Marriage Order

Marriage Order
S3 Pembicaraan Tidak Terduga


__ADS_3

Reynand POV


Pandangan mataku ikut mengarah kepada Sheryl yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Entah apa yang dipikirkannya. Baruna yang melihatnya pun langsung bertanya.


"Kenapa kamu menggelengkan kepalamu, Sayang?"


"Ah-eh, aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu hal yang tidak penting, Sayang," jawabnya terburu-buru, tampak salah tingkah ditatap oleh kami berdua. Namun tidak berlangsung lama. Ia tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Ehm, sepertinya aku ingin ke toilet," katanya lagi. Baruna hanya mengangguk mengizinkannya pergi.


Wanita itu dengan cepat menghilang dari hadapan kami. Aku menghela napas panjang, berkelebat mengarahkan pandangan pada beberapa menu makanan laut yang masih lengkap di atas meja. Entah mengapa, aku hanya ingin menghindar dari pembicaraan yang akan membuat kami merasa kikuk. Apalagi mengenai tajuk berita tadi pagi. Sungguh! Aku tidak ingin membahasnya.


"Lapar?" Baruna tiba-tiba bertanya. Membuatku sontak mengalihkan pandangan.


"Enggak terlalu," jawabku.


"Gue gak akan menanyakan apa-apa sama lo mengenai berita itu. Penjelasan Sheryl sudah cukup buat gue dan gue lebih percaya sama dia," ujar Baruna menatapku serius.


Aku menyengih di depan Baruna. Entah apa yang dikatakan Sheryl. Aku tidak peduli. Yang terpenting perasaanku tersampaikan kepadanya.


"Ya. Maafin gue, Bar. Mungkin berita itu berhasil bikin lo keki sampai sekarang. Tapi, gue enggak ada maksud untuk merebut kesempurnaan kehidupan lo saat ini ...." Aku mengerling ke sembarang titik. Tidak sanggup untuk mengatakan kalimat selanjutnya kepada Baruna. Mulutku terkatup dan terdiam cukup lama sampai akhirnya sebuah kalimat yang paling menyedihkan bagiku meluncur begitu saja. "Sheryl bilang dia sedang hamil dan gue akan memiliki keponakan."


"Dia mengatakannya saat itu?" Baruna mendengus kemudian tertawa kecil. Air mukanya terlihat sangat terkejut.


"Ya. Dia mengatakan hal itu saat kami bertemu." Aku menjawab menekankan kalimatku dengan yakin.


"Hadeh! Sheryl ... Sheryl .... Dia mengandung anak gue, tapi lo yang dikasih tahu lebih dulu." Baruna menggelengkan kepalanya.


"Ma-maksud lo?" Kedua alisku hampir bertemu, tidak mengerti dengan perkataan Baruna.


"Enggak apa-apa. Cuma sedikit lucu aja." Baruna memperlihatkan senyum tipisnya. Dia terdiam kemudian menarik napasnya. "Yang terpenting dia udah jadi istri gue dan gak ada niat untuk mengulang kesalahannya."


Aku menghela napas panjang. Perkataan Baruna menohok hatiku yang terdalam. Mengapa hal ini menjadi sangat sulit, padahal aku sendiri yang sudah melepaskannya?


"Gue tahu. Lo gak perlu mengatakannya berulang kali," sahutku sedikit kesal.

__ADS_1


"Hanya mengingatkan. Siapa tahu lo khilaf lagi dan membuat gue kecewa, Rey." Sindiran Baruna begitu lirih tapi membuat hatiku lagi-lagi tertohok mendengarnya. Aku hanya terdiam tidak bisa menanggapi kalimatnya.


Menunggu Kayla terasa begitu lama untukku. Rasanya ingin cepat-cepat pergi dari restoran ini. Datang menghampiri Baruna dan Sheryl hanya membuatku galau saja.


***


Kayla POV


"Terima kasih atas hadiahnya," kataku sembari tertawa kecil dalam panggilan telepon.


"Hadiah apa? Aku tidak mengerti," Suara pria yang berada dalam panggilan mengelak kalimatku.


"Walaupun aku bermimpi, Reynand tidak mungkin melakukannya. Tidak usah berpura-pura. Memakai nama Mr. Black tidak akan membuatku salah menebak kalau pelakunya adalah kamu. Siapa lagi yang begitu nekat mengirimkan begitu banyak hadiah untukku." Aku menarik senyum tipis lalu terkekeh pelan.


