Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku Mengatakannya


__ADS_3

Reynand Pov


Dua hari kemudian ....


Ini pertama kalinya aku bertemu dengan wanita bernama Felicia. Julian sudah mengaturnya dengan baik. Mempertemukan kami di sebuah kafe dekat dengan gedung Bintang Berlin Media.


Seperti yang terlihat dalam foto yang dikirimkan oleh Julian, dia wanita cantik dan terlihat cerdas. Sambil menyesap espresonya, pandangan matanya berkeliling ke seluruh sudut ruangan lalu terhenti di depanku. Senyumnya menyungging sebentar lalu ia berkata dengan santainya.


"Apa yang membawa seorang direktur Pradipta datang menemuiku?" Seringai wanita itu di depanku.


Aku mengangkat setengah senyum kepadanya. "Siapapun akan penasaran dengan seseorang di balik berita yang tidak menyenangkan itu, 'kan?"


Sesaat kenudian, aku dapat menangkap bola matanya yang tiba-tiba membesar. Tidak lama, hanya sepersekian detik. Felicia dengan cepat mengubah air muka terkejut itu menjadi raut muka datar. Dia mengangkat cangkir espressonya lagi dan menyesapnya.


"Berita apa yang Anda maksud? Saya benar-benar tidak mengerti."


"Memberitakan sesuatu yang tidak sesuai fakta bisa membuat Anda terkena kasus hukum. Saya bisa saja melakukannya. Namun sebelum itu saya ingin tahu motif Anda melakukannya, Ibu Felicia Andita Putri." Aku menatapnya dengan sorot mata tajam. Mengancam wanita itu dengan begitu berani. Aku tidak akan tebang pilih hanya karena dia wanita.


Felicia menggeleng pelan. Membalas sorot tajamku dengan tatapan yang tidak kalah mengancam. Petinggi Bintang Berlin Media itu kemudian menyeringai miring dan menepuk tangannya. Aku makin mengerutkan kening tidak mengerti dengan sikapnya yang seperti itu.


"Saya kagum dengan tindakan Anda ini, Pak Rey, Bahkan seorang Baruna saja tidak terlalu peduli dengan pria yang mencintai dan sedang mengincar istrinya," katanya.


"Apa maksud Anda?!" desisku lalu mengedarkan padangan ke seluruh sudut kafe. Aku takut ada yang mendengar ucapan itu.


"Tidak usah berpura-pura. Semua orang tidak buta. Mereka melihat kenyataannya. Sebelum Sheryl menikah dan sampai sekarang. Anda masih begitu perhatian. Bahkan berani menjamah bibirnya di depan umum." Sekali lagi wanita itu menyeringai licik.


Aku menelan ludah mendengarnya. Sebagian besar ucapan Felicia adalah benar, tapi aku dan Sheryl sangat keberatan dengan tindakannya menaikkan berita tentang kami. Itu hanya akan membuat reputasiku dan reputasinya buruk. Yah, walaupun Baruna tidak terlalu terpengaruh. Entah apa yang Baruna pikirkan.


"Itu urusan saya. Maksud saya menemui Anda adalah untuk tidak membuat Sheryl berada dalam posisi yang sulit. Mereka belum lama menikah. Seharusnya Anda tidak merecoki rumah tangganya."


"Seharusnya Anda yang berkaca, Pak Rey." Dia membalas begitu berani.

__ADS_1


Aku terdiam beberapa saat sebelim akhirnya membalas ucapan itu. "Saya tahu kalau Anda memeluk Baruna di taman RS kala itu."


"Oh ...." Wanita itu tersentak dan terlihat tak bisa membalas.


"Dan ini sangat aneh menurut saya. Saya dengar Anda berteman dengan Sheryl, tapi melihat sikap Anda yang seperti itu kepada suaminya, saya jadi ragu dengan pertemanan kalian. Sangat tidak sehat. Dan saya tidak menyangka kalau Anda dan Baruna ternyata memiliki hubungan pribadi seperti itu.


Felicia menyengih. Dia terlihat sangat percaya diri. "Kalau begitu katakan semua fakta itu kepadanya. Kita lihat, dia lebih percaya kepada Anda atau saya? Saya dengan Anda berbeda. Ada satu hal yang membuat Baruna tidak akan bisa menjauh. Dia harus selalu berhubungan dengan saya!"


Setelah mengatakan hal itu, Felicia bangkit dari duduknya, kemudian tanpa ragu-ragu meraih tas tangannya dan pergi begitu saja dengan langkah cepat.


