
Reynand PoV
Aku mendengar Sheryl yang tiba-tiba memintaku untuk menghentikan rencana pernikahan kami. Baru saja menyusun asa untuk berumah tangga dengannya, dan dia dengan tega mengatakan hal itu padaku. Rasanya bagai dijatuhkan dari langit ke tujuh dan dihempaskan dengan tiba-tiba ke bumi.
"Kamu sehat?" Aku mengulurkan tanganku memegang dahinya, tapi tidak panas.
"Hei, kamu pikir aku bercanda! Aku–," Sheryl tidak meneruskan perkataannya. Sebuah suapan nasi beserta lauk pauknya kusuap masuk ke dalam mulut mungil wanita itu.
"Makan yang banyak. Sepertinya kamu harus lebih gemuk dari ini. Aku tidak ingin orang mengira kamu tidak bahagia denganku," kataku sambil tersenyum.
"Aku bisa makan sendiri," katanya sambil mengambil sendoknya dan menyuap makanan sendiri. Air mukanya terlihat kesal.
"Aku tidak akan melepasmu, Sher," kataku tersenyum.
Dia tidak menanggapi perkataanku. Fokus pada makanannya. Membuang mukanya seperti biasa. Membuatku gemas setengah mati.
"Bagaimana masakanku?" tanyaku.
"Enak," jawabnya singkat.
Aku tersenyum, kemudian kembali menyantap sarapanku. Melihatnya menikmati masakanku saja sudah membuatku sebahagia ini. Bagaimana jika melihatnya setiap hari saat terbangun dari tidur? Aku mulai mengkhayal.
"Kamu tidak telat ke kantor?" tanya Sheryl tiba-tiba saat sudah menghabiskan makanannya.
"Biar sajalah. Sebenarnya aku sudah mengajukan resign, tapi Ayah menolaknya karena Baruna belum bisa masuk kerja," jawabku.
Sheryl terdiam. Tiba-tiba saja, mata itu berkaca-kaca. Bulir air matanya mulai memenuhi kedua sudut dan mengalir begitu saja.
Haish .... Kenapa aku membahas Baruna? Sensitif 'kan jadinya.
Aku bangkit berdiri, segera mencuci tanganku di wastafel. Menoleh ke arahnya yang sedang menyeka air mata yang luruh itu.
"Sudah, jangan menangis!" kataku.
"Kamu tidak akan mengerti," sahut Sheryl.
"Waktu akan menyembuhkan dia, dan aku yang akan menyembuhkan lukamu." Aku mengusap puncak kepalanya. Namun, dia bergeming tidak merespon.
Tangannya meraih tas tangan di atas meja kerja. Mengeluarkan sebuah kartu dari dompet, dan memberikannya padaku.
"Aku minta tolong kembalikan ini pada Baruna. Aku tidak sanggup bertemu dengannya, melainkan hanya bisa menangisinya nanti," pintanya.
"Kamu akan mendapat penggantinya." Aku menyambut kartu itu dan menukarnya dengan milikku.
"Tidak. Kamu simpan saja. Aku tidak ingin menerimanya." Penolakan Sheryl membuatku mengangkat bahu dan memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompet.
"Apa yang bisa kuperbuat untuk membuatmu mencintaiku?"
__ADS_1
"Tidak ada. Tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan dirimu!" jawabnya tegas.
Aku terdiam. Tidak berbicara lagi. Merasakan sedikit sesak di hati. Bidadariku itu tidak ada rasa sama sekali.
"Aku pamit berangkat ke kantor. Aku akan bertemu dengan Kayla saat jam istirahat nanti."
Dia tidak menanggapi perkataanku. Masih menundukkan pandangannya. Aku melangkah mendekat. Membungkuk memandang pelipis wajahnya. Mengangkat dagunya hingga dia menatapku.
"Aku pergi dulu. Nanti sore kita ke dokter kandungan. Aku benar-benar harus memastikan kalau apa yang kamu katakan benar, kamu tidak hamil," pamitku mengecup dahinya.
Dia diam tidak menjawab. Aku membalik tubuh keluar dari ruangan menuju lobi. Hati ini masih sedikit sesak melihat dirinya mengabaikanku.
Aku harus lebih berusaha membuatnya membuka hati.
Aku berjalan menuju lobi. Suasana di lobi kantor sudah ramai dengan banyak wartawan. Seorang humas Kusuma Corporation sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka.
Belum sempat berjalan keluar, tiba-tiba saja seseorang memanggilku, "Pak Reynand!"
Aku menoleh ke arah mereka. Salah satu wartawan mendekat ke arahku. Mengarahkan ponselnya sebagai alat perekam suara.
"Pak Reynand, bagaimana komentarnya mengenai berita yang beredar tentang perselingkuhan yang anda lakukan?"
