
Baruna PoV
Aku melangkah masuk ke dalam lobi kantor Kusuma Corp sambil melirik arlojiku yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Duduk di sofa lobi menunggu Sheryl keluar dari lift. Kami sudah berjanji akan pergi menonton kejuaraan basket antar pelajar di Wisley International School.
Tidak lama kemudian, aku melihatnya keluar dari lift. Dia melambaikan tangannya melangkah ke arahku sambil tersenyum.
"Sudah lama, sayang?" tanyanya.
"Baru saja. Ayo kita pergi!" ajakku seraya menyodorkan lengan agar ia bisa menggandeng tanganku.
Sheryl menggandeng tanganku, lalu kami berjalan keluar lobi beriringan menuju halaman parkir mobil.
Suasana jalan raya di hari Rabu ini tidak terlalu padat. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Wajar saja, karena belum waktunya pulang kantor.
"Pertandingannya jam berapa, sayang?" tanyaku.
"Setengah tiga sih katanya," jawab Sheryl.
"Oh .... Bagaimana pekerjaanmu hari ini di kantor?" Aku menoleh ke arahnya sejenak.
Dia tidak langsung menjawab, terdiam sebentar, lalu berkata, "Biasa saja. Tidak ada yang istimewa."
"Baguslah kalau tidak ada hambatan."
"Ada yang ingin kutanyakan." Tiba-tiba Sheryl mengatakan suatu hal yang sepertinya serius.
"Apa?"
"Apa kamu tahu kalau Pak Reynand sedang mendekatiku?" tanyanya.
"Tahu. Dari kemarin 'kan aku sudah bilang dia suka denganmu. Terang-terangan bilang hal itu padaku. Otomatis dia pasti mendekatimu. Apa ada hal yang aku tidak ketahui mengenai kamu dan dirinya?"
Sheryl menarik napasnya dalam-dalam, mengaturnya hingga ia siap berkata-kata.
"Aku beberapa kali bertemu dengannya. Dia juga sempat memberiku sesuatu."
"Jadi, kamu mau bilang kalau kamu bertemu dengannya di belakangku, gitu?" dengkusku seraya tersenyum menyeringai, merasa dipermainkan.
"Maafkan aku yang baru membicarakan hal ini. Tadi dia juga menemuiku di kantor, sayang."
Aku mencengkeram setir mobil dengan perasaan kesal. Membantingnya ke bahu jalan. Berhenti.
Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya menunduk, merasa bersalah. Segera, kubuka sabuk pengaman kursi kemudi dan memeluknya.
Aku menghela napas yang kian tidak teratur menahan amarah. Tunanganku baru saja mengakui hal yang membuatku terkejut.
"Apa yang kurang dariku dan ada padanya?" tanyaku sambil mencium puncak kepalanya.
"Tidak ada. Kamu terlalu sempurna untukku. Jika kamu bertanya seperti itu, aku merasa semakin kecil di hadapanmu, sayang."
"Aku tidak sempurna, sayang. Jangan membuatku kecewa. Aku hanya menginginkanmu. Entah mengapa, aku justru takut jika hatimu beralih padanya. Keraguanmu menjadi kelemahanku. Jika kamu tahu rasanya jadi diriku saat ini, kamu pasti tidak menginginkannya."
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku mengatakan hal ini karena aku juga takut akan hal yang juga kamu takutkan. Bagaimana bisa aku mengatur perasaanku sendiri jika kami sering bertemu?"
"Nanti aku akan berbicara dengannya."
"Aku mohon jangan ada kekerasan lagi di antara kalian. Aku tidak suka."
Aku tidak menjawab kata-katanya.
Reynand sialan! Ternyata dia sudah mendekati Sheryl di belakangku lebih dulu. Bahkan aku yang sangat percaya diri sekali tunanganku itu akan kuat menghadapinya, nyatanya tidak setegar batu karang di lautan. Dari kata-katanya itu pun aku bisa langsung menilai. Dia tampak ragu akan perasaannya sendiri sekarang.
"Kamu kenapa diam, sayang?"
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Khanza pasti sudah menunggu. Kamu tidak usah takut, aku tahu yang aku lakukan," jawabku.
Sheryl tertegun memandangku. Raut wajahnya makin terlihat tidak enak tapi aku segera mencairkan suasana. Aku mengulurkan tanganku mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Kemudian dia tersenyum dan mulai sedikit tertawa.
Kami segera melanjutkan perjalanan menuju tempat kejuaraan. Pikiranku melayang menghadapi kenyataan semakin banyak rahasia yang kupendam.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore saat kami tiba di Wisley International Scholl. Lahan parkir sudah penuh dengan para tamu undangan yang ingin menonton kejuaraan itu. Aku melihat sepasang manusia yang kukenal sedang berjalan saling berjauhan. Sang pria berjalan jauh meninggalkan wanitanya. Mereka adalah Reynand dan Kayla.
Lihat saja gayanya! Sudah punya pacar tapi masih mendekati tunangan orang lain.
Sheryl yang melihat pemandangan di depan kami hanya terdiam. Dia tidak berkomentar apa-apa. Aku segera menggenggam tangannya erat, berusaha membuatnya nyaman berada di dekatku dalam situasi apa pun.
