Marriage Order

Marriage Order
Aku Mengetahuinya


__ADS_3

Pukul sembilan malam kami baru tiba di rumah. Aku bergegas masuk ke kamar. Kak Baruna pun kubiarkan duduk berbincang-bincang dengan kakakku di kamarnya. Rasa lelah menghampiriku, dengan segera aku meraih handuk dan mandi di malam itu.


Tidak lama kemudian, selesai mengenakan piyama berwarna marun. Tiba-tiba teringat akan sebuah map yang diberikan Pak Reynand tadi pagi dan terbawa sampai pulang hari ini. Mataku melirik ke arah tote bag yang berada di atas meja.


Apa isi map itu? Mengapa dia bersikeras menyuruhku untuk membukanya?


Aku menggelengkan kepalaku. Membuyarkan ingatan tentang lelaki kanebo kaku yang tadi kutolak cintanya. Aku melangkah keluar, berjalan menyusuri lorong menuju kamar Kak Reza. Menghampiri kedua orang lelaki itu untuk berbincang dengannya seperti biasa.


Pintu kamar itu sedikit terbuka sehingga siapa pun bisa saja mengintip ke dalamnya. Aku berdiri di balik pintu sambil memegang handel pintu bersiap membukanya. Namun, niat itu tertunda begitu saja saat melihat mereka sedang berbicara serius. Tidak sengaja aku mendengarkan percakapan mereka.


"Reynand udah tahu mengenai isi surat perjanjian itu. Gimana kalo dia yang lebih dulu memberitahukan hal itu pada Sheryl?" Suara Kak Baruna terdengar sangat jelas di telingaku.


Deg!


Surat perjanjian? Apa maksudnya?


Keningku mengernyit bingung. Hal itu tidak lantas membuat diriku ikut masuk bergabung ke dalam obrolan mereka. Tubuhku bergeming berdiri di sana. Begitu penasaran dengan obrolan mereka selanjutnya. Sepertinya ini berkaitan dengan obrolan mereka yang sangat serius saat melihat mereka terlibat perdebatan kecil saat pulang dari pemakaman.


"Ya udahlah lo tinggal ngomong aja yang sebenarnya. Lo jelasin ke dia. Pasti adek gue ngerti, kok," sahut Kak Reza.


"Nyokap juga kasih saran begitu, sih. Tapi entah kenapa sekarang gue sedikit ragu. Gue takut kemungkinan dia akan marah. Terus kalau tiba-tiba dia memutuskan hubungan kami lagi, gimana?"


"Marriage Order Agreement itu, kalau dia berpikir positif, dia pasti akan mengerti."


Aku termenung mencerna kata demi kata yang terlontar dari mulut mereka. Tiba-tiba saja teringat akan map yang tadi Pak Reynand berikan padaku. Aku segera berbalik arah, berjalan cepat menuju kamar. Degup jantung rasanya berdetak sangat kencang. Rasa takut menyeruak masuk ke dalam hatiku.


Apa sih yang sedang terjadi? Kenapa aku tampak bodoh seperti ini dan tidak tahu apa-apa? Jangan-jangan? Ya Tuhan, apa ini sesuatu yang buruk?


Aku melangkah cepat masuk ke dalam kamar. Berdiri bersandar di balik pintu dengan napas terengah-engah. Segera, aku membuka tote bag-ku. Meraih map itu dengan tangan bergetar.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan dari balik pintu kamar terdengar. Map yang kupegang segera kutaruh di atas meja. Kak Baruna berdiri di hadapanku dengan senyum memperlihatkan barisan gigi serinya yang putih dan bersih.


"Kamu sedang apa? Aku tunggu dari tadi tidak keluar-keluar?" tanyanya.


"Ah ... tidak ada. Aku habis mandi. Kamu mau minum apa, Sayang?" tanyaku balik.

__ADS_1


Kak Baruna memeluk tubuhku tiba-tiba. Menopang wajahnya di atas bahuku sambil berbisik, "Kamu wangi sekali."


"Hei, jangan mulai lagi deh," sahutku berusaha keluar dari pelukannya.


"Diam sejenak. Biarkan aku memelukmu seperti ini. Lima menit saja. Aku merindukanmu."


"Kita sudah bersama sejak tadi dan kamu masih merindukanku?"


"Sedetik tidak bertemu pun terasa lama sekali, Sayang," bisiknya lagi di telingaku.


"Sayang, sudahlah jangan menggoda. Ayo ke bawah. Di dalam kamar terus tidak baik."


Kak Baruna melepaskan pelukannya lalu tersenyum menggoda. "Ah aku tidak sabar. Aku pulang saja, ya."


"Pulang?"


"Iya. Pagi-pagi sekali aku akan terbang ke Malaysia."


"Malaysia? Kamu tidak bilang sama sekali padaku." Aku mengerucutkan mulutku tidak suka.


"Urusan kantor?"


"Hmm ... tidak juga, sih. Nanti juga kamu tahu." Kak Baruna tersenyum seperti merahasiakan sesuatu.


