
Aku melempar ponselku di atas tempat tidur. Kayla baru saja meneleponku. Mengumpatku dengan sindiran yang pedas. Aku sangat marah padanya. Siapa pun tidak ingin hubungannya rusak dan hancur. Semua pun gara-gara dia. Mengajakku ke bar saat galau.
Karena kejadian tadi malam, aku tidak bisa tidur. Hatiku hancur saat Papa bilang aku harus menikah dengan Pak Reynand dan akan memutus hubunganku dengan Kak Baruna secara sepihak dengan seenaknya.
Apa ini yang akan menjadi takdirku? Ya Tuhan, aku tidak ingin berpisah dengan Kak Baruna. Hanya ingin bersamanya.
Berkali-kali aku berharap dalam hati agar kami tidak berpisah dan dia akan memaafkanku karena kesalahan yang kulakukan. Aku mengambil ponselku kembali, ketika tiba-tiba saja terdengar dering sebuah panggilan masuk. Panggilan dari Kak Baruna.
"Halo, Sayang. Kenapa semalam tidak mengangkat teleponku? Aku 'kan bilang akan meneleponmu lagi."
"Maaf, aku lelah sekali dan tidur lebih dulu," jawabku berbohong, padahal aku menangis semalaman saat rahasiaku terbongkar gara2 pria itu datang.
"Oh .... Hari ini ada rencana apa?"
"Aku akan di rumah saja untuk istirahat. Kepalaku sakit," jawabku berbohong.
"Sudah minum obat?"
"Sudah." Aku kembali berbohong.
"Apa aku perlu datang ke rumah agar sakit kepalamu berkurang?" Kak Baruna mulai menggoda.
"Tidak perlu. Aku cukup beristirahat dan semuanya akan baik-baik saja."
"Baiklah. Kalau begitu kamu istirahat saja. Nanti aku telepon lagi."
"Iya, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu."
Panggilan telepon itu pun berakhir. Aku menghela napas panjang. Berbohong dan beralasan padanya. Sungguh tidak tega untuk melakukannya. Namun, aku juga tidak mau bertemu dengannya jika kondisiku seperti sekarang.
Bayangan cermin meja rias menampakkan wajahku yang lusuh, kusut, sama sekali tidak beraturan. Mata yang bengkak setelah menangis semalaman, hitam bagaikan mata panda. Belum lagi ketika jerawat kecil mulai muncul begitu banyak.
__ADS_1
Aku pasti stres! Sebentar lagi, aku akan gila. Bahkan, aku bisa bunuh diri menghadapi ini semua.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul sepuluh saat Mama tiba-tiba masuk ke dalam kamarku membawa sebuah nampan di tangannya.
"Sheryl ...," panggilnya.
"Hmm ...," Aku menjawab malas.
Mama meletakkan nampan itu di atas meja kecil kamarku. Aku menengok dan melirik isinya. Sepiring makanan dan segelas air putih.
"Kamu memangnya tidak lapar? Jangan sampai mag-mu kambuh sayang."
"Biar saja, Ma. Biar aku mati sekalian. Kalian pun tidak perlu malu mempunyai putri sepertiku. Seorang anak yang bisanya mencoreng nama baik keluarga."
"Hush! Jangan berkata seperti itu. Kematian hanya Tuhan yang tahu. Kamu tidak berhak mendahuluinya," nasihat Mama, dia lalu berkata, "Mama tahu Papamu sangat kecewa padamu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kamu pikir sendiri, apa ini adil untuk Baruna? Dia lelaki yang baik. Apa kata dia dan orang tuanya jika tahu mengenai hal ini?"
Iya, mereka semua orang baik. Aku tidak pantas menjadi istri Kak Baruna dan menjadi bagian dari keluarga mereka. Hatiku sakit menyadarinya. Selama ini selalu berpura-pura dan mengesampingkan pemikiran mereka semua yang tidak tahu menahu apa yang sudah terjadi.
Aku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Mama. Hanya bisa menelan pil pahit dari sebuah kesalahan yang aku tidak bisa hindari. Tiba-tiba air mataku luruh kembali. Bulirannya mengalir layaknya air sungai yang deras. Aku menyesal ... sangat menyesal. Mencintainya dengan sangat terlambat. Padahal selama ini dirinya ada di depan mataku dan selalu berada tidak jauh dari sekelilingku.
