
Baruna Pov
Aku duduk termenung seorang diri di ruang tunggu. Bunda sudah tiba sejak semalam. Dia terus menangis dan saat ini sedang berada di dalam melihat perkembangan keadaan Ayah.
Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan cepat. Tidak lama pintu ruang intensif itu terbuka. Bunda terlihat di sana. Aku langsung bangkit menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Ayah, Bun?" tanyaku cemas. Bagaimana tidak? Sejak kemarin Ayah belum juga siuman.
Bunda menggeleng pelan. "Belum ada perkembangan, Nak."
Aku kembali bernapas panjang lalu merangkul Bunda, mengiringnya untuk duduk di sampingku.
"Maafkan aku, Bun," ucapku.
Permintaan maaf itu meluncur begitu saja dari bibirku. Aku sungguh menyesal meninggalkannya kemarin. Ayah pasti sangat kecewa dan marah hingga serangan jantung itu kembali datang sejak terakhir ia merasakannya jauh sebelum Sheryl menerimaku.
"Mengapa kau terus meminta maaf?"
Aku beranjak dari duduk dan berlutut di hadapan ibu kandungku. Air mata yang tertahan sejak kemarin pun tak bisa kubendung lagi. Luruh begitu saja tanpa kuperintahkan. Aku menunduk, sangat menyesal.
"Semuanya terjadi karena diriku. Sebagai anak, aku telah mengecewakan kalian. Memiliki anak di luar nikah yang tak kuperkirakan sama sekali. Maaf, sungguh aku minta maaf, Bun."
"Semua sudah terjadi, Nak ...." Bunda terdiam cukup lama, lalu aku mendengar sedikit isak tangisnya. Tak lama, ia melanjutkan perkataannya, "Jangan sampai kau menyesal seperti ayahmu walau Rey memaafkannya tapi Bunda tahu kegelisahannya selama ini. Kau tahu, Rafael pun berhak mendapatkan kasih sayang ayah kandungnya."
Begitu pengecutnya aku hingga tak sanggup melihat air muka Bunda saat ini. Hanya menunduk dan mendengarkan perkataannya yang menusuk relung hati.
"Lalu mengenai Sheryl ...." Bunda tiba-tiba menggantung perkataannya. Aku sontak mengangkat wajahku menatap Bunda.
"Tadinya aku tidak ingin dia tahu karena dia sedang hamil. Aku tidak ingin membebankan pikirannya dan membiarkan hal ini menjadi urusanku. Kemarin saat bertemu Felicia, aku teringat kepada Sheryl. Rasa bersalah lalu merasuki hatiku karena sudah menyembunyikan ini semua. Aku ingin pulang dan mengatakannya, tapi Ayah tiba-tiba ...."
Aku menggeleng pelan. Menarik wajahku menjauh dan menatap ke arah lain. Air mata ini terus menggelinang, luruh, dan tanpa ampun. Seketika mengangkat lenganku dan menggigit punggungnya. Menahan suara isak tangis yang mungkin akan mengganggu pengunjung lain di rumah sakit ini.
"Duduklah! Tidak enak dilihat orang lain." Bunda tiba-tiba menyuruhku untuk duduk. Aku menyeka air mataku cepat-cepat dan patuh kepadanya. Berpindah posisi dan duduk kembali di sampingnya.
__ADS_1
"Bar, kita tidak bisa terus menyembunyikannya seperti saat menyembunyikan surat perjanjian hutang itu. Mengingat kondisi Rafael yang tidak bagus, kau harus mengatakan hal ini secepatnya. Suka atau tidak suka, Sheryl harus menerima kenyataan ini. Rafael adalah anakmu."
Aku hanya bisa mengigit bibir, mendengar kalimat terkahir Bunda. Sebuah kenyataan yang tidak bisa diubah. Waktu tidak mungkin kembali berputar hanya untuk membela dan mengubah nasibku.
"Sebenarnya, aku lebih takut Sheryl kecewa dan membenciku. Aku takut kehilangan dia, Bun."
"Sudah terlanjur, kau bisa apa? Bunda dan Ayah juga kecewa, tapi ini kecelakaan. Kau pun tidak memiliki hubungan istimewa dengan wanita itu."
Mendengar ucapan Bunda membuatku hanya bisa menelan ludah. Banyak berbicara membuatnya kering seperti gurun pasir yang tandus. Aku lalu mengambil ponselku dari saku dan mengetikkan sesuatu.
