Marriage Order

Marriage Order
S2 Tepergok


__ADS_3

Baruna PoV


Hari baru telah tiba. Aku membuka gorden jendela kamar. Matahari telah menyinarkan cahayanya yang menghangat. Aku menengok ke arah Sheryl, dia masih terlelap dalam mimpinya.


Wanita cantikku itu terlihat sangat manis bahkan saat sedang tertidur. Aku melangkah mendekat membangunkannya.


Wajah polosnya yang tertidur membuatku tersenyum simpul. Menorehkan sebuah kecupan hangat di keningnya, hidungnya, sampai bibirnya yang mungil. Dia lalu menggeliat manja menyadari sentuhan-sentuhan yang kubuat.


"Ma, lima menit lagi," gumamnya.


Aku kembali mengecupnya. Kali ini di lehernya yang jenjang. Dia tersenyum lalu tertawa.


"Hei, jangan sentuh di situ, Sayang!" Lagi-lagi dia bergumam.


Aku pun berbisik, "Haruskah aku melahapmu baru kamu bisa bangun?"


Matanya sontak terbuka membelalak kaget. Dia menolehkan pandangannya ke arahku.


"Apa yang kamu sudah lakukan?" tanyanya terkejut. Dia bangkit mendudukkan tubuhnya di atas kasur.


Aku mengedikkan bahu, menunjuk kening, hidung, bibir dan leherku sendiri mengisyaratkan kalau aku telah mencium bagian tubuhnya itu. Dia lalu menghela napas lega. Aku meliriknya heran.


"Kenapa? Kamu sangat takut aku melakukan sesuatu? Toh kamu juga akan jadi milikku sebentar lagi. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab," jelasku bingung.


"Aku hanya belum siap," lirihnya.


"Kamu pikir aku siap? Kakiku seperti ini. Bagaimana bisa melakukannya? Kecuali kalau kamu mau melakukannya dengan berada di atasku," sahutku menggoda.


"Sudah! Jangan bicarakan hal itu. Entahlah, aku jadi merinding membayangkannya. Mengapa kamu menjadi bertambah liar setiap harinya? Pasti ada yang salah pada kepalamu. Dokter bedah syaraf sialan itu membuat syaraf Baruna lamaku korslet!" Raut wajahnya menunjukkan kemarahan.


Aku pun tertawa terbahak-bahak. Pikiranku pagi ini sudah liar. Padahal aku hanya ingin menggodanya. Sangat lucu melihatnya marah-marah.


Sheryl masih mengerucutkan bibirnya kesal. Aku mengambil handuk dari gantungan dan menaruhnya di atas kepalanya hingga muka bantalnya tidak terlihat.


"Mandilah! Sudah jam setengah tujuh. Kita sarapan bersama."


Dia turun dari tempat tidur. Menarik handuk dari kepalanya. Wanita yang membuatku tergila-gila itu memandang dengan tatapan gemas.


"Kamu menyuruhku mandi, tapi tidak memberiku pakaian?" protesnya.


"Oh iya, hampir lupa. Ha-ha-ha. Sebentar, Sayang." Aku mulai mencari pakaian untuknya di dalam lemari dan memberikannya sebuah dress terusan berwarna krem.


Dia membuka lipatannya. Matanya berbinar menatap pakaian itu.

__ADS_1


"Cantik sekali dress ini. Siapa yang memilihkan?"


"Bunda, Sayang."


"Aku pikir kamu yang pilih."


"Kalau aku, saat kamu tidak berpakaian juga sudah cantik." Aku menggodanya lagi.


Dia bergeming sejenak menatapku. Matanya membulat dengan wajah tersipu malu. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Aku pikir, mulai sekarang aku akan jarang bertamu lagi di kediaman Asyraf. Kamu benar-benar membuatku berpikir ada yang salah pada otakmu, Sayang," protesnya lalu hendak berjalan masuk ke kamar mandi.


Aku menarik tangannya hingga ia tersentak masuk ke rengkuhanku. Membelai rambutnya yang panjang dan berbisik, "Aku masih Baruna yang dulu sangat mencintaimu. Bahkan bertambah mencintaimu dari waktu ke waktu. Mungkin dulu aku membosankan di matamu hingga membuat hatimu berpaling. Sekarang aku tidak akan mengizinkanmu direbut oleh siapa pun. Termasuk Reynand."


Dia bergeming di dalam pelukanku. Kausku tiba-tiba basah. Aku melonggarkan pelukanku dan menatap wajahnya yang tiba-tiba berubah sendu, "Jangan menangis, Sayang. Setiap aku melihat air matamu, hatiku yang akan merasakan sakit."


