
Baruna POV
"Hari minggu ini. Jangan lupa datang ke rumah! Kita berangkat bersama."
Reza memperlihatkan raut kebahagiaannya kepadaku. Siapa yang tidak akan bahagia mengingat dirinya akan segera melamar seorang gadis pujaan hati dalam hitungan hari? Ya, dia akan melamar Dita.
"Aneh! Sheryl enggak bilang. Padahal ini 'kan acara penting lo." Aku mengernyit.
Reza melipat yang sedang bersandar di kursinya mengangkat bahu. "Padahal Nyokap udah ngomong ke dia. Lupa kali!"
"Iya kali, dia lupa. Baru-baru ini Rey sakit dan dirawat." Aku menghela napas sedikit kecewa. Selama Reynand dirawat, wajahnya tampak murung. Dan ia juga menyalahi dirinya karena membuat Reynand terjatuh dan berada dalam kondisi yang buruk.
"Lo masih mikir adik gue punya perasaan ke Rey?" Reza menegakkan tubuh, lalu mencondongkan wajahnya hampir melotot.
"Enggak, Za." Aku berbohong. Kekhawatiran itu selalu ada dan menghantuiku. Ditambah lagi dengan hadirnya Felicia dan Rafael.
"Terus?" Reza makin memojokkan dengan pertanyaannya.
"Ya-ya gue tahu kalau dia gak mungkin kayak gitu. Tapi lingkungan yang sama membuat gue selalu takut." Entah mengapa aku jadi mencari-cari alasan.
"Haish! Kok lo jadi gak pede gitu? Inget ya, Bar. Dia sedang hamil. Gue gak mau ada sesuatu yang terjadi sama dia." Mata Reza yang menegang itu tidak juga mereda. Wajar saja! Dia kakaknya. "Dan tadi apa yang gue lihat? Kalian berciuman sangat mesra. Jangan bilang kalau kalian sedang ada masalah."
Aku menggeleng pelan.
Enggak, Za! Sebenarnya kami enggak ada masalah. Gue yang punya masalah. Memiliki anak di luar nikah! batinku dalam hati.
Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Jujur atas segala hal yang menimpaku akhir-akhir ini. Namun kalau jujur, apa dia akan mengerti?
Aku kembali menggeleng pelan. Membuat Reza makin terlihat mencurigaiku.
"Gue kenal lo udah lama. Dan gue paling gak suka dibohongi," ucap Reza kembali memperingati. Ia lalu mengubah caranya menatap dan kembali biasa.
__ADS_1
"Iya, Za. Tenang aja," sahutku menutup pembicaraan.
***
Reynand POV
Sore hari di rumah kediaman keluarga Pradipta ….
"Hati-hati duduknya, Rey," ucap Kayla membantuku untuk duduk bersandar pada dipan tempat tidur. Padahal aku merasa sudah sehat seperti apa yang Sheryl katakan. Walau kadang rasanya masih sedikit lemas dan pusing.
"Terima kasih, Kay," jawabku
Kayla memperlihatkan senyumnya. "Sama-sama."
Mama memang datang menjemputku di rumah sakit. Tidak hanya sendiri, ia mengajak Kayla bersamanya untuk menemani. Bukannya aku tidak bersyukur ada Kayla yang masih ingat denganku di sela-sela kesibukannya, tapi aku masih merasa seharusnya hubungan kami tidak perlu dekat lagi seperti ini. Namun Mama sepertinya tidak mengerti. Mereka sudah terlanjur akrab.
"Kamu tidak ada jadwal?" tanyaku saat Kayla menuangkan air putih ke dalam gelas.
Aku meraih lalu meminumnya sampai habis. Rasanya tenggorokanku sangat kering saat ini.
"Lagi?" tanyanya.
"Tidak usah." Aku mengerling ke arah jam dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul setengah enam. "Sebaiknya kamu pulang. Kamu pun harus bersiap-siap, bukan?"
"Gampang. Setengah jam lagi aku pulang. Anita juga pasti akan menghubungiku jika tidak ada kabar," jawabnya terkekeh seakan tidak ada beban di wajahnya.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Menatapnya dengan serius. "Seharusnya kamu tidak perlu seperti ini, Kay."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kita berteman, 'kan?"
