Marriage Order

Marriage Order
S3 Mencari Perlindungan


__ADS_3

Reynand Pov


"Minumlah!"


Aku menaruh secangkir teh chamomile di atas meja. Sheryl mendongak, lalu menggerakkan bola mata mengikutiku yang segera duduk di hadapannya.


"Rey …," ucapnya dengan kalimat yang menggantung seolah ragu untuk menyahutku.


"Minum dulu. Teh itu akan membantumu meringankan pikiran," kataku lagi menyuruhnya minum. Sejak datang Sheryl tidak berhenti melelehkan air matanya. Dan baru beberapa saat yang lalu ia bersedia menghentikan tangisnya.


Sheryl mengangkat cangkir dan mendekatkannya dekat dengan hidungnya yang bangir. "Chamomile?"


"Ya. Itu teh chamomile. Kayla memberikannya beberapa minggu yang lalu, tapi aku jarang meminumnya. Alkohol lebih menarik," jawabku dengan seulas senyum.


Sheryl hanya diam, lalu menyesap teh itu. "Terima kasih, Rey," katanya sambil mengembalikan cangkir ke atas meja. Dia memasang senyum kaku kepadaku. Mungkin karena suasana hatinya belum sepenuhnya membaik. "Sebaiknya kau mengurangi kebiasaan burukmu."


"Setelah sembuh, aku sudah jarang menyesap rokok."


"Maksudku alkohol," sanggahnya.


Mendengar perkataan Sheryl membuatku terdiam beberapa saat. "Ya, baiklah. Jika itu yang kau mau," sahutku akhirnya.


Sheryl mengangkat kedua sudut bibirnya. Kali ini terlihat lebih tulus. "Bukan untukku, tapi untukmu."


"O-okay," sahutku manggut-manggut dengan senyum yang tersungging untuknya, "hei! Mengapa jadi membahas diriku?"


Wanita itu mendengus lalu mengekeh. "Tak bolehkah?"


"Bukan. Tentu saja boleh. Aku menyukai dirimu yang memperhatikanku," sahutku. Sepintas aku melihat pipinya yang langsung memerah, tapi bukan itu poin utamanya sekarang.


"Maaf mengganggumu pagi-pagi. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah ini. Hanya saja di tengah perjalanan, aku merasa tidak dapat menahannya lagi hingga menuntunku datang ke sini," ucapnya tiba-tiba.


"Aku sudah bilang sebelumnya kepadamu, 'kan? Kau bisa mengandalkanku kapan saja. Lagipula, kau sendiri yang mengatakan kalau kita berteman."


"Aku sangat malu. Sungguh! Dan pelukan itu ... seharusnya kau tidak melakukannya." Sheryl menjawab dengan pandangan menyesal.


"Aku menyayangimu. Apa alasan itu tidak cukup untukmu?"


"Rey, aku benar-benar tidak bisa membalasnya," sahutnya.


Aku menyadari Sheryl yang tidak nyaman membahas tentang kami. Dengan cepat, aku pun mengalihkan pembicaraan, "Sudahlah. Lupakan hal itu. Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih sekarang. Kesedihanmu ini pasti masih ada kaitannya dengan Baruna, 'kan?"


Sheryl langsung menjawabnya dengan anggukan. Air mukanya yang sedikit tenang kembali bersedih.


"Situasiku semakin rumit, Rey," katanya yang langsung membuat pandanganku membulat fokus kepadanya.


Perlahan, Sheryl mulai bercerita. Peristiwa itu terjadi tadi malam hingga pagi ini. Keluarganya akhirnya tahu permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Baruna. Papanya memang membelanya, tapi juga menyalahkannya karena dekat denganku. Situasi itu semakin parah saat Baruna mengatakan akan kembali ke Indonesia. Namun ia tidak sendiri. Baruna akan membawa wanita dan anak kandungnya untuk tinggal bersama mereka. Parahnya, Ayah dan Tante Meri malah menyetujui ide gilanya.


Perkataan Baruna kepada Sheryl benar-benar membuatku meradang. Jantungku bergemuruh tak tahan mendengar cerita itu. Tampaknya ancamanku merebut Sheryl tak didengarkan sama sekali oleh Baruna.

__ADS_1


"Benar-benar! Apa dia sudah gila?!" Aku mendengus kesal.


"Rey ...."


"Maaf, tapi ini sudah keterlaluan, Sher. Apa kau bisa menerimanya begitu saja?"


"Tidak." Sheryl menggeleng, "tapi kemarahanku sepertinya tak akan berarti untuk dia. Anak itu dan Fely telah mengubah dirinya, Rey."


Sial! Apa Baruna tidak memikirkan perasaan Sheryl sama sekali?!


Tubuhku seketika menengang. Aku bangkit dari dudukku. Menatap tajam ke arahnya. "Kalau begitu, ikut aku sekarang!" kataku.


"Ke mana?" tanya Sheryl tampak bingung menatap.


"Bertemu Ayah dan Tante Meri."


