Marriage Order

Marriage Order
S2 Pesan Untuk Nayara


__ADS_3

Lima hari kemudian ....


Pukul 18.00


Aku dan Reynand sedang berada di Far & Nay's Boutique. Mencoba gaun pengantin dan busana pengantin pria yang sudah diselesaikan oleh Farhan. Namun, hari ini dia terlihat sibuk karena banyak pelanggannya yang datang.


"Lo cobain sendiri ya, Rey. Nanti kalau ada yang kurang, kasih tahu gue. Pelanggan gue lagi banyak hari ini. Ada si Nay kok di dalam," ucapnya sambil memberikan kotak busana kami.


"Iya, gue sih gampang. Yang ribet kan gaun pengantin perempuan, Far."


"Iya, Rey. Nanti dibantu sama karyawan gue," jawab Farhan. Dia lalu memanggil salah satu karyawannya, "Lili, tolong bantu Sheryl memakai baju pengantinnya."


"Iya, Pak," jawab Lili.


"Ayo, Mbak!" ajak Lili masuk ke dalam ruang ganti.


Aku mengangguk. Kami pun masuk ke dalam ruangan. Lili membuka kotak berisi gaun itu. Dia mulai membantuku memakai gaun.


Pantulan cermin pada standing mirror terlihat sempurna. Sebuah gaun berwarna biru muda yang sangat indah melekat di tubuhku. Begitu cantik dan akan menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.


Seharusnya, bukan gaun ini yang kupakai di hari pernikahanku. Bukan Reynand pula yang akan menjadi pengantin prianya.


Aku masih menyesali semua yang telah terjadi. Sudut mataku mulai banjir buliran air mata. Andai saja pikiranku tidak kekanak-kanakan saat itu, aku dan Kak Baruna pasti sudah menikah dan berbahagia di suatu tempat.


"Sher, sudah selesai belum? Aku ingin melihatmu." Reynand memanggilku.


Aku menghela napas, segera keluar dari ruangan itu bersama Lili. Berdiri mematung dengan tatapan mata kosong. Membiarkan Reynand melihatku sambil tersenyum lebar.


"Kamu sangat cantik memakai gaun itu," katanya.


"Semua wanita itu cantik," sahutku.


"Ya, tapi kamu yang paling cantik di mataku."


"Terserah."


"Apa aku kurang tampan? Mengapa kamu tidak memujiku?" tanyanya sambil memutar tubuhnya. Dia tampak gagah mengenakan setelan jas pengantin pria buatan Farhan.


"Semua pria akan tampan, tapi Baruna yang paling tampan di mataku," sahutku sinis.


"Aku yang sekarang ada di dekatmu, bukan dia. Tidak bisakah kamu sedikit membuatku senang?"


"Untuk apa membuatmu senang, kalau kamu sendiri sudah mengambil kebahagiaanku. Kebahagiaanku hanya bersama Baruna, bukan denganmu," kataku.


Tiba-tiba saja pintu ruangan asing di dekat kami terbuka. Aku menoleh, terbelalak kaget melihat sosok Nayara baru saja keluar dari ruangan itu. Dia sontak menoleh ke arah kami yang sedang beradu mulut.

__ADS_1


Kenapa dia ada di sini?


Nayara menoleh ke arah Lili, mengisyaratkan dia agar segera meninggalkan kami semua. Lili pun segera membalikkan tubuhnya menjauh dari kami.


"Kalian sangat lucu. Seperti Tom dan Jerry yang selalu bertengkar," katanya sambil tertawa kecil.


Aku sontak terdiam. Tidak melanjutkan perdebatan kami. Reynand mendengkus kesal memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Nay, kamu tidak usah ikut campur. Dia memang wanita barbar yang akan kunikahi tiga hari lagi," sahut Reynand.


"Dia sangat beruntung mendapatkan dua laki-laki bucin, Rey." Nayara tertawa.


Dua laki-laki? Apa yang dia maksud Kak Baruna dan Reynand? Kenapa Nayara berkata seperti itu di depanku? Bukankah mereka sudah sangat dekat?


"Hei, aku bukan seperti Baruna yang menjadi budak cintanya, Nay. Dia yang akan menjadi budak cintaku!" seru Reynand.


"Apa kamu bilang? Bukannya kamu yang mengejarku. Sialan!" dengkusku kesal.


"Haish!" Reynand memandangku kesal. Wajahnya memerah menahan amarah.


Nayara tertawa terbahak melihat kami. "Sudahlah, Rey .... Kamu seharusnya mengalah pada wanitamu atau rumah tanggamu akan suram," nasihatnya. Dia lalu menoleh ke arahku dan berkata, "Bagaimana gaunnya? Pas?"


"Sedikit longgar di bagian sini," jawabku menunjuk ke arah lingkar dada.


"Hmm .... Farhan tidak mungkin salah mengukur. Kamu diet?" tanya Nayara.


"Oh .... Nanti kutandai seberapa longgar gaunmu di dalam. Ayo ke dalam," ucapnya.


Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Masih sangat kesal dengan Reynand. Nayara mengusap punggungku, berusaha menenangkan emosi yang sudah bergejolak dalam diriku. Kami pun melangkah masuk ke dalam ruang ganti.


