Marriage Order

Marriage Order
S2 Rasa Bersalah


__ADS_3

Ruang ICU


Hari yang sama, pukul 10.30.


Aku masih memandangnya untuk ke sekian kali. Wajah Kak Baruna yang teduh membuatku merasa tambah bersalah. Aku melirik ke arah Pak Reynand yang memutar tubuhnya melangkah keluar dari ruangan.


Apa yang ada di pikirannya sekarang? Apa dia juga merasakan penyesalan?


Aku menoleh ke arah Tante Meri. Dia mengusap lembut pipi anak lelaki semata wayangnya dengan air mata yang bersiap jatuh kembali.


"Sayang, ingatlah ada banyak orang yang menyayangimu di sini. Jadi, tolong bangunlah!" ucapku pelan.


Aku terus menerus menyeka air mataku. Duniaku runtuh seketika. Ketika harapan menikah dengannya kemungkinan juga akan sirna akibat pengkhianatan yang sudah terjadi.


Tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat pusing. Kaki pun sangat lemas. Seperti tidak ada tenaga yang bisa menopang tubuh ini.


"Sher, kamu tidak apa-apa?" Tante Meri menangkapku dengan tangannya.


"Ayo kita keluar." Dia memapahku keluar ruang ICU.


Terlihat Papa, Mama, Om Anton, dan Pak Reynand duduk di ruang tunggu. Tante Meri mendudukkan tubuhku di kursi tepat berada di samping Mama.


Mama segera mengambil sebuah botol air mineral dari tasnya dan memberikannya padaku.


"Minumlah. Kamu terlihat pucat sekali," ucapnya.


Aku mengangguk, segera meneguk air mineral itu. Kedua wanita di sampingku melihatku dengan mata sendunya.


"Terima kasih, Ma," ucapku.


"Sabar ya, Sayang," kata Mama sambil merangkul bahuku.


Aku mengangguk, lalu menunduk dengan penyesalan yang dalam.


"Jangan menunduk terus, Nak. Baruna juga tidak akan suka jika kamu terus bersedih." Tante Meri mengangkat daguku, membuatku menoleh ke arahnya.


Mata kami saling bertemu. Saling menatap dalam. Kantung matanya yang membengkak memperlihatkan betapa ia juga sangat bersedih sama sepertiku.


"Tante, aku minta maaf."


"Mengapa kamu harus meminta maaf?" Tante Meri mengernyitkan keningnya bingung.


"Aku sudah mengabaikan Kak Baruna sejak kemarin."


"Setiap pasangan yang akan menikah mempunyai ujiannya masing-masing. Kamu jangan putus asa. Di balik segala tindakan pasti ada alasannya. Namun, seharusnya kamu tahu, semua masalah bisa dibicarakan," sahutnya begitu bijak.

__ADS_1


Aku terdiam, tidak mampu menjawab kata-katanya. Semuanya memang salahku. Aku yang tidak dewasa dalam menghadapi masalah. Hanya bisa terjebak dalam perasaan yang tidak tentu arah.


Papa tiba-tiba menghampiriku. Dia mengusap rambutku lembut.


"Yang tabah. Dia pasti bangun kembali untukmu," katanya.


Papa, maafkan aku belum menjadi anak yang berbakti untukmu.


Aku kembali menitikkan air mata, terisak sangat sedih.


Sayang, andaikan kamu bangun sekarang, aku akan berlutut di kakimu demi mendapatkan sebuah kata maaf untukku.


Mama memelukku erat sejenak. Aku membenamkan wajahku di bahunya. Bahu yang selalu hangat akan kasih sayang seorang ibu. Dia lalu memandangku, manik hitam matanya begitu teduh terlihat.


"Sher, semalam kamu tidur di mana? Mama mencarimu. Sempat menelepon Baruna tapi tidak diangkat. Tidak tahunya dia kecelakaan."


Mendengar perkataannya, jari jemariku bergetar. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Mama?


Aku menghela napas panjang, berbohong, "Habis dari pesta Kayla, aku menginap di rumahnya."


"Iya ... kalau kamu tidak bisa pulang, sebaiknya kamu mengabari keluargamu. Kami sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Sayang."


"Maaf, Ma. Aku terlalu mabuk."


"Jangan sering-sering meminum minuman beralkohol. Perutmu sudah bermasalah."


Aku tidak akan menyalahkan minuman iblis itu. Aku tahu kalau diriku yang sudah bermain api. Pak Reynand pun tidak sepenuhnya bersalah. Hubungan kami tidak seharusnya sampai seperti ini.


****


Reynand PoV


Aku memandang wajah saudara tiriku di ruang kecil dengan dinding kaca bertirai. Wajah teduhnya yang sedang tertidur membuat hatiku makin kacau. Apalagi saat melihat Sheryl yang menangis terus menerus. Dia terlihat sangat menderita.


Sheryl, bidadariku yang cantik. Jangan perlihatkan isak tangismu di hadapanku. Aku sungguh tidak sanggup melihatnya.