"Untuk apa, Rey?"


"Bagaimana bisa mengizinkan dua orang itu masuk ke keluarga kalian begitu saja?! Aku sungguh menyesal. Kalau tahu jadi seperti ini, aku benar-benar tidak akan pernah melepas-"


"Rey, tolong jangan membahas masa lalu," katanya yang langsung berhasil mengunci mulutku. Sheryl kemudian meneruskan perkataannya, "Aku rasa kau sangat tahu bagaimana watak ayah, Rey. Tidak akan mudah mengubah keputusan itu. Dan lagi, rasanya aku cukup lelah hingga tak ingin ada ribut-ribut dengan Ayah dan Bunda."


"Tapi kau menangis di depanku. Aku tidak bisa diam saja! Sebagai orang tua, mereka harusnya lebih mengerti posisimu!" protesku tidak terima dengan ucapan Sheryl yang seolah pasrah menerima hal itu.


"Dan sebagai menantu yang mencintai anaknya, mereka mengharapkan sesuatu dariku."


"Maksudmu?"


Deg!


Aku tak habis pikir. Keluarga mereka benar-benar sinting!


Kami sama-sama mematung seribu bahasa setelah pembicaraan itu. Suasana di ruang tamu akhirnya menjadi hening. Aku tak bisa berkomentar banyak. Jika Baruna sudah tiba di Jakarta, mungkin aku akan menghajarnya habis-habisan.


Keheningan kami mendadak terpecah oleh suara dering ponsel Sheryl. Dia meraih ponselnya dari dalam tas. Namun Sheryl hanya menatap layar tanpa menjawab panggilan hingga deringnya berhenti dengan sendirinya.


"Rey, sebaiknya aku pergi sekarang," katanya tiba-tiba seraya memasukkan ponselnya kembali.


"Pergi ke mana?" tanyaku.


"Kantor. Papaku baru saja menelepon. Sepertinya ia curiga karena aku belum juga tiba, padahal tadi pergi lebih dulu."


"Kuantar, ya?"


"Tidak usah. Aku membawa mobilku sendiri," tolaknya.


Aku mengangguk mengerti, tak bisa menghentikannya. "Kalau begitu, kuantar sampai parkiran."


Sheryl menarik segaris senyumnya, lalu mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


***


Sheryl Pov


Waktunya pulang. Aku menunduk, membereskan barang-barang. Rasanya malas untuk pulang ke rumah. Hari ini sudah dipastikan kalau aku akan bertemu dengan Baruna.


Brak!


Aku tersentak dan langsung mengangkat wajah tatkala pintu ruanganku terbuka dan Kak Reza dengan gagahnya menerobos masuk dengan wajahnya yang menekuk. Dia kemudian berdiri menatapku dengan pandangannya yang tajam.


"Apa benar semua yang Papa katakan?!" tanyanya, tanpa memberiku waktu untuk protes karena telah membanting pintu.


Bahkan secepat itu berita tentangku menghampiri Kak Reza. Padahal tadi pagi aku sudah berpesan kepada Mama.


"Memangnya apa yang Papa katakan?"


"Baruna. Dia mempunyai anak di luar pernikahan," ucapnya lagi.


Aku mengangguk pelan. Kak Reza tampak sangat marah. Seketika menggebrak meja dengan tangannya.


"Cih! Mengapa ia tidak pernah membahasnya?! Benar-benar sial!" umpatnya dengan nada marah.


"Mas Bar belum lama mengetahuinya."


"Tetap saja! Dia benar-benar tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Apa dia masih menganggapku sahabat, huh?!"


"Ia tidak akan mengatakannya jika tidak terdesak."


Aku segera meraih tas dari atas meja. Berjalan menuju pintu. Namun langkahku tertahan karena Kak Reza menarik tanganku.


"Sheryl, maafkan Kakak kalau selama ini Kakak jarang memperhatikanmu. Mulai sekarang jangan pernah memendam masalahmu sendiri. Mulai sekarang Kakak akan selalu membelamu."


Mendengar kalimat Kak Reza membuat air mataku kembali meleleh. Namun aku hanya bisa mengangguk dengan posisi membelakanginya. Sungguh tak tahan untuk menoleh dan menatapnya.


"Kau jangan pulang sendirian.Kakak akan mengantarkanmu."


"Bukannya Kakak dan Papa ada meeting dengan klien pukul tujuh?" Aku melirik arlojiku yang menunjukkan pukul lima sore.


"Semua bisa diatur, Sher."


Kak Reza begitu memaksa. Aku tidak bisa menolaknya sama sekali. Akhirnya ia pun mengantarkanku pulang.


.


.


.


Dua puluh menit kemudian ....

__ADS_1


Pandanganku sontak membelalak saat melihat sebuah mobil yang kukenal terparkir di halaman rumah. Kak Reza yang juga melihat, segera menghentikan laju mobilnya tepat di sampingnya. Dengan terburu-buru, ia membuka pintu. Berjalan tergopoh dengan air muka penuh amarah.


__ADS_2