
Beberapa waktu sebelum Sheryl dan Felicia bertemu ....
Reynand Pov
Aku dan Baruna menatap kepergian Sheryl yang beringsut menjauh dari kami. Baruna tampak menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menoleh ke arahku.
"Congrats...," katanya, tapi kalimat itu menggantung. Baruna hanya menatap dengan raut datar dan senyum yang terlihat dipaksakan, "gue gak akan bisa menggapainya lagi," tambahnya dengan suara sedikit tertahan menahan sebuah emosi yang dapat kupahami karena Sheryl lebih memilihku.
"Bar–"
"Lo gak perlu ngomong apa-apa lagi, Rey. Sebenarnya gue tahu pasti apa yang gue lakukan tadi hanya akan menjadi suatu usaha yang sia-sia. Telinga, mata, dan hati gue cukup peka untuk merasakan perasaan cinta kalian," sergah Baruna memotong kalimatku.
Aku terenyak memandangnya. Di satu sisi, aku dapat merasakan dirinya yang tampak begitu sedih dan kecewa walau ia sudah menunjukkan penyesalannya. Namun di sisi lain, aku merasa diriku dan Sheryl berhak mendapatkan kebahagiaan karena kami saling mencintai.
"Maafin gue. Gue tahu itu sakit, tapi gue sangat mencintai Sheryl lebih dari apapun. Gue gak bisa melepaskan dia lagi demi apapun. Lo harus bisa menerima kenyataan ini."
Baruna tidak menyahut, melainkan hanya mendengus dan menyunggingkan sedikit senyumnya. Pria yang menjadi masa lalu Sheryl kemudian berjalan mendekat. Tanpa Aba-aba, dia tiba-tiba memelukku. Sejenak aku terperanjat mendapat pelukannya. Baruna tak berkata apa-apa selama beberapa saat. Namun, aku dapat mendengar suara lirihnya.
"Iya, gue tahu." Baruna berbisik, lalu mengurai pelukannya. Tatapan mata itu belum juga lepas dariku saat ia berkata, "Rey, boleh gue minta tolong satu hal?"
Aku mengerutkan kening, mengangguk. "Katakanlah!"
"Sebenarnya gue belum rela, tapi karena Sheryl udah memilih lo, gue ingin lo berjanji untuk gak membuat ia sedih atau kecewa seperti yang pernah gue lakukan dulu terhadapnya."
Aku mengangguk. "Itu udah pasti, Bar. Lo gak usah terlalu mengkhawatirkannya. Gue akan selalu menjaga Sheryl dengan segenap hati gue."
Baruna tampak mengembuskan napas lega. Raut mukanya berubah menunjukkan kelegaan. Kedua sudut bibirnya kemudian sedikit terangkat memperlihatkan segaris senyuman.
"Ya, lo gak usah khawatir. Gue akan berusaha melupakan Sheryl."
Satu kalimat terakhir Baruna membuat napasku sedikit legas. Aku lalu merangkul dan memeluk adik tiriku itu. "Terima kasih, Bar."
"Ya. Gue gak ingin lagi merusak hubungan persaudaraan di antara kita karena sama-sama mencintai wanita yang sama."
Aku mengurai pelukan. "Ya. Kita tetaplah satu keluarga, Bar."
Baruna mengangguk. Aku benar-benar merasa lega. Kami benar-benar berdamai.
__ADS_1
Setelah pembicaraan cukup serius itu, aku mengajak Baruna untuk bergabung di meja Mamaku dan Ayah kami. Baruna tidak menolaknya. Ia menyetujui ajakanku itu. Tanpa membuang waktu kami pun beringsut pergi. Sesaat kemudian, Ayah melambaikan tangannya kala melihat kami berdua berjalan beriringan menuju meja mereka.
"Dari mana saja, Bar? Ayah tidak melihatmu dari tadi," sapa Ayah pada Baruna yang baru meletakkan bokongnya di atas kursi.
"Aku tidak dari mana-mana, Yah. Berada di sekitar ballroom saja," jawab Baruna.
"Benarkah itu, Rey?" Ayah beralih menanyaiku.
"Ya," jawabku singkat lalu meraih gelas tinggi sampanye yang baru saja dituang oleh salah satu pelayan dan tanpa ragu segera meminumnya.
"Ayah senang melihat hubungan kalian yang begitu akrab," ucap Ayah.
"Biasa saja. Ya 'kan, Rey?" Baruna sontak menoleh. Sebelah alisnya ikut terangkat menatapku.
"Orang yang suka bertengkar juga memiliki batasnya," sahutku datar lalu menoleh ke arah Mama hanya diam dan menyimak saja sejak kami datang, "Mama diam saja. Apa yang sedang Mama pikirkan?" tanyaku.
"Tidak ada, Rey," jawab Mama lalu meneguk minumannya sebentar dan menaruhnya kembali ke atas meja. Dia kemudian menoleh Baruna, "Julian bilang tadi kau mencium paksa Sheryl. Benarkah itu, Bar?"
