Marriage Order

Marriage Order
S2 Bergejolak


__ADS_3

Aku menikmati setiap belaian bibirnya yang menikmati bibirku. Rasa cinta ini membuncah dari hari ke hari. Seperti malam ini kami kembali berciuman mesra. Dia menikmati setiap inchi wajahku. Setiap inchi leherku yang jenjang. Namun, aku tidak membiarkan ciumannya terus menuruni sampai bawah tubuhku. Aku menyilangkan kedua tanganku di atas dada saat dia berusaha mencapai tempat itu. Tidak membiarkannya menjamah bagian itu.


Dia melepas ciumannya saat aku tidak mengizinkannya mencapai daerah itu. Aku lalu bangkit duduk dan menatap wajahnya kecewa.


"Aku sudah tidak suci lagi."


Seketika, dia terperangah diam. Matanya membelalak terkejut. Aku yang menyadari reaksinya, sontak segera mencari alasan.


"Bibirku sudah tidak suci lagi. Karena kamu terus menciumnya setiap hari," kataku sambil terkekeh.


Dia menarik napas panjang. Senyumnya mengembang menatapku. Kemudian merengkuhku dalam dadanya yang bidang.


"Semua yang ada padamu adalah milikku. Aku sangat mencintaimu. Tidak akan terpengaruh atas apa yang orang lain katakan. Aku akan terus mencintaimu. Hanya kamu, Sayang." ucapnya pelan. Pelukannya makin erat membuatku menarik dan membuang napas khawatir.


Aku teringat perkataan Indira tadi di toilet. Dia melihatku memuntahkan isi perut karena menahan rasa mual dari tadi. Sepertinya mag-ku kambuh karena telat makan dan dia malah menuduhku hamil. Wanita itu juga menyuruhku agar segera mengakui semua yang telah terjadi antara diriku dan Pak Reynand kepada Kak Baruna.


Mengapa laki-laki itu tidak bisa menjaga rahasia? Haruskah semua orang tahu apa yang sudah kami lakukan? Aku dan Indira malah terlibat percekcokan kecil.


Maaf, Sayang. Aku masih belum siap untuk jujur saat ini. Aku terlalu takut jika kamu akan kecewa dan meninggalkanku. Sungguh, hatiku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu.


Kak Baruna melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan tatapan matanya yang lembut.


"Apa kamu mencium aroma yang tidak enak?" tanyanya tersenyum.


Aku mencium lengan dan ketiakku.


Haish .... Aku memang belum mandi.


"Kamu sedang menggodaku?" Aku berdiri memandang wajahnya kesal.


"Ha-ha-ha. Mau bagaimanapun kamu tetap menggemaskan." Dia menarik lenganku dan menciumku kembali.


Kami larut dalam ciuman mesra. Aku memeluk tubuhnya erat. Tidak lama setelah menikmati ciuman itu, dia segera menghentikannya.


"Kamu mandi sana! Sudah malam. Nanti masuk angin," perintahnya sambil berdiri melangkah membuka lemarinya dan mengeluarkan handuk bersih berwarna biru. Dia pun memberikannya padaku.


"Bajuku?"


"Sebentar. Belum lama ini Bunda membelikan pakaian dan dalaman untukmu." Kak Baruna mengambil satu setel piyama dan dalaman. Segera menyodorkannya padaku.


Dia berkata lagi seraya tertawa kecil, "Sekarang aku tahu ukuranmu gara-gara ini."


Rona wajahku pun bersemu merah. Dia benar-benar membuatku malu berkali-kali.


Ah, tapi walau bagaimana pun nanti juga dia akan tahu semua. Karena dia akan jadi suamiku. Suami? Iya, kalau dia menerimaku apa adanya. Gadis yang sudah tidak suci karena saudara tirinya.

__ADS_1


"Jadi, di mana kamar mandinya? Tempat tidurku di mana?"


"Mau ke kamar yang kemarin?"


"Iya."


"Ya sudah, kamu ke atas sendiri. Aku tidak bisa. Sekarang saja kamarku dipindah ke bawah karena kakiku yang seperti ini," ucapnya.


"Baik, aku bisa naik sendiri."


"Jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang mengikutimu dari belakang. Kadang-kadang mereka ingin mengajakmu bermain," sahutnya serius.


"Mereka?" tanyaku terkejut.


"Hantu," lirihnya.


Aku kembali memeluk tubuhnya. Rumah sebesar ini pasti ada penunggunya dan aku sungguh takut kalau benar-benar ada penampakan hantu.


"Apa Bi Rindang tidak bisa mengantarku?"


"Dia sudah tidur. Aku bisa saja meneleponnya."


"Jangan! Biarkan dia beristirahat," larangku.


"Ya sudah. Mandi di kamar mandiku saja. Ada sikat gigi baru di dalam."


