
Sheryl POV
Sore hari aku berdiri di balkon kamar. Merasakan angin sepoi-sepoi yang terus menerpa. Aku memandang nanap taman belakang kediaman Asyraf. Terlihat sepi tak nampak kehidupan.
Biasanya melihat tempat itu selalu membangkitkan kenangan di antara aku dan Baruna. Dari kecil, remaja, lalu tumbuh dewasa dan menjadi pasangan sampai saat ini. Berbeda dengan sore ini, taman itu seperti tidak ada artinya lagi. Sejak tadi melihatnya terus membuatku teringat dengan Reynand. Aku sungguh sangat bersalah kepadanya. Keadaannya belum juga membaik sejak terakhir Baruna menelepon Tante Aina menanyakan keadaannya.
Tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan yang memelukku dari belakang. Aku menoleh, dan mendapati wajah suamiku yang bersandar pada bahu.
"Masih memikirkannya?" tanya Baruna melirik kepadaku.
Aku mengangguk pelan. Rasanya tidak mungkin tidak memikirkan keadaan Reynand. Aku yang mengakibatkan ia kembali jatuh sakit.
"Kelihatannya kamu sangat mengkhawatirkan Reynand," kata Baruna lagi lalu menciumi leherku.
"Sayang, ini bukan saatnya," sahutku menolak tindakannya yang tiba-tiba itu lalu memutar badanku hingga wajah kami kini saling berhadapan menatap.
Cukup lama aku menatap matanya tanpa kata yang terucap. Otakku kosong begitu saja di hadapan suamiku sendiri.
Baruna menarik napas panjang. "Istirahatlah. Kamu bahkan belum menyentuh makan siangmu," ucap Baruna lagi.
Aku memandangnya dengan mata yang bergetar. Teringat lagi bagaimana Tante Aina terus menyalahiku bersama ucapannya yang sangat pedas. Kakiku menjadi lemas mengingatnya dan hendak jatuh terduduk jika Baruna tidak bergegas memegangi tubuhku.
"Sa-Sayang!" panggilnya cemas, tapi aku malah menangis sejadi-jadinya.
Maaf. Maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa jadi seperti ini?
Baruna memeluk dengan erat, lalu menggendongku menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Tenanglah. Kamu beristirahat saja, Sayang," ucapnya lalu meraih ponselnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku dengan mata membelalak.
"Menghubungi Tante Aina agar kamu bisa tenang. Aku akan menanyakan keadaannya sekarang," katanya lagi.
Aku mengangguk pelan. Baruna kemudian menelepon Tantenya itu. Tidak lama, ia pun mengakhiri panggilannya. Matanya menatapku dengan penuh keraguan.
"Bagaimana? Bagaimana keadaannya, Sayang?" tanyaku tidak sabar.
"Baru saja sadar, tapi ia terus memanggil namamu," jawabnya dengan nada datar.
__ADS_1
"Rey ...," gumamku tanpa berkomentar.
"Aku jadi semakin yakin kalau ia masih memiliki hati untukmu," ujar Baruna dengan air muka kecemburuannya.
"Sayang ...." Aku tidak bisa berkata apa-apa karena semua yang baru saja Baruna katakan benar adanya. Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Tapi, aku istrimu dan sebentar lagi kita punya anak." Aku mengelus perut yang di dalamnya sedang bertumbuh sesosok manusia keturunan kami.
Baruna tersenyum, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terulur membelai rambutku secara tiba-tiba. Tatapan matanya menjadi aneh. Seperti orang yang tidak suka jika kebahagiaannya direnggut. Padahal aku masih bersamanya. Tidak mengkhianatinya. Masih mengandung benihnya.
"Ya. Kamu milikku. Anak dalam kandunganmu juga milikku. Tidak ada orang lain yang dapat merebut kebahagiaan ini, Sayang," katanya.
Walau sedikit bingung, aku hanya bisa mengangguk pelan. Baruna dengan segera memelukku sangat erat, kemudian membisikkan kata cintanya berkali-kali.
***
Baruna POV
Tiga hari kemudian di sebuah kafe lobi rumah sakit ....
Tanganku terus gemetar saat membaca sehelai kertas yang kudapat dari laboratorium rumah sakit. Semuanya cocok. Rafael—anak laki-laki yang Felicia katakan kemarin benar-benar anakku.
Lalu, apa yang harus aku katakan kepada Sheryl? Seketika, kiamat terlihat di depan mata.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku seperti orang kikuk.
