Marriage Order

Marriage Order
S2 Cinta?


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam saat aku duduk di ruang tunggu ICU. Memainkan ponsel dalam genggaman. Melihat-lihat pesan yang sudah kuabaikan sejak kemarin. Banyak pesan dari Kak Baruna semakin menjatuhkan diriku ke dalam jurang rasa bersalah dan penyesalan.


Pria yang sangat baik itu, entah sampai kapan berada di ruangan dingin yang hening bersama dengan pasien-pasien yang sama-sama tidak memiliki kesadaran.


Telepon dari Pak Reynand beberapa kali kuabaikan. Aku tidak mau mendengar suaranya. Dia laki-laki yang akan selalu maju jika aku terus menantang kehendaknya. Sebaiknya kali ini aku menghindar saja dari dia.


Aku melihat Tante Meri yang kelelahan. Dari pagi ia belun juga pulang ke rumah. Kami masih di sini berharap-harap cemas menunggu Kak Baruna yang sadar.


Setiap mendengar panggilan perawat untuk keluarga pasien, lalu melihat dengan kepala dan mataku sendiri, keluarga pasien itu akan menangis histeris. Salah satu keluarga mereka yang juga sesama pasien ICU meninggal dunia. Aku ikut terbawa perasaan duka mendalam dan menitikkan air mata. Begitu pun dengan Tante Meri. Kami sangat takut, kalau tiba-tiba saja Tante Meri yang dipanggil dan ternyata terjadi hal buruk terhadap Kak Baruna. Namun, dia berusaha terlihat tegar dibanding diriku. Terus mengusap punggungku berusaha menenangkan saat aku tiba-tiba menitikkan air mata kembali.


"Sher, sebaiknya kamu pulang. Sekarang sudah jam tujuh malam," ujarnya padaku.


"Iya, Tante. Sebentar lagi Kak Reza tiba. Dia juga ingin melihat sahabatnya. Aku akan pulang bersama dia. Tante jaga kesehatan, ya. Lihat, kantung mata Tante bengkak akibat sering menangis," balasku.


"Kamu pun begitu. Matamu bertambah sipit tidak terlihat. Bengkak sekali. Baruna sangat beruntung memiliki tunangan yang sangat mencintainya." Tante Meri memandangku sambil tersenyum.


Tante, jangan terus mengatakan hal itu. Aku tidak seperti yang Tante pikirkan.


Aku hanya menelan ludah tidak menjawab. Rasanya aku makin tidak mempunyai muka berhadapan dengan Tante Meri.


Tidak lama, terlihat sosok Kak Reza yang datang dengan tergesa-gesa. Dia baru saja pulang dari kota K. Segera menoleh ke arah kami saat melihatku dan Tante Meri duduk berdampingan.


"Tante, aku ingin melihat Baruna."


Tante Meri mengangguk, lalu bangkit dari duduknya, mengantar Kak Reza masuk ke ruangan. Aku melihat mereka berlalu masuk ke dalam, sedangkan aku masih duduk termenung membayangkan kalau saja Kak Baruna terbangun dan mencariku. Apa yang harus kukatakan saat itu?


Rasanya penyesalan pun tidak berguna jika sudah seperti ini. Sejujurnya aku sangat mencintai Kak Baruna, tapi entah mengapa aku terbuai oleh perasaan yang lain. Rasa cinta lain yang ditawarkan oleh Pak Reynand sampai aku menyerahkan kehormatanku kepadanya saat mabuk kemarin malam.


Sekarang aku mulai berpikir, apa benar kalau yang aku rasakan pada Pak Reynand juga merupakan cinta yang sama seperti perasaanku pada Kak Baruna? Apa bisa mencintai dua orang di saat bersamaan? Atau hanya ketertarikan sesaat? Entah, sampai kapan aku bertanya, tidak ada jawaban yang pasti sama sekali. Pastinya, aku sudah sangat bersalah jika mempermainkan perasaan mereka.


Aku menggelengkan kepala berusaha membuyarkan kata hatiku yang terus bertanya-tanya hal yang tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya aku memikirkan tentang cintaku. Sebagai perempuan, aku merasa diriku sangat menjijikkan. Tidak punya prinsip terhadap satu hati yang utuh untuk seseorang.


Tidak lama, Tante Meri dan Kak Reza keluar ruangan. Mereka berjalan menghampiriku. Mata Kak Reza memerah. Kelihatannya dia belum sempat istirahat dan habis menangis di dalam.


"Ayo kita pulang!" ajaknya.


Aku bangkit dari dudukku. Segera berpamitan pada Tante Meri.


"Tante, aku pulang." Aku memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan. Sebentar lagi Ayahnya Baruna juga akan datang menggantikan Tante. Kamu harus banyak istirahat. Cukup Baruna saja yang sakit," sahutnya lalu melepas pelukanku. Kedua belah pipiku dicium olehnya. Terasa sekali jika ia memang menyayangiku.


"Tante juga jaga kesehatan," kataku.