Tiga puluh menit kemudian aku keluar kamar mandi dan sudah berpakaian. Pilihan Tante Meri memang selalu pas. Aku memakai piyama berwarna coklat pemberiannya.


Kak Baruna tampak merebahkan diri di atas sofa dekat dengan jendela kamar. Pria itu menolehkan pandangannya dan memperhatikanku yang sudah berpiyama.


"Istriku," lirihnya.


"Belum."


"Iya, belum." Dia terkekeh, kemudian berkata, "tidurlah di tempat tidurku. Aku akan tidur di sini."


Aku bergeming. Sedikit kaget dengan ucapannya. Dia lalu menambahkan kalimatnya, "Tenang saja, aku tidak akan menerkammu, Sayang."


"Benar, ya?" Aku kembali meyakinkannya. Kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Iya. Tidur yang nyenyak." Dia bangkit dari sofa. Mencium keningku dan menyelimuti tubuhku dengan sebuah bed cover.


"Good night, Sayang," ucapnya.


"Night too, Honey."

__ADS_1


****


Reynand PoV


Pukul 00.00


Aku berbaring di ranjang sambil sesekali berguling ke kiri dan ke kanan. Merasa sangat gelisah dan tidak bisa memejamkan mata. Terus saja teringat akan Sheryl yang tadi sore kucium bibirnya dengan singkat.


Dia sudah benar-benar anti padaku. Bahkan untuk sekedar bertatap muka. Aku memang salah. Sangat bersalah melakukan hal itu. Hal yang begitu keji untuknya.


Sekarang Kayla pun melakukan hal yang membuatku kesal setengah mati. Sampai sekarang belum juga menghubungiku. Aku tidak akan mengikuti apa yang dia mau dan mencari cara lain untuk menghentikannya.


Entah dapat kekuatan dari mana, tiba-tiba saja aku mencoba menghubungi Sheryl malam ini. Panggilannya tersambung, tapi tidak juga dijawab. Mungkin ia sudah terlelap. Aku mencoba mengetikkan pesan padanya.


"Saya merindukanmu, Sheryl."


Tidak lama sebuah notifikasi balasan datang. Aku membaca pesan yang membuatku sangat kaget.


"Mau apa Rey? Mencoba menggoda Sheryl lagi? Dia milik gue. Lo gak akan bisa merebut hatinya. Menyerahlah!"


Aku meremas ponselku gemas. Ternyata Baruna yang membalas pesanku untuknya. Aku sangat marah pada keadaan yang begitu rumit ini.


Mengapa dia bisa membalas pesanku untuk Sheryl di malam yang sudah larut seperti ini? Apa mereka sedang bermalam bersama? Apa Baruna sudah menerima Sheryl apa adanya?


Aku segera membuyarkan pikiran. Jari jemariku kembali mengetikkan pesan balasan.


"Apa yang lo lakukan di tengah malam dengan ponsel Sheryl? Apa kalian sedang bersama sekarang?"


Pesan itu berhasil kukirim. Jantungku berdebar tidak karuan rasanya. Bergemuruh dan terasa sakit. Sangat penasaran dengan jawaban dari Baruna. Tidak lama jawaban yang kuinginkan tiba.


"Enggak ada yang salah dengan hubungan gue dan Sheryl. Bahkan jika kami ingin melakukan hubungan suami istri. Yang salah adalah saat lo hadir di antara kami."


Jawaban ambigu yang datang membuatku menarik napas dalam-dalam dan terus membuangnya. Aku kembali membalas pesan itu.


"Perasaan gue enggak akan berubah. Gue gak akan menyerah semudah itu. Dia gak akan bisa menunggu lo untuk sembuh. Bukan cinta yang ada di hatinya sekarang, melainkan hanya rasa kasihan yang ada saat bersama lo, Bar."


Aku masih merebahkan diriku di atas kasur menunggu balasan pesan darinya. Lama pesan itu terkirim, tapi balasannya tidak kunjung datang. Padahal di aplikasi itu, terlihat dia masih online dengan ponsel kekasihnya.


Mataku terasa sangat mengantuk. Sayup-sayup terdengar suara notifikasi kembali.


"Lo gak usah sok tahu, Rey. Sheryl dan gue saling mencintai. Hanya maut yang dapat memisahkan kami. Jangan pernah mengganggu tunangan gue lagi. Kami akan melanjutkan rencana pernikahan kami yang tertunda."


Aku menelan ludah membaca pesan itu. Perjuanganku terasa sudah berakhir. Tidak terasa air mataku luruh menyadari hal itu.


___________

__ADS_1


Readers yuk gabung grup chat author di Noveltoon/Mangatoon untuk bersilaturahmi dan menyampaikan kritik serta saran yang membangun.


Jangan lupa like, komen, dan love kalian sebagai dukungan untuk author MO ini.


__ADS_2