
Dua hari kemudian, di hari minggu ....
Hari ini aku bersiap pergi ke rumah sakit menjenguk Kak Baruna. Arloji di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku mematut diri di cermin. Penampilanku terasa sudah sempurna dengan lipstik merah menggoda. Atasan sweater tipis berwarna putih dengan rok berwarna denim mengembang di atas lutut.
Aku berjalan menuju ruang makan. Mama, Papa, dan Kak Reza sudah duduk bersama di sana menungguku. Pagi ini tiba-tiba saja Papa menagih jawaban atas pertanyaannya kemarin lusa.
"Sheryl, bagaimana dengan pertanyaan Papa? Sudah ada keputusan?" tanya Papa.
"Bagaimana pun aku tetap memilih Kak Baruna, Pa. Aku sudah memutuskan tidak ada tempat lagi bagi lelaki itu menyusup ke dalam hatiku."
"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusan finalmu. Jangan biarkan lelaki itu mendekatimu lagi, Nak."
Aku mengangguk. Sudah dua hari ini Pak Reynand memang menghilang dari hidupku. Dia tidak ada komunikasi sama sekali. Mungkin dia memang sudah menyerah.
"Dek, kamu harus konsisten atas perkataanmu sekarang. Kakak tidak habis pikir jika kamu terus menerus berubah pikiran," tambah Kak Reza.
"Iya, Kak," jawabku mantap, kemudian menghabiskan sarapanku. Bergegas keluar menemui Pak Erwin.
Lelaki berusia empat puluh lima tahun itu sudah menungguku di teras. Melihatku, dia bangkit berdiri dan segera masuk ke mobil sedan berwarna abu-abu. Aku masuk ke dalam jok belakang mobil. Dia segera menginjak gasnya pergi meninggalkan halaman rumah.
Terdengar suara panggilan masuk ke dalam ponsel. Nama Kayla tertera di layar. Aku segera mengangkatnya.
"Ada apa, Kay?"
"Aku ingin bertemu. Kamu di mana?"
"Aku sedang di perjalanan menuju rumah sakit."
"Oh, Baruna masih dirawat?"
"Iya, Kay."
"Boleh aku menjenguknya, Sher?"
"Tentu saja. Kamu tidak kerja?"
"Hari ini tidak ada jadwal. Nanti sekitar jam sembilan aku ke sana."
"Oke, Kay."
Kayla menutup teleponnya. Setengah jam kemudian kami tiba di area parkir rumah sakit. Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar.
"Pak, nanti saya telepon kalau sudah mau pulang."
"Baik, Non." Pak Erwin segera melajukan mobil keluar halaman parkir.
Lima menit kemudian, aku berada di depan pintu, memutar handelnya ke kanan. Pintu pun terbuka. Tampak Tante Meri duduk di atas sofa, sedang menelepon seseorang. Matanya melirik ke arahku. Kemudian, menghentikan pembicaraannya. Dia segera menutup teleponnya memandang ke arahku.
"Sheryl," panggilnya, langsung memelukku.
__ADS_1
Aku menyambut pelukannya. "Tante, apa kabar?"
"Baik, Sayang."
"Kak Baruna, masih tertidur?" tanyaku sambil mengerlingkan mata ke arahnya.
"Iya. Semalam dia tidak bisa tidur. Menahan sakit."
"Kasihan Kak Baruna," ucapku sambil menghampiri dan menatapnya. Segera, mencium keningnya dan menyapanya dengan bisikan semangat, "Selamat pagi, Sayang."
Aku membalik badanku. Tubuhku terlonjak kaget saat menyadari tanganku ditarik. Aku menengok ke arahnya. Matanya sudah terbuka dengan sebuah senyum menyungging di bibirnya yang merekah. Dia menarik tubuhnya hingga menyandar di ujung ranjang.
"Sini!" Tangannya menepuk tepi ranjang menyuruhku duduk di sampingnya.
Tante Meri melihat ke arah kami seraya menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum dan berkata, "Bunda pulang dulu ya, Nak. Jangan nakal!"
Kak Baruna mengangguk. Tante Meri meninggalkan kami keluar kamar. Pria ini kemudian melingkarkan lengan kekarnya di pinggangku dan membenamkan wajahnya di bahuku.
"Aku merindukanmu, Sayang."
"Aku juga merindukanmu." Aku menoleh ke belakang hingga wajah kami saling bertemu, begitu dekat.
Kak Baruna sontak menempelkan bibirnya di bibirku sejenak. Membuatku terperanjat kaget dengan tindakannya itu. Dia lalu tersenyum lebar.
"Nakal," protesku ikut tertawa.
"Kamu pun suka."
Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu. Aku bangkit berdiri membukakan pintu. Sesosok wanita tinggi semampai memakai kacamata hitam berdiri di hadapanku.
"Kayla." Aku meraih pundaknya dan kami berpelukan. Wajahnya tampak datar menatapku. Entah apa yang terjadi dengannya.
Kayla melepas pelukanku berjalan menghampiri Kak Baruna. Dia menaruh buah tangannya di atas meja, segera melepas kacamata hitam yang sedari tadi dikenakan, dan memasukkannya ke dalam tas.
