Marriage Order

Marriage Order
S3 Bulan Madu yang Berakhir


__ADS_3

Kami baru saja turun dari pesawat saat tiba-tiba saja ponsel Baruna berbunyi. Dia meraih ponselnya dari dalam tas kecil yang dibawanya, menjawab panggilan telepon.


"Halo, Yah!"


Sapaan Baruna terdengar di telingaku saat ia mengangkat teleponnya. Pasti Ayah Anton yang meneleponnya.


"Menunggu? Kalian menjemput kami?!"


Suara Baruna terdengar kaget. Aku lantas menoleh ke arahnya. Melihat air mukanya yang terkejut. Sepertinya, ia mendapatkan sebuah kejutan. Suamiku itu balas menoleh, lalu memberikan ponselnya kepadaku.


"Mamamu ingin berbicara," katanya.


"Mama?" keningku berkerut mendengar Mama yang menelepon Baruna, padahal tadi jelas-jelas aku mendengarnya menyapa Ayah Anton, bukan Mama.


Walau merasa ragu, aku meraih ponselnya. Menjawab panggilan Mama. "Halo, Ma."


"Sheryl! Mama, Papa, dan Kak Reza ikut menjemput kalian di bandara." Suara Mama terdengar semringah.


"Menjemput?" Aku menarik ponsel suamiku dan melihat nama si penelepon. Nyatanya nomor Ayah Anton yang tertera di layar.


Baruna yang mengerti kebingunganku, lantas menyengir dan berkata, "Mereka semua menjemput kita, Sayang."


"Oh." Hanya kata itu yang terucap. Sedetik kemudian, kembali menempelkan layar ponsel ke daun telingaku.


"Mama bersama keluarga Om Anton dan Tante Meri?"


"Ya! Mumpung hari ini libur, kami berencana membuat pesta kecil-kecilan menyambut pengantin baru yang baru kembali berbulan madu," sahut Mamaku.


"Pesta lagi?" Aku benar-benar terkejut kali ini. "Yang benar saja! Kami baru tiba di tanah air dan kalian sudah ingin membuat pesta kecil-kecilan untuk kami."


"Tidak masalah, 'kan? Semua keluarga akan berkumpul dalam pesta yang akan diselenggarakan di kediaman mertuamu."


Aku menoleh ke arah Baruna dengan kening berkerut, lalu berbisik sangat lirih, "Sayang, apa kamu mengetahui hal ini?"


"Apa?" tanyanya bingung.


"Pesta kecil-kecilan."


Mendengar jawabanku, Baruna meraih ponselnya lagi dan meminta Mama untuk memberikan ponselnya kepada Ayah Anton.

__ADS_1


"Ayah, kami baru tiba. Biarkan kami melepas lelah," protesnya.


Namun, jawaban Ayah Anton sepertinya tidak memuaskan untuk Baruna. Air muka suamiku itu masih terlihat tidak enak sampai akhirnya ia mengakhiri panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Tangannya kembali menggenggam pergelangan tanganku.


"Ayah bilang apa?" tanyaku penasaran.


"Sudah terlanjur. Mereka sudah mempersiapkan semuanya di rumah. Kalau kamu lelah dan tidak ingin ikut pesta juga tidak apa-apa, biar aku saja. Toh, ini seperti acara syukuran saja."


Aku mengangguk mengerti. Kami terus berjalan beriringan. Tidak terasa sudah berdiri di depan seluruh anggota keluarga yang menunggu, menyambut kami berdua. Aku dan Baruna hanya menyunggingkan cengiran melihat betapa lengkapnya keluarga kami.


"Sheryl …. Astaga! Berpisah denganmu seminggu saja membuat Mama kangen setengah mati. Mama tidak pernah kehilangan anak gadis Mama begitu lama," kata Mama seraya memelukku begitu erat, sedangkan aku hanya tersenyum saja mendengar perkataannya. Beliau terlalu memanjakanku.


"Ah, seandainya Baruna mau tinggal dengan Mama dan Papa," tambahnya seketika melepas pelukannya. Pandangan mata Mama melirik tajam ke arah menantunya yang sibuk mengobrol dengan kedua orang tuanya.


"Rin, anak gadismu sudah jadi istri orang. Kamu sebaiknya merelakan ia tinggal di manapun suaminya inginkan." Papa menepuk pundak Mama mengingatkannya untuk bisa merelakan kami.


"Ya, Ma. Baruna 'kan, anak tunggal. Dia tidak mungkin meninggalkan Ayah dan Bundanya," tambah Kak Reza.


Aku melihat Mama mendesah pelan. Menatap keluarta Asyraf dengan pandangan sedikit kecewa. "Mengapa mereka tidak membuat saja lagi, adik Baruna agar tidak kesepian," lirihnya.