Namun, dia terus mengeluarkan air matanya. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa dia sesedih itu.


Tok-tok-tok!


Pintu kamarku terdengar diketuk. Aku melepas pelukanku dan berjalan ke arah pintu. Menarik handelnya dan mendapati Bunda berdiri di sana.


"Sarapan dulu," ujar Bunda. Dia mengerlingkan mata dan melihat Sheryl sedang menyeka air matanya. "Kamu menculik anak gadis orang dan membuatnya menangis? Kamu apakan Sheryl? Dasar anak nakal!" Bunda memukul pundakku.


"Tenang Bun. Kami tidak melakukan apa-apa," ucapku berusaha menghibur.


Sheryl hanya tersenyum melihat kami akhirnya keluar. Bunda berjalan di depanku. Dia tiba-tiba bertanya, "Kamu sudah izin bawa Sheryl menginap?"


"Sudah, sama Reza."


"Jangan macam-macam dengan anak gadis Om Agung. Walaupun kalian sudah bertunangan seharusnya dia tidak tidur di kamarmu." Bunda mulai berceramah karena mendapati Sheryl di kamarku pagi ini.


"Kami tidak melakukan yang Bunda pikirkan," sahutku.


"Iya, tapi lain kali jangan seperti itu. Kamu sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang benar dan salah," nasihatnya. Dia kembali berkata, "Sudah. Nanti ajak Sheryl ke ruang makan."


"Iya, Bun."


Bunda kemudian melenggang pergi ke ruang makan. Aku berjalan dengan krukku ke ruang tengah lalu mendudukkan tubuhku di atas sofa.


Kling!


Terdengar suara notifikasi dari ponselku. Aku membuka layar ponsel. Sebuah direct message dari instakilogram. Pesan dari Nayara.

__ADS_1


Nayara : "Hai, Bar."


Aku mengerutkan kening. Wanita dari masa laluku ini tiba-tiba mengirimkan pesan.


Baruna : "Hai!"


Tidak lama pesan itu dibalas.


Nayara: "Masih ingat aku?"


Baruna: "Masih dong, masa aku lupa sama teman SMA-ku."


Nayara: "Syukurlah kalau masih ingat. Bagaimana kabarmu sekarang?"


Baruna: "Baik. Bagaimana denganmu?"


Nayara: "Baik. Sibuk apa sekarang, Bar?"


Baruna: "Kerja saja, sih."


Nayara: "Sama dong. Aku juga."


Aku tersenyum kecil saat membalas pesan itu. Aku terus berbalas pesan melepas rindu dengan teman masa lalu. Sama sekalu tidak menyadari kalau Sheryl sudah di hadapanku. Dia memandangku dengan tatapan mata tajam.


"Kamu sedang apa sih, Sayang? Ketawa-ketawa sendiri?" tanyanya sinis sambil melirik ponselku.


Aku mendongak menatap wajahnya yang penasaran sambil tersenyum.


"Mau tau?"


Wanitaku itu mengangguk. Aku lalu memberikan smartphone-ku padanya agar dia bisa membaca pesan-pesan dari Nayara. Dia mengerutkan keningnya meraih ponselku dan mulai membaca pesan-pesan itu.


"Haish .... Sekarang kamu bisa chatting sama perempuan, ya?" protesnya langsung mengerucutkan mulut.


"Apa ada yang istimewa?" Aku menatap wajahnya.


Dia menggelengkan kepala, tapi wajah cantik itu masih menunjukkan kekesalan. Aku segera meraih tangannya dan membuatnya terpaksa duduk di sampingku. Tubuhku pun memutar hingga sembilan puluh derajat memandang wajahnya.


"Hanya kamu yang kucinta, Sheryl."


Jari jemariku membelai pelipis wajahnya dengan lembut. Rambut yang terurai hingga mengganggu wajahnya pun segera kuselipkan ke belakang telinganya.


"Pipimu merona dan membuatmu terlihat lebih cantik," ucapku menggoda.

__ADS_1


Wajahku mulai mendekat ke wajahnya dan bersiap mencium bibir ranum itu kembali. Belum sempat menciumnya, dia menutup mulutnya dengan punggung tangan. Matanya membelalak mengerlingkannya ke arah kanan. Aku pun menengok ke belakang. Tampak Bunda menggelengkan kepalanya melihat kami.


"Sudah tidak sabar rupanya," ucapnya membuat aku dan Sheryl jadi salah tingkah. Wajah kami tersipu malu seketika.


__ADS_2