[Selamat pagi, Sayang. Sudah bangun, belum?]
***
Reynand Pov
Restoran Hotel B, Tokyo.
"Iya, Kay. Aku cuma sebentar. Hari ini atau besok juga pulang," kataku sambil melirik ke arah Sheryl yang sedang menikmati sarapannya. Dia balas melirik dengan cengiran sedikit meledek.
"Iya. Mengapa kau sangat berisik, sih?"
"Wajar kalau wanita berisik. Yang tidak wajar itu pria–"
"Sudah! Sudah! Kututup ya teleponnya?" Aku memotong perkataan Kayla.
"Haish! Dasar pria menyebalkan! Jangan lupa sampaikan salamku untuk seluruh keluarga Asyraf yang ada di sana."
"Iya."
Tut!
Aku langsung memutus telepon Kayla. Heran sekali dengannya. Ini baru pukul tujuh pagi waktu Tokyo, sua jam lebih cepat dari Jakarta, dan dia sudah menelepon sepagi ini.
__ADS_1
Aku bernapas panjang, meletakkan ponselku di atas meja. Pandanganku lalu mengarah pada Sheryl yang beralih memakan sepiring kecil buah di hadapannya. Manik mata yang indah tak juga beralih dariku. Yang paling menyebalkan dia masih menyengih meledek.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?" Aku balas memasang wajah cemberut untuknya.
"Rey ... Rey ... mengapa kau tidak pacaran saja sih dengan Kayla?" Dia balas bertanya sambil menggeleng pelan.
Dan aku membalas pertanyaan itu dengan pertanyaan seraya menunjuk diriku di hadapannya. "Kau ingin aku berpacaran dengannya?"
"He-em. Kalian itu cocok. Cantik dan tampan. Hubungan keluarga kalian juga baik. Apalagi yang sih yang kau pikirkan? Nanti Kayla keburu ada yang ambil, loh," sahutnya sambil terkekeh.
Aku terdiam sejenak mendengar perkataannya. Walau mengekeh, raut wajahnya tak bisa berbohong. Ada sesuatu yang membebaninya.
Aku sedikit kecewa. Mudah sekali bagi Sheryl menyuruhku berpacaran dengan Kayla. Seharusnya dia memikirkan nasib pernikahannya saja yang sedang dipertaruhkan saat ini. Aku sangat yakin Sheryl akan sangat kecewa jika mengetahui Baruna memiliki wanita idaman lain. Tapi memang ... Bodoh dan polos itu sangat tipis perbedaannya saat jatuh cinta. Seperti aku yang mengawalnya pergi jauh dengannya seperti ini.
"Jika kau yang mengenalku lebih dulu daripada Baruna, apa kau akan memilihku?" Pertanyaan itu meluncur dengan cepat dari bibirku. Sungguh! Aku penasaran dengan jawabannya.
Sheryl yang sedang terkekeh langsung menghentikan tawanya. Dia tampak kikuk ditanya seperti itu. Cepat-cepat meraih sepotong semangka dengan garpunya. Namun saat hendak memasukkan potongan buah itu ke dalam mulut, aku meraih pergelangan tangannya.
"Bisakah kau memberiku jawaban lebih dulu sebelum memakan buah itu?"
Perlahan Sheryl meletakkan garpunya kembali ke atas piring. Dia tampak mengembuskan napas panjang. Menatapku dengan air mukanya yang serius.
"Rey, aku sudah menikah dan sedang mengandung. Apa yang kau harapkan dari kondisiku seperti ini? Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakan perasaanmu? Atau kau malah ingin aku berpisah dengan Baruna?"
Deg!
Astaga! Apa yang barusan kukatakan? Kau baru saja membuat Sheryl marah!
Aku mengumpat dalam hati. Sheryl mengubah air mukanya, berubah cemberut. Dengan cepat ia bangkit berdiri.
"Aku sudah selesai. Aku akan pergi ke rumah sakit sekarang!" katanya segera meraih tas tangannya. Tanpa kata-kata lagi wanita itu bergegas pergi meninggalkanku.
Aku terdiam, mematung. Sibuk menyalahkan diriku sendiri yang tak sabar. Mataku memejam sambil terus mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya.
__ADS_1
"Kau memang pria bodoh, Rey! Sekarang dia benar-benar pergi!" sesalku dalam gumaman.