
Reynand Pov
Bola mataku membulat saat itu juga. Sheryl berteriak kepada ayahnya sendiri membela hubungan kami. Aku sontak menoleh kepadanya. Pandangan matanya berkaca-kaca mengarah pada sang ayah. Deru napasnya hampir terdengar menggebu.
Om Agung yang hendak meninggalkan kami mendadak berhenti dari langkahnya. Ia berbalik menatap sang putri bungsu dengan sorot dingin yang belum berubah.
"Entah apa yang kau sukai dari Rey hingga kau begitu membelanya. Hubungan kalian berawal dari sebuah proses pengkhianatan. Sekarang apa bedanya kamu dengan Baruna? Kamu sakit karena dikhianati, tapi kamu juga melakukan hal yang sama seperti mantan suamimu. Yang membuat Papa kecewa, kamu melanggar janjimu untuk tidak bersamanya," sahut Om Agung seraya menggelengkan kepalanya. Sheryl seketika terdiam. Dia pasti merasa sangat bingung sekarang.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan cepat. "Om, sudah saya katakan kalau saya berbeda dari Baruna. Walau Om merasa hubungan kami berlandaskan dari sesuatu yang buruk, kami benar-benar saling mencintai. Kami tak bisa terpisahkan. Takdir selalu membawa kami untuk bertemu hingga tak sanggup lagi mengelak perasaan kami masing-masing. Saya akan membahagiakan Sheryl dengan segenap hati saya, Om." Aku sontak menyahut perkataan Om Agung demi membela Sheryl.
Om Agung langsung menghunjamkan pandangannya ke arahku. Ia berkata sangat tegas, "Kau diam saja! Saya sedang berbicara kepada putri saya!"
"Ya, Papa benar. Silakan Papa mencela anak Papa yang memalukan keluarga ini. Tapi Papa harus ingat, aku juga memiliki perasaan. Baruna sudah sangat membuatku sakit dan kecewa. Dia mencelakakan calon anaknya sendiri, calon cucu Papa hingga meninggal dalam kandungan. Dia juga dengan keegoisannya membawa wanita lain dan anak kandungnya tinggal di rumah kami. Dia dan keluarganya melakukan hal itu saat aku amnesia. Dan kini aku sangat sedih mendengar Papaku sendiri malah menyamakan diriku dengannya."
"Kenapa harus Rey, Sheryl?! Berkali-kali Papa katakan untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga mereka." Papa menyahut dengan suara geramnya.
"Karena Rey satu-satunya orang yang membuatku sadar kehidupan seperti apa yang sedang kujalani sepanjang waktu saat itu. Tanpanya, mungkin saja sekarang aku sudah tak akan ada lagi di hadapan kalian. Aku membutuhkannya. Aku mencintainya." Sheryl menyambung ucapanku dengan keyakinan yang kurasa sama besarnya sepertiku.
Suasana menjadi hening. Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Bahkan Reza dan istrinya yang sejak tadi hanya menyimak dengan bibir terkatup mereka.
Perlahan Tante Rini memeluk lengan Om Agung dan mengusap bahunya. "Sayang, kamu pasti sangat lelah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukku mandi,"
Om Agung mengangguk pelan. Namun sorot dingin tak juga sirna dari wajahnya. Ayah dan ibu kandung Sheryl pun segera berbalik meninggalkan kami.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Om Agung terlihat sangat marah.
"Rey, aku telah mengatakannya...," ucap Sheryl lirih dengan pandangan kosong masih mengarah pada sosok kedua orang tuanya.
"Ya." Aku mengangguk lalu merangkulnya erat, "terima kasih telah membelaku–."
"Ternyata kalian benar-benar serius."
Terdengar suara Reza yang memotong perkataanku. Suaranya membuatku dan Sheryl sontak membalik badan.
"Kakak...." Sheryl mengucap lirih. Wanitaku langsung memeluk kakak kandungnya, "aku merindukanmu."
__ADS_1
"Ya, Kakak juga." Reza membelai rambut Sheryl, lalu berkata, "mengapa kau pulang begitu mendadak begini, Dek? Kalau bilang, Kakak pasti akan menjemputmu."
Sheryl mengurai pelukannya, menerbitkan senyuman manis untuk Reza. "Haruskah aku menjelaskannya?"
Sheryl sontak menoleh ke arahku hingga tatapan Reza ikut mengarah yang sama.
"Rey, gue harap lo gak mempermainkan Sheryl. Dia udah cukup menderita akibat nasib pernikahannya yang gagal."
"Setelah sejauh ini, kenapa lo masih juga meragukan gue?" Aku menyahut serius peringatan Reza.
Reza menyeringai kecil. Sejenak menoleh ke arah istrinya. Dita hanya mengangguk-angguk dengan garis tipis senyuman yang hampir tak terlihat.
Tak lama, Reza pun menghampiriku. Terdiam beberapa saat memandang dengan raut wajahnya yang berubah ramah. Sedetik kemudian, ia malah memelukku. Tindakannya sungguh tak terduga.
