Marriage Order

Marriage Order
Nyanyian Cinta


__ADS_3

"Terima kasih ya Pak," ucapku seraya turun dari mobil.


"Iya Mbak Sheryl."


Mobil Kak Baruna lalu memutar arah keluar dari halaman rumahku. Aku baru saja tiba pukul enam sore itu. Kemacetan ibu kota membuat perjalanan lebih lambat dari biasanya. Pikiranku kembali teringat seseorang yang menungguku di kafe X. Padahal aku sebentar lagi mengetahui jati diri pengirim paket itu tapi aku sendiri yang menggagalkan kopi darat itu.


Rumahku terlihat sepi sekali. Papa dan Kak Reza belum pulang dari kantor. Mama entah ke mana. Aku masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhku seraya meraih ponselku. Aku akan menelepon Mama.


"Halo Ma, lagi di mana?"


"Mama lagi di luar nih sama teman-teman arisan Mama."


"Aku sudah sampai rumah tapi jadi sepi gak ada Mama," keluhku


"Iya sabar. Sebentar lagi Mama pulang sayang."


"Ya sudah aku cuma tanya Ma. Have fun ya Ma."


"Iya. Terima kasih sayang."


Aku menutup telepon. Bosan sekali tidak ada orang di rumah. Aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar kamar. Aku melihat Bibi Ati sedang memasak di dapur lalu aku menghampirinya.


"Bi masak apa? Kok banyak banget masaknya?"


"Eh Non sudah pulang. Buat makan malam Non. Nyonya yang request makanan sebanyak ini."


"Memang ada apa Bi?"


"Bibi kurang tahu Non, maaf."


Aku mengambil segelas air dan meminumnya. Dahagaku hilang seketika begitu air bening itu mengalir di tenggorokanku. Bi Ati memandangku dengan heran.


"Non enggak dijemput Mas Baruna ya?"


"Enggak Bi. Lagi ada urusan sore ini katanya."


"Pantes Bibi gak lihat batang hidungnya. Biasanya nempel terus kayak perangko."


"Bibi bisa aja. Ya sudah Bi, aku mandi dulu."


"Iya Non."


Aku berjalan ke kamarku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Seperti biasa berendam di dalam bathtub adalah salah satu kebiasaanku. Aku mengisinya dengan air hangat dan bahan-bahan yang membuat tubuhku rileks setelah seharian bekerja di kantor.


Aku berendam di dalam bathtub sambil melihat langit-langit berukiran mewah. Pikiranku kembali ke ingatanku tentang telepon masuk Indira di ponsel Pak Reynand. Apa hal itu berkaitan dengan kekesalan Pak Reynand yang dikenali oleh Indira di restoran saat itu? Ada hubungan apa di antara mereka? Aku lalu menepuk kedua pipiku dan menggelengkan kepala menepis ingatanku sendiri karena itu bukanlah urusanku saat ini.


Ponselku berdering, aku melihat layar ponsel. Kak Baruna meneleponku. Aku pun menjawab panggilan itu.


"Sayang, jam tujuh aku sampai rumahmu."

__ADS_1


"Cepat sekali?"


"Iya aku tidak sabar untuk bertemu," katanya lagi.


"Baiklah. Aku akan menunggumu. Jangan telat barang sedetik pun. Kalau telat aku akan memberikanmu hukuman."


"Siap Sayangku. Hukuman apa?"


"Nanti akan aku pikirkan."


"Oke sayang. Sekarang kamu pasti sedang berendam di bathtub, ya kan?"


"Bagaimana kamu tahu?"


"Kamu pikir aku sudah mengenalmu berapa lama?"


"Kalau masalah itu aku akui aku kalah. Iya kamu memang lebih perhatian dari yang kupikirkan."


"Hahaha ...." Kak Baruna tertawa renyah.


"Bisakah kamu matikan teleponmu? Aku sudah ingin membilas," pintaku.


"Ya ya boleh. Lain kali aku yang akan ikut mandi di bathtub mu itu," sahutnya nakal.


"Hei kamu sudah berpikir terlalu jauh sayang. Bathtub ini masih milikku. Kamu belum memiliki hak berendam di dalamnya, apalagi denganku."


"Iya sayang, aku hanya bercanda. Aku hanya sangat bahagia sekarang."


"Oke sayang. Kamu harus dandan dengan sangat cantik saat aku datang."


"Buat apa aku dandan sedangkan kamu sudah menyukaiku sejak aku ingusan? Hahaha." Aku tertawa.