"Hush! Kamu jangan bicara sembarangan!" Papa menegur, mengingatkan Mama agar tidak seenaknya berbicara. "Di usia sekarang mereka lebih cocok memiliki cucu, bukan anak, Rin!"


"Ya, Sher. Sebaiknya kamu bekerja dengan giat bersama suamimu." Kak Reza menambahkan seraya menyengir, tapi sebuah cengiran yang sedikit meledek. Rasanya aku sangat merindukan Kakakku itu.


Mengenai perkataan mereka, aku mungkin mendengarkan kalimat yang sama sudah lebih dari dua puluh kali. Siapa pula yang ingin menunda? Aku cukup siap untuk memiliki bayi di usiaku sekarang. Kita lihat saja nanti.


"Aku tidak akan menundanya, Ma," sahutku seraya manggut-manggut.


Mama dan Kak Reza akhirnya berhenti berbicara, ketika Bunda Meri menghampiri dan memelukku dengan erat.


"Bagaimana bulan madu kalian?" tanyanya.


"Menyenangkan," jawabku singkat.


"Maafkan Ayah mertuamu yang menyuruh Baruna pulang secepatnya. Dia memang lebih mencintai bisnisnya daripada anaknya sendiri."


Jawaban Bunda Meri membuatku terperangah sebentar. Baru kemarin malam rasanya aku menggerutu tidak suka dan melampiaskannya kepada suamiku karena Ayah Anton memaksa kami pulang cepat. Sekarang Bunda Meri yang malah meminta maaf kepadaku.


"Ti-tidak apa, Bun. Bulan madu bisa kapan saja. Kami bisa merencanakannya lagi nanti," jawabku menenangkan pikiran beliau.

__ADS_1


"Syukurlah. Bunda pikir kamu akan marah karena hal ini. Beruntungnya anakku memiliki istri yang pengertian." Senyum Bunda Meri terlukis di wajahnya yang cantik.


"Tidak juga. Bunda terlalu memuji," sahutku tidak enak.


Setelah itu, Bunda Meri mendekatkan dirinya kepada Mama. Mereka pun mengobrol. Entah apa yang dibicarakan Bunda Meri bersama Mamaku. Ah, biarkan saja. Aku tidak ingin ikut campur.


Aku dan Baruna masuk ke dalam mobil berjenis SUV milik Ayah Anton. Sedangkan, keluargaku masuk ke dalam mobil mereka. Kami meninggalkan bandara menuju kediaman Asyraf.


Satu jam kemudian, kami memasuki halaman luas kediaman keluarga Asyraf. Ini pertama kalinya aku menjejakkan kaki sebagai menantu di keluarga ini. Jantung ini terus berdebar tidak karuan, sangat cepat dan membuat sedikit canggung.


Bertamu atau menginap tidak sama dengan tinggal bersama mereka dalam jangka waktu yang lama. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, tidak ada yang tahu. Aku takut nantinya mereka kecewa mengenalku luar dalam dan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Ayah Anton dan Bunda Meri keluar dari mobil terlebih dulu. Baruna membukakan pintu depan mobilnya, mengajakku turun.


"Welcome to our home, Hon!" ujar Baruna begitu manis.


Aku membalasnya dengan anggukan seraya tersenyum. Pandanganku seketika mengedar. Baru saja menginjakkan kaki, tiba-tiba terperanjat dan berhenti melangkah. Sebuah sedan putih terparkir di sana. Mobil yang sangat kukenal. Mobil seorang direktur Pradipta.


Mengapa dia ada di sini?


Baruna tampaknya mengerti dengan caraku memandang mobil sedan itu. Dia langsung meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat, hampir meremas gemas.


"Apa yang kamu pikirkan? Dia juga keluargaku. Wajar bila datang ke kediaman kami." Baruna menatapku lembut.


Aku terkesiap dengan tindakan Baruna yang tiba-tiba. Perkataannya seakan menyindirku. Pandanganku sontak menoleh ke arah suamiku itu.


"Tidak. Aku hanya kaget. Sudah lama rasanya tidak bertemu dengannya. Bahkan, dia tidak hadir di pernikahan kita, bukan?"


"Ya. Kebetulan saat itu ada meeting penting yang harus dihadiri di Korea. Karena Ayah tidak bisa datang, Rey menggantikannya. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Pria itu tidak hadir bukan karena masih ada perasaan terhadapmu atau membenci kita. Saat itu Rey disibukkan oleh pekerjaan," jelas Baruna.


Aku menghela napas lega. Mungkin aku yang terlalu banyak memiliki pikiran negatif. Reynand tidak mungkin sengaja tidak hadir pada acara kami. Suamiku dan Reynand sudah berbaikan, bahkan sebelum pernikahanku dan Reynand dibatalkan.


.


.


.


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2