"Maafin gue, ya?" ujarnya begitu jelas di telinga, lalu mengurai pelukannya, "makasih udah ajak Sheryl pulang."
Keningku mengerut bingung menatapnya. Dia yang dulu tak pernah sekalipun menyukaiku kini berubah. Tindakannya itu membuatku tercenung beberapa saat.
"Ya. Dulu gue jahat karena terlalu protektif terhadap Sheryl. Gue gak mikirin perasaan lo dan Sheryl secara pribadi. Sejak lama, gue cuma mementingkan kelangsungan hubungan Sheryl dan Baruna yang harus berjalan mulus sesuai dengan yang seharusnya," tambah Reza memandang tulus pada bola matanya.
"Ya, tapi setidaknya sekarang gue tahu kebahagiaan Sheryl ada pada diri lo," pungkas Reza.
***
Sheryl Pov
Dua hari kemudian. Hari minggu. Apartemen Reynand.
Usaha Reynand memasak untuk Papa akhirnya sia-sia. Papa tak sedikit pun menyentuh masakan Reynand. Papa tak juga turun bergabung di meja makan bersama kami. Tampaknya aku sudah membuat ia sangat marah.
"Ada apa? Sejak tadi hanya diam saja tanpa ekspresi, padahal kau sendiri yang bilang ingin menonton film komedi."
Suara tawa dari televisi yang bergabung dengan pertanyaan Reynand membuat pikiranku buyar seketika. Aku sontak menoleh kepada Reynand yang menatap bingung di sampingku.
"Aku masih teringat kejadian kemarin." Aku menjawab dengan helaan napas yang terasa tak nyaman.
__ADS_1
Reynand mengangkat lengannya yang kokoh dan langsung merangkul bahuku. Membiarkan kepalaku bersandar pada dadanya.
"Papamu?"
Aku mengangguk dengan pandangan yang mengarah pada televisi. "Kenapa dia begitu keras pendiriannya, Rey?"
"Semoga hanya sebentar saja ya, Sayang. Aku akan memikirkan cara lain," jawab Reynand lalu mengecup puncak kepalaku.
"He-em." Aku kembali mengangguk hingga kami pun akhirnya terdiam beberapa saat.
"Sher, kau lapar tidak?" tanya Reynand tiba-tiba.
"Iya, aku lapar, Rey."
Reynand menarik tangannya. Ia segera meraih ponsel, mencari-cari sesuatu, "Mau makan apa?"
Aku menegakkan tubuh. Memandang ia dengan kernyitan bingung pada dahiku. "Kau ingin memesan online? Apa kau tidak akan memasak lagi untukku?"
Mendengar perkataanku, Reynand malah mengekeh lalu dengan cepat menaruh ponselnya kembali di atas meja. Wajahku sontak menghangat. Pasti sudah memerah di hadapannya. Aku menyesal menanyakan hal seperti itu kepada Reynand.
"Haish! Kau membuatku malu!"
Reynand tak juga menghentikan kekehannya. Aku hanya bisa menekuk wajah kesal. Melihatku yang berubah merengut akhirnya membuat kekehannya berhenti.
"Maaf ya, Sayang. Aku tak tahu kau begitu suka masakan rumahanku. Hari ini kulkasku kosong. Aku belum belanja. Sosok koki sedang cuti hari ini." Reynand menyahut tersenyum. Senyuman dengan barisan gigi rapinya langsung membuat jantungku terasa tak aman. Degupnya menjadi terasa canggung berada di dekatnya.
"Ya, tapi kau jangan menertawaiku begitu dong, Rey. Kau membuatku malu. Seolah aku benar-benar memanfaatkanmu untuk memasak, padahal kau yang memulainya."
Aku menjadi salah tingkah. Di antara kesal dan malu, aku memanyun di hadapannya. Namun dasar Reynand, dia malah mengambil kesempatan itu dengan mendekatkan wajahnya. Kemudian tanpa kata, Reynand menempelkan bibirnya langsung tepat di bibirku. Aku membeliak terkejut. Sontak mendorong tubuhnya menjauh. Reynand kembali mengekeh. Ia benar-benar sedang meledekku.
Seketika tubuhku bergeming. Anehnya rasa kesalku perlahan menghilang, bersisa malu yang tak berujung. Wajah yang tadinya hanya menghangat, makin terasa panas. Tubuhku ternyata memberikan sinyal yang sama. Ingin sentuhan itu.
Reynand yang sepertinya tahu bahasa tubuhku perlahan menegakkan tubuhnya. Dia meraih wajahku mendekat, hendak menciumku kembali. Namun saat kami akan melakukannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Kami sama-sama melirik benda pipih yang tergeletak di atas mejanya. Sebuah pesan chat muncul di layar. Pesan dari mamanya.
[Rey, jangan lupa untuk bertemu Livia Joana malam ini. Mama pastikan kau akan menikah dengannya!]
__ADS_1