"Sher, aku pikir kamu dan Baruna akan menikah, tapi malah jadi seperti ini. Aku sangat menyesali hubungan kalian yang sudah berakhir walaupun tidak mengerti apa sudah terjadi sebenarnya. Baruna tidak pernah mengatakan apa-apa padaku jika aku bertanya mengenai hubungan kalian." Tiba-tiba Nayara membuka pembicaraan sambil mengukur lingkar dadaku dan menandainya dengan jarum.


"Apa kamu sedang mencoba mencari tahu mengenai hubunganku dengan Kak Baruna?" balasku dengan pertanyaan.


"Iya. Aku ingin tahu yang sebenarnya," jawabnya.


"Maaf, aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Sebaiknya kamu tidak ikut campur masalah kami."


"Dia masih sangat mencintaimu. Bahkan, aku tidak bisa menembus pertahanannya. Tapi lain hal kalau kamu jadi menikah dengan Reynand. Hal itu bisa menjadi kesempatan bagiku untuk mendapatkannya. Tepat di hari pernikahan kalian, aku, Baruna, dan Tante Meri akan pergi ke Kuala Lumpur," jelasnya begitu percaya diri.


Aku tidak menanggapi perkataan Nayara. Namun, bahasa tubuh berkata lain. Menggigit bibir sendiri, begitu cemas membayangkan Kak Baruna yang mungkin akan bersama dengan wanita di hadapanku. Wanita yang begitu cantik dan terlihat baik.


Seketika air mataku menetes. Makin lama makin banyak. Membuat Nayara terlihat kebingungan. Gaun yang belum sempat terlepas menjadi saksi betapa aku menderita mengenakannya.


"Ma-maaf, Sheryl. Aku tidak tahu kalau kamu begitu sedih mendengar perkataanku. Aku pikir, kamu mencintai Reynand dan meninggalkan Baruna. Ternyata aku salah," katanya panik. Dia segera mengambil beberapa helai tisu untukku.

__ADS_1


Aku segera menyeka air mataku. Menatap wanita itu dengan menguatkan segenap hati yang kupunya. Nayara balas menatapku bingung.


"Nay, aku titip Baruna padamu. Bahagiakan dia dengan segenap hati. Aku bukan wanita yang pantas bersanding dengannya. Kamu lebih baik dariku, Nay. Kalian sangat cocok. Bahkan, membuatku cemburu setengah mati," pesanku. Entah dari mana aku punya kekuatan untuk berpesan seperti itu padanya. Di hatiku yang terdalam, sungguh tidak rela menitipkan Kak Baruna untuknya.


Nayara tidak mengiyakan atau menolak. Dia hanya memelukku dengan derai air mata yang juga mengikutinya. Kami sama-sama menangis.


"Sher?" suara Reynand terdengar memanggil.


"Sebentar lagi." Nayara membantuku membuka gaun pengantin. Segera, aku memakai pakaianku kembali.


Tidak lama kemudian kami keluar ruangan. Memandang sosok Reynand yang sudah terlihat bosan menunggu di atas sofa. Keningnya mengernyit menatapku.


"Ayo kita pulang!" ajaknya. Dia merentangkan sebelah tangannya menggengam tanganku.


"Nay, aku pulang dulu!" pamit Reynand.


"Sudah pas setelan jasmu, Rey?" tanya Nayara.


"Iya sangat pas. Terima kasih," jawabnya.


Nayara berjalan ke arah Farhan sambil menenteng gaun milikku. "Han, gaun Sheryl kebesaran sedikit," ucapnya.


Farhan mengerutkan kening, "Masa sih? Aku sudah mengukur dengan benar. Apa kamu sedang diet Sheryl?" tanya Farhan.


Aku menggeleng. Farhan mengangkat kedua bahunya lalu berkata, "Nanti akan kuperbaiki dan kubawa saat hari pernikahan kalian."


"Terima kasih, Far, Nay. Gue sama Sheryl pulang dulu, ya." Reynand menarik tanganku berjalan ke arah pintu keluar.


Farhan mengangguk dan melambaikan tangannya. Dia masih sibuk melayani pelanggan lain. Namun, Nayara segera menyahut, "Iya, Rey. Kalau ada waktu, mampir lagi ke sini."


"Iya, Nay." Kami berjalan keluar menuju mobil.


Aku diam dengan sisa-sisa tangisan yang masih menghiasi wajahku. Reynand melihat ke arahku sinis.


"Kamu menangis lagi?"


"Iya."


"Lupakan Baruna. Maka kamu tidak akan menangis, Sher. Tiga hari lagi kamu jadi istriku. Masa masih memikirkan orang lain?" katanya kesal.


"Hatiku tetap miliknya. Hanya ragaku yang bersamamu sekarang."


Reynand memutar tubuhnya. Menatap dalam mataku. "Aku harus apa?"


"Lepaskan aku. Hentikan pernikahan ini, Rey. Aku mohon."

__ADS_1


Reynand terdiam tidak menanggapi. Dia segera memakai sabuk pengamannya dan menginjak gas bergegas meninggalkan area parkir butik. Kami berdua sama-sama diam tanpa kata sepanjang jalan.


__ADS_2