"Saya tidak berselingkuh. Hubungan saya dan Kayla sudah lama putus. Wajar jika mempunyai kekasih baru."
"Tapi, Sheryl adalah tunangan adik anda. Bagaimana tanggapannya?"
"Kapan pernikahan kalian akan digelar?"
"Secepatnya. Nanti akan dikabari."
"Benarkah Sheryl sedang mengandung anak anda?"
"Belum tahu. Belum cek."
"Jadi berita itu bohong?"
"Tentu saja. Bagaimana bisa dia tahu mengandung, padahal belum mengeceknya sama sekali. Cukup ya," jelasku sambil tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kerumunan wartawan itu. Sedangkan mereka terus mengejar sampai dengan area parkir.
Aku tidak menghiraukan para wartawan itu. Dua orang security membantuku menghalangi mereka untuk mendekat. Segera, masuk ke dalam kursi kemudi dan memacu kendaraanku keluar dari gedung Kusuma Corporation.
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Mengemudi dengan kecepatan sedang ke kantor Ayah. Menghadapi wartawan itu tidak akan ada habisnya. Mereka tidak akan puas dengan satu atau dua pertanyaan yang dijawab.
****
Baruna PoV
Aku membuka mata. Pagi telah datang. Sinar matahari mulai menembus masuk melalui jendela kamar. Hari baru telah tiba. Benar-benar baru untukku. Menyadari kehilangan dirinya menjadi sebuah pukulan berat untukku.
__ADS_1
Aku yang sudah melepasnya pergi. Tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Rasa kecewaku sudah pada batasnya.
Rasa kecewaku lebih kepada dia yang tidak jujur padaku. Bukan karena aku yang tidak menerima keadaannya. Aku pun pernah mengatakan pernikahan bukan mengenai hal itu. Entah dia masih ingat atau tidak.
Menikah menurutku adalah ketika aku harus menghabiskan waktuku selama di dunia ini hanya dengan orang yang kucintai dan benar-benar ingin hidup denganku baik susah maupun senang. Berjuang bersama dan saling mendukung satu sama lain.
Sudahlah, mungkin memang kami tidak ditakdirkan untuk menggapai mimpi bersama. Harus berjalan dengan takdir masing-masing.
Aku lalu bangkit dari tempat tidurku. Masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin mandi pagi bisa membuatku sedikit waras untuk beberapa waktu ke depan.
Setengah jam kemudian, keluar dari kamar mandi. Sudah rapi berpakaian kasual dengan kaus putih dan celana pendek coklat bergaris halus berwarna hitam.
Tok-tok-tok!
Aku berjalan ke arah pintu, membukanya. Bunda sudah berdiri di sana. Memandang dengan senyuman hangat. Dia lalu masuk dan duduk di sofa kamar.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyanya.
"Masih bahagia," jawabku asal.
"Jangan bercanda! Bunda serius."
"Tidak usah memikirkanku, Bun. Aku sudah lelah menangis. Dan lagi, aku ini laki-laki. Jangan terlalu memanjakanku seperti anak perempuan yang habis putus cinta," protesku.
Bunda menahan tawanya. Dia memandangku mataku dalam-dalam. Membuatku sedikit lega. Kasih sayangnya tidak akan lekang dimakan waktu. Seperti kata sebuah peribahasa "Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah". Mudah-mudahan aku bukan termasuk anak yang mempunyai kasih sayang hanya sepanjang galah.
"Bar, kamu sudah memikirkan saran Bunda untuk kontrol ke luar?" tanya Bunda.
"Sudah, tapi aku belum memutuskan akan ke mana. Temanku yang dokter sih sudah merekomendasikan seorang dokter di Kuala Lumpur," jawabku.
"Teman? Dokter Mario?" tanya Bunda penasaran.
"Bukan. Dia dokter umum, sih. Pamannya yang dokter subspesialis, tapi praktek di sana."
"Siapa?"
"Bunda ingat, Nayara?" tanyaku.
"Siapa?" Bunda balik bertanya. Terlihat berpikir sambil mengingat-ingat nama wanita yang kusebutkan.
"Teman dekatmu waktu sekolah?" tebaknya terlihat ragu.
"Iya." Aku mengangguk.
Belum lama ini kami memang saling bertukar pesan. Bukannya aku tidak percaya dokter Mario, tapi aku memang sangat ingin cepat sembuh agar bisa segera menikah sesuai rencana. Tapi nyatanya hubungan kami malah kandas.
Aku banyak bertanya tentang kondisiku pada Nayara. Kemudian dia merekomendasikan pamannya yang seorang profesor sekaligus dokter subspesialis di sana. Membuatku sedikit tertarik untuk kontrol dengan pamannya itu.
__ADS_1