jelas di cermin. Melani memang jenius. Dia menyulapku menjadi tuan putri dari negeri dongeng di acara ini.
Teringat kembali saat pertama kali mencoba gaun ini. Aku belum memiliki perasaan untuk Kak Baruna. Hanya mengikuti arahan orang tua untuk menerima perjodohan itu. Tidak kusangka aku benar-benar terjebak dalam perasaan cintanya sehingga kami saling mencintai sampai saat ini.
"Sudah siap?" tanya Irene.
Aku tersentak kaget tersadar dari lamunanku tentang kejadian beberapa minggu yang lalu. Irene memandangku menggelengkan kepalanya.
"Mikirin apa sih Sher? Udah mau acara masih bengong-bengong," ujar Irene.
"Gue keingetan dulu fitting gaun ini belum ada rasa sama Kak Baruna." Aku terkekeh dengan mata berbinar.
"Oh ya? Sekarang lo pakai itu gaun di acara lo dan dia tapi bedanya kali ini penuh dengan cinta." Irene menatap tidak percaya.
"Iya sekarang gue deg-degan Ren. Gimana pas married coba?"
"Nanti akan terbiasa. Santai aja Sher."
Tok Tok Tok
Terdengar pintu kamar diketuk. Irene bergegas membuka pintu. Tampak Wildan berdiri di depan pintu dengan gaun berwarna dusty pink melekat di tubuhnya.
"Sher buruan udah pada dateng di aula," kata Wildan. Dia datang menjemputku.
"Iya Wildan sabar. Gue pakai kalung dulu bentar ya." Aku memasangkan kalung pemberian Tante Meri.
Irene menggandeng lenganku. Kami berjalan keluar kamar menuju aula. Aku mengintip di balik ruangan kecil di sebelah ruang aula. Wildan tidak memperbolehkanku untuk keluar lebih dulu. Ruang aula sudah ramai dengan keluarga dan para tamu undangan terdekat kami. Tampak dekorasi ruangan yang memanjakan mata, sangat indah.
"Sher pokoknya lo enggak boleh keluar dulu," Wildan memperingatkan. Irene yang duduk di sebelahku hanya cengar-cengir.
Kak Dita tiba-tiba masuk ke ruangan. Dia memanggilku dengan wajah cerianya.
__ADS_1
"Sher nanti kan MC nya panggil kamu. Tapi nanti Kakak yang keluar dihalangi kain coklat polos itu. Wildan dan Irene yang tutup seluruh tubuh Kakak biar nanti Baruna yang tebak dibalik kain itu tunangannya atau bukan. Kalau sudah menebak, baru kamu muncul, oke?"
"Iya Kak Dita," sahutku. Jantungku berdebar kencang. Sungguh acara ini membuatku benar-benar grogi tidak karuan rasanya.
Terdengar suara moderator wanita memanggil namaku, "Sheryl ayo ke sini, sayang. Ada pemuda tampan ingin melamarmu."
Kak Dita bersiap-siap berdiri melangkah diapit oleh kedua sahabatku beserta sebuah kain menghalangi seluruh tubuhnya. Aku mengintip acara dari balik pintu.
Aku melihat Kak Baruna begitu gagah mengenakan jas berwarna senada dengan gaunku sedang termenung sendiri. Entah sedang memikirkan apa. Pikirannya seperti sedang berada di tempat lain.
"Ayo Baruna lihat benarkah ini calon tunanganmu?"
Kak Baruna sontak mendongakkan kepalanya begitu tahu namanya disebut. Kain masih menutupi tubuh Kak Dita yang proporsi tubuhnya memang sama denganku.
"Ah iya dia calon tunanganku," jawabnya singkat.
Kain lalu dibuka dan di sana Kak Dita berdiri seraya tersenyum.
"Aduh abang ganteng kenapa bisa salah? Jangan-jangan salah acara ya?" seloroh moderator wanita itu.
Kak Baruna hanya cengar-cengir mengetahui dirinya salah menebak. Tatapan matanya kosong. Aku yang menyaksikan momen tersebut berdecak kesal. Bisa-bisanya dia salah menebak.
Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? Mengapa kamu tampak gelisah di acaramu sendiri**?
"Lalu siapa wanita ini?" tanya sang moderator.
Kak Dita hanya terkekeh mendengar pertanyaannya lalu menjawab, "Aku kekasih Reza. Maaf ya sudah mengerjai kalian semua. Khususnya Baruna."
Keluarga kami dan para tamu hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat adegan itu. Suasana menjadi riuh dengan tawa dan canda. Kak Baruna menghela nafas panjang lalu ikut tertawa.
"Jadi dimana neng Sherylnya ya? Ayo muncul dong sayang," panggil moderator lagi.
Kak Dita menjemputku keluar dari persembunyian. Dia menggandeng lenganku berjalan bersamanya.
Semua mata tertuju padaku. Entah akibat gaun ini atau riasan di wajahku, aku tidak tahu. Kedua bola mataku berkelana melihat sekeliling tamu di aula itu. Sekejap aku melihat pria yang baru saja menjadi mantan bosku. Pak Reynand datang di acara pertunanganku. Dia duduk bersama Kayla di sampingnya berada di antara para tamu-tamu undangan. Mata kami saling bertemu sejenak lalu aku buru-buru mengalihkan pandanganku.
__ADS_1
"Syukurlah calon tunangan aslinya sudah ada di antara kita. Untuk meyakinkan, saya tanya sekali lagi. Benar ini neng Sheryl calon tunanganmu abang tampan?"
Kak Baruna menatapku tersenyum lalu mengangguk mantap. Aku melihat keluarga kami dan para tamu akhirnya menghela napas lega tidak ada lagi drama-drama yang menghambat acara berikutnya.