
Sheryl Pov
"Bar, tidakkah kau merasa perkataanmu itu keterlaluan? Sheryl pasti masih bingung dengan semua ini. Berikanlah ia waktu."
Tiba-tiba Felicia membuka suaranya. Sontak pandanganku mengarah padanya. Ia membelaku.
"Ta-tapi seharusnya Sheryl tahu bagaimana posisinya," sahut Baruna tergagap. Aku melihat ia melayangkan tatapannya yang tajam kepada Reynand.
Aku masih terdiam, tak menyahut perintah Baruna saat tiba-tiba suara dehaman ayah mertuaku terdengar.
"Ehem!"
Seketika kami semua mengatupkan mulut kami. Ayah berjalan memasuki ruang makan. Tak melepaskan pandangannya sama sekali dari kami.
"Ada apa ini?" tanyanya lalu duduk di meja yang paling ujung.
"Mas, apa kamu sudah berbicara dengan Reynand?" Bunda yang juga berada satu meja dengan kami mengeluarkan suaranya.
"Ya. Ada apa?" Ayah mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan yang langsung mengarah pada Reynand, "sudah Ayah katakan untuk tidak memancing keributan 'kan, Rey?"
"Tak ada yang memancing keributan," jawab Reynand begitu tenang seakan tak merasa bersalah telah membuat Baruna tersulut emosi.
"Ayah percaya kepadanya? Dia yang lebih dulu membuatku kesal." Baruna menimpali perkataan Reynand.
"Benar, Rey?" Ayah menyelidik.
Reynand tak menjawab. Ia mendengus dengan seringai yang terlihat menyebalkan di depan ayahnya. Tak tahu harus bagaimana, tapi aku yang menyaksikan pertengkaran dua pria ini tak bisa tinggal diam. Bagaimanapun semuanya terjadi karena diriku.
"Cukup," kataku seraya menoleh kepada Baruna, "aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu ingin buktikan kepada Reynand. Hanya karena aku bersikap dingin kepadamu, tak semestinya kamu menyalahkannya. Jika saja kamu tahu, aku masih belum dapat menerima semuanya. Bukan hanya kehilangan calon bayiku yang membuatku bersedih. Kehilangan ingatan lebih membuat hatiku ingin meledak tak tahan."
"Sayang...." Baruna sontak menatapku iba. Dia mengulas senyumnya, "kamu istriku. Aku yakin kamu kuat dan kita bisa melalui semuanya bersama."
Baruna menggenggam punggung tanganku yang seketika membuat tersentak, lalu mengangguk pelan. Dalam sekejap ucapan Baruna melemahkan emosiku. Namun tanpa sengaja aku menoleh pada Reynand. Dia menatap dengan seringai dan air muka kecewa.
"Bar, laukmu habis. Aku ambilkan, ya. Kau harus banyak makan dan tidak boleh sakit," ucap Felicia tiba-tiba yang langsung mencuri atensiku kepadanya. Felicia tengah menyendokkan menu capcay pagi ini ke atas piring Baruna dan aku melihat dia tidak bisa menolaknya sama sekali.
Rafael tiba-tiba ikut menambahkan sepotong ayam woku mereka piring Baruna mengikuti ibunya. "Makanlah, Yah! Jangan marah-marah terus."
__ADS_1
Baruna membalasnya dengan senyum yang sama. "Iya, Nak. Maafkan Ayah, ya. Kau pasti sangat kaget karena Ayah marah-marah." Baruna mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Rafael.
Rafael mengangguk-angguk. Aku memperhatikan interaksi keduanya. Hubungan mereka yang sangat dekat tak tampak seperti paman dan keponakan, melainkan seperti ayah dan anak kandung. Ditambah dengan hadirnya Felicia di antara mereka, membuat hatiku berbisik ragu. Entah mengapa, hatiku terus membisikkan sesuatu yang buruk tentang mereka.
Mengapa aku merasa ada sesuatu yang tak beres di sini?
"Aku selesai!"
Aku tersentak menoleh pada Reynand yang mengalihkan pandanganku begitu cepat dengan suara baritonnya. Dia bangkit dari duduknya.