"Ah, kau pintar sekali, Kay. Itu hanya hadiah sederhana dari seorang penggemar fanatik–"


Aku buru-buru mematikan panggilan telepon. Mataku berkelebat ke arah pintu dan melihat Sheryl berjalan masuk ke toilet. Segera memasukkan ponselku ke dalam tas.


Aku berpura-pura merapikan rambut pendekku di depan cermin wastafel, lalu menoleh sebentar ke arahnya. Sheryl memandangku dengan kening berkerut.


Aku menoleh ke arahnya lagi. Wanita itu masih melihatku dengan heran. Mungkin saja tadi ia melihat pergantian posisiku. Dari Kayla yang menerima telepon sembari tertawa begitu ceria sampai Kayla yang terkejut dan berubah merapikan rambut secara tiba-tiba.


"Baru saja. Toiletnya kosong semua. Kau bisa memakainya sesuka hati," sahutku kemudian berjalan meninggalkannya.


Blam!


Pintu toilet itu tertutup dengan suara keras. Aku tidak sengaja melakukannya. Mungkin Sheryl akan berpikiran macam-macam kepadaku, tapi aku tidak peduli.


Walau ia telah menikah dengan Baruna, aku belum bisa menerima semuanya. Begitu enak hidupnya. Setelah meninggalkan Reynand, dia begitu mudah berpaling dan merasakan bahagia. Sedangkan aku? Aku tahu hati Reynand masih tertaut kepadanya dan tidak semudah itu merebut posisi Sheryl di hati Reynand.


Akhir-akhir ini aku banyak berpikir. Aku rasa, ini sudah saatnya aku menyerah dan tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatku sakit sendiri.


Dari jauh, aku melihat Reynand dan Baruna terlihat sedang mengobrol begitu serius. Entah apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Aku mempercepat langkah, tidak lama sudah berdiri dan menarik kursi di depan mereka. Baruna mengangkat wajahnya menatapku.


"Kay, apa kau bertemu dengan Sheryl?" tanyanya.


"Ya, dia baru saja masuk saat aku baru saja selesai menggunakan toilet."


Baruna hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Aku mengalihkan pandangan ke arah Reynand. Pria yang datang denganku itu hanya menunduk sembari memainkan menu cumi saus padang di hadapannya.


"Kau sebaiknya memakannya daripada memainkan makanan seperti itu," kataku membuatnya mengangkat wajah dan menatap.


"Nafsu makanku sudah hilang," sahutnya begitu tidak bersemangat. Dia lalu terdiam, tidak berbicara lagi.


"Bukankah kau sudah memesan makanan, Rey?"


"Ya. Aku akan menunggumu makan, lalu kita pergi dari sini," jawabnya dingin.


Aku yang mendengar jawaban itu mengangkat bahu sambil memajukan bibir. "Terserah kau saja! Kau bosnya di sini."


Reynand tidak menyahut. Entah apa yang terjadi kepadanya. Padahal tadi ia terlihat baik-baik saja, malah terkesan senang saat kami datang. Mungkin ada sedikit perselisihan lagi di antara mereka. Aku tidak tahu. Kedua pria di hadapanku ini memang aneh.


***


Sheryl POV


Kayla begitu saja pergi dengan terburu-buru dari hadapanku. Tingkahnya membuatku menggeleng pelan. Aku pikir, dia sangat membenciku saat ini.


Aku baru saja masuk ke toilet dan melihatnya begitu bahagia berbicara di telepon. Entah siapa lawan bicaranya. Namun, saat melihatku ia buru-buru mematikan panggilan seakan takut kucuri dengar pembicaraan itu. Wanita itu kemudian berpura-pura merapikan rambutnya di depan cermin.


Ah, itu bukan urusanku! Saat ini buang air kecil yang menjadi urusanku.


Aku segera masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Tidak sampai sepuluh menit kemudian keluar dari dalamnya. Kembali teringat bagaimana posisiku tadi.


Canggung. Berada di antara kedua anak Anton Wirawan Asyraf. Mereka menatap seakan ingin melahap. Padahal, aku hanya berkata-kata dalam hati dan gelengan kepala sebagai wujud bagaimana seharusnya aku tidak memikirkan lagi nasib saudara tiri Baruna itu.

__ADS_1


Aku mengehela napas panjang, sebelum akhirnya keluar dari pintu toilet. Kembali pada kenyataan kalau ini nasibku. Tidak akan pernah bisa menghindar dari Reynand dan juga Kayla.


__ADS_2