"Tapi pilihanku tetap Kak Baruna, Ma."
"Tidak ada pilihan lagi untukmu sekarang ini," sahut Mama seraya bangkit dari duduknya, "Mama tinggal dulu. Kamu jangan lupa makan. Makanannya sudah Mama siapkan di meja."
Tiba-tiba saja, Kak Reza masuk hampir menabrak Mama. Langkahnya terburu-buru dengan smartphone di tangannya. Dia lalu menunjukkan sesuatu padaku. Sebuah berita online yang membuatku terkesiap.
Breaking News!
detak.com
Bisnis dan Entertainment
__ADS_1
Minggu, 19 Januari 20xx
Skandal Cinta Pengusaha Muda Keluarga Pradipta
Reynand Alex Pradipta–Direktur Utama Asyraf Corporation, baru\-baru ini diketahui menjalin hubungan gelap dengan tunangan saudara tirinya–Sheryl Novia Cantika Kusuma yang juga merupakan putri pertama dari Kusuma Corporation. Diketahui tunangan dari Baruna Adrian Asyraf ini telah melakukan hubungan layaknya suami istri hingga mengandung anak dari Reynand. Sumber yang tidak mau disebutkan namanya dengan yakin membeberkan masalah ini disertai dengan bukti sebuah video pengakuan dan rekaman suara.
Kayla Putri Nabila–seorang model dan aktris terkenal yang juga merupakan pacar dari Reynand juga memberikan sebuah kesaksian yang mengagetkan. Gadis cantik itu mengakui segala yang terjadi adalah benar adanya. Dia menceritakannya lewat sambungan telepon sambil terisak dalam tangis yang pedih. Namun, saat ini Reynand dan Sheryl belum mengonfirmasi kebenaran berita tersebut.
Jika mengutip pada berita beberapa waktu yang lalu, Sheryl juga terlibat atas kekerasan yang dilakukan oleh Baruna kepada Satya–Pengusaha dari Keluarga Mahardika saat reuni sekolah. Saat ini dia mendekam dalam penjara karena didakwa melakukan tindakan penculikan terhadap Sheryl.
Aku menutup mataku sejenak. Berpikir dan terus berpikir, wanita itu sudah mulai menembakkan senjatanya ke media. Membuatku mati kutu tidak bisa menghindar lagi. Benar-benar membuatku dan keluargaku malu seketika. Seantero negeri akan tahu betapa jeleknya tingkah lakuku.
Terdengar dering ponsel berkali-kali dari nomor tidak dikenal. Aku tidak mengacuhkannya. Mengabaikannya lebih baik daripada membuatnya menjadi lebih rumit. Kemudian dering telepon itu berhenti.
"Sudah mulai rupanya," ucap Kak Reza. "Kamu jangan ke mana-mana. Tetap di rumah."
Aku mengangguk. Tiba-tiba terdengar dering kembali. Dering dari seseorang yang spesial untukku. Panggilan dari Kak Baruna. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya berkali-kali. Melirik pada Kak Reza yang hanya mengangguk memberi isyarat untuk menjawab panggilan darinya.
Raga bergetar hebat melihat namanya di layar. Bibirku gemetar sampai lidah yang kaku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Namun, aku tetap menggulirkan jariku mengangkat telepon darinya.
"Ha-halo," lirihku terbata.
"Katakan padaku, semua yang dikatakan oleh media online itu adalah hoaks! Kamu tidak seperti itu, 'kan? Kamu tidak pernah melakukan hal itu, 'kan? Kamu tidak hamil, 'kan, Sayang?" Tiga pertanyaannya menohok hatiku. Suaranya terdengar bergetar dan ragu.
Katakan padaku, bagaimana cara menjawab pertanyaannya? Bagaimana lagi aku harus menghindar?
__ADS_1
Aku diam tidak menjawabnya. Hingga dia bertanya dengan meminta sebuah penegasan, "Jawab Sheryl! Diammu adalah jawabannya. Semua jawabannya adalah iya, bukan?"