Marriage Order

Marriage Order
Perselisihan


__ADS_3

Aku membiarkan Pak Reynand mengusap lembut whip cream dari bibirku dengan sehelai tisu yang dipegangnya. Pandangan mata kami saling bertemu, tidak terlalu lama tapi cukup membuat sedikit getaran seperti sebuah sengatan listrik lembut yang mengaliri peredaran darahku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Indira yang memperhatikan pemandangan itu tersenyum simpul.


Pak Reynand segera berbalik arah menjauh dari kami. Dia meninggalkan dapur dengan langkahnya yang sedikit kaku. Aku melihatnya sambil menahan tawa, begitu pun Indira, tiba-tiba tawanya pecah melihat sikap kakaknya.


"Dir, kenapa lo ketawa geli banget?" tanyaku.


"Sayang banget lo melengos enggak lihat dia. Wajah Kak Rey ... dia malu ngelihat wajah lo."


"Kenapa dia malu lihat gue?"


"Gue enggak tahu. Udah lupain aja. Gue juga udah hampir selesai. Tinggal panggang kue ini." Indira memasukkan kue tart itu ke dalam oven.


Pak Reynand malu padaku**?


Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya. Indira memandangku, dia menggelengkan kepalanya.


"Sher, apa Baruna nanti jemput lo pulang?"


"Oh iya Dir, gue belum kabarin dia kalau gue ada di rumah nyokap lo." Aku mengambil ponselku, segera meneleponnya.


Indira lalu melanjutkan kegiatannya. Kak Baruna menjawab panggilanku.


"Kamu sudah pulang, sayang?" tanyaku.


"Sudah. Apa kamu sudah akan pulang?"


"Iya, setelah ini. Indira sedang memanggang kuenya."


"Baik, aku jemput kamu sekarang."


"Tunggu!"


"Ada apa?"


"Jemput aku di rumah Pak Reynand."


"Reynand? Kamu sedang apa di sana?"


"Indira yang mengajakku membuat kue di sini."


"Tapi tadi kamu tidak mengatakannya."


"Aku pikir aku akan membantu membuat kue itu di rumah Indira. Tapi ternyata dia membawaku ke sini.


"Aku ke sana!"

__ADS_1


Kak Baruna menutup teleponnya. Nada suaranya yang tiba-tiba terdengar meninggi meyakinkanku kalau dia menahan kesal.


Setengah jam kemudian kue yang dibuat Indira sudah jadi. Indira membawa kue itu berjalan masuk ke dalam kamar Tante Aina. Aku mengikutinya dari belakang.


"Selamat ulang tahun, Mama!" seru Indira dan Pak Reynand bersamaan.


Aku mencari dari mana asal suara pria itu. Kepalaku menengok ke belakang. Pak Reynand berdiri tersenyum padaku, sontak aku mengarahkan pandanganku lagi lurus ke depan.


Kanebo kering itu mulai lembab rupanya.


Tante Aina menyambut kami tersenyum. Dia meletakkan majalah yang ia baca di samping tempat tidurnya dan melepas kacamata baca yang dipakainya.


"Terima kasih anak-anakku!"


"Sheryl juga membantuku, Ma!" ucap Indira.


"Iya Dira, Sheryl juga membantumu," sahut Tante Aina datar lalu mengalihkan pembicaraan, "Rey, mengapa kamu tidak membawa Kayla ke sini?" tanya Tante Aina.


"Mama saja yang menghubungi dia. Mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya," tukas Pak Reynand.


"Masa sih? Mama akan menghubunginya sekarang." Tante Aina terlihat tidak percaya dengan ucapan anaknya itu.


Dia langsung meraih ponsel dari dalam nakas di sampingnya menghubungi Kayla. Aku merasa seperti orang asing berada bersama di antara mereka. Aku hanya diam lalu berbalik arah melangkah keluar kamar. Pak Reynand tiba-tiba menarik tanganku. Dia mencegahku keluar, raut wajahnya seakan-akan memintaku untuk tetap berada di sana.


"Sepertinya di sini bukan tempatku. Aku ingin mencari angin di luar," sahutku pelan. Pak Reynand lalu melepaskan tangannya.


Aku bergegas keluar kamar dan duduk di sebuah kursi di teras rumah. Aku menunggu Kak Baruna yang akan segera datang menjemput. Aku bertopang dagu, pikiranku melayang entah berada di mana. Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau Pak Reynand sudah berada duduk di sebelahku.


"Sher ... Sher!" panggilannya membuat lamunanku buyar seketika.


Aku sontak menoleh ke arahnya. Pandangan kami kembali bertemu. Mengapa dia jadi terlihat tampan hari ini? Aku terus menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.


