
"Tambah lagi, Bar!" Andra menodongkan segelas bir di hadapanku.
Aku menggeleng pelan. Rasanya sudah sangat mabuk. Pandangan mata pun terasa sangat kabur. Padahal apartemen Frans sudah semakin ramai oleh hadirnya sekitar sepuluh orang mahasiswa Indonesia yang sedang merayakan kelulusan pasca sarjana mereka.
Mataku mengerjap melihat sekeliling. Beberapa ada yang menari dengan semangat diiringi oleh musik yang berdentam hebat seperti bunyi meriam yang hendak meledakkan dada.
Aku bangkit berdiri. Rasanya tubuhku sangat panas. Keringat terus mengucur deras seperti sedang melakukan olahraga. Aku merasa ada sesuatu yang salah.
Andra yang duduk di sampingku sontak ikut berdiri. "Mau ke mana, Bar?"
"Toilet. Di mana toiletnya?" tanyaku.
"Kuantar!" sahutnya, tapi aku menolak. Dia pun mengalah dan memberi tahu di mana letak toilet itu.
Frans memang bukan anak dari sembarang pasangan. Apartemennya cukup mewah dan luas. Sang empu apartemen sejak tadi berjoget di depanku bersama beberapa wanita yang tidak terlalu kukenal. Pria itu tidak merasakan lelah sama sekali karena tidak juga berhenti berjoget untuk sekadar beristirahat atau meminum sesuatu.
Aku membuka jas yang sejak beberapa saat lalu terasa begitu menyesakkan dan membuat tubuku terasa sangat gerah. "Apa aku terlalu banyak minum?" gumamku lalu menatap sebuah cermin wastafel di depanku.
Pantulan air muka di sana bukanlah seorang Baruna yang sedang bahagia karena kesuksesannya dalam menempuh pendidikan, melainkan pancaran air muka menyedihkan yang membuatku gila. Aku menghela napas berat.
Sheryl, mengapa kamu begitu tega? Mudah sekali bagimu memutuskan masa depanmu sendirian saja.
Aku menghidupkan keran dan mulai mencuci muka. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar beserta seorang gadis yang berteriak.
"Hei! Siapa di dalam?!"
Aku bergegas membuka pintu. Felicia—seorang wanita cantik dari angkatan yang sama berdiri di depanku. Tanpa aba-aba, gadis itu menerobos masuk dan terduduk di depan toilet duduk. Memuntahkan isi perutnya di sana. Bau muntahannya membuatku sedikit mual. Namun, entah mengapa aku malah berbalik arah dan membantunya mengurut leher belakang agar ia lebih mudah memuntahkan semuanya.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanyaku sedikit meracau, lalu menekan flush toilet.
"Tidak. Terima kasih," sahut Felicia sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu berusaha untuk bangkit dari duduknya. Tubuhnya yang limbung memperlihatkan dirinya yang mabuk, sama sepertiku.
"Ya sudah, aku pergi." Aku membalik tubuh berjalan terhuyung keluar toilet. Tepat di depan pintu toilet, langkahku terhenti. Kedua tangan wanita itu melingkar dari belakang. Sontak aku memutar tubuh ke belakang. "Apa yang kau la–"
Belum sempat meneruskan kalimat, Felicia membungkam dengan bibirnya. Dia menciumku. Entah sengaja atau bukan, wanita itu menempelkan bibirnya tanpa malu-malu, bergerak dengan begitu bersemangat. Aku yang terkejut hanya bisa membelalak, lalu terbawa permainannya. Entah mengapa, aku sangat menikmatinya. Sentuhan wanita yang saat ini membuatku begitu berhasrat.
Selang beberapa saat, tanpa sengaja aku melihat Frans datang bersama kekasihnya. Memergoki kami yang berciuman. Keduanya saling pandang dan menyeringai.
"Astaga! Mengapa kalian berciuman di sini?"
__ADS_1
Aku sontak mendorong Felicia. Ciuman kami pun terhenti. Kehadiran mereka membuatku salah tingkah. Wanita itu menatap dengan heran. Aku pun mulai mengerjap dan menyadari ada yang salah.
"Ma-maaf, seharusnya aku tidak melakukannya," kataku yang langsung memutar tubuh hendak pergi dari tempat itu.
Felicia tersenyum. Dia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bar. Kau tidak salah. Aku yang memulainya. Sudah sejak lama aku menyukaimu."
Langkahku yang terhuyung pun terhenti. Perkataan Felicia membuatku teringat kepada Sheryl. Wanita satu-satunya bagiku saat itu.
Andai ucapannya barusan adalah perkataan Sheryl. Aku pasti akan sangat senang.
Namun, aku berusaha untuk terus tersadar dari pengaruh alkohol. Helaan napas berat keluar dari mulutku, lalu terdiam tanpa jawaban. Berada di tempat itu bersama ketiga teman mahasiswa Indonesia membuatku tidak bisa sembarangan berbicara. Hal seperti ini akan membuat sebuah gosip semakin menarik.