Aku membelalak. Menyusul wanita itu bangkit berdiri dan berbalik meneriakinya, "Hei! Kembali! Saya belum selesai!"


Felicia menoleh sejenak, membalas perkataanku, "Mengingat posisi kita sama, seharusnya tidak usah saling mengganggu, Pak Rey!"


Felicia kemudian membalik badannya kembali. Ia menjauh dari kafe, meninggalkanku.


"Sial!" umpatku kesal, lalu mencoba mencerna ucapannya. Satu hal yang membuat Baruna tidak akan bisa menjauh darinya.


Apa Felicia sedang hamil? Masa sih, hubungan mereka sudah sejauh itu?


Sheryl Pov


Keesokan harinya ....


Aku tidak tahu yang hendak Reynand katakan. Tiba-tiba dia menyuruhku datang ke kantornya. Padahal aku bilang kepadanya kalau aku sangat sibuk. Reynand tidak peduli. Dia malah bilang aku akan menyesalinya jika tidak datang.


Ruangan Reynand kini ada di depan mataku. Sekretarisnya membukakan pintu, memintaku duduk menunggu bosnya yang sedang pergi ke ruangan sang ibu.


"Mau minum apa, Bu Sheryl?" tanyanya sebelum pergi.


"Air putih saja," jawabku.

__ADS_1


Sekretaris Reynand itu hanya mengangguk lalu pergi dari hadapanku. Aku duduk di sebuah sofa panjang. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada yang berubah dari ruangannya. Seluruh furniture dan letaknya pun tidak ada yang berubah sejak aku meninggalkannya.


Tidak lama, Reynand masuk dengan langkah terburu-buru. Dia langsung menyunggingkan senyumnya begitu melihatku.


"Sudah lama?" tanyanya yang langsung duduk di sampingku.


"Tidak terlalu lama," jawabku datar lalu mengembuskan napas panjang, "ada apa, Rey? Kamu bilang aku akan menyesal jika tidak datang ke sini."


Dia belum sempat menjawab saat tiba-tiba sekretaris itu datang kembali membawa sebotol mineral kecil dan secangkir kopi untuk bosnya di atas nampan, lalu menaruhnya di atas meja kami.


"Terima kasih," kataku yang hanya dijawab anggukan pelan lalu pergi meninggalkan kami. Aku mengarahkan tatapanku kembali pada Reynand. Menunggu ia menjawab semuanya.


"Aku bukannya ingin mencampuri urusan pergaulanmu, tapi sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan Felicia, Sher."


Deg!


Mengapa ucapan Reynand jadi mirip dengan Baruna? Ada apa dengan Felicia?


"Apa yang mendasarimu mengatakan hal itu?" Aku balik bertanya bingung.


"Dia memiliki maksud buruk, Sher. Dia juga adalah orang dibalik berita tentang kita. Meski tidak mengaku secara gamblang, aku rasa pengirim video dan foto itu pun adalah dia."


"Kau diam-diam bertemu dengan Feli?" Aku menyahutnya dengan satu pertanyaan. Sama sekali tidak suka Reynand mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Felicia.


"Untuk apa dia melakukan hal itu kepada kita? Apa kamu memiliki bukti, Rey? Sebaiknya kamu menutup mulut dan jangan menuduh Feli macam-macam. Aku tidak akan memaafkanmu bila kamu tidak memiliki bukti yang kuat."


Aku mulai mengancamnya. Seenaknya saja dia menuduh Felicia seperti itu. Aku yang paling tahu dengan siapa aku bergaul. Bahkan Baruna pun akhirnya menyerah dan membiarkan kami begitu saja. Kenapa tiba-tiba kakaknya ini jadi sangat menyebalkan? Tidak ada angin dan hujan, sekonyong-konyong langsung menuduh sahabatku seperti itu. Tidak ada satu pun alasan yang mendasari Felicia ingin berbuat buruk kepadaku. Kami saling menghargai dan menghormati satu sama lain.


"Ya. Diam-diam aku memang bertemu dengan Felicia. Aku mengatakan semua kecurigaanku. Dia tidak mengelak dan malah menantang."


"Menantang? Apa maksudmu, Rey?" Aku sontak membeliak menatapnya.

__ADS_1


"Aku rasa, dia dan Baruna memiliki hubungan lebih dari sekadar teman. Dia juga bilang kalau Baruna tidak akan pernah bisa jauh darinya."


Deg!


__ADS_2