"Apa yang sedang kamu perhatikan?" tanyanya sedikit menahan tawa.


Aku cepat-cepat menundukkan wajahku. Pak Reynand makin mendekatkan wajahnya.


"Hei ... saya hanya bertanya dan kamu menunduk tidak menatap wajah saya. Apa selama ini saya begitu menakutkan di matamu?"


"Tidak, Pak." Aku mendongakkan kepalaku.


"Bisakah kamu berhenti memanggil saya dengan kata 'Pak' itu? Saya bukan atasanmu lagi," pintanya.


Aku terdiam tidak menjawab. Bagiku, memanggilnya dengan sebutan "Pak" menjadi keharusan di mana aku menciptakan tembokku sendiri. Berharap hubungan kami tidak menjadi lebih dekat, melebihi hubungan kami sekarang. Aku menyadari, Kak Baruna begitu cemburu dibuatnya. Aku tidak ingin hubungan kami hancur.


"Maaf, sepertinya saya sudah terbiasa memanggil Bapak seperti itu dan saya tidak bisa mengubahnya," aku menolak permintaannya.

__ADS_1


"Oke, saya pun tidak memaksa. Hanya saja, sedikit aneh di telinga saya. Kita sudah tidak mempunyai hubungan profesional, Sher."


"Anggap saja sebutan itu adalah sebutan spesial dari saya," gurauku tertawa.


Pak Reynand mengangkat kedua alisnya menganggukkan kepalanya mengerti. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Aku tidak peduli.


Tidak lama sebuah mobil sport masuk ke dalam gerbang rumah Pak Reynand. Aku mengenalnya, Kak Baruna datang menjemput.


Dia turun dari mobilnya melangkah menghampiri kami yang sedang berbicara berdua. Kak Baruna menekuk wajahnya kesal melihat kami yang terlihat akrab.


"Ayo sayang kita pulang!" ajaknya.


Aku dan Pak Reynand bangkit berdiri. Tanpa basa-basi Kak Baruna langsung menarik tanganku paksa. Belum sempat aku ikut langkah Kak Baruna, tiba-tiba Pak Reynand ikut menarik sebelah tanganku yang lain. Mereka lalu saling menatap tajam.


"Bukan begini caranya bertamu, Bar," ucapnya serius.


"Gue cuma mau jemput tunangan gue. Gue bukan ingin bertamu di rumah lo," sahut Kak Baruna dengan suara yang sedikit meninggi.


"Gue tuan rumah di sini. Aturannya enggak ada paksaan untuk datang dan pergi dari sini."


Kak Baruna menjelingkan matanya ke arah tangan Pak Reynand yang menarik tanganku, "Gue enggak pernah izinin laki-laki lain sentuh lengan tunangan gue."


Pak Reynand tidak membalas perkataan Kak Baruna. Dia sontak melepaskan genggaman tangannya, membiarkanku dan Kak Baruna melangkah berjalan masuk ke dalam mobil dan pulang begitu saja. Aku melihat wajahnya, tampak sebuah kekecewaan terpancar dari matanya saat memandang kami pergi meninggalkannya.


"Sayang, andai aku tahu tadi kamu pergi ke rumah Reynand, aku pasti sudah melarangmu," cetus Kak Baruna membuatku mengalihkan pandangan langsung ke arahnya.


"Aku juga tidak tahu, sayang."


"Kamu lihat, dia itu menyukaimu. Aku tidak pernah salah menilainya. Jangan biarkan dia masuk ke dalam hubungan kita berdua. Aku tidak ingin kamu dekat dengannya."


Aku menelan ludahku, perkataan Kak Baruna membuatku sedih. Dia seperti orang yang tidak percaya pada pasangannya sendiri. Tapi sebenarnya saat ini dia memang sedang terbakar api cemburu. Aku pun berusaha memahami itu.


"Apa kamu mendengarkan kata-kataku?" tanyanya.


Aku hanya mengangguk. Kak Baruna tersenyum. Dia meraih tanganku menggenggamnya erat.


"Aku ingin kita secepatnya menikah," ucapnya tiba-tiba.


"Sabarlah, sayang. Masih ada waktu kurang dari tiga minggu lagi sampai hari pernikahan kita," balasku.


"Aku akan membahagiakanmu seumur hidupku, sayang."


"Aku tahu hal itu. Kamu tidak perlu mengatakannya berkali-kali. Aku pun hanya mencintaimu," kataku membalas genggaman tangannya.


Mobil yang melaju kencang itu membawa kami dalam suasana yang hangat kembali. Aku hanya berharap kebahagiaan kami tidak berakhir sampai sini.

__ADS_1


__ADS_2