
Reynand Pov
Melihatnya menangis dan emosi tadi membuatku sadar. Ini bukan saatnya aku menambah beban Sheryl. Dia tidak boleh memikirkan suatu hal yang membuat ia kembali bergejolak. Aku telah menyakitinya dengan ucapanku yang terkesan sangat egois. Meski geram, aku seharusnya tidak memikirkan diri sendiri tanpa mengerti bagaimana perasaannya. Wajar saja, perasaan cintaku makin menggebu melihatnya begitu bersedih.
Sore ini secara kebetulan, aku malah mengantarnya kontrol ke dokter kandungan. Menunggu ia selesai periksa di luar ruangan. Sheryl tidak mengizinkanku masuk hingga dengan terpaksa harus menunggunya di luar.
Pintu ruangan poli kandungan pun akhirnya terbuka. Sheryl terlihat semringah muncul dari dalamnya. Aku segera bangkit dari dudukku.
"Rey, kau harus lihat ini!" Wanita itu memberikanku sebuah selembar foto memperlihatkan bentuk bayi berusia lima belas minggu.
Aku memandang foto itu. Ada sedikit rasa cemburu yang membelenggu relung hatiku. Namun di samping itu, aku merasakan perasaan aneh yang membuatku tiba-tiba tersenyum tulus.
"Laki-laki atau perempuan?" tanyaku.
"Belum bisa diprediksi. Delapan belas minggu baru bisa terlihat dengan jelas," jawabnya.
Aku hanya mengangguk-angguk mengerti. Beberapa saat kemudian kami sudah berada di dalam mobil.
"Rey, aku tidak ingin pulang," katanya tiba-tiba.
"Kenapa?" Aku sontak menoleh.
"Tidak ingin saja. Bisa, 'kan?" Sheryl memandang dengan air muka sedikit mengibai.
"Mau ke mana?"
"Tidak tahu."
Aku terdiam sesaat sambil melihat arlojiku. Pukul tujuh malam. Tiba-tiba teringat sebuah festival malam yang terletak di dekat pantai ibu kota. Festival yang sebenarnya kutahu dari Kayla. Ia ingin pergi ke tempat itu dan aku berjanji untuk menemaninya. Namun karena dia sibuk akhir-akhir ini, aku belum bisa menepati janjiku.
"Oke!"
Aku memutuskan untuk pergi ke tempat itu. Perjalanan kami memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Sheryl tampak berbinar memandang sebuah tempat yang meriah dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni sekaligus banyaknya orang yang mengunjungi tempat itu.
"Bagaimana?" Aku mengedipkan mata kepadanya.
"Lumayan."
Sheryl mengangguk sembari tersenyum senang. Kemudian tanpa berbasa-basi langsung berjalan meninggalkanku. Aku mendengus lalu tersenyum melihat tingkahnya.
Wanita itu berjalan begitu gagah di depan sana. Aku mempercepat langkah mengimbanginya.
"Untuk ukuran wanita hamil lima belas minggu, kau ternyata cukup gagah," kataku meledeknya.
"Memangnya wanita hamil lima belas minggu itu harus terus berada di atas kasur?" jawabnya dengan sebuah pertanyaan yang langsung membuatku menggelengkan kepala.
Sheryl pun terkekeh. Dia kemudian menunjuk ke sebuah tempat. "Rey, lihat! Ada pameran lukisan."
__ADS_1
Aku mengernyit mengarahkan pandanganku pada tempat yang ditunjuk Sheryl. Belum sempat menjawab, Sheryl meraih pergelangan tanganku. Menggenggam erat menarikku mengikuti langkahnya.
"Freddy Cakra Darmawan?" Aku membaca satu nama yang tak asing pada salah satu lukisan di dalam sana. Lukisan potrait seorang wanita yang penuh dengan kegembiraan yang terpancar sangat jelas.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Namanya tak asing."
Aku menjawabnya sambil terus mengingat-ingat. Tiba-tiba saja pundakku terasa ditepuk dari belakang. Aku sontak menengok dan seketika terkesiap melihat seorang pria berdiri di hadapanku.
"Rey!" ucap pria itu yang langsung memeluk tanpa aba-aba.
Aku masih terdiam hingga akhirnya mengingat siapa sosok pria itu. "Freddy! Astaga! Lama tidak bertemu."
Aku balas menepuk punggungnya. Sesaat kemudian Freddy mengurai pelukannya, tersenyum memandangku.
"Rey, bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Baik. Kau sendiri?"
"Baik. Kebetulan sekali bertemu di sini," katanya kemudian matanya melirik ke arah Sheryl, "Siapa dia? Istrimu?"
