Marriage Order

Marriage Order
Pertemuan Pagi Hari


__ADS_3

Hari Sabtu yang cerah, membuatku menggeliat malas untuk bangkit dari ranjang. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku membuka mataku sejenak. Pikiranku masih menerawang akan mimpi yang masih membayangiku saat ini. Pak Reynand, dia hadir di mimpiku dalam beberapa hari ini.


Tiba-tiba aku teringat akan sebuah benda yang kuterima sore hari kemarin saat pulang kerja. Viona, sekretarisku yang menyampaikannya. Sebuah kotak perhiasan kecil ditujukan untukku bersama surat dari Pak Reynand. Segera, aku bangkit dari ranjang. Mengambil kotak kecil itu. Isinya, sebuah gelang mutiara yang sangat indah.


"Saya mengirim ini sebagai permintaan maaf karena sudah lancang menciummu tempo hari. Bisakah kita bertemu?"


Aku tidak akan menceritakan hal ini pada Kak Baruna karena tidak ingin membuatnya marah lagi padaku. Tempo hari, Pak Reynand memang benar-benar nekat menciumku. Aku tidak menyangka usahanya akan sampai seperti ini.


Pak Rey, apa lagi yang kamu inginkan? Aku harus segera mengembalikan perhiasan ini.


Aku buru-buru meraih ponselku, menatap sejenak benda canggih itu. Ada sedikit keraguan terbesit di pikiranku. Aku segera menepisnya. Hal ini harus segera diselesaikan. Aku akan menghubungi dia untuk mengembalikan hadiah gelang indah itu.


Belum sempat tombol hijau itu kutekan, dia sudah meneleponku duluan. Aku membelalakkan mataku terkejut. Hampir saja ponselku terjatuh karena terlempar. Aku memandang sejenak layar ponsel, lalu segera mengangkatnya.


"Pagi, Sher. Apa saya mengganggumu?"


"Pagi, Pak. Baru saja saya mau meneleponmu, Pak."


"Ada apa? Oh iya, hadiahnya sudah kamu terima?"


"Iya, dan ada di hadapan saya sekarang."


"Kamu suka? Hadiah berikutnya akan menyusul."


"Pak Rey, sadar tidak sih, kalau Bapak sudah membuat saya takut?"


"Takut apa? Saya memberikan hadiah itu untuk wanita yang saya sukai. Jangan bilang kamu takut saya seperti kriminal itu. Saya cukup gentle untuk mengakui dan mengirimkan apa pun untukmu."


"Saya ini akan segera menikah!"


"Sangat tahu, Sher. Bahkan mungkin udara dan debu yang ada di sekitar saya ini pun sudah mengetahui kabar itu. Tidak ada larangan memberikan hadiah untuk wanita yang disukai, 'kan?"


"Jangan nekat, Pak. Saya akan mengembalikan gelang ini."


"Saya sudah berada di depan rumahmu, Sher."


Deg!


Pak Reynand sungguh membuatku terkejut. Dia sudah datang bertamu pagi-pagi begini.


Astaga! Nekat sekali dia.


"Jangan bercanda! Bapak membuat saya bingung."


"Saya tidak bercanda. Saya benar-benar berdiri di depan pintu rumahmu. Tolong bukakan pintu untuk saya, Sher."

__ADS_1


Aku masih mengenakan piyama berwarna merah marun saat melangkah terburu-buru keluar dari kamar.


Aku menarik napas dalam, membukakan pintu rumah. Di tanganku tergenggam kotak perhiasan itu. Aku akan segera mengembalikannya.


Ceklek!


Sebuket bunga mawar disodorkannya menyambutku. Wajah sang empu bunga sengaja disembunyikan dibalik buket itu. Aku mengambil buket itu dari tangannya.


"Hai!" sapanya tersenyum hangat.


Aku menghela napas melihat wajahnya. Mantan bosku itu membuatku hampir gila dengan tindakannya yang tidak disangka-sangka. Kata orang, itu adalah salah satu godaan menuju pernikahan.


"Pak Rey, ada urusan apa pagi-pagi singgah di rumah saya?" seruku dengan wajah sedikit tidak suka.


"Apa saya tidak boleh masuk?" Dia balas bertanya ragu.


"Kita bicara di belakang saja," jawabku datar.


Aku mengajaknya berjalan ke halaman belakang rumah di mana suasana lebih santai. Duduk di sebuah bangku panjang memandang beberapa pohon rindang yang tumbuh di sana.


"Udara di sini sejuk ya. Saya bisa menyegarkan otak saya sejenak." Pak Reynand mengedarkan pandangannya.


"Biasa saja. Mungkin karena Bapak sedang berada di dekat saya." Sebuah kalimat menggoda meluncur begitu saja tanpa aku sadari.