Tidak sadar, air mataku luruh. Penyesalan tidak akan berguna. Aku memutar tubuhku keluar dari tempat itu. Sungguh, aku tidak sanggup. Bahkan aku ragu kalau dia akan bangun dan sehat seperti sedia kala.


Lima menit kemudian, Sheryl dan Tante Meri keluar dari ruangan itu. Tante Meri memapahnya lalu mendudukkannya di antara ia dan ibunya. Aku melihat wajahnya yang pucat dan kembali terisak. Ingin rasanya aku menyeka air mata yang terus berjatuhan. Terlihat begitu sedih dan menderita.


Tidak lama, aku melihat Tante Rini memeluk Sheryl. Dia juga mengajaknya berbicara. Aku tersenyum tipis. Akhirnya dia bisa sedikit berbagi, walaupun hatiku terasa waswas, takut jika ia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi tadi malam.


Bukannya aku pengecut, tapi di situasi seperti ini, pengakuan akan membuat suasana tambah rumit. Kalau masalah menikah, sejujurnya aku bahkan sangat ingin memiliki wanita itu.


Tapi Rey, kamu akan menjadi pria paling jahat jika melakukannya. Bukankah kamu baru saja menyesal telah merenggut kehormatan wanita itu?

__ADS_1


Aku menarik napas dalam-dalam, sepertinya otakku mulai tidak beres.


Aku segera bangkit dari tempat dudukku. Ayah Anton yang melihatku, sontak bertanya, "Mau ke mana, Rey?"


"Cari angin. Aku mengantuk. Mungkin secangkir kopi akan membuatku lebih segar."


"Ayah ikut." Dia ikut bangkit dari duduknya.


Kami berjalan dan turun ke lobi. Masuk ke sebuah kafe kecil di lobi rumah sakit. Mendudukkan tubuh di sebuah meja bar. Ayah menoleh ke arahku lalu menatap mataku tajam.


"Mengapa kamu bisa datang ke rumah sakit bersama Sheryl?"


Deg!


Bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya? Tidak mungkin aku mengatakan kalau kami semalam tidur bersama.


Aku terdiam sejenak, berpikir jawaban apa yang harus aku katakan. Tidak lama kemudian, aku menjawab, "Kami tidak sengaja bertemu di lobi," jawabku berbohong.


"Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu, 'kan?" tanyanya serius.


"Tidak," jawabku santai. Tentunya kebohonganku akan terus menutupi kebohongan yang lainnya.


Ayah menganggukkan kepalanya mengerti. Namun, detak jantung ini semakin kencang berdebar akibat dua kebohongan yang baru saja kulontarkan.


"Jangan coba-coba bohongi Ayah. Kalau kamu sampai merebut Sheryl dari Baruna, Ayah sendiri yang akan memberimu pelajaran!"


Aku menelan ludah mendengar kata-kata Ayah. Sungguh aku menyesal, tetapi di sisi lain hatiku yang paling dalam, menolak segala rasa penyesalan. Aku dan dia memang saling mencintai. Tidak ada yang salah jika kami melakukan hubungan seperti itu. Walaupun semalam dia dalam kondisi mabuk berat.


Aku tahu kalau diriku salah. Namun, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku benar-benar mencintainya.


Aku mengangkat cangkir kopi hitam yang kupesan dan menyesapnya perlahan. Ayah terus melihatku hendak bertanya kembali. Namun, aku berpura-pura tidak menyadarinya.


"Rey, pernikahan Baruna pasti akan diundur karena ini. Ayah harap kamu tidak mengharapkan menjadi pewaris selama dia belum sembuh dan menikah nantinya. Sekarang hanya doa kesembuhan yang bisa kita panjatkan untuk Baruna."


"Mungkin Mama yang nanti akan menanyakannya."


"Ambisi Mamamu sangat besar. Ayah tidak tahu bagaimana menghadapinya. Sepertinya dia makin benci keluarga Ayah. Apalagi setelah tahu isi surat wasiat itu tidak menyebutkanmu sama sekali sebagai pewaris."


"Aku tidak peduli lagi dengan wasiat itu. Keluarga Ayah sangat konyol."


Ayah menghela napas panjang. Dia sangat mengerti apa yang kukatakan. Tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya. Dia hanya diam membisu sambil menyesap kopi yang dipesan.


Pikiranku terus terpecah. Aku terus memikirkan Sheryl dan Baruna. Terjadi perdebatan panjang di antara rasa bersalah dan rasa cintaku yang bergejolak. Aku rasa sebentar lagi aku akan dilabeli sebagai anak durhaka. Tergila-gila pada seseorang yang bukan milikku.


"Rey, Ayah mau ke atas lagi. Apa kamu masih mau di sini?" tanya Ayah.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Tinggalkan aku sendiri."


Ayah pun melangkah keluar kafe. Aku kembali termenung. Terus memikirkan Sheryl. Bagaimana nanti nasibnya jika Baruna bangun dari koma? Apakah mereka akan tetap menikah? Bagaimana kalau dia hamil? Berbagai pertanyaan mampir begitu saja dalam benakku. Aku tidak mungkin diam saja jika dia menderita.


__ADS_2