"Tidak. Rey teman saya." Sheryl sontak menyanggahnya. Telapak tangannya mengayun di depan Freddy.
"Oh ...." Freddy mengangguk-angguk. Dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Saya Freddy. Saya juga teman Reynand. Satu apartemen dengannya."
"Maksudnya satu gedung. Freddy tetanggaku. Dia pelukis," kataku memperkenalkan.
"Jadi Anda yang melukis itu?" Sheryl menunjuk lukisan di sampingnya.
"Iya."
"Cantik sekali. Siapa dia?"
"My ex," jawab Freddy, tapi tidak menjelaskannya lebih lanjut. Pandangannya terus mengarah pada Sheryl.
Aku yang memperhatikannya sontak bertanya, "Ada apa, Fredd? Tatapanmu itu-"
"Mau dilukis tidak?" Freddy memotong perkataanku.
Sheryl menoleh ke arahku seakan meminta pendapatnya. Aku mengangguk dengan bibir mengatup sedikit memanyun.
"Boleh. Tidak lama, 'kan?"
"TIdak. Sebentar. Satu jam paling lama jika banyak istirahat," jawabnya mengekeh seraya melirikku, "Saya harap Reynand tidak cemburu."
"Ada hak apa dia cemburu?" Dengan pandangan meledek, Sheryl balas mengekeh. Aku hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil berharap Freddy tidak memiliki niat macam-macam.
"Baguslah. Reynand memang begitu, Sher. Kau harus pandai-pandai menarik ulur benangnya.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Ya, nanti kita bahaslah."
Freddy mengajak Sheryl berjalan menuju sebuah ruangan. Aku mengikuti mereka dari belakang.
Ruangan yang dipersiapkan Freddy tampak sederhana. Pencahayaannya pun terlihat bagus. Sheryl duduk di sebuah kursi menghadap Freddy yang sedang mempersiapkan kanvas dan alat-alat lukisnya. Sementara, aku berdiri di samping Freddy.
"Hei! Apa yang kau rencanakan, Fredd?" tanyaku berbisik.
"LIhat dan perhatikan saja!" jawab Freddy begitu santai. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Sheryl. "Aku ingin melukismu dengan ekspresi yang sama seperti lukisan tadi."
"Oke!" Sheryl segera menarik senyumnya.
Apa sih yang kau sedang rencanakan, Fredd? batinku.
"Kurang, Sher. Kau bisa melihat ke arah Reynand. Anggap dia hewan lucu yang membuatmu sangat senang saat melihatnya."
Hewan? Sial kau, Fredd!
Aku mengutuk pelukis di sampingku. Teman masa lalu yang tiba-tiba saja bertemu di tempat seperti ini. Sialnya, Sheryl mengangguk saja menanggapi perkataan Freddy. Ia menurut. Entah hewan apa yang ada dalam benaknya saat ia mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Nah! Iya! Begitu! Tahan, ya. Tidak lama, kok," ujar Freddy mulai menggerakkan kuasnya dengan lincah di atas kanvas. Aku yang mengenalnya saat kami sama-sama menjadi mahasiswa pun takjub pada keterampilannya. Benar-benar tidak menyangka sama sekali. Freddy memang berbakat. Ia melukis wajah Sheryl dengan sangat mirip.
Aku dan Sheryl saling memandang cukup lama. Pandangan matanya begitu menghunjam jantungku. Membuatku jatuh cinta berkali-kali kepadanya, meski sakit seringkali kurasakan.
Sheryl tiba-tiba menunduk sambil mengelus perutnya. Aku sontak panik menghampirinya.
"Sheryl, kau tak apa-apa?" tanyaku yang langsung meraih tangannya.
"Keram sedikit." Sheryl menjawab lirih.
"Fredd, sudah, ya! Lukisannya dilanjut lain kali," kataku menoleh ke arah Freddy.
"Iya, Rey. Ini sudah hampir selesai, kok." Freddy tampak santai menggerakkan tangannya di atas kanvas.
Aku segera membantu Sheryl bangkit dari duduknya.
"Aku ingin lihat," ucap Sheryl masih sedikit meringis.
Aku pun menuntunnya menghampiri Freddy. Sheryl mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Bagus sekali, Fredd," puji wanita itu.
"Nanti akan kukirim lukisannya jika sudah selesai." Freddy tersenyum.
Kami mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian, kami pun pamit pulang..
Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Saat kami melintasi ruang pameran itu, tak sengaja aku melihat sepasang pria dan wanita yang kukenal juga berada di pameran lukisan Freddy.
__ADS_1