
Aku masih berada di meja kerjaku berbicara dengan kak Reza lewat sambungan telepon dengan air muka kesal. Bagaimana tidak kesal? Bisa-bisanya dia menyuruhku tenang-tenang saja. Memangnya aku bukan bagian dari keluarga Agung Praja Kusuma?
"Bisa tenang bagaimana sih Kak?! Bisa rumit begini. Kakak kira aku senang kalau terjadi apa-apa dengan orang yang kusayang?" tanyaku emosi setengah berteriak.
"Lalu aku harus bagaimana? Semua masih aman terkendali. Kamu tenang saja Dek."
"Tenang-tenang terus .... Kak Baruna saja tidak bisa dihubungi sejak tadi. Lalu kudengar dari Pak Reynand tentang kondisi perusahaan Papa yang tidak baik," seruku berapi-api.
"Mungkin dia sedang sibuk sehingga tidak bisa menghubungimu. Pak Reynand bicara apa saja kepadamu? Jangan pernah percaya padanya."
"Jawaban Kakak tidak membuatku puas!" Aku mengakhiri panggilan telepon.
Aku meraih tasku melangkah keluar ruang kerjaku. Berjalan dengan tergesa-gesa. Aku ingin pergi ke kantor Kak Baruna menghampirinya dan mencari tahu apa yang terjadi. Menunggu saja tidak membuatku puas.
Para karyawan yang bertemu muka denganku kubiarkan memandangku dengan tatapan mata yang aneh dan sinis. Mereka membicarakanku akibat video semalam yang sudah tersebar luas. Aku sudah merasakannya sejak tadi pagi. Tapi aku tidak menghiraukannya.
Tiba-tiba ponselku berdering. Kak Baruna meneleponku. Aku buru-buru menjawab panggilannya.
"Sayang maaf aku tidak menghubungimu sejak tadi. Sekarang aku, ayah, dan bundaku sedang berada di rumah sakit."
"Siapa yang sakit?" tanyaku cemas.
"Kakek tiba-tiba tidak sadarkan diri di ruang kerjanya. Sekarang sudah masuk ruang intensif."
"Aku akan menyusulmu sekarang," kataku.
"Baiklah, aku juga sudah meminta tolong asistenku untuk menjemputmu. Kabari aku jika sudah sampai. Aku akan menunggumu di lobi."
"Iya sayang. Kamu tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak apa-apa. Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu sayang," jawabku seraya menutup telepon.
Aku sudah tiba di lobi utama saat kulihat mobil Kak Baruna sudah terparkir di depan menungguku. Aku melangkah berjalan menuju pintu keluar saat mbak Maya resepsionis yang terkenal biang gosip itu menghampiriku dengan tatapan sinis dan senyum seringainya menggodaku.
"Mbak Sheryl enak banget ya direbutin dua cowok cakep. Masuk trending topic pula di medsos. Iri euy!"
__ADS_1
"Mau apa sih dia mengatakan hal seperti itu di dalam suasana seperti ini? Apa dia tidak punya urusan lain? Apa aku harus marah untuk membuatnya puas?"
Aku mengernyitkan keningku. Mengangkat sebelah alisku dan menatapnya dengan tidak kalah sinis. Baru saja ingin membalas perkataannya, pak Reynand tiba-tiba muncul di antara kami dengan wajah dinginnya.
"Jangan berdiri di depan pintu!" perintahnya lalu menoleh ke arahku, "Saya pikir kamu sudah pulang. Masih di sini bergosip dengan biang gosip ini?"
Mbak Maya langsung terdiam. Wajahnya sontak pucat pasi ditegur oleh pak Reynand.
"Maaf Pak," katanya lalu cepat-cepat mundur meninggalkanku.
"Pria ini, bisakah dia berkata dengan kata-kata yang baik kepadaku? Selalu saja berpikiran negatif kepadaku."
Aku balas menatapnya memanyunkan bibirku kesal dan melengos begitu saja tanpa menjawab apa-apa. Pak Reynand mengikutiku dari belakang menarik lenganku.
"Kamu marah sama saya? Harusnya saya yang marah sama kamu. Sudah menampar dan tidak bertanggung jawab." Pak Reynand melepaskan tanganku, menatapku kesal.
"Itu balasan setimpal yang bisa saya lakukan atas perbuatan Bapak!" sahutku seraya meninggalkannya yang masih berdiri menatapku.