"Ehm, ya. Kamu benar." Aku mengangguk.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Mama terlihat berdiri di sana. Tampaknya sudah lama memperhatikan kami, tapi aku tidak menyadarinya. Ibuku hanya memperlihatkan barisan giginya yang rapi, tersenyum melihat ke arah kami.
"Kay, biarkan Rey istirahat. Dia tidak akan betah melihatmu terlalu lama," kata Mama dengan ekspresi meledek melirik ke arahku.
Kayla terkekeh. "Sudah biasa, Tante. Tapi ya, aku akan segera pergi dari sini. Aku tahu ia akan stres jika melihatku terus-terusan. Entah kalau aku menghilang, apa dia akan mencariku, ya?" Kayla mengikuti Mama mengarahkan pandangannya kepadaku.
Aku hanya bisa mendengus kesal. Malas rasanya menanggapi perkataan mereka yang hanya bisa meledek.
Mama menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidur. Manik matanya memandangku teduh. "Kamu tinggal di sini dulu ya, Rey. Mama tidak akan membiarkan kamu tinggal sendiri di apartemen dengan kondisi seperti ini."
"Iya, Ma. Aku tahu." Aku mengangguk. Mengalah atas keputusan apapun saat ini demi kesehatanku yang paling berharga.
"Sebaiknya Rey pindah dari apartemen, Tante. Aku pikir dia tidak cukup mampu mengurus dirinya sendiri. Kalau di sini 'kan ada Tante yang memperhatikannya," tambah Kayla yang tiba-tiba mencampuri percakapan kami.
"Benar juga. Mau ya, Rey? Dulu 'kan kamu pergi karena membela perasaanmu sendiri mati-matian. Sekarang kamu tidak perlu lagi mengurusi perasaanmu lagi kepadanya. Kita tidak perlu berselisih paham karena Sheryl sudah ada yang menjaga. Kamu pun begitu. Kalau kamu mendadak sakit, Mama bisa cepat membawamu berobat." Mama membujukku.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Mengembuskan napas sedikit berat. Rasanya sudah terlanjur kerasan tinggal sendiri di apartemen. Kalau sekarang aku harus pindah, rasanya harus kembali beradaptasi.
"Entahlah, Ma. Aku belum bisa memutuskan. Yang pasti, aku akan tinggal di sini sementara waktu. Nanti aku akan pulang jika sudah saatnya," sahutku mencoba memberikan pengertian.
Mama hanya menganggukkan kepalanya. Aku yakin ia mengerti dengan apa yang kukatakan. Tanpa basa basi, Ia dan Kayla kemudian beranjak pergi.
Aku tidak bisa tenang. Perkataan Baruna terus terngiang-ngiang di telinga. Entah apa yang ia sembunyikan. Jika ia tidak mau mengatakan sejujurnya, suka atau tidak, aku akan menyelidikinya sendiri. Entah mengapa perasaanku tidak enak.
Aku meraih ponsel dari atas nakas. Membaca riwayat pesan chat-ku dan Sheryl yang telah lalu. Pembicaraan kami enam bulan lalu sebelum rencana pernikahan digelar hingga belum lama ini. Tidak satu pun kalimat kuhapus dari riwayat pembicaraan.
Ingin sekali bertanya apa yang sedang ia kerjakan saat ini. Apa ia masih di kantor? Atau dalam perjalanan pulang bersama Baruna? Ibu jariku mendadak bergerak ragu untuk mengetikkan pesan. Namun tiba-tiba saja sebuah notifikasi pesan chat masuk dari nomor yang tidak kukenal. Isinya banyak tangkapan foto dan video. Aku pun mulai membukanya satu per satu.
Aku terkesiap melihatnya. Hanya sosokku dan Sheryl yang ada dalam tangkapan kamera. Dari sosok kami yang paling lama hingga paling terbaru. Di mana aku menciumnya dengan cara paksa. Tidak ada orang lain selain kami. Dan yang membuatku heran, tidak ada satu pun kalimat yang menyertai foto dan video.
"Apa maksudnya mengirim ini semua?" gumamku bingung. Aku mengernyit heran. Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi lagi. Aku benar-benar membenci media.
__ADS_1