"Bagaimana, huh?" Felicia memperlihatkan segaris senyumnya lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan perkataannya, "tentu saja kau harus bertanggung jawab, Bar."
"Fel, apapun akan kuberikan asal Sheryl tidak tahu mengenai hal ini. Aku bisa membiayai seluruh biaya pengobatan Rafael ke manapun kau mau, tapi jangan rusak rumah tanggaku," kataku sedikit memohon.
Felicia kembali mengulas senyumnya. "Rumah tanggaku saja sudah kandas. Masa sih, kau meminta hal sebaliknya? Jadi tidak fair, dong?"
Aku menelan ludah mendengar perkataannya. Ini bukan salahku. Ini salah dia yang seenaknya menghilang dan muncul begitu saja. Aku tidak rela jika hal ini membuat rumah tanggaku berantakan. Terlebih Sheryl sedang mengandung.
"Lalu apa yang kau inginkan, Fely?" tanyaku gemas. Ingin rasanya menyudahi pembicaraan yang membuat dadaku sesak.
"Selain pengobatan terhadap Rafael, aku ingin kau menceraikan Sheryl. Setelah David pergi, aku ingin keluarga yang utuh untuk anakku. Rafael butuh sosok ayah kandungnya," jawab Felicia dengan begitu entengnya.
"Apa kau sudah gila?!" Aku sontak bangkit berdiri dan hampir berteriak di depannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!"
"Terserah saja, tapi aku bisa membuat hal ini menjadi besar. Dan asal kau tahu, Sheryl tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintai Reynand, saudara tirimu."
__ADS_1
Bola mataku seketika melebar menatapnya. Apa lagi yang ia katakan, Ya Tuhan? Perkataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
"Itu urusanku!"
"Urusanku bila sudah menyangkut dirimu! Aku sangat peduli denganmu, Bar!" Wanita di hadapanku ini ikut bangkit dari duduknya.
Napasku hampir tertahan melihatnya. Aku sangat muak dengan pembicaraan ini. Kelihatannya Felicia hanya memedulikan urusannya sendiri. Dengan gampangnya berkata kalau Sheryl tidak mencintaiku. Dia pikir dia siapa, huh?
Aku menghela napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah kartu yang langsung kuletakkan di atas meja. "Pakai kartu itu untuk membawa Rafael berobat ke luar negeri," kataku.
Felicia melirik sesaat lalu mengalihkan perhatiannya lagi. "Hanya ini bentuk tanggung jawabmu?"
"Kabari aku jika kau sudah menemukan rumah sakit yang cocok. Sebisa mungkin, aku akan membantumu mengurus semuanya," ucapku akhirnya memberinya keputusan.
Felicia hanya diam. Setelah mengatakan hal itu, aku pun pergi dari hadapannya. Sungguh, ini bkn yang kuinginkan. Kehidupanku dan Sheryl baik-baik saja sebelum dia menampakkan wajahnya di depanku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Sheryl menelepon. "Ya, Sayang?"
"Aku sudah di rumah sakit. Kamu di mana, Sayang?" Suara Sheryl yang lembut terdengar jelas makin menyadarkanku kalau aku tidak bisa hidup tanpanya.
"Lobi," jawabku singkat lalu berjalan cepat menuju lobi.
Dari jauh, Sheryl berjalan sendirian. Kami memang sepakat bertemu di rumah sakit saat jam makan siang untuk menjenguk Reynand. Tante Aina bilang, kondisinya sudah lebih baik dari tiga hari yang lalu.
Aku mempercepat langkah dan memeluknya. Sheryl menatapku begitu heran. "Ada apa?"
"Apanya?" tanyaku balik.
"Kamu tiba-tiba memeluk di tempat umum begini," sahutnya.
"Kangen." Aku tersenyum.
"Itu apa di tanganmu?" tanya Sheryl tiba-tiba melirik sebuah amplop yang kugenggam.
Deg!
"Ini ...." Kulirik amplop yang berisi hasil tes DNA-ku dan Rafael. Aku terdiam, tidak bisa langsung menjawab.
***
__ADS_1
Hola! Maaf menunggu lama. Ehm, tapi apa ada yang nunggu? Hahaha. Aku baru selesai isolasi mandiri. Copid mampir juga ke badan. Gak enak bgt kalo sakit gaes. Gak bisa nulis. Semoga terhibur dengan bab ini. Kalau gak puas, tungguin lagi lanjutannya. Hahaha.