Tante Meri mengangguk.


"Besok aku akan datang lagi ke sini, Tante," tambah Kak Reza.


"Iya, tapi jangan sampai keadaan Baruna merepotkan aktivitas kalian."


"Tidak sama sekali," jawab Kak Reza sambil tersenyum.


Tante Meri balas tersenyum. Kami berdua lalu membalikkan badan berjalan menuju lift dan area parkir.


Sepuluh menit kemudian, aku dan Kak Reza sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang menuju rumah kami. Jalanan malam yang gelap dihiasi berbagai lampu jalan berwarna-warni menambah semarak pemandangan malam yang terlihat di sepanjang jalan. Namun, aku tidak tergoda akan keelokan lampu-lampu itu. Mataku terus melihat lurus ke depan jalan.


Kak Reza tidak banyak berbicara sepanjang jalan. Terlihat dari raut wajahnya begitu sedih dan syok setelah melihat Kak Baruna yang terbaring lemah tidak berdaya. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku.


"Dek, apa kamu masih marah pada Baruna?"


Aku menggeleng.


Aku terdiam tidak menjawab.


"Kamu mulai gagu ya sekarang?" sindir Kak Reza.


"Apa lagi? Salahkanlah aku atas semua yang terjadi! Aku memang manusia munafik dan egois. Bahkan aku tidak pantas bersanding dengannya di pelaminan!" Aku berteriak kesal.


Kak Reza yang mendengar tanggapanku terdiam tidak berkomentar. Aku menarik napasku dalam-dalam. Mengatur aliran udara yang keluar masuk tidak teratur.


"Kamu tahu, Kakak hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Jika memang ada permasalahan semuanya bisa dibicarakan. Baruna cukup dewasa untuk mengerti dirimu. Di samping perjanjian MO itu, Kakak tahu dia benar-benar tulus padamu."


"Cukup, Kak! Kakak membuatku tambah sesak!" ucapku mulai menitikkan air mata kembali.


Kak Reza terlihat menarik napas dalam-dalam dari hidungnya. Dadanya terlihat naik turun menarik dan mengembuskan udara bebas. Ada berbagai perasaan terpancar di wajahnya.


Aku tahu kalau Kakak kesal dan kecewa padaku. Kakak juga sedih akan keadaan sahabatmu. Maaf, aku mengecewakan semuanya.


Setengah jam kemudian, kami sampai di rumah. Kak Reza memarkirkan mobilnya di garasi. Aku bergegas keluar dan melangkah masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke dalam kamarku. Kamar yang kurindukan setelah kemarin malam tidak singgah tidur di tempat itu.

__ADS_1


Aku merebahkan diri di atas ranjang. Mengambil ponsel dari dalam tas. Ada sebuah notifikasi sebuah pesan aplikasi yang masuk. Pesan dari Pak Reynand.


"Saya ingin berbicara denganmu, Sher."


Pesan itu hanya kubaca dan kuabaikan. Aku sama sekali tidak berminat bertemu bahkan berbicara dengannya. Rasa benci merasuki hatiku. Sebesar apapun perasaanku padanya, aku tidak berminat bersama dengan pria itu.


Tiba-tiba ponselku berdering, panggilan darinya masuk. Pak Reynand lagi-lagi meneleponku. Aku tidak mengangkatnya. Dering telepon itu berbunyi lama sampai akhirnya mati. Tidak lama notifikasi pesan masuk datang.


"Saya ingin berbicara denganmu. Tolong jawab telepon saya, atau saya akan datang ke rumahmu."


Sungguh menyebalkan jika berbicara dengannya. Pesan ke dua bernada ancaman. Tentu saja aku tidak mau dia mendatangi kediamanku. Masalah akan semakin rumit jika dia datang berkunjung.


Dering telepon kembali terdengar. Pak Reynand menelepon lagi. Aku menghela napas sejenak sebelum menjawab  panggilannya.


"Ada apa? Apakah ada hal yang harus dibicarakan kembali?"


"Sheryl, saya ingin membicarakan hubungan kita."


Deg!


Dia benar-benar tidak punya perasaan! Sangat egois! Hanya memikirkan perasaannya sendiri. Bagaimana bisa dia ingin membicarakan hubungan kami, setelah terjadi hal seperti ini? Bukankah tadi dia juga menangis?


"Hubungan seperti apa yang kamu harapkan? Saya masih dan tetap tunangan Baruna."


"Baruna koma."


"Iya, dan dia akan bangun sebentar lagi."


"Saya ragu dia sekuat itu. Saya melihatnya begitu tidak berdaya."


"Kamu jahat sekali, Pak!"


"Saya hanya membicarakan kenyataan."


"Bapak bukan Tuhan!" Aku mematikan teleponku kesal.


Manusia itu, mengapa lama kelamaan sangat menyebalkan. Aku tidak habis pikir pernah mengatakan cinta dan tidur dengannya.


"Aarrgghh!" Aku berteriak kesal bangkit dari ranjangku segera masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2