Marriage Order

Marriage Order
S3 Selamat Ulang Tahun, Rey


__ADS_3

Reynand Pov


Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar sembari menyeret koper kecil. Melihat ke sekeliling lorong yang sepi. Tak ada satu pun orang yang terlihat keluar dari unit apartemen. Tentu saja, orang-orang lebih memilih keluar dari kediaman mereka untuk menikmati akhir pekan. Sementara aku? Tak peduli dengan akhir pekan, sejak kemarin aku berada di luar kota untuk urusan perusahaan dan baru saja tiba minggu sore ini di ibu kota.


Aku menghela napas panjang di depan pintu. Lelah. Sesaat teringat Sheryl yang mengatakan kalau ia sedang tidak enak badan jadi tak bisa bertemu denganku hari ini, padahal aku sangat merindukannya. Rasanya, kami tak bisa lagi dipisahkan meski hanya sebentar saja.


Aku melangkah masuk dan langsung menyalakan lampu karena sejak kemarin membiarkannya gelap gulita. Namun langkahku mendadak terhenti. Seseorang berdiri di sana.


"Happy birthday!"


Kedua mataku membeliak pada sosok Sheryl yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan tersenyum menatap. Ia membawa sebuah kue tart red velvet berukuran kecil yang berhiaskan dua baris lilin yang menyala.


Seketika sudut bibirku terangkat membalas senyum manisnya. Aku melepas pegangan koper, tak sabar menghampirinya.


"Bukankah kau sedang sakit?" Aku buru-buru mengulurkan tangan dan mendaratkannya pada dahi Sheryl. Bagaimanapun, aku sangat mencemaskannya.


Sheryl menggeleng pelan. "Tidak, Rey. Aku berbohong untuk ini–"


"Kukira kau melupakannya...."


Aku tak mampu meneruskan perkataan. Bola mataku langsung gemetar menahan air mata haru yang terdorong ingin keluar. Segera kualihkan pandangan pada kue tart di tangannya.


"Maaf, karena aku tidak mengucapkannya pada tengah malam. Maaf, karena telah berbohong mengatakan kalau aku sedang sakit dan jadi membuat–"


Aku langsung menempelkan telunjuk pada bibirnya. "Sst! Tidak ada yang harus dimaafkan. Sampai hari ini aku masih sangat bersyukur kau tidak menyerah dan tetap memilih untuk berada di sisiku."


"Ya, Rey. Aku tidak ingin menyerah lagi." Sheryl mengangguk, "sekarang waktunya kau meniup lilinnya."


Aku menunduk. Sebuah harapan terucapkan dalam hati sebelum akhirnya aku meniup tiga lilin besar dan dua lilin kecil duduk di atas kue tart itu.


Aku ingin kami selalu bahagia dan tak pernah terpisahkan sampai maut memisahkan.


"Happy birthday, Honey." Sheryl menyunggingkan senyumnya yang begitu tulus. Aku segera merangkul dan memberi kecupan lembut pada dahinya.


"Terima kasih, ya. Aku sangat terharu kau melakukannya untukku," kataku.


"Terharu?" Kening itu mengerut menatap.


"Ya. Aku tidak menyangka kau tiba-tiba ada di dalam apartemen dan menyambutku seperti ini."


"Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu berdua saja, Rey."


Aku hanya bisa bergeming menatapnya. Ini masih terasa mimpi bagiku. Dia membuat kejutan yang begitu manis.


Sheryl menoleh, menatapku dengan raut heran, "Tunggu apa lagi? Ayo duduk! Aku akan memotong kuenya untukmu."

__ADS_1


Aku mengangguk cepat. Mengikuti semua ucapan ia dan duduk di sampingnya. Sheryl memotong kue dan memberikannya. Namun, aku tak langsung memakan dan malah menatapnya kembali.


"Mana kadoku?" Aku menodongnya dengan cengiran. Sheryl tampak tenang. Sepertinya ia memang sudah menyiapkan semuanya.


"Sebentar!" sahutnya kemudian beranjak dari ruang tamu.


Aku menunggunya sambil menyuap sepotong kecil kue. Tak lama, ia pun kembali membawa sebuah kotak kecil yang sudah terbungkus dengan rapi.


"Aku tak tahu kau akan menyukainya atau tidak, tapi aku rasa kau cocok memakainya," katanya lalu memberikan kotak kecil itu kepadaku.


Dengan tak sabar, aku segera membukanya. "Parfum?"


Sheryl mengangguk. Aku segera mencobanya di tanganku. Kesegaran aroma citrus, rempah, dan woody langsung tercium.


"Kau suka?"


Aku mengangguk cepat, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di bibirnya. "Terima kasih ya, Sher."