Aku masuk ke dalam mobil dengan pak Wicak yang sudah menunggu duduk di bangku kemudinya. Mobil pun mulai berjalan pelan meninggalkan gedung kantor.
Setengah jam kemudian aku dan pak Wicak tiba di rumah sakit. Kami melihat kak Baruna duduk di sebuah kursi lobi rumah sakit. Aku pun menghampirinya.
"Pak Wi, terima kasih sudah mengantar Sheryl. Bapak boleh pulang sekarang," kata kak Baruna seraya menoleh ke arah asistennya itu.
"Iya Mas Bar. Saya pamit dulu semoga pak Awan cepat sembuh," ucap pak Wicak pamit.
"Terima kasih Pak. Hati-hati di jalan," sahut Kak Baruna.
"Terima kasih ya Pak," ucapku.
Pak Wicak memberikan kunci mobil kepada Kak Baruna lalu berbalik arah meninggalkan kami. Kami menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu.
"Sayang, bagaimana keadaan kakek?" tanyaku cemas.
"Aku tidak tahu tindakanku kemarin akan berakibat seperti ini. Penyakit jantung dan asma kakek kumat. Untungnya aku cepat menemukan kakek yang pingsan di ruangannya."
"Maafkan aku sayang," ujarku sedih.
__ADS_1
"Hei kamu tidak bersalah apa-apa kenapa minta maaf?" Kak Baruna memandang wajahku. Aku memalingkan wajahku malu.
"Tetap saja awalnya ini gara-gara aku. Kamu jangan terus membuatku merasa semakin bersalah." Aku masih mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Kak Baruna menyentuh wajahku dialihkannya hingga aku kembali menatap wajahnya yang tampan itu, "Sheryl sayang, sudah kukatakan sebelumnya kita akan menyelesaikan masalah ini satu persatu. Kamu percaya padaku?"
Aku menarik napasku dalam lalu mengangguk. Kak Baruna menggandeng tanganku berjalan masuk ke dalam lift yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk itu.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku dan kak Baruna berjalan menuju ruang tunggu. Tampak om Anton dan tante Meri duduk di kursi dengan cemas.
Tante Meri bangkit dari duduknya memeluk tubuhku dan mencium kedua belah pipiku. Wajahnya tampak sedih menatapku. Kak Baruna lalu duduk di samping ayahnya.
"Terima kasih sudah datang, Nak," kata tante Meri.
" Iya Tante. Sabar ya Tante. Semua akan baik-baik saja. Semoga kakek cepat pulih."
"Iya sayang. Itu pun menjadi harapan kami. Tante juga sudah menghubungi Reynand untuk datang."
"Loh Bun kenapa menghubungi dia?" tanya kak Baruna.
"Bagaimana pun dia juga adalah cucu kandungnya. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Darah daging tidak akan pernah menjadi bekas darah daging, bukan? Ayahmu harus segera menghilangkan egonya," jelas Tante Meri bijak.
Aku menoleh ke arah om Anton yang hanya diam mendengar kata-kata istrinya. Entah apa yang terbesit di benaknya. Tidak terlihat menolak maupun mengiyakan. Aku paham dengan perasaannya yang mungkin saja masih gengsi untuk memaafkan masa lalunya.
"Ayah sudah lihat kakek?" tanya kak Baruna.
"Sudah barusan. Dia belum boleh dikunjungi oleh banyak orang. Ayah sangat mengkhawatirkannya sekarang," jawab om Anton.
"Ayah sabar ya. Aku yakin kakek kuat."
"Iya Bar. Ayah sangat mengenal kakekmu."
"Bar, Bunda mau ke bawah dulu. Kamu mau titip apa sayang?" tanya tante Meri.
"Tidak usah Bun, biar aku sama Sheryl saja yang ke bawah. Bunda mau apa?" kak Baruna bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Titip kopi saja," jawab tante Meri singkat.
Aku dan kak Baruna lalu beranjak dari tempat duduk kami dan berjalan meninggalkan kedua orang tua itu menuju lift. Wajah kak Baruna terlihat kalut dengan beban yang sekarang ada di pundaknya. Aku ingin sekali meringankan beban itu. Andaikan dia mengizinkanku sedikit saja masuk ke dalam pikirannya mencari jalan keluar atas masalahnya, aku akan sangat senang.