Marriage Order

Marriage Order
S3 Rencana Pergi Jauh


__ADS_3

Sheryl Pov


Aku melihat Reynand menyesap sedikit minuman red wine dari gelasnya. Pria itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku yang berada di sampingnya pun ikut mengarahkan pandangan ke pintu masuk ballroom. Tampak para tamu undangan yang datang tak henti-hentinya memasuki ruangan ballroom.


Aku lalu melirik ke bawah. Kaki kanannya terus mengetuk lantai seperti orang yang tak sabar menunggu. Entah apa yang ia pikirkan. Namun tiba-tiba ia mengulurkan tangan kepadaku.


"Mau berdansa?"


"Lagi?" Aku mengangkat sebelah alisku.


"Lagi?" Raut Muka Reynand tampak bingung.


"Maksudku, kita sudah pernah berdansa di pesta ulang tahunmu dan kau jadi tahu bagaimana kemampuanku. Aku sangat payah dalam hal itu!" Aku mengingat bagaimana momen pertama kali kami berdansa. Aku hanya bisa mengikutinya dengan gerakan yang sangat kaku.


"Tapi hal itu tak jadi masalah bagiku. Acara ini berbeda, Sayang. Ini pesta kita."


Reynand tersenyum dengan lengkungan bibir yang membuatku terhipnotis. Dia sangat tampan. Di saat itu juga, aku langsung mengangguk mengiyakan. Tak peduli dengan para tamu yang baru saja datang dan hendak memberi kami selamat, Ia malah meraih tanganku, membawa langkah ini ke tengah-tengah ballroom.


Aku mengekeh seraya menggelengkan kepala melihat ia yang memperlakukan wanita sepertiku ini begitu spesial. Dunia seakan selalu menjadi milik kami berdua. Tak ada yang mampu menghentikan gerakan kami. Musik yang mengalun merdu itu ikut menghipnotis tubuh kami untuk bergerak mengikuti iramanya.


"Kau gila, Rey," kataku sontak mengedarkan pandangan melihat para tamu undangan yang mengantre di depan singgasana kami.


"Ya, aku memang gila karena mencintaimu, Sheryl," jawabnya dengan tatapan matanya yang hangat.


"Bukan itu maksudku. Kau lihat bagaimana orang-orang itu rela mengantre hanya untuk memberikan kita selamat, tapi kita malah mengabaikannya dengan berdansa di sini."


"Biarkan saja. Kebanyakan mereka adalah tamu Mamaku dan kedua orang tuamu." Ia menjawabku begitu santai, membuatku hanya bisa menggelengkan kepala kembali sambil tersenyum-senyum. Perlahan wajah Reynand mendekat dan ia menarikku hingga menempel pada tubuhnya. Dengan suara pelannya ia berbisik, "Aku bangga kepadamu."


"Maksudmu?" Aku mengernyit bingung. Namun Reynand malah mengecup dahiku.


"Tentang Felicia. Akhirnya kau memilih untuk berdamai dengan dengannya dan hatimu sendiri."


Aku hanya menyunggingkan senyum mendengar perkataan Reynand. Pria itu perlahan mencondongkan tubuhku ke belakang, lalu memberikan satu kecupan lagi yang kali ini menempel dengan sempurna pada bibirku. Namun saat Reynand hendak menegakkan tubuhnya kembali, aku malah menarik ia mendekat dan menciumnya. Perlahan kami menegakkan tubuh dan saling melumatt bibir di tengah-tengah ballroom. Rasa manis wine yang belum lama ia minum seketika meleleh di mulutku.


"Berhenti!"


Suara seorang pria yang mengganggu sontak membuat kami berhenti. Dalam waktu yang sama menoleh ke arah pria itu. Aku terperanjat, membelalak melihat dua sosok orang yang sangat kusayangi berdiri di dekat kami. Mereka adalah Kak Reza dan Kak Dita.


"Kakak! Kak Dita!"

__ADS_1


Aku hampir berteriak melihat sosok mereka. Pasangan suami istri yang jarang sekali kulihat belakangan ini karena Kak Reza dan istrinya sekarang tinggal di luar kota. Beberapa hari yang lalu, bahkan mereka mengabarkan kemungkinan tak akan bisa hadir di acara pernikahan kami karena kehamilan Kak Dita yang sedikit bermasalah. Jadi mereka tak bisa terbang ke Jakarta.


"Sebaiknya kalian menikmati makan malam kalian di kamar saja, jangan di sini," ucap Kak Reza. Reynand seketika menoleh bingung kepadaku. Aku yang mengerti sontak melirik-lirik dengan tingkah tak biasa, lalu tersenyum dengan malu-malu. Sementara, Kak Dita hanya bisa menahan tawanya.


"Maksudnya apa, Sayang?" tanya Reynand bingung.


"Malam pertama," bisikku yang langsung mengubah rona wajahnya menjadi sangat merah.


Melihat rona wajahnya yang bereaksi seperti itu, kami pun sontak menertawakannya. Perlahan, Reynand yang tadinya bingung langsung mengulas senyum, lama kelamaan ia pun ikut tertawa bersama kami. Seolah tak ada beban lagi, tawa kami terdengar sangat lepas. Tak lama, Kak Reza menghentikan tawa renyahnya.