"Iya, Rey. Aku senang kau menyukainya."


Sejenak kemudian ponselku berbunyi. Aku meletakkan kueku dan langsung menjawab panggilan dari Mama.


"Rey, apa kau sudah tiba di Jakarta?"


"Jangan lupa datang ke hotel M jam delapan. Mama tunggu!"


Aku sontak menoleh ke arah Sheryl. Wanita itu hanya mengangkat sebelah alisnya, mengisyaratkan tanya ada apa ibuku menelepon.


"Ini aneh sekali. Sejak kemarin mengingatkanku tentang ini. Sebenarnya ada acara apa sih, Ma? Sepertinya aku tidak bisa datang," kataku.


"Nanti kau akan tahu. Kau harus datang, Rey!"


"Aku lelah dan ingin beristirahat."


"Pasti dia sedang bersamamu, 'kan?"


"Jika yang Mama maksud adalah Sheryl, iya, dia bersamaku saat ini. Aku ingin menghabiskan waktuku hari ini dengannya. Jadi, Mama tidak usah mengganggu kami."


"Berikan ponselmu kepadanya. Mama ingin berbicara dengannya!"


Aku kembali menoleh, memberikan ponselku untuk Sheryl. "Mama ingin berbicara denganmu."


***


Sheryl Pov

__ADS_1


"Mama ingin berbicara denganmu," ujar Reynand seraya memberikan ponselnya.


Walau sedikit ragu, aku segera menyambut ponsel itu. "Halo."


"Sheryl, bukankah kau sudah tahu rencana saya dan Dira untuk Rey hari ini?"


"Ya, Tante."


"Apa kau tidak suka dengan rencana saya karena tak melibatkanmu dalam acara ulang tahun Rey di hotel, hingga kau memilih untuk membuat acara sendiri untuknya?"


Aku langsung menoleh pada Reynand. Memasang raut serius kepadanya. Ya. Walau tahu Tante Aina dan Indira mempersiapkan sebuah pesta kejutan, aku tak pernah sekalipun memberitahukan kepada Reynand.


"Ada apa?" Reynand bertanya bingung.


Aku tak menjawab, melainkan langsung beralih kembali pada percakapanku dengan Tante Aina.


"Saya tidak pernah mengatakan kalau saya tidak menyetujui rencana Tante dan Dira."


"Baguslah. Saya harap kau bisa menyuruh Rey untuk datang ke pesta ulang tahunnya."


Tut!


Tante Aina memutus panggilan. Aku mengembalikan ponsel Reynand, lalu membuang napas panjang.


"Rey, aku akan pulang sekarang," kataku.


"Pulang? Aku baru saja tiba dan kau malah ingin pulang begitu saja?" sahut Reynand terdengar keberatan.


"Sebenarnya, ibumu dan Indira telah mempersiapkan sebuah acara pesta ulang tahun untukmu, tapi aku malah datang dan memberikan kejutan ulang tahunmu di apartemen." Aku memutuskan memberitahu rencana Tante Aina dan Indira.


Reynand menggelengkan kepalanya. "Sudah kuduga! Aneh sekali tiba-tiba menyuruhku datang ke sebuah ballroom hotel tanpa memberitahu ada acara apa nanti malam. Ternyata dia mengadakan acara anak kecil seperti itu."


"Jangan berkata begitu, Rey. Ibu dan adikmu hanya ingin berkumpul, merayakan ulang tahunmu. Kau harus datang ke sana." Aku berusaha membujuk Reynand.


"Di hotel sebesar itu, huh? Aku yakin tak hanya keluarga kami. Dia pasti ingin memperkenalkanku dengan rekan bisnisnya lalu menjodohkanku dengan Livia-Livia lainnya. Kau mau hal seperti kemarin terjadi lagi?" tegas Reynand dengan wajah serius hingga memaksaku untuk menarik sedikit wajahku darinya.


"Tidak." Aku langsung memalingkan wajah, lalu berkata lagi, "tapi jika kau tak datang, ibumu akan makin tak suka kepadaku karena menahanmu."


Tak ada kata yang meluncur dari mulut Reynand. Kami sama-sama terdiam. Priaku itu lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Pandangannya mengarah pada langit-langit.


"Sher, jika kau berkata begitu, aku makin bingung bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku masih ingin di sini bersamamu, tapi di sisi lain, Mama selalu memaksaku mengikuti apa katanya."


Aku bersandar pada bahunya yang kokoh. "Entahlah. Saat ini aku juga tak memiliki solusi, Rey. Aku hanya tidak ingin ia semakin dalam membenciku."


"Aku akan datang, bila kau ikut bersamaku," sahut Reynand tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2