"Ya-ya-ya ... nanti pasti kamu akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan?" sahutku.


Dia mengangguk diiringi oleh senyum yang manis. Aku meraih tangannya lalu membalikkan badan keluar dari kamar. Bertemu dengan keluargaku yang sedang bersenda gurau di ruang tengah.


"Dari mana saja kalian?" tanya Mama saat melihat kami.


"Aku baru selesai mandi, Ma. Kak Baruna menyusulku ke kamar."


"Oh .... Kalian sudah makan?" tanya Papa.


"Sudah Om, tadi di pesta ultah baby Gav," sahut Kak Baruna.


Kami lalu ikut duduk bersama kedua orang tuaku dan Kak Reza di mana kami bisa saling bercengkerama bersama. Namun, hatiku tidak bisa berbohong. Masih terus teringat pembicaraan Kak Baruna dengan Kak Reza tadi di kamar.

__ADS_1


Apa aku tanyakan saja? Tapi kalau bertanya apa dia akan menjawabnya dengan jujur? Waktu di pemakaman saja ia sangat tidak suka aku mencampuri urusannya bersama Kak Reza.


Aku membuyarkan pemikiranku saat Kak Baruna mengajak ke luar rumah. Seperti biasa kami bergandengan tangan berjalan bersama. Dia memandang dengan tatapan mesra sekali. Seakan-akan kami akan berpisah dalam waktu yang lama.


"Sayang, aku pamit pulang dulu. Besok aku kabari kalau sudah berangkat."


Kak Baruna mengecup kening dan memelukku. Dia lalu berjalan menuju mobilnya. Aku melambaikan tangan mengiringi kepergiannya. Kekasihku itu pulang membawa tanda tanya besar untukku.


Aku bergegas masuk ke kamar. Mengambil map di atas meja dan membukanya. Baris demi baris tulisan yang terjamah mata membuatku terkesiap. Aku sungguh tidak menyangka kalau pernikahanku ini adalah pernikahan bisnis demi membayar hutang perusahaan keluarga. Tiba-tiba saja air mata terjatuh membaca perjanjian itu. Dadaku tiba-tiba sesak dan melahirkan sebuah rasa marah, sedih, dan kecewa.


Kak Baruna, mengapa dia tidak mengatakannya dari dulu? Kalau aku tahu, aku tidak perlu memakai hatiku agar hatiku tidak terluka seperti ini. Ini terlalu mengejutkan.


Aku terisak mendudukkan diri lemas di tepi tempat tidur. Menyesali semua yang telah terjadi dengan diriku dan keluargaku. Hidup yang tidak bebas ini terasa kembali. Hati yang melambung ke surga hingga menghantam keras kembali ke bumi.


Aku keluar kamar membawa surat itu dengan terburu-buru. Harus ada yang bertanggung jawab menjelaskan semuanya. Aku tidak terima hidupku yang bahkan aku sama sekali tidak mengerti, mengapa menjadi seperti permainan bagi dua keluarga yang terlihat harmonis.


Aku berdiri menunduk di depan kamar Kak Reza. Berdiam diri mematung di depan pintu. Keraguan mulai menggelayuti otakku.


Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus diam saja mengikuti alur permainan ini? Lalu masa depanku? Cinta Kak Baruna padaku? Apakah hanya kesemuan yang tidak berujung? Aku benci mengetahuinya. Harusnya aku tidak tergoda membuka map sialan itu.


Kak Reza membuka pintu kamarnya. Melihat ke arahku yang berdiri sambil memegang map di tangan. Dia mengernyitkan kening kebingungan. Seketika wajahnya berubah serius dan merebut map itu dari tanganku dan membukanya.


"Dari mana kamu dapat salinan surat ini?" tanyanya serius seraya mengayunkan map itu di hadapanku.


"Apakah yang tertulis di situ adalah informasi yang benar?" tanyaku masih menundukkan kepala.


Kak Reza terdiam tidak menjawab. Aku menunduk tidak sanggup melihat wajahnya. Bulir air mata mulai jatuh menggenangi pipiku.


"Katakan dengan jelas padaku! Apa itu semua benar?!" tanyaku setengah berteriak.


"Dek, Kakak bisa jelasin. Kamu jangan seperti ini!"


"Kenapa? Wajar 'kan bila aku marah dan kecewa? Semuanya karena kalian! Aku kecewa dengan keluargaku sendiri, dengan keluarganya, bahkan dengan diriku yang sudah memilihnya segenap hatiku. Kalian semua jahat karena telah menyembunyikannya dariku!" tegasku sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah kembali.


Aku berbalik arah meninggalkan Kakakku yang masih terdiam seperti orang bisu memandangku masuk kembali ke dalam kamar.


Aku terisak. Memandang selembar kertas yang berisi kesepakatan. Aku benci tidak tahu apa-apa. Kini aku memang hanya sebuah pion catur yang sedang dipermainkan di atas papan permainan.

__ADS_1


__ADS_2