"Ngomong-ngomong, selamat ya, Rey, Dek."


"Terima kasih, Za." Reynand mengulas senyumnya.


"Selamat, Sayang." Kak Dita memelukku.


"Terima kasih, Kak." Aku melengkungkan garis senyum kepada kakak iparku itu. Pandanganku kemudian mengarah pada perutnya. Sedetik kemudian beralih pada kakak kandungku,"bukankah Kak Reza bilang kalian tidak akan datang karena ada masalah dengan kehamilan Kak Dita?"


"Ya, tapi kami ingin memberi kejutan. Tentu saja kami harus datang demi melihat adik kami menikah. Kami meminta dokter untuk memberikan cukup banyak vitamin terbaik agar kehamilan Dita kuat saat menempuh perjalanan jauh."


"Apakah nantinya akan bermasalah?" Aku bertanya cemas.


"Tapi setelah acara ini Kakak harus mengantar Kak Dita memeriksakan dirinya ke dokter kandungan."


"Iya, Dek."


"Iya. Kakak tidak masalah." Kak Dita menenangkanku.


Reynand yang berdiri di sampingku pun ikut berkomentar, "Kalian pasti lelah. Aku akan meminta seorang pelayan mengantar kalian beristirahat di dalam kamar."


"Tidak usah, Rey. Kami akan duduk di sebelah sana saja." Tunjuk Kak Dita pada salah satu meja.


"Biar aku yang mengantar!" ujarku.


"Baiklah. Aku akan pergi ke meja sebelah sana. Di sana ada Wisnu dan Farhan. Sudah lama tak mengobrol bersama mereka."


.


.

__ADS_1


.


Aku, Kak Reza, dan Kak Dita duduk di salah satu meja khusus untuk keluarga kami. Kami berbincang membicarakan banyak hal. Di tengah-tengah perbincangan itu, Kak Reza tiba-tiba saja bertanya suatu hal kepadaku.


"Dek, apa kau serius akan tinggal di luar negeri bersama Rey?"


Seketika aku melirik. "Pasti Mama yang mengatakannya."


"Ya. Mama terdengar sangat sedih saat mengatakannya. Apa kalian tidak ingin mempertimbangkannya lagi? Aku sudah tinggal jauh, seharusnya kau tidak tinggal jauh juga dari mereka."


Aku terdiam. Bukannya aku tak ingin tinggal dekat dengan kedua orang tuaku. Namun Reynand, keputusan ia sepertinya sudah bulat. Membangun keluarga bersama jauh dari kedua orang tua kami agar kami bisa lebih mandiri. Ya, selain itu karena kehadiran Felicia. Dia tak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali. Bahkan, kami juga sudah mempersiapkan semuanya. Tempat tinggal dan kebutuhan kami yang lain di kota London.


"Reza benar, Sher. Cobalah bicarakan lagi hal ini dengan suamimu." Kak Dita menambahi.


"Baiklah. Akan kucoba nanti, Kak," pungkasku akhirnya.


***


Reynand Pov


Aku menghampiri meja Wisnu dan Farhan. Langkahku berhenti tepat di depan mereka yang terlihat sedang menikmati cemilan kuenya.


"Tambah lagi makanannya," sapaku membuat dua pria itu seketika mendongak.


"Eh, pengantin... gue kira lo bakal lupa ada kami di sini." Wisnu meletakkan kuenya.


"Kapan datang? Kok gue gak liat?" Aku menarik kursi di depanku dan ikut bergabung.


"Belom lama." Wisnu menjawab singkat.


"Iya, Rey. Wisnu kayak orang hilang datang sendirian. Gak tahu ke mana istrinya." Farhan menimpali seraya mengekeh pelan.


"Maaf ya, Rey. Istri gue gak ikut. Dia lagi berkunjung ke rumah ortunya di luar kota. Sayangnya gue gak bisa ikut karena kerjaan gue yang lagi padat." Wisnu menyesap minumannya, lalu melirik-lirik ke sekeliling, "Sheryl mana?"


Aku menunjuk ke arah meja Sheryl. "Tuh lagi ngobrol sama kakaknya. Udah dua bulan ini Kakaknya juga tinggal di luar kota, jadi mereka jarang bertemu."


"Kalau kakaknya tinggal di luar kota, dan lo bilang mau boyong Sheryl ke luar negeri, kasian dong orang tuanya karena cuma tinggal berdua aja. Lo tega, Rey?" komentar Wisnu.


Perkataan Wisnu membuatku bergeming. Aku memang ingin memboyongnya tinggal bersama di negara yang jauh. Meninggalkan kenangan dan menjauhi orang-orang yang mungkin akan menyebabkan masalah baru bagi hubungan pernikahan kami. Namun perkataan Wisnu ada benarnya. Lain denganku, Indira masih tinggal tak jauh dari Mama. Sementara, Keluarga Kusuma hanya memiliki dua anak. Jika dua-duanya pergi jauh, kedua orang tua mereka pasti akan merasa sangat kesepian.

__ADS_1


__ADS_2