"Mama, jangan bahas hal itu! Kami sudah tak ingin membahasnya." Aku menyergah Mama yang tampak sedang menyudutkan Baruna.
"Tu-tunggu! Ada apa ini?!" tanya Ayah yang tampak tak mengerti dengan arah pembicaraan kami. Ia kemudian menatap Baruna dengan sorot yang sama tajamnya seperti Mama, "katakan! Apa itu benar, Bar?" tanyanya.
Baruna menarik segaris senyumnya. "Apa ada yang salah, Yah? Aku hanya ingin memastikan ia masih menerimaku atau tidak."
"Tapi kau bilang dia hanya masa lalu, 'kan?" Ayah bertanya lagi, sedangkan Mama terdiam menunggu jawaban Baruna.
Baruna tampak tenang. Ia meraih gelas dan menyesapnya sedikit. "Aku masih memiliki perasaan untuknya," jawab Baruna.
Mama sontak membeliak mendengar hal itu. "Kau tahu itu, Rey?!"
Aku mengangguk pelan. "Aku tahu itu, Ma. Namun, aku tak ingin hal itu menjadi sebuah masalah lagi karena Sheryl sudah menetapkan pilihannya."
Mama menghela napas. "Baiklah, jika kau memiliki pandangan seperti itu. Mama rasa, kalian sudah sama-sama dewasa dan tahu harus bagaimana bersikap," ucapnya lalu berkata kepada Baruna, "tapi Tante ingin kau segera melupakan Sheryl, Bar. Selain kau sudah beristri, kau juga tidak bisa terus berada dalam bayang-bayang hubungan Rey dan Sheryl. Kau harus mengikhlaskan kebahagiaan mereka."
"Ya, itu benar!" tambah Ayah, "kau hanya boleh mencintai istrimu saat ini!" Ayah terdengar sangat berapi-api.
"Kau tak pantas berkata seperti itu sebelum bercermin, Anton," cetus Mama begitu dingin menyahut.
__ADS_1
"Kau masih marah kepadaku?" Kening Ayah mengerut.
"Tidak. Aku hanya ingin kau bercermin. Kau dan anakmu tidak bisa mencintai wanita lain saat ia terikat dalam pernikahan. Baruna tak boleh sepertimu," tegas Mama yang langsung membuat Ayah terdiam tak berbicara.
Aku menarik wajahku, memperhatikan mantan pasangan suami istri yang sedang duduk di satu meja saat ini. Tadi saat aku dan Sheryl berdansa, aku melihat mereka begitu akrab, tapi tiba-tiba saja keduanya berubah seperti saat ini. Mereka seperti tokoh di acara kartun kucing dan tikus yang sering bertengkar di televisi.
"Kurasa bagimana perasaanku saat ini bukanlah menjadi urusan kalian," celetuk Baruna.
"Bukan urusan Ayah bagaimana? Kau itu sudah menikah. Kau sudah punya Rafael. Istrimu pun saat ini sedang mengandung adiknya Rafael. Ingat itu!"
Baruna tidak menanggapi. Dia tampak masa bodoh dengan apa yang Ayah katakan. Aku yang mendengar, merasa tak nyaman dengan pembicaraan ini. Bagaimanapun, kami baru saja berdamai.
"Sudahlah, Yah. Kami juga sudah tidak meributkan hal itu. Baruna pun sudah bilang akan melupakan Sheryl," kataku segera melerai mereka.
Mendengar perkataanku, walau tak suka, Ayah akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka, "Lalu di mana istrimu sekarang, Bar?"
"Toilet," jawab Baruna singkat.
Jawaban Baruna membuatku terperanjat. Tanpa aba-aba sontak bangkit berdiri. Mama, Ayah, dan Baruna menatapku heran.
"Ada apa, Rey?" tanya Mama heran.
"Sheryl juga pergi ke toilet, Ma. Aku rasa mereka tak bisa bertemu jika hanya berdua saja," pungkasku yang seketika menjadi khawatir. Aku bergegas meninggalkan meja kami.
***
Sheryl Pov
Kedua tangan Felicia menarik rambutku dengan jenggutan yang sangat kuat. Kepalaku terasa sakit seolah semua rambut akan tercabut karena tindakannya yang tiba-tiba. Dengan terpaksa, aku pun melakukan hal yang sama. Kami beradu kekuatan di dalam rest room yang entah mengapa terasa sangat sepi.
Felicia menggeram kesal. "Kau wanita sialan, Sheryl! Kehadiranmu membuat hidupku kacau!"
"Kau yang sialan! Jangan berlagak kau adalah korbannya, Fely!" sahutku berteriak.
"Seharusnya kau tidak kembali ke Indonesia!" Felicia balas meninggikan suaranya. Dengan tenaga yang tidak berkurang sedikit pun, dia malah mendorong hingga punggungku membentur dinding ruangan. Aku terpaksa melepaskannya.
Seketika, aku berteriak kesakitan. Punggungku sakit! Gila! Apa-apaan dia! Felicia benar-benar sakit jiwa. Tak ada wanita hamil sekuat ini. Atau kah aku yang terlalu lemah menghadapinya?
__ADS_1