"Fel, aku sep–"
Belum selesai perkataanku, Frans menyela. "Hadeh! Bar, ikut aku!"
Pemuda itu menarik tanganku. Entah akan membawa ke mana. Aku yang tak mampu melawan, mengikutinya.
Di antara sadar dan tidak sadar, Frans membawaku masuk ke dalam sebuah kamar. "Tunggu di sini!" katanya, lalu menoleh ke luar kamar. Tidak lama, kekasihnya dan Felicia datang menghampiri kami.
"Fel, kau dan Baruna sebaiknya berada di sini." Kekasih Frans mengedipkan matanya.
Aku meraba kemeja dan celana mencari-cari ponselku, tapi tidak ada di sana. Teringat kalau benda itu berada di dalam jas yang kutinggalkan di dekat wastafel.
"Haish! Mengapa ponselnya malah ketinggalan?" keluhku kesal lalu mengarahkan pandangan kepada Felicia. "Pinjam ponselmu!"
"Tidak bawa," sahutnya.
"Kita harus mencari bantuan. Mereka mengunci kamarnya."
"Apa? Terkunci?" Felicia melebarkan bola matanya, tapi hanya sebentar. Air mukanya lalu terlihat biasa saja.
Aku mengangguk, kemudian duduk di tepi tempat tidur. "Mengapa jadi panas sekali?" Aku mengibaskan kerah kemejaku. Melihat ke sekeliling ruangan dengan AC yang menyala.
Apa AC-nya rusak?
"Bar, bagaimana kalau kita minum?" Felicia berjalan membawa dua buah gelas tinggi dengan anggur merah di dalamnya. Entah dari mana ia mendapatkan minuman itu.
"Tidak, terima kasih." Aku menolak.
__ADS_1
"Kenapa? Sejak pesta tadi aku memperhatikan raut wajahmu yang terus terlihat sedih. Walau pernyataanku tadi belum kau jawab, aku harap kau mau menceritakan kesedihanmu," Felicia menyodorkan gelas anggurnya. Tidak bisa menolak lagi, aku pun menerimanya. Saat ini aku memang butuh teman untuk berbagi.
Singkat cerita, aku terbangun di pagi hari dengan tubuh polos di balik selimut abu-abu milik Frans. Hanya aku, tidak ada Felicia di sana. Entah ke mana gadis itu pergi.
"Pak?" Suara Pak Wicak tiba-tiba terdengar membuyarkan ingatanku dengan cepat.
"Ya, Pak?" Mataku berkelebat berujung ke arahnya.
"Kita sudah sampai."
Aku mengangkat wajah, melihat ke depan. Gedung Kusuma Corporation sudah di depan mata. Segera kubuka pintu mobil dan berjalan masuk menuju ruangan Sheryl di lantai tujuh.
"Siang, Pak Baruna!" Viona sontak berdiri menundukkan kepalanya menyapa, saat aku berjalan melewati mejanya.
"Siang. Bu Sheryl ada?"
"Sebentar, saya panggilkan!" Viona hendak beringsut dari mejanya, tapi aku segera mencegahnya.
"Tidak usah. Biar saya yang masuk saja. Sekarang sudah sangat telat. Dia pasti sedang kesal. Sebaiknya kau tidak mengganggunya," sahutku yang sangat yakin kalau istriku memang sedang merasa kesal karena menunggu terlalu lama.
Viona mengangguk. Dia kembali duduk di mejanya. Tanpa aba-aba, aku membuka handel pintu ruangan Sheryl. Benar saja! Wanita cantikku sedang menekuk mukanya sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Sayang, ayo kita ke dokter!" kataku semringah.
"Lama sekali! Aku rasa, dokternya sudah selesai," sahutnya menyindir begitu dingin.
Aku melirik arlojiku yang menunjukkan pukul setengah dua. Kedua rahangku beradu memperlihatkan senyum menyesal ala pasta gigi di depannya.
"Maaf, Sayang. Tadi meeting-nya agak lama." Aku memutar kursinya hingga kami saling berhadapan, memandang. Namun dengan cepat ia melengos, membuang wajahnya. "Sayang, maafkan aku," kataku lagi.
Sheryl tidak menjawab. Sepertinya, ia benar-benar marah. Aku merundukkan setengah tubuh, meraih dagunya dan kembali menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Istriku, suamimu ini sudah datang menepati janji walau telat. Maafkanlah dia."
"Huh!" dengusnya masih menyiratkan kekesalannya.
"Kamu kalau sedang marah masih cantik saja. Aku tidak tahan untuk tidak menggodamu," kataku segera mendekatkan wajah, hendak menciumnya. Namun dia cepat-cepat menarik wajahnya, menolak ciumanku. Wajahnya masih saja cemberut.
"Aku lapar," katanya tiba-tiba yang langsung membuat kedua sudut bibirku terangkat.
__ADS_1