"Baruna, bagaimana kabarmu?" tanyanya seraya tersenyum.
"Beginilah. Bisa kamu lihat sendiri."
"Duduk, Kay!" Aku menyuruhnya duduk di sofa. Dia pun duduk di tengah sofa, disusul olehku yang duduk di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu, Sheryl?" tanyanya dengan senyum seringai.
"Aku baik-baik saja." Aku membalas pertanyaannya dengan sebuah tanya di kepala.
Ada apa denganmu, Kay?
"Baruna, kamu sangat beruntung memiliki kekasih yang diinginkan oleh kekasih orang lain," ucapnya tiba-tiba.
Kak Baruna sontak menaikkan sebelah alisnya terkejut. Wanita cantik di hadapanku ini mengatakan hal seperti itu dengan frontal di hadapan kami.
__ADS_1
"Maksudmu Reynand, Kay?" tanya Kak Baruna tidak yakin.
"Kamu pikir siapa lagi?" jawabnya retoris.
"Kamu putus dengannya?" tanya Kak Baruna.
"Iya." Kayla menjawab singkat. "Dia lebih memilih tunanganmu dari pada aku. Aku heran apa yang sudah tunanganmu lakukan hingga dia bisa tergila-gila seperti itu, Bar." Kayla melirikku tajam.
Kayla, mengapa kamu berbicara seperti itu di depan Kak Baruna? Apa kamu tahu tentang hal itu dan sedang memancingku untuk berbicara?
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Kak Baruna melirik ke arahku. Kini kedua orang di hadapanku terlihat seperti sedang menghakimi seorang tersangka.
"Hei, mengapa kalian berdua melihatku dengan tatapan seperti itu?"
"Aku tidak perlu mengatakannya. Kamu tahu sendiri maksudku. Bangkai tidak akan bisa terus disimpan dan kamu tahu hal itu." Kayla tiba-tiba bangkit berdiri. "Aku pamit pulang. Semoga kamu cepat sembuh, Bar. Setidaknya kamu adalah pria yang pengertian dan menerima kekasihmu apa adanya."
Kak Baruna terdiam tidak menjawab perkataan Kayla. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyum simpul di hadapan Kayla.
"Semoga kalian bisa berbaikan," kataku.
Kayla mengembuskan napas kasar. Dia lalu berbisik, "Aku ingin berbicara empat mata denganmu. Kutunggu kamu di kafe lobi."
Aku mengangguk. Kemudian mengantar Kayla sampai depan pintu. Gadis itu pergi dengan langkah gontai. Aku rasa aku memang harus berbicara dengannya.
"Sayang, aku merasa ada yang aneh dengan kata-kata Kayla tadi. Menurutmu bagaimana?" tanya Kak Baruna sambil mengernyitkan keningnya.
"Mungkin dia masih patah hati, Sayang. Aku akan hibur dia. Kayla mengajakku berbicara di kafe lobi."
"Pergilah! Temani dia."
"Lalu kamu?"
"Hei, aku bukan anak kecil yang harus ditemani sepanjang hari. Nanti kamu akan kutelepon jika butuh sesuatu."
Aku mengangguk. Segera pergi meninggalkannya. Perasaanku tidak enak. Kayla pasti sudah tahu apa yang terjadi.
Kafe itu terlihat sepi. Hanya ada dua pengunjung di sana. Salah satunya adalah wanita cantik berbusana elegan. Dia Kayla sang model sekaligus aktris yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Wajahnya sering wara wiri di layar televisi maupun video streaming Kamutube. Sebagai seorang yang terkenal, dia sengaja datang ke tempat umum mengenakan kacamata hitamnya.
"Kay!" panggilku sembari berjalan mendekat ke mejanya.
"Sheryl, kamu mau pesan apa?" tanyanya sambil memandang wajahku datar.
"Strawberry milk shake."
"Baiklah. Aku pesankan dulu." Kayla bangkit berjalan ke arah meja pesan.
Jantungku terus berdebar kencang. Perasaan ragu dan takut menyeruak masuk ke dalam hatiku. Tidak lama Kayla datang membawa nampan berisi minuman di tangannya. Dia menaruh minuman kami di atas meja.
"Sheryl, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Reynand? Mengapa kamu begitu tega melakukan hubungan intim dengan pacarku? Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak mengkhianati temanmu sendiri, tapi lihat? Kamu pun ternyata tidak segan mengkhianati tunanganmu." Kayla langsung mencecar pertanyaan dengan emosi membuncah yang mungkin sudah ditahannya sejak tadi.
__ADS_1
Aku diam tidak menjawab. Menarik dan membuang napasnya dengan berat berkali-kali. Kemudian menatap wajah Kayla.
Tiba-tiba saja dia berteriak, "Ternyata kamu dan Reynand adalah manusia yang paling egois dan munafik di dunia ini!" Kedua sudut matanya sontak dipenuhi air mata yang berlinang. Dia menangis sedih di hadapanku. Membuat dadaku terasa makin sesak menatapnya.