Suasana stadion ramai dengan sorak sorai dari masing-masing pendukung peserta kejuaraan. Kami segera melihat-lihat ke arah bangku penonton mencari Khanza. Tidak lama, Sheryl kemudian menarik tanganku. Dia sudah menemukan Khanza yang duduk di barisan ke dua, duduk bersama dengan pelajar dari sekolah lain di sampingnya. Aku memperhatikan wajah pelajar yang tidak asing bagiku itu.
"Khanza, maaf ya Kakak sedikit terlambat. Baru saja selesai meeting tadi," ucap Sheryl meminta maaf.
"Iya Khanza, Kakak juga suka menonton pertandingan basket. Hitung-hitung mengingat masa sekolah dulu. Kakak juga jago loh bermain basket," sahutku sambil terkekeh.
"Ih ... apaan sih, sayang." Sheryl menyikut perutku lembut. Aku masih terkekeh menyikapi sikapnya.
Kami pun segera duduk di samping Khanza dan anak itu. Kalau aku tidak salah mengingat, namanya Ruby. Aku pernah membeli kue ulang tahun di tokonya dua minggu yang lalu.
Aku mencolek bahu Sheryl, dia sontak menengok ke arahku, "Ada apa?"
"Bisa kamu tanyakan Khanza, apa nama gadis remaja yang di sampingnya itu, Ruby?"
Sheryl menegerutkan keningnya cemberut, lalu berkata, "Jangan bilang kamu ada sesuatu dengannya?"
"Tidak, tapi wajahnya familier. Aku pernah membeli kue ulang tahun untukmu di tokonya."
"Benarkah?"
Aku menangguk. Sheryl segera menanyakan hal itu kepada Khanza dan dijawabnya dengan anggukan. Tunanganku itu segera menoleh ke arahku mengiyakan.
"Berarti mata dan otakku masih sehat untuk mengingat. Kamu juga, jaga mata, otak, dan hatimu hanya untukku," sindirku sambil mencolek hidungnya yang mancung.
Sheryl lagi-lagi terdiam. Sindiranku mungkin tepat sasaran. Aku makin yakin ada yang salah dengannya. Tidak ingin memperpanjang masalah, aku segera mengecup pipinya. Dia sontak kaget dan memukul bahuku pelan. Aku pun terkekeh memandangnya.
Aku mengedarkan pandanganku melihat dari kejauhan, tampak temanku Dirga Mahesa Wijaya dan Kiara istrinya ikut duduk menonton pertandingan. Salah seorang lagi adalah Nicholas Geonandes pemilik perusahaan GN Corporation. Sepertinya mereka berdua adalah donatur kejuaraan ini.
__ADS_1
Pertandingan berlangsung seru antara team Shadow dan team Devil Bat Ghost. Terdengar sorak sorai mengumandangkan nama "Ken" dari sekitar tempat dudukku. Sebagian besar pelajar memang meneriakkan namanya. Mungkin Ken adalah idola sekolah. Namun yang paling nyaring terdengar adalah suara wanita dari belakang tempat dudukku. Aku sontak menengok ke belakang, mendapati Kayla yang sedang asik berteriak menyebut nama "Ken" itu. Reynand sibuk memainkan ponselnya terlihat tidak bersemangat.
"Ken! Ayo Ken! Kakak dukung kamu!" teriak Kayla bersemangat.
Aku segera mengalihkan pandanganku fokus kembali ke pertandingan. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Bunda meneleponku. Aku mencolek bahu Sheryl.
"Aku terima telepon dulu ya."
Sheryl mengangguk. Aku segera bangkit dari tempat duduk berjalan keluar. Suara di dalam stadion sangat berisik sekali.
"Halo, Bun. Ada apa?"
"Kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang?"
"Ada apa, Bun?"
"Kakekmu ingin bertemu denganmu sekarang. Keadaannya sedang tidak bagus. Kamu bisa 'kan segera ke sini?" Suara Bunda terdengar parau. Dia menangis.
"Iya, Bun. Aku segera ke sana." Tanpa basa-basi aku segera menutup telepon seraya berjalan cepat kembali ke stadion.
"Sayang, ayo kita ke rumah sakit. Keadaan Kakek sedang tidak bagus." Aku segera menarik tangannya. Dia sontak berdiri tertegun melihatku.
"Khanza, Kakak pamit ya," pamit Sheryl pada Khanza.
"Kalian hati-hati di jalan," pesan Khanza.
"Iya, Khanza," balasnya mengikuti langkahku.
Sheryl mengimbangi langkahku yang berjalan terburu-buru. Aku melihat Reynand mengamati kami yang keluar dari stadion. Dia dan Kayla ikut menyusul kami berdua.
Aku dan Sheryl bergegas masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya. Reynand mengetuk kaca pintu mobilku. Segera, aku menurunkan power window.
"Kalian mau ke mana terburu-buru seperti itu?"
"Rumah sakit. Keadaan Kakek tidak bagus," jawabku.
Aku segera melajukan kendaraanku. Memacunya dengan kecepatan hampir maksimal. Reynand dan Kayla hanya menatap kepergian kami dari jauh.
Aku menengadahkan kepalaku sejenak. Menahan air mata yang sebentar lagi mungkin akan jatuh membanjiri kedua belah pipi.
Kakek, jangan sekarang. Aku mohon!
_________________________
Baca juga karya teman-temanku di atas.
Ruby dan Ken - Reinkarnasi Cinta si cantik Ruby
Khanza dan Arif - Mengagumimu
Dirga Mahesa Wijaya dan Kiara - Fell In Love With My Arogan Fiance
__ADS_1
Abigail dan Nicholas Geonandes - Mine