"Semuanya, aku akan berangkat lebih dulu," pamit Reynand dengan air muka yang tak jauh berbeda. Kecewa dan sedikit dingin. Ia pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.
Apa dia marah kepadaku?
***
Berada di pemakaman hampir tengah hari membuat kulitku terasa terbakar. Matahari siang ini memang begitu terik, tapi aku malah memaksakan diri datang ke makam anakku. Mengusap nisannya sendirian sambil bergumam dan menyalahkan diri sendiri.
"Jika saja Ibu tidak kecelakaan, kamu pasti masih bersama ibu, Nak." Aku menarik napas panjang, mengedarkan sekeliling makam yang begitu sepi sejenak. Tak lama sebuah pertanyaan melintas dalam otakku.
"Kau harus mengingatnya sendiri, Sheryl."
Aku kembali bergumam sambil menundukkan kepala. Dalam tundukku, tiba-tiba saja suasana menjadi teduh seperti cuaca yang mendadak berubah mendung dengan cepat. Aku sontak mendongak. Seorang pria tinggi menjulang dengan payung kacamata hitamnya menatap ke sembarang titik.
"Reynand?!"
Aku hampir berteriak kegirangan melihat dirinya. Bagaimana tidak? Pagi tadi tampak sekali kalau pria itu pergi ke kantor dengan wajahnya yang tertekuk merajuk kepadaku.
"Sedang apa kau di pemakaman siang bolong begini, Sher?" tanyanya seraya membuka kacamata hitamnya. Air mukanya siang ini telah berubah kembali seperti biasa.
Aku segera berdiri. "Kalau begitu, aku juga bertanya hal yang sama kepadamu. Sedang apa kau di sini? Apa kau mengikutiku, Rey?"
"Untuk apa mengikuti istri orang hingga sampai ke makam? Kau pikir aku tak ada kerjaan?"
Seketika aku mengekeh mendengar penuturannya. Suasana hatiku mulai berubah. "Siapa yang tahu." Aku mengedikkan bahu, "jujur saja apa yang sedang kau lakukan di sini, Rey?"
"Di ujung sana makam papanya Dira. Sebentar lagi hari peringatan kematiannya." Reynand menunjuk ke arah sebuah makam yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari makam anakku.
__ADS_1
"Dira?" Aku mengernyit tak mengenal nama itu.
"Adikku. Anak bawaan dari suami ke dua Mama."
"Oh, maaf aku benar-benar tidak ingat." Aku menggeleng hampir frustrasi. Tak ada yang kuingat selain pria di depanku ini.
"Sayang sekali. Padahal kalian lumayan akrab."
"Perkataanmu makin membuatku merasa tak berguna." protesku, tapi pria itu malah mengekeh menertawakanku.
Aku mendengus kesal. Saking kesalnya segera berjalan pergi meninggalkan Reynand.
"Sher!" panggilnya.
Aku sontak berhenti di depan gerbang makam. Reynand menghampiri dengan payung hitamnya yang terulur kembali melindungiku dari sinar matahari yang menyengat.
"Maaf karena tadi pagi marah kepadamu tanpa alasan yang jelas," ujarnya tiba-tiba.
Aku terhenyak menatap Reynand. Firasatku benar. "Jadi kau benar-benar marah kepadaku tadi pagi?"
"Ya, tapi sebenarnya aku cemburu sekaligus marah kepada Baruna."
Alasan cemburu bisa kumengerti, tapi marah....
"Apa yang membuatmu marah kepada Baruna?" tanyaku.
"Dia dan Fely ...," jawab Reynand lalu terdiam.
"Mereka kenapa?" Aku makin mengerutkan kening menunggu jawaban Reynand yang berhasil membuat jantungku bergemuruh seketika.
"Lupakan saja! Aku hanya asal berbicara," katanya kembali mengekeh.
"Huuu! Dasar menyebalkan!" sahutku mengekeh. Dengan segera berbalik hendak beringsut menuju pelataran parkir.
Langkahku harus terhenti ketika merasakan lengan kekar Reynand mengalung leherku dari belakang. Sedetik kemudian, Reynand berbisik di telingaku.
"Sher, aku ingin segera membawamu pergi jauh dari mereka."
__ADS_1