"Kamu memang menarik." Pak Reynand menoleh padaku seraya mengangkat kedua sudut bibirnya tersenyum hangat.


Aku segera memalingkan wajahku. Aku tidak ingin menatapnya. Senyuman mautnya bisa saja membuatku sedikit tergoda. Seharusnya tadi aku tidak membiarkannya bertamu di rumahku.


"Apa kamu membenci saya, Sher?" Pak Reynand membuka pembicaraan intinya.


"Sedikit," ketusku.


"Saya minta maaf atas sikap saya yang kemarin. Tapi saya memang menyukaimu, Sher. Saya ...."


"Stop! Saya tidak ingin mendengar lanjutannya." teriakku. "Ini ... saya kembalikan hadiah yang kemarin Bapak berikan. Saya rasa Kayla lebih cocok memakainya." Aku menyodorkan kotak kecil perhiasan itu dari genggamanku.


"Saya memberikannya untukmu." Pak Reynand menolak. Dia menggenggam tanganku, menyuruhku menerima hadiah itu. "Tentang Kayla ... hubungan kami sudah berakhir," tambahnya.


Aku terkejut mendengar perkataan Pak Reynand. Dia tiba-tiba mengatakan hal yang bukan merupakan urusanku.


"Kenapa?"


Pak Reynand menatapku, wajahnya tiba-tiba serius. "Karena kamu selalu menari-nari di dalam kepala saya."


Aku menggelengkan kepalaku seraya menahan tawa. "Bercanda!"

__ADS_1


"Kapan saya pernah bercanda atas perkataan saya?"


Aku terdiam bergeming tidak menjawab pertanyaannya. Kanebo yang mulai lembab ini benar-benar membuatku terkejut dan salah tingkah. Wajahku mulai memerah.


Terdengar suara dering ponsel dari dalam sakuku. Tampak nama Kak Baruna muncul di layar. Aku pun menjawab panggilannya. Pak Reynand terdiam memperhatikanku mengangkat telepon.


"Sayang, kamu sudah bagun?"


"Iya, aku sudah bangun dari tadi. Kamu sedang apa, sayang?"


"Tiba-tiba aku teringat padamu. Hari ini ada rencana apa?"


"Belum ada. Ada apa, sayang? Kamu ingin mengajakku berkencan?"


"Tidak. Siang ini aku dan keluargaku akan pergi ke rumah Tante Aina. Kami akan menyelesaikan semua masalah yang terjadi selama ini."


"Benarkah? Syukurlah jika memang sudah ada titik terang atas hubungan yang buruk selama ini." Aku menoleh ke arah Pak Reynand. Dia mengedikkan bahunya.


"Iya sayang. Doakan kami agar pertemuan ini berjalan lancar."


"Iya sayang, aku selalu mendukungmu."


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, sayang."


Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana.


Pak Reynand masih memandangku. Aku buru-buru memalingkan wajah. Aku jadi takut bertemu muka dengannya. Dulu, aku takut pada wajahnya yang seakan-akan ingin memakanku. Tapi sekarang, mengapa dia jadi banyak tersenyum seperti ini?


"Saya yakin kamu mempunyai perasaan yang sama dengan saya. Jika tidak, kamu tidak akan malu-malu memalingkan wajahmu seperti itu."


Tidak, aku sendiri belum tahu apa yang terjadi denganku. Dia dengan gamblangnya bilang kalau aku menyukainya? Yang benar saja. Hatiku ini milik Kak Baruna, Pak.


Aku menoleh ke arahnya. Kali ini aku memberanikan diri memandang wajahnya. Aku harus membuktikan, kalau aku memang benar-benar tidak menyukai Pak Reynand.


Mata kamu saling bertemu. Entah untuk waktu yang aku tidak ketahui. Wajahku mulai memanas menghadapinya. Tubuhku kaku mematung. Jarak kami begitu dekat.


Tiba-tiba datang Bi Ati menghampiri kami. Sontak kami saling menarik diri. Bi Ati membawa dua gelas minuman dingin dan beberapa cemilan untuk kami berdua.


"Mbak Sheryl, ini pesanannya. Tadi Mas Reza yang menyuruh Bibi antar minuman ini."


"Kak Reza di mana, Bi?" Aku celingak-celinguk mencari sosok kakakku itu. Aku takut dia mengamatiku dan Pak Reynand dari jauh.


Sher, mengapa begitu takut? Apa kamu merasa sedang berselingkuh sekarang?

__ADS_1


"Ada, itu dia." Bi Ati menengok ke belakang menunjuk sosok kakakku yang berjalan menghampiri kami.


Kak Reza datang dengan air muka yang dingin dan senyum seringainya. Aku dan Pak Reynand sangat terkejut melihat kakakku itu. Dia datang seakan ingin membuat perhitungan.


__ADS_2