"Iya bagaimana pun rupamu, aku tetap mencintaimu sayang."


"I love you too," jawabku mantap.


Kak Baruna mengakhiri panggilan teleponnya. Aku segera membilas tubuhku dan bersiap-siap bertemu dengannya.


Setengah jam kemudian Kak Baruna datang masih dengan kemeja kerjanya. Aku menyambutnya dengan senyum yang paling manis yang pernah kuberikan. Senyum Kak Baruna pun mengembang lebih manis lagi semanis minuman manis yang kuminum tadi siang. Mungkin deskripsi ini terlalu berlebihan, tapi namanya jatuh cinta pasti serba berlebihan bukan?


"Sayang kenapa kamu cantik sekali hari ini? Apa karena ingin bertemu ...."


Kak Baruna tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tanganku secepat kilat membekap mulutnya, "Jangan diteruskan. Kamu membuatku malu sayang." Wajahku merona merah.


"Aku punya kejutan untukmu." Kak Baruna mengeluarkan sebuah sapu tangan dari balik jasnya, "Pejamkan matamu. Jangan mengintip ya."


Aku memejamkan mataku lalu Kak Baruna melingkarkan sapu tangannya tepat di kedua mataku.


"Hei apa kamu lakukan sayang?"

__ADS_1


"Ikuti aku saja," jawabnya sambil menarik lenganku.


Dia berjalan menuntunku ke suatu tempat yang masih berada di sekitar halaman belakang rumah. Aku didudukkan di sebuah kursi dan menunggu aba-aba darinya.


Tiba-tiba sebuah alunan musik pop terdengar begitu bersemangat. Aku membuka sapu tangan yang terikat di belakang kepalaku. Kak Baruna, Kak Reza dan Kak Daniel sedang beraksi di hadapanku. Mereka memainkan sebuah lagu yang menggambarkan indahnya jatuh cinta di kalangan anak muda dua belas tahun lalu. Lagu yang dulu dinyanyikan oleh Tompi dengan judul "Menghujam Jantungku". Tetapi khusus malam itu dinyanyikan sendiri oleh Kak Baruna yang gayanya bak seorang vokalis.


Segenap hatiku selalu memujamu


Seluruh jiwa kupersembahkan untukmu


Sepenuh cintaku merindukan dirimu


Seutuh gejolak membakar hatiku


Seperti cahaya hadirmu di duniaku


Seperti ribuan bintang yang menghujam jantungku


O ow o ow


Kau membuatku merasakan


Indahnya jatuh cinta


Indahnya dicintai


Saat kau jadi milikku


Oh, takkan kulepaskan


Dirimu oh, cintaku


Teruslah kau bersemi


Di dalam lubuk hatiku


Aku terpana melihat penampilan mereka bak grup band profesional yang sedang tampil di atas panggung. Aku menepuk tanganku tersenyum senang melihat pertunjukkan itu. Papa, Mama, Indira, Kak Dita, Om Anton, Tante Meri, Kakek Awan, dan para asisten rumah tangga tiba-tiba muncul dari pintu belakang membawa makan malam dan menaruhnya di sepanjang meja prasmanan dekat dengan kolam renang.


Kak Baruna meraih mikrofonnya dan mulai berbicara, "Sheryl sayang, lagu ini aku nyanyikan sebagai gambaran hatiku yang telah jatuh cinta kepadamu selama ini. Aku harap momen ini dapat mengingatkan dan merayakan rasa cinta kita yang sedang bertumbuh. Aku belum pernah secara pribadi melamarmu. Maka dengan lagu ini, aku sekaligus ingin melamarmu menjadi pendamping hidupku selamanya."


Aku terharu mendengar kata-katanya. Aku tersenyum senang tapi aku juga menangis. Kak Baruna melangkah menghampiriku lalu berlutut mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin yang sangat indah ditujukan untukku.


"Sayang, maukah kamu menerimaku dan cincin ini untuk jadi bagian hidupmu?"


Aku mengangguk menangis haru. Kak Baruna memakaikan cincin itu di jari manisku kemudian memelukku. Aku pun membalas pelukannya.


"Aku akan terus mencintaimu sayang," katanya seraya mencium keningku.


"Aku juga mencintaimu."

__ADS_1


Suara tepukan tangan dari semuanya terdengar begitu meriah mewarnai acara yang tidak pernah kusangka-sangka. Perasaan hangat memenuhi rongga dadaku. Aku sangat bersyukur bertemu dengan banyak orang baik dan Kak Baruna sebagai pendamping hidupku kelak.


__ADS_2